
Kabut tipis berarak menutupi puncak Rinjani. Legenda keindahan dan keagungan, saksi bisu setiap untaian kisah suku Sasak yang penuh kesederhaan, tipu daya dan pengorbanan. Sang Narator sejati kisah ini. Kabut Cinta Sang Bidadari ....
......
"Aku ingin mencari orang tuaku, Guru " bisik Raksa dengan bibir bergetar. Luapan perasaan yang seperti air bah tertumpah. Teguh Jaga Raksa, menenggelamkan wajahnya dalam pengharapan, tertunduk.
Lelaki tua di hadapannya menatap dengan sorot mata berbeda dari biasanya.
"Aku tidak bisa menahanmu lagi, sudah saatnya kau menulis jawaban dari setiap pertanyaan dan teka teki di hatimu" jawab Sang Guru.
Dia telah menahan keinginan muridnya itu puluhan kali. Kini dia tak berdaya menilak.Dia lantas mencopot cincin di jari manisnyo dan menyerahkan pada Raksa.
"Cincin ini adalah salah satu dari 7 pusaka insani. Dengan kekuatan batin engkau dapat menyimpan dan mengeluarkan segala sesuatu di dalamnya. Didalamnya juga ada benda yang menjadi kunci jati dirimu. Termasuk surat perjanjian pernikahanmu dengan seorang gadis. Turun gununglah besok. Tujuan utamamu adalah sebuah desa kecil. Namanya Desa Lenek, bagian paling barat dari wilayah kerajaan Selaparang. Temui seorang bernama Raden Wirangbaya. Dia akan menjelaskan segala pertanyaanmu. Aku juga menyimpan pusaka Ruyung Hitam untukmu. Pergunakan untuk membela kebenaran" kemudian lelaki tua itu terdiam dan bangkit menuju kamar pengasingannya.
Diambang pintu dia berhenti sesaat. Napasnya berat.
"Jika nanti harapanmu tak seindah mimpi, kau bisa kembali kapan saja, meski kau mungkin tak menemukanku lagi di sini"
........
Air mataku adalah bukti darah hatiku yang luka
.......
Tanya membutuhkan jawaban meski itu menyakitkan. Cerita dan bahagia setara di alam rasa. Bahagia di hati dan membenci bersemayam di kepala. Keduanya dipisahkan jarak tipis tanpa sisa. Raksa sadar semua harus di akhiri. Siapa orang tuanya. Mengapa dia terasing di sini?. Kemudian sosok tunangan yang tak pernah terlintas dalam benaknya. Siapakah dia?
.....
Raksa berdiri di tepi tebing yang terjal. Di belakangnya hamparan bunga keabadian bermekaran. Jauh di bawah sana hamparan danau Segara Anak terhampar. Damai dalam gugusan kabut misterius.
Tangan pemuda itu membeli rerumputan yang bermandikan titik air bening sisa sang kabut.
Dia ingin melihat tempat ini tuk yang terakhir. Sebab dia tak bisa menjamin kapan dia akan kembali lagi ke tempat ini.
__ADS_1
Disinilah dia menghabiskan setengah kehidupannya. Dalam kesendirian. Sepi. Tempat ini adalah segalanya. Semua yang terserak adalah keluarga, sahabat dan bagian dari tangis masa kecil dan remajanya.
Dia hapal setiap lekuk lembah, ngarai dan perbukitan. Hei ...mungkin seperti Keindahan lekuk tubuh seorang gadis dalam halusinasinya. Seorang gadis Bali yang pernah di ceritakan gurunya. Komang Marwati.
.......
Selamat tinggal ...
Aku akan melupakanmu ketika aku telah lupa untuk bernapas.....
.......
Matahari sudah tinggi ketika dia keluar dari pinggir hutan. Di hadapannya kini nampak desa kecil yang nampak sepi. Di padang rumput pinggir desa beberapa sapi bebas mencari rumput. Seorang bocah nampak asik bersantai di dahan pohon Jaot yang berbuah lebat. Memasuki desa nampak pemandangan klasik. Wanita dan anak gadis yang menumbuk padi. Suaranya bertalu merdu seperti panggilan rindu seorang ibu. Memanggilmu pulang dari tanah rantau.
Dari beberapa wanita dia mendapat penjelasan tentang tujuannya. Dia harus berjalan sekitar tiga hari lagi. Dia disarankan mencari desa Ramban Beaq terlebih dahulu. Desa ini adalah bagian dari desa Lenek yang baru berkembang.
Menjelang malam Raksa memutuskan beristirahat.
Malam sunyi. Ada kesedihan menyeruak di hatinya. Dia seperti terkempar di dunia asing. Tak ada derai suara daun Cemara yang menyayat hati. Derai cemara penghantar mimpi mimpinya. Derai Cemara yang mewakili teriakan jiwanya setiap kali dia bertanya siapa, siapa ibu dan ayahnya. Tak ada jawaban. Bahkan gurunya merahasiakan kebenaran. Apakah rahasia itu sangat menakutkan?
