
Pagi yang cerah telah datang, tatapan mata Faris berseri-seri saat mendapati istrinya masih tertidur nyenyak di sebelahnya, mungkin karena kelelahan gara-gara pertempuran di atas kasur tadi malam.
Faris membelai pipi mulus Lisa, sungguh lembut dan saat tidur Lisa begitu cantik, terlihat begitu tenang dan wajah cantiknya sangat bersinar, sungguh wanita solehah.
"Mas Faris," kedua mata Lisa terbuka, sangat nyaman saat merasakan sentuhan dari sang suami.
Dalam hatinya, seperti inikah? Sentuhan dari laki-laki yang tulus yang benar-benar mencintaiku, jauh sekali dengan sikap Mas Rizal di masa lalu, Mas Faris aku mencintaimu.
"Selamat pagi istriku," kecupan lembut mendarat di kening Lisa, sungguh membuat pipi Lisa merah, tapi hatinya sangat bahagia, di perlakukan begitu manis oleh suami sendiri itu salah satu hal yang banyak di harapkan oleh banyak wanita, tapi aku tahu hanya wanita yang beruntung yang berhak mendapatkan itu, aku bersyukur menjadi salah satu wanita beruntung di antara banyak wanita.
"Selamat pagi juga suamiku," dengan lembut Lisa membalas sapaan sang suami.
"Mandi gih! Kan hari ini kita mau ke makam, terus pulang dari makam nanti mampir ke rumah Mama, jemput Alen," ujar Faris dengan nada lembut.
Lisa mengangguk, ia turun dari tempat tidur, lalu langsung pergi ke kamar mandi, tanpa menunggu lama Faris juga ikut turun dari kasur. Ia langsung menyusul Lisa yang sudah berada di dalam kamar mandi sana.
"Mas,"
Lisa yang sedang membuka pakaiannya, ia kaget karena sang suami tiba-tiba membuka pintu kamar mandi.
"Aku mau mandi dulu Mas," kata Lisa dengan nada lembut.
"Aku mau mandi bareng sayang," sahut Faris enteng.
Mendengar suaminya mau mandi bareng, Lisa yakin pasti ujung-ujungnya tidak hanya mandi saja pasti ada embel-embel ehem-ehemnya.
Tatapan Faris sangat nakal, membuat Lisa tahu akan arah semua itu kemana? Iya kebawa sana.
"Sebelum mandi, kita bermain-main dulu ya sayang! Biar sekalian keramasan," bujuknya dengan nada nakal.
Belum sempat Lisa menjawab Faris langsung mencium bibir Lisa dengan rakus.
Akhirnya sebelum mandi, benar kata Lisa pakai embel-embel dulu.
Beginilah suami barunya, jauh berbeda dengan mantan suaminya dulu, dulu saat sama Rizal boro-boro mandi bareng. Aku cantik saja tetap di selingkuhi, sungguh laki-laki brengsek dia itu.
***
Rizal sedang menikmati kopi buatannya sendiri, dulu kopi selalu di buatin sama Mona tapi akhir-akhir ini jangankan kopi sarapan saja Rizal selalu beli nasi uduk di warungnya Bu Mar.
Mona sekarang pemalas, dia lebih suka dandan, pekerjaan rumah juga lebih sering Rizal yang mengerjakan semuanya.
__ADS_1
Rizal yang dulu bagikan raja sekarang bagikan pembantu bagi Mona.
"Zal, kamu kok makan nasi bungkus?" Ratna yang baru saja datang, tidak terima anaknya hanya di kasih makan nasi bungkus. Lauknya hanya tempe orek, sambel sama gorengan satu.
Padahal Ratna sebagai Ibunya selalu memberikan makanan enak untuk Rizal setiap hari. Ya empat sehat lima sempurna selalu Ratna hidangankan di atas meja makan setiap hari.
"Pasti Mona tidak masak lagi," tebak Ratna menahan amarah yang begitu menggebu-gebu.
"Ibu, ada apa pagi-pagi sudah datang ke rumah?" tanya Rizal, ia enggan mengurusi pertanyaan dari Ibunya, bukan apa-apa bisa-bisa urusannya akan panjang.
Ratna mencari-cari keberadaan Mona, dimana mantu sialan itu? Suaminya kok setiap hari di kasih makan nasi bungkus, padahal aku lihat dia beberapa hari maka di restoran. Dasar istri tidak ada ahklak, Rizal juga sama Mona kalah dulu sama Lisa perasaan Lisa tidak seperti ini, dia jauh lebih baik dari Mona.
"Mana Mona?" tanyanya dengan nada menggema.
Mona yang mendengar suara sang mertua, ia beranjak kasar dari tempat duduknya.
"Apa sih Bu?" tanya Mona, ia berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya ke dada. Tatapan matanya begitu tidak suka pada Ratna.
Biarpun Ratna ini mertuanya tapi sudah seperti musuh bebuyutannya, sedikitpun Mona yang dulu begitu baik pada Ratna sekarang sudah berubah 100 persen. Padahal mah sebelum nikah sama Rizal mati-matian dapatin hatinya Ratna, eh pas sudah menjadi menantunya ternyata berubah menjadi iblis jahanam.
