
Kakak beradik itu berpelukan cukup lama.
"Bagaimana kakak bisa berada di sini, apakah kakak juga ditangkap oleh mreka?"
Delima menggelengkan kepala. Topeng perak yang dipakainya menyembunyikan kesedihan diwajahnya.
"Tidak, aku datang kesini untuk menemukanmu, kita akan pulang kembali ke Gili Lebur!"
"Tapi bagaimana kita akan keluar dari tempat ini!"
"Kita akan keluar, mereka meminta kakak melakukan sesuatu untuk mereka, setelah itu kita akan keluar dari sini!"
"Delima, waktumu bertemu dengan adikmu sudah habis, cepat ikuti aku!"
Lelaki tinggi besar dengan wajah bekas yang berdiri dibelakang Delima berteriak.
Delima melepaskan pelukannya pada adiknya. Tangannya meraih tangan gadis kecil itu. Sambil berpura-pura menggenggam dia meneliti nadi ditangan gadis kecil itu.
Dia berusaha menekan rasa terkejutnya. Ada sesuatu yang bersemayam dalam aliran darah gadis itu. Sesuatu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan meenggut nyawa anak itu.
"Kakak akan kembali dan menyelamatkanmu!"
"Aku akan menunggu kakak disini!"
Delima berbalik dan meninggalkan gadis kecil itu. Dia melangkah mengikuti lelaki tinggi besar menuju sebuah ruangan menyerupai aula.
Menyerupai sebuah ruangan pertemuan ruangan itu mampu menampung setidaknya ratusan orang.
Sebuah kursi kehormatan yang berukir tengkorak terbuat dari sejenis batu gunung.
Ruangan itu sendiri memiliki pencahayaan yang cukup terang meski terkubur dibawah gunung.
Gua yang yang disulap menjadi markas ternyata memiliki sisi tembus yang menghadap lembah yang memilki kedalaman tak terukur.
Sebuah sungai berair keputihan memanjang dan berkelok-kelok. Hulunya bersambung dengan danau Segara Anak dan berakhir di laut setelah melewati beragam nama desa.
Pintu masuk yang hanya satu-satunya membuat perguruan yang ternyata merupakan perkumpulan para pendekar golongan hitam.
Diruangan itu beberapa orang telah menunggu kedatangannya.
Seorang lelaki bertopeng tengkorak dengan postur tubuh bongkok. Sebuah tongkat dengan ukiran tengkorak tergenggam ditangannya. Dia duduk diatas kursi kehormatan.
Di sampingnya seorang lelaki berpakaian mewah yang ternyata adalah Raden Manik Sangka Langit. Beberapa tokoh golongan hitam yang selama ini menghilang juga hadir ditempat itu.
"Selamat datang Merah Delima, maaf jika kami mengundangmu dengan cara seperti ini, silahkan duduk!"
Lelaki bongkok menyambut kedatangan Delima. Dia melambaikan tangan memberi kode dan beberapa orang penjaga diruangan itu pergi.
"Aku tidak suka bertele-tele, katakan apa yang harus aku lakukan untuk kalian!"
"Ha... Kau memang sesuai dengan rumor yang beredar, membara dan pastinya, cantik!"
"Kau terlalu banyak bicara!"
Delima berdiri, kabut merebak, suara raungan binatang buas menggelegar memenuhi ruangan.
Lelaki bongkok tak bergeming. Dengan santai tangannya melambai, kabut dan suara raungan binatang buas mengerenyit seperti dibungkam buah kekuatan tak terlihat.
"Bersikaplah lebih sabar gadis manis, kita semua disini sesama golongan hitam, simpan kekuatanmu!"
Pendekar Taring Kematian yang duduk dipojok ikut menimpali percakaoan. Matanya membesar memperhatikan sosok Delima. Dia penasaran dengan wajah dibalik topeng perak itu.
"Sejak gurumu meninggal, kau menjadi pewaris Gili Lebur. Kau juga menjadi pewaris ilmu Selimut Kabut yang legendaris. Kau pengendali bintang buas termuda. Kau sangat berbakat. Sayang jika itu disia-siakan!"
"Jangan berbelit-belit, katakan apa yang kalian inginkan dariku!"
__ADS_1
Delima menatap lelaki bongkok dengan tatapan tajam. Tangannya tergenggam erat sehingga kukunya sampai menembus daging.
" Kami ingin kau membantu kami memecahkan segel bintang buas yang terpenjara dikawah gunung ini. Setelah itu kami akan membebaskan adikmu dan memberi obat penawar racun yang mengancam jiwanya!"
