
Jio yang sudah siap dengan setelan kasualnya turun menuruni anak tangga. Mira yang mendengar suara langkah kaki dari tanggal spontan langsung menoleh ke arah Jio.
" kenapa dengan jantungku" ucap Mira dalam hati pasalnya ia merasa ada yang tidak beres dengan jantungnya saat ini.
" Pagi tuan " ucap bik Ati.
" Pagi bik" jawab Jio dengan senyum.
" Wah manisnya " ucap Mira tanpa sadar. Ia cukup mengagumi ketampanan Jio. Apalagi ketika ia tersenyum akan terlihat semakin manis.
" apa kamu bilang " ucap Jio.
" ha apa kak " ucap Mira yang sadar dari lamunannya ia merutuki dirinya bisa bisanya dia melakukan hal yang memalukan seperti ini.
" Kamu bilang apa tadi" tanya Jio lagi. Sambil tersenyum pasalnya ia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Mira tadi. Namun ia pura pura tidak tau hanya untuk mengerjai Mira saja. Entah mengapa melihat wajah Mira yang tengah malu membuat ia lupa dengan Anaya.
" Enggak ada kok kak" ucap Mira gelagepan Jio yang melihatnya hanya tersenyum saja.
" Iya sudah kalau begitu kita sarapan saja " ucap Jio.
" Iya kak"
Jio dan Mira pun sarapan dengan tenang tidak ada pembicaraan.
"Kak boleh enggak aku izin keluar hari ini" ucap Mira sambil terus menunduk tidak melihat wajah Jio saat ini rasanya ia tidak sanggup sungguh sangat malu rasanya.
"Kemana " tanya Jio singkat.
" Mmm itu ka-k" ucap Mira tebata.
" Apa meja itu cukup menarik Mira" ucap Jio yang menatap Mira yang sejak tadi menunduk.
" hah tidak kak " ucap Mira mendongakkan wajahnya.
"bila sedang berbica tatap wajah lawan bicaramu Mira" ucap Jio yang tengah menatap wajah Mira.
Mira yang ditatap oleh Jio hanya dapat diam.
" aduh kenapa jadi mendadak bego gini sih " ucap Mira dalam hati yang terus diam.
" it-u kak" ucap Mira gagu. Bagaimana tidak Jio menatap Mira penuh dengan selidik.
" HM" ucap Jio.
" Itu kak aku mau pergi kerja kak" ucap Mira menutup mata sambil kedua tangannya meremas ujung hijab yang ia kenakan. Entah mengapa ia takut menatap wajah Jio sekarang.
" kerja " beo Jio, dia tidak habis pikir dengan gadis yang sudah menyandang status sebagai istrinya ini.
__ADS_1
" tidak " ucap Jio penuh penegasan yang berarti tidak mau dibantah. ia tidak mungkin mengizinkan Mira bekerja karena sekarang Mira adalah tanggung jawabnya sekarang. terlebih Mira baru keluar dari rumah sakit.
" tapi kak" ucapan Mira terhenti.
" saya tidak suka dibantah Mira" potong Jio saat ia merasa Mira akan membantah.
" tapi kak Mira butuh kerjaan itu kak" ucap Mira sambil terus menunduk.
" sekali saya bilang tidak ya tidak, saya tidak suka dibantah Mira Ayunda" ucap Jio penuh penekanan sambil beranjak dari kursinya.
Mira ya mendengar Jio berkata demikian hanya diam saja. ia hanya duduk diam tidak bergeming sedikitpun.
" apa dia bilang ingin bekerja dia anggap aku ini apa, hanya pajangan gitu apa dia kira aku enggak mampu biayai dia " gumam Jio yang frustasi dengan permintaan istri kecilnya itu.
" kenapa aku jadi gini" ucap Jio yang sadar dengan tingkahnya sendiri.
Jio yang bingung dengan dirinya sendiri memilih untuk mengalihkan pikirannya dengan bekerja.
13.00
Mira yang sedang duduk di taman belakang dikagetkan dengan kedatangan bik Ati.
" non dipanggil tuan untuk makan siang "ucap bik Ati.
"iya bik" ucap Mira bergegas bangkit dari duduknya.
" duduk " ucap Jio yang melihat Mira hanya berdiri mematung di depannya.
" baiklah kak" ucap Mira.
" bagus Mira jadilah istri penurut kalau kau tidak ingin berdosa melawan suamimu" ucap Jio tanpa menatap Mira.
" apa piring itu terlihat menarik kak" ucap Mira sambil meledek Jio.
" ha" ucap Jio langsung melihat kearah Mira.
" ketika kita berbicara harus menatap lawan bicara kak" ucap Mira sambil tersenyum dibalik senyuman itu ada terselip ejekan untuk Jio.
" ternyata mood nya cepat berubah juga " ucap Jio dalam hati.
" hmm ambil makananmu Mira " ucap Jio yang melihat piring Mira masih kosong.
sebenarnya Jio hanya mengalihkan topik pembicaraan saja. jujur dia sudah kalah telak sekarang.
" baik kak" ucap Mira meraih piringnya.
..........
__ADS_1
" Anaya apa kamu yakin tidak mau saya antar pulang" ucap Farel.
" tidak kak farel saya bisa sendiri " ucap Anaya menolak tawaran yang ajukan farel sedari tadi padanya.
" baiklah Anaya " ucap Farel.
" iya kak"
" kalau begitu saya pamit ya kak"
" Assalamualaikum " ucap Anaya berlalu dari hadapan Farel.
"Walaikumsalam"
" aku nyesel Ken sudah memberimu saran untuk menikah kontrak, kalau aku tau wanita yang akan dijodohkan denganmu dia" gumam Farel sambil terus melihat punggung Anaya yang semakin menjauh.
" Assalamualaikum" ucap Anaya ketika membuka pintu untuk masuk kedalam.
" Walaikumsalam "
" Darimana kamu " ucap Ken penuh selidik seakan Anaya maling yang tertangkap basah.
Bukannya menjawab Anaya malah melihat ke kanan ke kiri. Seperti mencari sesuatu.
" Jawab saya Anaya"
" Bukan urusan mas" ucap Anaya seolah ketakutannya pada Ken sudah hilang.
Ken yang mendengar perkataan Anaya sedikit tercengang . Sejak kapan Anaya berani kepadanya.
" oo saya tahu pasti kamu bertemu dengan pacarmu itu kan" ucap Ken tidak mau kalah.
Anaya terkejut mendengar tuduhan Ken padanya. Seolah dia membalikkan kesalah yang diperbuatnya ke Anaya.
" saya tidak seperti mas pikirkan" ucap Anaya yang sudah tidak tahan dengan tuduhan Ken padanya.
Yang sudah jelas diialah ybag bertemu dengan pacarnya.
" munafik" ucap Ken menatap Anaya dengan tatapan remeh.
" yang pastinya saya tidak seperti kamu mas " ucap Anaya seraya berlalu dihadapan Ken.
Anaya yang jalan menjauh tiba tiba menghentikan langkahnya.
" dan satu lagi mas "
" istri mana yang tidak terluka pada saat suaminnya membawa wanita lain kerumah mereka" ucap Anaya tanpa menoleh ke arah Ken.
__ADS_1