"Eh kamu, masak sih! Suami kok di kasih makan nasi bungkus terus," sentak Ratna marah.
"Bu, sudahlah jangan banyak protes! Masih untung anak Ibu makan, dia itu pengangguran Bu, aku yang kerja. Ya terserah aku Bu, aku capek jadi tidak ada waktu buat masak," ujar Mona tak perduli pada sang mertua.
"Jangan berani kamu sama suami!" titah Ratna kasar.
"Aku hanya mengatakan kenyataan yang ada saja Bu, sudahlah Bu, jangan buat rusuh di depan rumahku! Malu sama tetangga," kata Mona enteng sekali.
"Mon, sebelum kamu kerja, Rizal juga kerja jadi hargai suamimu!" bentak Ratna, tatapannya begitu sinis tapi tak membuat Mona takut padanya.
"Itu dulu, sekarang dia tidak bekerja, lihat setiap hari di rumah dan aku yang pontang-panting cari duit," dengan kesal Mona mengatakannya pada Ratna.
"Zal, kamu itu ceraikan saja wanita seperti ini! Lagian kan kalian juga hanya nikah siri, tinggalkan saja sudah!" tatapan Ratna begitu tajam, ia berkacak pinggang.
"Bukannya bagus kalau benalu ini pergi dari hidupku," tatapan Mona begitu remeh pada Rizal.
Rizal beranjak dari tempat duduknya, lalu ia menyuruh Ibunya untuk pulang karena tidak mau urusannya makin panjang.
"Bu, sudah ya Ibu pulang saja!" katanya mengusir Ibunya, Ratna menatap Rizal marah.
"Dasar anak kurang ajar!" cetusnya, lalu Ratna pergi meninggalkan Mona dan Rizal dengan keadaan marah.
__ADS_1
Setelah Ratna pergi, Mona hanya geleng-geleng kepala, lalu ia kembali masuk ke dalam rumah tanpa mengajak Rizal.
Kehidupan Rizal memang banyak berubah, mungkin ini balasan untukny karena di masa lalu Rizal sering kali menyakiti hati Lisa.
Saat Mona masuk Rizal kembali duduk, ia melanjutkan makannya karena masih sangat lapar.
***
Faris dan Lisa sedang di makamnya Tiara, kini keduanya baru saja selesai mengaji.
Lisa mengusap nisan makam Tiara dengan penuh kasih sayang, biarpun hatinya sangat merasa kehilangan tapi Lisa berusaha menahan tangisnya. Ia tidak ingin menangis lagi, ia ingin Tiara bahagia di surga sana.
Lisa mencium nisan Tiara. "Tiara, Mama sayang sekali pada Tiara," kata Lisa dengan nada lembut.
"Papa Faris juga sayang kamu Nak, jika kamu masih ada pasti Papa Faris akan menyayangi kamu seperti anak Papa sendiri," sambung Faris dengan tulus.
"Tiara, Mama bahagia menikah dengan Papa Faris. Maaf Mama memilih pisah dengan Papa Rizal," kata Lisa hampir saja air matanya pecah tapi Lisa tetap kuat menahannya.
Kata demi kata di ungkapkan oleh Lisa pada Tiara, Faris juga dengan setia menemani Lisa, ia tahu kalau saat ini istrinya ini sangat merindukan mendiang anaknya.
Setelah beberapa lama,Lisa akhirnya selesai, lalu mengajak Faris pulang.
Saat Lisa berjalan pulang, ia kembali melihat ke makam sang putri dan di sana seperti terlihat bayangan Tiara, ia memakai baju putih, senyumnya begitu manis sambil melambaikan tangannya ke arah Lisa. Mungkin ini pertanda kalau Tiara juga ikut bahagia di alam sana saat melihat Mamanya hidup bahagia.
Lisa membalas lambaian tangan, ia juga tersenyum pada bayangan itu.
Setelah selesai berziarah, Lisa dan Faris ke rumah Mamanya Faris untuk menjemput Alena di sana.
Sesampainya di rumah kedua orang Faris, Lisa langsung di sambut dengan hangat, beda sekali dengan Ratna yang selalu menyambutnya dengan tidak bahagia, sekarang aku bisa merasakan kasih sayang yang nyata dari kedua mertua.
Ipah dan Fahmi ternyata ada di situ juga, mereka juga datang untuk menjemput Tasya.
Dengan senang hati Melani dan Burhan, mengajak para anak mantunya itu untuk sarapan bersama.
Di atas meja makan terlihat Lisa begitu bahagia, mereka bercengkrama dengan hangat, sambil menikmati makanannya dengan nikmat.
Lisa terdiam, entah kebaikan apa yang aku lakukan di masa lalu? Aku sungguh bahagia karena bisa punya keluarga yang saling menyayangi seperti ini, biarpun mereka orang kaya tapi mereka tidak pernah pandang bulu.
Mama mertuaku, Papa mertuaku juga sangat baik sekali, aku bagi mereka sudah seperti putrinya sendiri. Terimakasih sudah menerimaku dengan baik, menyayangiku setulus hati kalian.
Setelah selesai sarapan bersama, kini mereka menonton televisi bersama sambil ngobrol dan bercanda ria. Lisa sudah jatuh di keluarga yang tepat, jauh sekali dengan masa lalunya.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia