
Rizki langsung menutup pintu mobil dan meninggalkan mama Tina yang masih terpaku di halaman rumah,
Pak Herman pun dengan sigap menangkap mama Tina yang hampir jatuh dan dengan di papah mama Tina masuk kerumah untuk membicarakan semuanya pada suaminya.
"Mereka udah tau pah"
"Tau apa mah!"
"Sisi anak angkat kita,dan mereka kecewa sama kita!terus kita harus gimana paaah?mama takut mereka gak mau maafin kita!"seru mama tina
"Mama tenang mah,tenang dulu!"
Pak Herman pun bingung harus berbuat apa,disaat pikirannya sedang bermain untuk mencari jalan keluar, tiba-tiba mama Tina pingsan diatas sofa,membuat suaminya kebingungan dan panik.hanya Rizki yang ada dibenak nya untuk bisa dihubungi namun tidak dihiraukan oleh Rizki,berlanjut menghubungi aditia, anak sulungnya dan Adit pun dengan bergegas menuju orangtuanya,
"Ko bisa sih pa,ada apa sebenarnya mama bisa sampai begini?"tanya Aditia sambil terus berada disamping mamanya
"Panjang ceritanya dit,yang jelas kita semua harus kumpul,coba kamu telepon Rizki bilang kalo mama pingsan atau apalah biar dia mau ketemu kami"ucap pak Herman panjang lebar
Adit yang belum mengerti apa maksud semua itu,mencoba mengiyakan perintah papahnya,
Deerrrrtttt!
"Halo Ki ,Lo dimana?!"
"Dibengkel gue,nape bro!"
"Mama pingsan belum sadar-sadar!!gue dirumah mama,Lo kesini cepetan!"
"Astaga!ya ya tunggu otw gue bang!"
Dan pak Herman yang tidak sabaran menunggu hasil dari kerja aditia untuk bisa membawa Rizki pun bertanya,
"Gimana,gimana dit?!"tanya pak Herman penasaran
"Lagi otw pah, tenang aja"
Sesampainya Rizki , langsung berlari untuk menemui mamanya, bagaimana pun rasa sayang Rizki lebih dari apa pun dan tidak sebanding dengan rasa marah yang sementara itu.
Mereka berempat dengan serius membicarakan hal-hal yang menyangkut sisi dan bagaimana jalan keluar dan efek yang akan terjadi dan setelah menimang semua pendapat ,mereka mendapat kata sepakat.
***
Sisi yang masih berada dikediaman darra, mulai bertanya dengan pertanyaan yang tidak biasa pada darra
"Ka darra ,aku mau tanya"
__ADS_1
"Apa si?"
"Menurut Kaka ,apa harus aku cari orangtua kandung aku,tapi aku belum siap dengan alasan mereka.apapun itu pasti terasa sakit ka"
"Kamu harus tau dan berhak tau hal itu sisi,makanya temuin papa mamah biar semua jelas ya?"
"Iya ka,sisi akan coba kumpulin semua keberanian dan berbesar hati untuk terima ini"
Dan darra memeluk sisi dengan bangga, bagaimana sisi sudah mulai berfikir dewasa dalam masalahnya
Dan sisipun kembali bertanya,
Ka,aku mau tanya tapi km jngn ketawa ya!!"
"IyA emang ap pertanyaan nya?"
"Emmm,Rio punya perasaan yang sama gak ya ka kaya aku?"
"Heehee,tanya dooong,jangan kalo ketemu kayak kucing sama anjing"
"Aku takut ka,bukan takut jawaban nya enggak,tapi takut kalo jawabannya iya"
"Aduhh, aneh!!justru senang lah kalo iya berarti dia juga suka!"
