
Zahra hanya menganggukkan kepalanya.
"Paman… paman… paman di mana ayo kita pulang" panggil farah. Rendi pun membalik badan "Paman di sini, kau pergilah lebih dulu paman akan menyusul" seru rendi.
Farah pun mengerti ia kembali ke dalam mansion. "Ayo masuk, aku akan segera pulang dan ingatlah satu hal jangan pernah kau mengeluarkan kata* yang bermaksud ingin meninggalkanku" ucap rendi dengan nada sedikit mengancam. Zahra pun kembali menganggukkan kepalanya.
'Oh ya allah… engkau mentakdirkan hamba dengan siapa. Kenapa dia bisa seposesif begini, lagi pun kenapa jika aku meninggalkannya? apakah dia sudah menaruh hati padaku?. Haha mungkin saja setara dokter ahli bedah ini kan cantik' batin zahra, sambil menyungging senyum.
"Hey kenapa kau senyam- senyum seperti itu? apa yang sedang kau pikirkan?" tanya rendi heran. "Tidak ada" jawab singkat zahra sambil terus tersenyum tak jelas. "Ia aku tau aku ini tampan tidak usah bangga" ucap rendi percaya diri, ia berpikir bahwa zahra sedang memikirkannya.
"Idih kepedeaan" jawab zahra lalu memutar bola matanya malas.
"Hey jujur saja tak perlu malu-malu" ejek rendi. "Hah? helo maaf ya masih banyak yang bisa aku pikirkan selain dirimu" jawab zahra lalu meninggalkan rendi.
__ADS_1
"Hey jangan bilang kau sedang memikirkan laki* lain awas saja kalau kau sampai memikirkan laki* lain aku akan membunuhnya" teriak rendi. Zahra yang mendengar hal itu berhenti sebentar lalu membalik badan dan kemudian ia menjulurkan lidahnya mengejek rendi.
"Oh jadi kau sedang mengejek ku?" tanya rendi kesal. Zahra pub senang akhirnya dia bisa membuat calon suaminya itu kesal. zahra semakin mengejek rendi, dan rendi tak tinggal diam ia mengejar zahra. Dan terjadilah aksi saling kejar mengejar.
"Oh… ya ampun paman dari tadi kami sudah menunggumu dan ternyata paman main kejar-kejaran bersama kak zahra?" ucap farah.
Zahra dan rendi menghentikan aktifitas saling kejar mengejar. Mereka pun masuk kedalam, "Maaf bu, yah karena sudah menungguku" ucap rendi.
"Farah apa yang terjadi?" ucap bu wina, karena melihat farah terlihat kesal. "Ini paman dan kak zahra tadi malah main kejar-kejaran sudah gitu tidak mengajak ku" ucap farah kesal.
"Is… paman jangan tertawa seperti itu" seru rendi semakin kesal. "Apa jadi bibi ara main kejar-kejaran dan tidak mengajak bili juga? bibi main bersama om rendi?" tanya bili yang juga tak kalah kesal.
Zahra dan rendi pun semakin menambah volume tawa mereka kala melihat kedua keponakan mereka yang polosnya minta ampun. Akhirnya rendi mengangkat bili lalu memeluknya dan zahra ia memeluk farah dengan erat sambil menyungging senyuman.
__ADS_1
Momen tersebut tampak seperti satu keluarga kecil yang bahagia. Bu wina tak melewatkan momen tersebut ia langsung memotret mereka. Mereka pun saling tersenyum.
Setalah itu rendi melepas bili dari pelukannya begitu juga zahra yang melepas pelukannya terhadap farah.
"Ya sudah maafkan kami karena tidak mengajak kalian" ucap mereka berdua secara kompak.
Setelah itu rendi sekeluarga pun pulang. Sebelum pulang rendi membisikan sesuatu pada zahra. "Hey jangan lupa memimpikan aku" ucap rendi.
Hay guys makasih yang sudah baca novelku😊
Jangan lupa buat vote dan like ya🙏😉
Tuliskan juga kesan dan saran kalian di kolom komentar🥰🤭😘
__ADS_1
Selamat membaca🤗🌈❤😚