
" Tapi pak kami memang benar tidak belakukan apa yang dituduhkan mereka" ucap Jio yang kaget dengan keputusan pak RT.
" benar pak" ucap Mira yang menangis sudah tidak tau harus bagaimana lagi.
" Keputusan ada ditangan kalian" ucap pak RT.
" Tapi kami tak berbuat hal kotor itu" ucap Mira membela diri.
" ya Allah hamba harus bagaimana, kak Ana tolong Mira" ucap Mira dalam hati.
" baiklah " ucap Jio terjeda ia membuang nafas berat. Ia tidak menyangka akan seperti jadinya. Bagaimana pun ia harus menentukan pilihan diarak keliling kampung tau menikahi Mira.
" kami akan menikah" ucap Jio dengan mantap ia yakin dengan keputusannya itu. Ia harus menikahi Mira tidak mungkin ia diarak keliling kampung bisa bisa ia akan jadi terending topik besok di media kabar. Dan kalau mama dan papa tau mereka akan sangat kecewa dengannya, Jio tidak mau hal itu sampai terjadi.
Mira yang mendengar penuturan Jio kaget.
" tapi kak" ucap Mira memandang Jio dengan pandangan sulit di percaya.
" tidak ada jalan lain Mira " ucap Jio.
Mira yang mendengarnya juga berpikir demikian kalau ia sampai diarahkan keliling kampung bisa bisa dia dikeluarkan dari sekolah kalau sampai pihak sekolah tau. Dengan menikah dengan Jio setidaknya warga akan diam.
" baiklah kak kalau itu yang terbaik " ucap mira.
Jio hanya menganggukkan kepala saat Mira menyetujui keputusannya.
" baiklah kami akan mengurus pernikahan kalian"
ucap pak RT.
.....
Mira sudah siap dengan kebaya yang dipinjamkan tetangganya padanya dan balutan makeup yang alakadarnya.
Mira memandangi wajah dari balik cermin ia tidak menyangka akan jadi seperti ini.
Nasi sudah jadi bubur kalau tadi ia tidak menawarkan diri untuk mengobati luka Jio mungkin hal ini tidak terjadi.
.....
Ijab kabul pun selesai di akhiri dengan kata sah para warga. Setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri warga pamit pulang hanya menyisakan Jio dan Mira. Entah mengapa rasa canggung menyelimuti hati Mira padahal waktu mereka bertemu sebelumnya ia biasa biasa saja apa karena mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri mungkin saja seperti itu.
.....
" Mira"
Anaya mengusap wajahnya yang berkeringat entah mengapa Anaya bermimpi buruk tentang Mira.
" iya Allah ada apa ini "
__ADS_1
" kenapa perasaanku gak tenang" ucap Anaya dengan kwatir pada kondisi Mira saat ini.
" apa Mira baik baik aja"
" aku sebaiknya shalat " ucap Anaya bangkit.
Setelah selesai mengambil wudhu Anaya pun melaksanakan shalat tahajud.
Setelah selesai shalat Anaya membaca Alquran sebentar.
" suara siapa itu" ucap Ken yang terbangun dari tidurnya
ia beranjak keluar mencari sumber suara itu.
" siapa yang mengaji tengah malam seperti ini" ucapnya dalam hati. Sumber suara tersebut dari kamar Anaya.
Ken berhenti sebentar ia mencoba memastikan apa benar itu suara Anaya. Ken yang mendengarkan suara mengaji Anaya merasa tenang memang suara Anaya sangat merdu.
" iya ini suara Anaya " ucap Ken meyakini dalam hati.
Cukup lama Ken berdiri di depan kamar Anaya. Entah mengapa Ken merasa tenang mendengar lantunan ayat suci yang di baca Anaya.
Setelah selesai Anaya mengaji barulah Ken pergi ia kembali lagi kekamarnya.
.....
" ya"
"aku" ucap Mira terhenti ketika merasakan nyeri yang hebat di kepalanya.
" Akhhhhhhh kenapa kepalaku pusing lagi " ucap Mira memegangi kepalanya.
" Mira kamu kenapa " ucap Jio ketika melihat cairan merah keluar dari hidung Mira.
" hidung kamu berdarah"
" ha apa " ucap Mira langsung mengecek hidungnya benar saja hidung Mira mengeluarkan darah.
" aku ba-ik"
Brakkk
Mira terjatuh pingsan untung Jio dengan cepat menangkap tubuh Mira sebelum menyentuh lantai.
" Mira"
Jio langsung mengangkat tubuh Mira dan melangkah keluar. Ia langsung menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah ia langsung memasukkan tubuh Mira ke kursi penumpang.
Jio mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Ia sangat menghawatirkan Mira entah ia pun tidak mengerti.
Sesekali ia melihat ke belakang memastikan Mira apa dia sudah sadar apa belum.
" Dokter "
Mira pun mendapatkan penanganan dari pihak rumah sakit dengan cepat.
Karena yang membawanya adalah Jio siapa yang tidak mengenal Jio dari keluarga Atmaja.
Keluarga Atmaja adalah pemilik saham terbesar dirumah sakit ini. Setengah jam belalu Jio tetap setia mmenunggu di depan ruangan dimana Mira berada dan akhirnya dokter keluar juga.
" Bagaimana dok"
ucap Jio yang melihat dokter keluar dari ruang UGD.
" Tuan bisa ikut saya keruangan saya sebentar"
ucap dokter.
" baik dok" ucap Jio mengikuti langkah dokter Aryasampai keruangan dokter Arya.
"baiklah saya bicara dengan siapa?"
" saya Jio "
" baik tuan Jio, adik anda "
" istri " ucap Jio dingin kepada dokter.
"ah baiklah istri tuan " ucap dokter Arya cukup terkejut dengan penuturan Jio. Pasalnya Mira sudah beberapa kali kesini untuk melakukan cuci darah dan juga yang menganganinya adalah dokter Arya sendiri. Tapi hanya dia sendiri yang datang tidak didampingi siapapun.
" begini tuan kondisi ini bisa saja terjadi bila istri tuan tidak rutin cuci darah" ucap dokter Arya.
" cuci darah" beo Jio. ia bingung dengan perkata dokter Arya pasalnya ia tidak mengetahui apapun.
" iya apa tuan tidak mengetahui tentang penyakit istri anda sendiri" ucap dokter cukup kaget karena Jio tidak mengetahui tentang penyakit Mira.
" tidak" ucap Jio
" baiklah istri tuan menderita leukimia dan hal ini bukan sekali dua kali terjadi padanya bila tidak melakukan cuci darah secara rutin saya sudah memperingatinya sebelumnya tapi dia tidak mendengarkan saya" ucap dokter Arya panjang lebar.
" dan Mira belum boleh mengandung dalam waktu dekat karena sangat berbahaya bagi dirinya dan bayinya juga"
ucap dokter Arya secara tiba tiba.
.....
bersambung .... 🤎
__ADS_1