" Apa yang akan kalian perbuat dengan bintang itu, aku merasakan bahwa mereka akan sangat sulit untuk dikendalikan. Jika itu terjadi maka mereka akan menghancurkan semua kehidupan dipulau ini!"
Lelaki bongkok berdiri dari duduknya. Dia berjalan mengitari ruang aula. Langkahnya pelan tetapi saat dia melangkah tekanan seberat gunung menghimpit setiap jiwa yang hadir disana.
"Aku sudah merencanakan ini bertahun tahun, perguruan kami telah melatih ratusan orang yang mampu mengendalikan bintang buas, mereka yang akan mengendalikan semua binatang itu. Selain itu kita tidak akan membebaskan mereka semua, aku punya cara agar jenis binatang tertentu yang akan bebas!"
"Besok malam kita akan mulai, kita akan membebaskan beberapa jenis hewan. Satu lagi, kau tidak hadir disini untuk menghalangi kami, melainkan membantu kami, ingat itu!"
"Mengapa kau begitu yakin aku bisa membantu?"
"Gurumu adalah sahabatku sejak muda, aku tahu kemampuannya, meski aku kecewa karena diakhir hayatnya dia memilih netral, sebuah pilihan yang menyakiti kami semua disini, kini kau akan menebus kesalahannya. Kau akan menjadi penyebab kehancuran pendekar golongan putih!"
"Kau akan menjadi bidadari golongan hitam, haha!"
Pendekar Taring Kematian menimpali disertai tawa seluruh pendekar yang hadir.
"Tunjukkan gadis ini kamarnya, layani dia dengan baik!"
Beberapa orang wanita berpakaian sexi muncul dari balik pintu. Mereka mengarahkan Delima menuju kamar yang disediakan untuknya.
Kepergian gadis itu diikuti oleh banyak pasang mata. Langkahnya yang anggun membuat dada setiap orang yang hadir berdetak tak karuan.
"Jangan ada yang mencoba mengganggu gadis itu, jika tidak dia akan berurusan dengan denganku, kesampingkan nafsu kalian, ingat tujuan kita yang utama!"
Lelaki bongkok bangkit dan meninggalkan ruang pertemuan.
"Aku tidak keberatan menerima tusukan pedang demi gadis itu, ha...!"
Seorang lelaki yang mengenakan pakaian warna hitam dan bermata genit berbisik pada semua yang hadir. Wajahnya terlihat merah padam. Sejak tadi dia memang tak pernah lepas dari sosok Delima.
.....
"Berhati-hatilah, jaga Sekar baik-baik. Jika ada hal yang mendesak cepat beri kabar!"
"Baik ayah, kami pamit!" Raksa pamit pada ayah dan ibunya.
"Sekar akan merindukan masakan ibu!"
Sekar hanyut dalam pelukan Darmiliawati. Perempuan setengah baya itu nampak berat melepas kepergian anak dan menantunya.
"Jika ada kesempatan dan ayahmu mau menemani, nanti ibu yang akan pergi ke tempatmu, ibu akan menemanimu berlatih!"
"Benarkah, Sekar akan senang sekali jika ibu benar datang, ibu Nirmalasari juga pasti akan sangat bahagia"
"Berangkatlah, usahan tidak ada yang tahu kepulangan kalian, ingat pesan ayah, jaga Sekar!"
"Baik ayah, kami berangkat!"
Setelah pamit sekali lagi Raksa dan Sekar melompat ke punggung Semberani. Kuda api itu melesat menerangi pekat malam. Sosoknya segera mengecil dan lenyap dari pandangan mata.
......
Delima duduk termenung. Ditangannya dia menimang pedang Meteor. Bayangan sang guru dan pesannya sebelum kematian datang menjemput menghantui perasaannya.
Dia dipenuhi kebimbangan. Jika dia menolak membantu para pendekar golongan hitam nasib adiknya akan berada dalam bahaya. Jika dia membantu maka bahaya akan menimpa banyak orang.
Dia baru saja menemukan sedikit kedamaian. Dia telah merasakan sedikit ketenangan. Berusaha menjadi orang yang baik. Kini dia dihadapkan pada pilihan yang sulit.
Bayangan orang-orang yang pernah singgah dikehidupannya muncul. Meskipun dia tak sepenuhnya menerima mereka sebagai bagian dari dirinya tetapi setidaknya mereka banyak memberikan andil akan hijrah jiwanya.