.....
"Betul anak Mas, anak dari mana dan ada keperluan apa mencari desa kami? Tanya lelaki tua itu.
"Saya hanya kebetulan singgah, saya ingin pergi ke desa Lenek " ucapnya sopan.
"Ooo... Ini juga bagian dari desa Lenek, apakah anak Mas mencari seseorang?" Lelaki itu menatap Raksa penuh selidik.
"Betul kek, nama saya Raksa, saya baru turun gunung, ada sedikit urusan penting" Raksa menjelaskan dengan santai.
"Anak Mas terlihat lelah, jika mau anak Mas bisa mampir untuk istirahat, oh ya nama paman, Retet Anak. Panggil saja, Retet" jelas lelaki tua itu.
Setelah berpikir sejenak Raksa menerima usul lelaki baik hati itu. Retet juga heran pada dirinya sendiri, dia merasa ada sesuatu yang menarik pada diri pemuda ini. Wajahnya tampan dengan alis seperti pedang, kulit bersih . Perawakannya ramping tetapi berotot. Ada aura bangsawan yang membuat seseorang ingin menatapnya berkali kali.
__ADS_1
Sungguh pemuda yang tampan meski memakai baju yang sederhana. Jika dia seorang wanita, dia bisa menghancurkan sebuah kota dengan pesonanya. Seperti Corona. Hei .. mengapa Corona di bawa bawa.
Entahlah!!!
Sepanjang jalan mereka berpapasan dengan warga yang menatap Raksa dengan pandangan penuh selidik.
Kakek Retet bercerita ringkas bahwa dusun mereka sedang tidak aman. Banyak ternak yang hilang. Hampir setiap malam sekelompok pencuri beraksi. Warga sudah berkali kali mencoba meronda tetapi tetap saja ada yang hilang. Selain itu kepala kampung Raden Ramban Beak sedang pergi ke Selaparang fi panggil Baginda Raja. Dia akan kembali satu bulan lagi.
"Mungkin saya bisa membantu kakek dan warga di sini" Raksa menawarkan diri.
Kakek Retet setujutapi ia tidak bisa membantu. setelah berjalan cukup lama mereka sampai di sebuah rumah sederhana beratap Rumbia dan berdinding bambu. Ada berugak di halaman di samping kandang sapi. Karena tak ada kamar tamu, Raksa memilih di istirahat di berugak. Sambil menanti makan malam dia memilih membersihkan diri di pancuran dekat rumah lelaki tua itu. .
Ketika ia jembali makanan seadanya sudah siap. Seorang anak perempuan, cucu kakek Retet nampak malu malu menata makanan. Mereka memang tinggal berdua. Ibu dan ayah Kemangi telah tiada. Kakek nyalah yang merawatnya.
Kemangi lalu memilih makan sendirian di dapur. Kakeknya tidak keberatan. Maklum saja, gadis dusun yang lugu tak banyak berinteraksi dengan lelaki.
Raksa sedikit terkejut dengan situasi keluarga ini. Dia dapat merasakan bagaimana getirnya hidup tanpa ayah dan ibu. Meski tak kekurangan materi tetapi kehadiran sosok ibu dan ayah sangat dibutuhkan.
Siapakah ayah dan ibuku, mengapa mereka pergi dan tak pernah mencari ku. Apakah aku anak yang tak di harapan?
Pertanyaan itu kembali menggeliat dan membuat Raksa semakin penasaran.
.....
Suara suling belo menggema menyayat sepi. Mencoba merayu pekat malam yang jenaka menggoda lampu Cangklong di pagar rumah. Entah siapa peniupnya. Suaranya mewakili peniupnya. Jiwa yang merintih, bercerita tentang sepinya hidup dalam susah umur di tinggal sang kekasih. Ini makna yang ditangkap Raksa. Dia memahami itu sebab dia dibesarkan dalam bahasa alam, semilir angin dan lenguh hewan hutan.
Kakek dan cucunya telah tertidur. Raksa memilih tidur di berugak. Kakek tidur di kandang sapi, itu harta satu satunya.
.....
Malam yang sepi sedikit terusik. Suara langkah kaki yang pelan tak mampu menipu telinga Raksa yang terlatih. Dia segera melompat dan dengan ringan seperti terbang hinggap di dahan pohon bangkai di halaman. Ajian Kijang Kencana tahap akhir telah di kuasainya. Membuat tubuhnyo seringan kapas ditiup angin
Sekelompok orang mengendap di kegelapan. Pelan. Siapa mereka? Pencuri hati atau sapi?
__ADS_1
........ Bersambung .....