"Rio bukan orang kayak gitu si,kalau dia udah yakin sama perasaannya ,dia akan buktiin itu apapun caranya,artinya kalau kamu cuma pelampiasan,Rio ga akan dua langkah maju untuk kenal kamu kaya gini"
Sisipun mulai mencerna perkataan darra dengan serius ,
"Udaaahh,kita tidur yuk.siapa tau ketemu Rio dalem mimpi kamu,heheh"
Dan sisipun tersipu malu dengan perkataan darra,hingga pagi menjelang sisi dan darra sudah berada di tanah lapang karena sisi yang mengajak subuh tadi untuk mencari udara segar,hingga akhirnya di pinggir jalan sisi bertemu Rio dengan sepeda motornya untuk berangkat kerja,mereka pun saling tatap da tersenyum,
"Ehemmm,emang beneran seger ya si udara pagi ini"
"Ahhhh,Kaka ngeledek aja!"
Dan darra pun tertawa melihat ekspresi sisi yang seperti malu malu tapi mau,
Hingga tepat siang hari pukul 13.00,Rizki kembali ke rumah darra ,
"hey,kok kamu gak bilang mau pulang?yaudah aku siapin makan dulu"ucap darra dengan berjalan menuju dapur
"gak usah sayang,ajak sisi rapih-rapih,aku mau ngajak makan kalian diluar"jawab Rizki dengan santai
"waaahhh dalam rangka apa bang!?Abang ulangtahun ya?!"
__ADS_1
"bawel!!ayo cepetan,aku mau cuci muka dulu"
"oke sayang!!"
dengan senang hati darra mengajak sisi untuk bersiap-siap dan sedikit berhias ,entah dalam rangka apa Rizki mengajak mereka,yang jelas darra sangat antusias, dan berbeda dengan sisi yang mulai curiga dengan rencana Rizki namun dia tak ingin mengecewakan darra yang sudah sangat bersemangat.
"ayo bang!kita dah cantik nih!"ajak darra
"tapi bang,ibu sama ayah gak diajak?"sela sisi tiba-tiba
"ini private ,next time kita ajak mereka, yaudah kita pamit dulu"ucap Rizki
dan sebenarnya Rizki sudah memberitahu rencana nya pada orangtua darra selagi mereka bersiap tadi dan orangtua darra ikut mendoakan kelancaran rencananya.
diperjalanan tidak ada sepatah katapun dari mulut rizki,dia hanya membayangkan bagaimana situasi nanti , resiko-resiko yang akan terjadi dan efek yang harus mereka terima.
"bang!diem ajah deh"seru darra
"eh itu,aku lagi mikirin menu apa yang enak ya.aku udah laper ni"ucap Rizki dengan mengelus perutnya
dan sisi hanya menyunggingkan senyum antara percaya dan ragu,karena hanya anak kecil yang mau diperdaya dengan ekspresi tidak natural itu.memang Rizki tidak ahli berakting apalagi dengan sisi yang hidup bersamanya selama ini.
sesampainya di restoran ,darra dan sisi mulai heran karena ruangan itu hanya ada 1 meja besar dan sangat private.
tak lama muncul kedua orangtua Rizki dan Aditia dibelakangnya,seketika membuat sisi terkejut dan berusaha lari dari ruangan tersebut tapi Rizki berhasil menghalanginya.
darra berusaha mengikuti alur cerita yang ada dihadapannya sekarang dan merasa tidak enak darra pun mulai berbisik pada Rizki,
"bang,aku keluar dulu ya.mau ke toilet sebentar"
"kalau kamu mau disini juga gak apa-apa sayang,kamu juga keluarga kita"ucap Rizki seolah tahu itu hanya alasan
"serius mas aku kebelet"jawab darra dengan mengerucutkan bibirnya
"yasudah sana, hati-hati kamu"
darra pun beranjak dari duduknya namun lengannya ditahan oleh sisi,
"Kaka tahu,kamu bisa hadapi ini.kaka ada buat kamu"bisik darra pelan pada sisi
dengan keyakinan penuh dari darra ,sisi pun melepaskan genggaman nya dan tak berhenti menatap darra hingga menghilang dibalik pintu.
"jadi gini si,bang Adit jujur awalnya gak tahu masalahnya sampai harus kita bertemu kayak gini,apapun sikap kamu Abang hargain,tapi kasih kesempatan mama papa buat ngomong sama kamu,boleh?"
dengan menunduk dan menahan kecewa yang masih terselip sisi berusaha mengiyakan dengan mengangguk,
__ADS_1