"Jika kau mengalami penderitaan, kegagalan hidup, setidaknya kau tidak akan membuat itu sebagai alasan untuk menghancurkan kehidupan orang lain"
__ADS_1
Nasihat terakhir sang guru kembali terngiang dibenaknya. Nasihat hidup yang ingin sekali diwujudkannya.
Sosok lelaki bermata biru membayang dipelupuk matanya. Setitik harapan menyala ketika dia mengingat sosok pemuda itu.
Bagaimanakah cara dia untuk menghubungi pemuda itu? Apakah dia mau membantu kesulitan yang kini sedang dihadapinya?
Setelah merenung, sedikit rasa sesal memenuhi benaknya. Jika dia mau bersabar dan mau menerima bantuan Pendekar Pemecah Gelombang mungkin ceritanya akan berbeda sekarang.
Delima terlempar dalam pikiran yang berkecamuk dalam bimbang dan putus asa. Waktu yang dipinta oleh pendekar bongkok sudah semakin dekat. Dia tidak punya banyak waktu.
"Aku punya beberapa hewan yang bisa ku jadikan sebagai pengirim pesan, andai aku punya benda yang bisa dijadikan penanda arah,i andai saja.."
Delima menepuk jidatnya. Dia ingat cincin perak yang diberikan oleh pendekar Pemecah Gelombang.
Sekar melolos cincin perak dari jari manisnya.
Dia lalu memanggil burung hantu dari dimensi lain. Dia mentransper pesan pada burung itu. Ini adalah metode yang biasa dia gunakan jika dia berkomunikasi dengan gurunya.
Delima juga mentransfer ingatannya tentang orang yang ditujunya. Untung saja dia pernah berkunjung ke perguruan Burung Laut.
"Semoga Pendekar Pemecah Gelombang menyadari metode ini dan mempunyai kemampuan membaca pesan ini"
....
Perguruan Burung Laut.
Ketua perguruan burung laut duduk dikelilingi oleh tokoh penting perguruan Burung Laut.
Wajahnya yang berwibawa menatap satu demi satu anak muridnya. Seuatu yang luar biasa jelas mempengaruhi tatapan matanya. Sosoknya yang sudah sepuh membuatnya lebih banyak mengurung diri mendekatkan diri pada Tuhan. Dia hanya keluar jika ada sesuatu yang mendesak.
"Pemecah Gelombang, bagaimana keadaan Pecut Sakti?"
"Dia sudah lebih baik setelah guru memberikan memberinya obat, beberapa hari lagi dia pasti sudah sembuh total!"
"Syukurlah, suruh dia banyak istirahat!"
"Baik guru, murid mengerti!"
"Aku mengumpulkan kalian berkenaan dengan pesan yang ku terima dari beberapa teman yang mengirimkan kabar padaku tentang bahaya yang akan menimpa tanah kita ini!"
Ki Burung Laut mulai menceritakan maslah yang mengancam tanah Selaparang. Semua yang hadir sontak larut dalam kegelisahan.
"Prabu Selaparang memintaku mengirim pendekar terbaik untuk menjadi tim khusus dalam menangani masalah ini, ini tujuanku mengumpulkan kalian disini!"
Setelah melalui diskusi ditunjuklah sepuluh orang pendekar untuk berangkat ke kerajaan untuk bergabung dengan pasukan kerajaan.
"Mengenai tugas apa yang akan kalian jalankan, itu akan diputuskan nanti dalam rapat pembagian tugas disana!"
Berangkatlah besok pagi, jangan menunda waktu. Gunakan bahtera biru, kalian akan dipimpin oleh Pemecah Gelombang, Pertemuan ini selesai, kembali ke tempat kalian masing-masing!"
Belum sepenuhnya kalimatnya selesai Ki Burung Laut mengerutkan alisnya, dia merasakan kehadiran sesuatu yang mengusik mata batinnya.
"Seseorang mengirim burung untuk menyampaikan pesan, ini sebuah metode langka yang lumayan sulit dijumpai, seseorang diantara kalian cepat tangkap burung itu!"
.....
Setelah beberapa saat seorang masuk sambil menggenggam burung hantu yang bentuknya terlihat berbeda dari burung kebanyakan.
Ki Burung Laut yang telah kenyang makan asam garam kehidupan segera tahu bisa menebak tujuan burung itu.
"Siapa diantara kalian yang kenal dengan cincin ini?"
Pendekar Pemecah Gelombang terperanjat melihat cincin perak ditangan gurunya.
......
__ADS_1
Bersambung