Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu

Jatah Lima Puluh Ribu Satu Minggu
Rizal Jadi Obat Nyamuk


__ADS_3

"Maaf, Mas siapanya Lisa ya?" Tanya Rizal kepo.


"Saya..."


"Mas Faris ini,"


Kini Rizal menatap keduanya saling bergantian, rasanya sangat penasaran sekali, siapa sih Faris ini?


"Mas Faris calon suamiku," lanjut Lisa membuat Rizal tercengang kaget. Faris juga menatap Lisa tidak percaya tapi dia hanya diam.


"Lis, jangan sembarangan pilih laki-laki! Lagian kamu kan kenal dengan laki-laki itu belum lama. Jadi jangan gegabahlah untuk menikah lagi," ujar Rizal dan tatapan matanya begitu tidak suka pada Faris.


Saat mendengar Faris itu calon suaminya Lisa, rasanya hatinya tidak rela sekali. Apalagi Lisa sekarang semakin cantik, rasanya aku ingin kembali pada Lisa. Aku tidak akan membiarkan Lisa menikah lagi.


"Mas Faris orang yang baik, tidak seperti mantan suamiku yang dulu," sahut Lisa yang diiringi sindiran halus untuk Rizal.


"Jangan menjelekkan mantan suamimu, biar bagaimanapun dia pernah menyayangimu dan memberikan kenikmatan padamu, kamu lupa dulu kamu begitu mendambakanku," cengiran Rizal begitu penuh kemenangan.


"Itu hanya menurutmu saja Mas, padahal yang aku rasakan itu tekanan batin setiap hari," sambung Lisa yang diiringi lirikan sinis.


Faris masih tak bergeming, apa aku datang di saat tidak tepat? Pikirnya dalam hatinya.

__ADS_1


"Mas Faris, ayo makan sarapannya! Sini Alen biar sama aku," titah Lisa dengan begitu lembut. Dan Rizal tampak sekali sedang cemburu. "Oh ceritanya kamu mau pamer kemesraan," batin Rizal dalam hati.


"Lis, aku kan bawakan makanan ini buat kamu, kok jadi aku yang makan," kata Faris dengan nada lembut dan penuh perhatian.


"Baiklah, ayo kita makan bersama saja," akhirnya Lisa menaruh Alena di dekat duduknya dan Alena juga anteng.


Lisa dan Faris sama-sama menikmati sarapan mereka masing-masing, Faris hanya membeli 2 porsi makanan, ya karena tidak tahu ada Rizal di rumah Lisa. Dan niatnya juga mau mengajak Lisa sarapan bersama, akhirnya kesampaian juga biarpun ada sih Rizal pengganggu ini tapi Faris dan Lisa begitu menikmati kebersamaan mereka, anggap saja Rizal itu jadi obat nyamuk di antara mereka.


Tatapan Rizal tampak geram, tidakkah mantan istriku ini sedikit ibah padaku? Bahkan dia makan saja aku tidak di tawari sama sekali, padahal aku saat ini merasa lapar.


"Oh iya Mas Faris, makasih ya Mas kemarin sudah ikut sibuk dalam acara Tiara berbagi," kata Lisa di sela-sela suapan makanannya.


"Sama-sama Lis, oh iya nanti malam temani aku kondangan ya Lis!" Pinta Faris dengan senyum hangat dan sangat tulus.


"Jam 7 malam, sekalian nanti aku kenalin kamu sama rekan-rekan bisnisku, oh iya baju juga sudah aku siapkan. Biar kita pakai baju sarimbit keluarga, kan insyaallah kita akan segera di halalkan di ikatan yang suci," kata Faris membuat Lisa hampir tersedak dan Faris dengan sigap langsung memberikan segelas air putih kepada Lisa.


"Pelan-pelan makannya," katanya dengan nada lembut.


Rizal menggerutu dalam hatinya, apakah Lisa dan Faris ini sedang bermain drama di hadapanku? Lihat, mereka berdua memamerkan kemesraan mereka di hadapanku. Maksudnya apa? Biar aku cemburu gitu, dasar Lisa kamu itu tidak punya harga diri.


"Kalian membuatku ingin muntah," kata Rizal sembari beranjak dari tempat duduknya dengan kasar.

__ADS_1


Lisa dan Faris saling menatap lalu mereka berdua sama-sama mengulas senyum manis.


Rizal langsung menaiki motornya dan langsung berlalu pergi dari depan rumahnya Lisa.


Kini tinggal Lisa dan Faris, Alena juga tanpa mereka sadar ternyata tidur di kursi. Anak kecil ini begitu lucu, membuat Faris dan Lisa saling melempar tawa saat melihat Alena tidur nyenyak.


"Oh iya Lis, tadi kamu mengatakan pada Rizal, kalau aku ini calon suamimu, apakah itu serius?" Tanya Faris memberanikan diri.


Detak jantung Lisa tiba-tiba begitu cepat, tatapan Faris juga begitu dalam membuat debaran hatinya juga sangat kencang. Aku ini kenapa?


"Lis, kok diam saja?" Faris kembali bertanya.


"Mas... maafkan aku, tadi aku hanya asal bicara." Jawabnya dengan gugup.


"Tapi Lis, aku sudah telanjur....." Faris menghentikan kata-katanya, membuat Lisa semakin dek-dekkan.


"Terlanjur apa Mas?" Lisa bertanya dengan nada lembut tapi tampak gugup.


Faris terdiam, ia mengumpulkan keberaniannya dalam hatinya.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2