Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu

Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu
Minjam Uang 1 Juta


__ADS_3

"Tok...tok....."


Lisa yang hendak duduk ia akhirnya tak duduk dan ia pergi untuk membukakan pintu rumahnya.


"Ceklek...."


Saat pintu terbuka Lisa cukup terkejut karena mantan ibu mertuanya yang datang, entahlah untuk apalagi dia datang kesini?


"Bu Ratna, ada apa?" tanya Lisa dan sekarang memanggil Ratna dengan sebutan Bu Ratna, kalau dulukan ibu sekarang sudah enggan.


"Lis, boleh Ibu masuk?" tanyanya dengan percaya diri.


Perasaan Lisa tidak enak, tapi jika tidak boleh masuk nanti di kira sombong dan pastinya akan di jadikan bahan gosip ke para tetangga.


"Masuklah Bu Ratna," Lisa pun mempersilahkan manta mertuanya untuk masuk ke dalam rumah.


Kini tanpa di persilahkan untuk duduk, Ratna sudah duduk lebih dulu, padahal Lisa yang tuan rumah saja belum duduk.


"Lis, Ibu kesini mau minta tolong," lagi-lagi Ratna berbicara sok akrab pada Lisa, padahal dari dulu jangankan akrab bicara baik-baik saja tidak pernah, entah hari ini Emak Lampir ini kenapa?


"Mau minta tolong apa?" tanya Lisa agak cuek dan sebenernya malas juga.


"Lis pinjamkan Ibu uang 1 juta, untuk membayar arisan dan belanja," katanya dengan nada sendu.

__ADS_1


"Bukannya setiap bulan Mas Rizal memberikan jatah bulanan untuk Ibu Ratna, kok mau arisan saja masa minjam mantan menantu yang dulu di sia-siakan, apa tidak malu?" sindir Lisa begitu sinis.


Ratna agak kesal tapi ia berusaha tenang dan sabar. Uang bulanan darimana? Sejak menikah dengan Mona, jangankan uang bulanan, semua uang Rizal itu di kuasai oleh Mona.


"Tidak pernah itu, Lis. Sejak Rizal menikah dengan Mona, semua uang di kuasai oleh istri barunya itu," cecar Ratna bersungut-sungut.


Sekilas Lisa tersenyum kecil, lagian sudah di berikan menantu yang baik tidak bersyukur giliran dapat menantu yang di idam-idamkan kini malah tak sesuai harapannya, makannya Emak Lampir jangan maruk jadi manusia, jangan terlalu ikut campur juga urusan rumah tangga anak hingga tega memisahkannya, bahkan mendukung perselingkuhan Mas Rizal dan Mona di masa lalu.


"Oh baguslah Bu Ratna. Lagian Bu, memang seharusnya uang suami itu yang pegang sang istri, kan sudah menikah, jadi seorang ibu itu sudah tak berhak lagi," malah di nasehati oleh Lisa dan Ratna menatapnya penuh amarah.


"Aku datang kesini mau minjam uang, bukannya mendengar ceramah anak kecil sepertimu," sentak Ratna tidak terima dengan nasehat dari Lisa.


Kok ada manusia seegois dan sejahat Ratna? Entah suatu saat nanti matinya bagaimana itu orang? Ya hanya Tuhan yang tau.


"Bilang saja kamu tidak punya uang, banyak ngomong kamu!" bentak Ratna, membuat Lisa tertawa kecil.


"Aku ada uang Bu Ratna, emas aku saja banyak, dulu waktu sama Mas Rizal boro-boro emas, baju saja sobek-sobek, jatah uang belanja saja hanya 50 ribu satu minggu, beruntunglah aku sudah berpisah darinya," ujar Lisa begitu santai.


Ratna memperhatikan Lisa yang semakin cantik, dan benar gemerlap emas kini ada di lehernya sebuah kalung berliontin mata satu tapi sangat berkilau, di jari-jarinya ada dua cincin yang begitu berkilau juga, di satu tangannya ada gelang juga. Kilauan itu membuat mata Ratna tampak silau.


"Paling itu juga emas imitasi," cetusnya asal.


"Haha, Bu Ratna bisa saja. Apa Ibu mau lihat surat-surat lengkapnya? Biar Ibu semakin panas," goda Lisa dengan jail.

__ADS_1


"Tidak perlu, dasar manusia sombong tukang pamer, giliran di pinjami uang tidak ngasih," ujar Ratna sinis dan beranjak dari tempat duduknya dengan kasar.


Ratna membuka pintu rumahnya Lisa dengan kasar, lalu kembali menutupnya dengan kasar juga. Sungguh tidak ada sopan santunnya sama sekali.


Setelah Ratna pergi, Lisa menggelengkan kepalanya, lalu ia mengunci pintu rumahnya dan masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan tujuannya.


***


Rizal tampak uring-uringan, membuat Mona sangat geram.


"Mas, kamu datang ke rumah Lisa ya?" tanyanya dengan tatapan sinis dan nada marah.


"Hanya untuk meminta maaf," sahut Rizal. Ia sengaja tidak izin pada Mona, jika izin pasti Mona tidak akan mengizinkan dirinya untuk pergi.


"Kamu tuh ya Mas, bilang saja kamu masih menaruh hati pada Lisa kan," tuduhnya dengan nada tinggi.


Bagaimana setiap hari tak uring-uringan, punya istri seperti Mona itu sungguh bisa stress.


"Sudahlah, aku tidak mau bertengkar," sahutnya dengan malas.


Rizal memilih keluar rumah karena jika tetap berada di rumah, ia yakin pertengkarannya itu tidak akan selesai hari ini. Aku mulai tidak betah di rumah, akhir-akhir ini aku lebih suka nongkrong di warung kopi Mpok Yuyun yang seksi dan sangat menggoda.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2