Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu

Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu
Bayangan Tiara Hadir


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, tanpa menunggu lama akhirnya Rizal dan Lisa resmi ketok palu, akhirnya lega juga rasanya sudah resmi bercerai dengan Rizal suami yang tak berguna itu.


Malam menunjukkan pukul 9 malam, Lisa merasa kesepian karena hanya sendirian di rumah. Rizal sudah bercerai dengannya ia juga sudah menikah siri dengan Mona. Anak semata wayangnya juga sudah bahagia di surga.


Lisa merebahkan tubuhnya di atas sofa, ia terbayang-bayang putri kecilnya yang sudah bahagia di surga sana.


"Tiara, maafkan Mama, Mama akhirnya bercerai dengan Papamu. Mama akan memulai hidup yang baru," lirihnya dengan nada sendu. Matanya tampak berembun, hingga akhirnya butiran air mata mulai berjatuhan mengaliri kedua pipinya dengan sangat deras.


Janji pernikahan yang katanya untuk selamanya, pada akhirnya berakhir dengan perceraian, janji manis Rizal itu hanyalah buain belakang dan Rizal tidak pernah menepati janjinya, membahagiakan Lisa saja tidak pernah hanya penderitaan yang Lisa rasakan saat hidup dengan Rizal.


Sekilas bayangan Tiara muncul dengan senyuman yang begitu manis.


"Mama, Mama harus bahagia! Mama tidak boleh sedih, Tiara sayang sama Mama." Tiara mengatakan ini semua dengan senyum bahagia.


Lisa beranjak dari tempat duduknya, ia terharu, kakinya melangkah pelan untuk memeluk Tiara yang saat ini muncul tepat di hadapannya.


Namun saat bayangan Tiara hendak di peluk, Tiara malah perlahan-lahan menghilang menembus tembok rumahnya.


Rasanya lemas dan hati Lisa begitu rapu, Lisa menjatuhkan tubuhnya di lantai. "Tiara, kamu datang Nak, Mama sangat merindukanmu," batin Lisa dalam hati dengan air mata yang terus mengalir deras bag air hujan yang turun.


Lisa tersadar kalau anaknya dan dirinya sudah beda alam, jangankan untuk memeluknya menyentuhnya saja sudah tidak bisa aku lakukan.

__ADS_1


***


Pagi hari yang cerah Lisa pergi ke rumah Ipah karena merindukan Ipah, apalagi saat ia sibuk mengurus perceraiannya dengan Rizal, Lisa hampir tidak pernah menghubungi Ipah, mengirim pesan dan telpon juga tak Lisa lakukan.


Setelah beberapa lama berjuang menulis, akhirnya Lisa merasakan gajian pertamanya. Lisa ingin mengajak Ipah dan Tasya makan-makan, ya hitung-hitung syukuran dan menikmati hasil kerja keras selama beberapa lama ini.


"Ipaahh..."


Suara yang tidak asing terdengar di telinga Ipah, Ipah bergegas buru-buru keluar rumahnya, ia tahu siapa yang datang? Akhirnya Lisa datang juga ke rumah. Setelah sekian lama tidak bertemu.


"Ceklek," dengan senang hati Ipah membukakan pintu rumahnya.


"Lisa...."


Mereka langsung berpelukan dengan bahagia, mereka terlihat seperti Teletubbies.


"Lis, ayo masuk!" ajak Ipah dengan bahagia di, ia melepaskan Lisa dari pelukannya, lalu mengandeng tangan Lisa dan membawa Lisa masuk ke dalam rumahnya.


Melihat Lisa datang, Tasya dengan sopan menyalami tangan Lisa lalu mencium punggung tangan Lisa dengan sopan.


"Tasya, lihat Tante Lisa bawakan kamu banyak Snack," ada dua plastik tentengan yang berisi bermacam-macam snack tadi sebelum ke rumah Ipah, Lisa memang sengaja mampir di minimarket lebih dulu.

__ADS_1


Saat membeli semua snack untuk Tasya ada rasa sedih dalam hatinya, bukan sedih karena habis uang banyak. Tapi karena Tiara, mengingat dulu Tiara jarang sekali jajan enak dan di saat aku sudah mampu untuk membeli banyak makanan enak, Tiara sudah tidak ada lagi di dunia ini.


"Tante Lisa, ini banyak sekali," kata Tasya dengan nada begitu bahagia.


Lisa hanya tersenyum, matanya tampak berkaca-kaca, sungguh hatinya sedih sekali. Ipah yang mengerti akan perasaan Lisa saat ini ia langsung memeluk sahabatnya itu.


"Tasya, snacknya di makan bareng sama Alena ya!" titah Ipah, Tasya mengangguk lalu ia menuju ke kamar untuk memakan snack-snack itu bersama dengan Alena.


Lisa melepaskan pelukannya dari Ipah, lalu ia menatap Ipah dengan lekat.


"Ada Alena di sini?" tanya Lisa dengan nada lembut. Anak cantik itu bisa membuatku bahagia.


"Ada Lis, Kak Faris nitipin sama aku, di rumahnya tidak ada orang soalnya. Kak Faris pergi keluar kota dua hari, Mas Fahmi juga ada dinas diluar kota satu minggu, tapi beruntung ada mereka berdua jadi aku tidak kesepian," ujar Ipah pada Lisa.


Kini mereka berdua sudah di kamar Tasya melihat kedua anak-anak cantik itu sedang menikmati snack yang Lisa bawa tadi. Bahagia sekali rasanya, coba kalau Tiara masih ada pasti kebahagiaan ini akan semakin lengkap.


Lisa menceritakan semuanya tetang perceraian, mendengar cerita dari Lisa. Ipah merasa lega dan sangat bahagia.


"Sudahlah, kamu buka hatimu untuk laki-laki lain mulai saat ini!" titah Ipah, membuat Lisa tersenyum kecil. Laki-laki siapa? Aku saja tidak sedang dekat dengan siapa-siapa.


Setelah asik bercerita, Lisa mengajak Alena jalan-jalan Tasya dan Alena juga ikut, mereka jalan-jalan membawa mobil. Untung saja Ipah bisa menyetir mobil.

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2