
Aris dan hengki tidak berkutik sama sekali setelah mendapatkan bentakan dari ke-2 orang yang sedang bertengkar.
'Astaga mereka yang bertengkar, tapi mengapa kita berdua yang menjadi sasarannya' batin hengki sambil melirik aris.
'Aku juga tidak tau dan cara aman agar kita tidak mendapatkan masalah yang lebih besar kita sebaiknya diam saja' batin aris lalu membalas tatapan hengki. Mereka berdua seakan sedang bertelepati.
Setelah puas membentak aris dan hengki, zahra dan rendi pun kembali bertatapan. Meraka berdua saling melempar tatapan tajam khas masing*.
"sepertinya akan ada peran dunia di sini" bisik hengki kepada aris.
"Sebaiknya kita mencari alasan untuk keluar dari ruangan ini. Aku tidak mau menjadi sasaran kemarahan mereka lagi" usul aris sambil berbisik-bisik.
Hengki membalas dengan anggukan kepala tanda bahwa ia setuju.
"Tuan muda, dokter zahra kami berdua permisi dulu ya. Soalnya kami ingin mencari sarapan" seru aris ragu*. "Baiklah kalian berdua bisa pergi" jawab rendi dingin namun tatapannya tetap pada zahra.
Setelah mendapatkan izin dari rendi, mereka berdua pun bergegas pergi dari ruangan yang akan membuat siapa pun yang berada di dalamnya merasakan ketakutan.
Zahra pun melanjutkan dengan aktifitasnya yaitu menyuapi rendi. "oke, sekarang kau minum obat" seru zahra memecah keheningan. Rendi hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah rendi meminum obatnya zahra pun membereskan rantang yang di bawahnya tadi.
"Aku ingin makan siang ku juga kau yang menyiapkannya lebih tepatnya adalah kau yang memasakkan makan siang ku" pinta rendi namun dengan wajah datar. "Eits… jangan membantah itu perintah" kata rendi yang seakan tau zahra akan membantahnya.
"Hmm… baiklah aku akan mengikuti perintah mu tuan muda rendi wijaya" jawab zahra pasrah namun dengan penuh dengan penekanan di setiap katanya.
"Boleh aku bertanya?" tanya zahra.
Rendi hanya berdehem saja.
"Maaf sebelumnya jika pertanyaan ku nanti akan membuatmu marah atau apa" jelas zahra.
"Iya* katakan apa yang ingin kau tanyakan" seru rendi yang dari tadi sudah penasaran akan pertanyaan zahra.
"Astaga dokter zahra kenapa anda bertanya seperti itu ya tentu tidak lah. Jika aku ini adalah seorang gay* sudah di pastikan aku memacari ke-2 anak Dajjal itu" kata rendi.
"ya ngegas juga kali aku kan hanya bertanya. Aku bertanya seperti itu karena tidak ada satupun wanita yang mengunjungimu ya kecuali aku. Tapi aku kan wajar secara aku itu dokter pribadimu walau pun sementara" jelas zahra.
pletak
__ADS_1
"Ih… kau ini selalu saja menjitakku salah ku apa sih" omel zahra dengan raut wajah kesal.
"Itu hukuman untuk pertanyaan konyol mu. Dan kenapa tidak ada wanita yang mengunjungi ku soalnya sudah ada kau jadi aku tidak membutuhkan wanita lain lagi" seru rendi terkesan menggombal.
uwek
"Cih… dasar buaya" kata zahra.
"Hey… ingat ya buaya itu bukan cuman jantan, betina juga ada kali" jawab rendi sambil menyubit hidung zahra.
"Auu… ternyata selain suka menjitak kepalaku kau juga sangat suka menyubit hidung ku ya" omel zahra sambil memanyunkan bibirnya 1 meter ke depan.
"Soalnya kau itu sangat gemes jadi aku mendapatkan hobi baru ku yaitu menjitak kepalamu, meyubit hidung dan pipi mu" jawab rendi gemas sambil meyubit pipi zahra.
Zahra menjadi semakin kesal dengan tingkah rendi yang suka berubah-ubah seperti warna kulit bunglon.
Hy guys makasih yang udah baca novelku ya😊🙏
Jangan lupa buat vote dan like novelku ya🥰
__ADS_1
Dan tuliskan juga kesan dan saran kalian di kolom komentar😗
Selamat membaca🤗🌈😊🥰