
"Selamat siang pak,apa.ada yang bisa kami bantu" ucap si kepala satpol PP
"apa kalian melakukan razia jalanan beberapa hari terakhir?" ucap burges sambil memainkan ponselnya
"kami banyak melakukan razia jalanan pak,pertama di jalan ini kedua di jalan ini,yang ketiga di jalan ini,dan ini yang paling berkesan"
"Kenapa bisa seperti itu?"
"kami butuh 10 personil untuk membekuk remaja itu" ucap kepala pol pp sambil menunjukan 10 jarinya
burges menunjukan foto bima di layar ponselnya "apa itu dia"
"naaah ini dia,ini pak anaknya,kuat sekali dia sampai sampai 3 angota kami harus di rawat di UGD"
"dimana sekarang dia"
"kemarin ada wanita yang mengaku sebagai ibunya dan dia berjanji tidak akan membiarkan anak itu di jalanan lagi"
"Kau punya identitas nya?"
"aah tidak pak,saya lupa menanyakan nya kemarin"
"Apa begini caramu bekerja ha" bentak burges
"haha kami di beri uang masalah beres pak, lumayan untuk pandemi saat ini"
Sementara itu di kantor rangga
rangga yang selesai meeting segera berjalan ke ruanganya,di perjalanan ia sangat memikirkan ucapan petrick sahabatnya.
tentang mencoba mencintai safira dan memulai hubungan suami istri yang sebenarnya.
__ADS_1
rangga menghampiri sekertaris yang duduk di depan pintu ruanganya
"apa file yang kuminta kemarin"
"ini pak"
"ummm apa bapak mau mencari jodoh" ucap si sekretaris ragu ragu
"bukan urusanmu" ucap rangga lalu masuk ke ruanganya
saat masuk ke ruanganya rangga melihat safira yang sudah duduk di kursinya
"ah situasi yang bagus" gumam rangga dalam hati
"Siang" ucap rangga yang tidak tau harus berkata apa
"sudah cepat apa yang mau kamu katakan aku capek mau istirahat" ucap safira ketus
rangga menyerahkan map file yang ia dapat dari sekertaris nya "eee itu tolong di baca"
safira mengernyitkan dahinya "maksudnya?"
"iya itu keuntungan yang akan kamu dapat,dan kerugian jika kamu menolak penawaran saya,jadi mau gak jadi pacar saya" ucap rangga formal seperti saat mengajukan kontrak kerja sama
"buahaaahaha" pecah tawa safira saat mendengar hal itu lolos dari mulut rangga
"kenapa?"
"kalau begitu caramu menyatakan cinta,aku rasa tidak ada gadis yang mau jadi kekasih mu"
"aku serius,aku serius ingin belajar mencintai mu"
__ADS_1
"eh?"
"kenapa,kamu tidak mau kita memulai semuanya dari awal?"
safira memutar kursinya menghadap jendela dan membelakangi rangga
"entahlah,aku tidak tau"
"yang kufikirkan sekarang adalah statusku nanti yang akan jadi janda saat bercerai denganmu"
"mengingat pernikahan kita hanya demi memenangkan kasus bima"
rangga segera bangkit dari duduknya dan menghampiri safira
ia mengusap air mata safira dan menggenggam tangan nya
ia menatap mata safira dalam dalam "dengar aku sudah tidak peduli tentang alasan kita menikah,mari kita belajar saling mencintai"
"taruhlah namaku di hatimu,dan aku ingin pewarisku terlahir dari rahimu" ucap rangga sembari mengecup singkat perut safira
rangga mengangkat kedua kaki safira "dan aku mau telapak kaki ini,menjadi surga untuk anak anaku nanti" ucap rangga sembari mencium telapak kaki safira
air mata bahagia tak terbendung dari mata safira.
rangga menarik safira dan menaruh dalam dekapan nya "hei sudah jangan menangis,nanti jelek loh"
"biarin,om jahat,kanapa harus se so sweet ini sih" ucap safira yg masih menangis
"sudah sudah,dan jangan panggil aku om, panggil aku mas saja"
"i i iya mas"
__ADS_1