Kabut Cinta Sang Bidadari

Kabut Cinta Sang Bidadari
Harga Sebuah Cinta


__ADS_3

"Aku datang Pujawati" Sunan Tembolak berbisik pada sosok gadis bergaun putih yang tersenyum menunggunya.


Dialah gadis yang telah mengisi relung hatinya. Tak tersentuh pudar dan menghuni palung paling gelap. Tempat bisikan penuh rintihan kegelisahan berkumandang.


Dialah sosok gadis yang menorehkan kisah penuh bahagia. Meski singkat seperti gerak awan melintasi padang pasir. Sesaat memberi teduh dan harapan akan hujan.


Dialah gadis dengan tatapan mata terindah. Mata yang mampu menenggelamkan setiap jiwa dalam pusaran harapan.


Dialah gadis yang bersimbah darah demi harga sebuah cinta. Memilih pergi demi membuktikan sebuah ketulusan. Cinta baginya lebih berharga dari selembar kehidupan.


Dia sosok gadis yang telah menolehkan penyesalan. Memberinya sinyal bahwa dia adalah pejuang cinta yang lemah. Tak mampu menjaga orang yang disayanginya.


Bunuh diri adalah sebuah kesesatan dan kesalahan tak terampuni.


Dia adalah wanita terakhir yang akan dikenangnya sebagai permata dalam lamunan. Wanita yang ditemuinya dalam mimpi diujung kerinduan. Sosok yang ingin rengkuhnya meski harus menghadapi kematian.


Dia pernah melewati ribuan hari dalam keinginan untuk mati. Tak lagi menganggap hidup ini punya makna dan arti.


"Mengapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu, apakah aku telah berubah begitu asing bagimu?" Pujawati menatap Sunan Tembolak dengan tatap matanya yang tenang tetapi menyimpan kehangatan.


Sunan Tembolak merasakan ujung matanya sembab. Dia menggeleng pelan, langkahnya terhenti hanya beberapa depa didepan gadis itu.


" Lima tahun adalah waktu yang panjang untuk merubah seseorang tetapi tidak bagiku, aku masih kekasih hatimu yang menyedihkan"


"Aku akan menunggumu disini" gadis itu mengajak Sunan Tembolak duduk didepannya.


"Kau dipanggilnya lebih dulu karena dia tahu kau sabar menunggu, maka tunggulah aku, aku akan datang, tinggal menunggu waktu!"


Sunan Tembolak terus berbisik lirih. Suara paraunya timbul tenggelam dipermainkan sendu. Berusaha tegar menahan air mata yang menggedor pintu tangis.


Dia telah berjuang untuk ini ribuan hari. Dia telah mengasah hati setegar karang demi menahan gelombang kesedihan.


Tetapi ia selalu gagal. Gadis yang paling berharga bersimbah darah dengan pisau pemberiannya.


Salahkah jika dia mengutuk diri?


Delima yang berdiri disisi yang berbeda dengannya mengerenyitkan kening. Dia keheranan melihat sikap Sunan Tembolak.


Lelaki itu berbicara dengan seseorang yang terasa dekat dengannya. Dia merasakan kehadiran seorang kakak yang telah terpisah oleh alam berbeda.


Apakah dia bisa berkomunikasi dengan seseorang yang telah terkubur digundukan tanah ini?


"Tidak, kau tetap Pujawati yang selama ini bersemayam didalam dadaku!"


Sunan Tembolak berjongkok didepan gadis bergaun putih Itu. Tangannya bergerak meraih jemari lentik yang pucat. Tetapi tangannya menyentuh ruang hampa. Hanya dingin udara yang terasa. Kehangatannya telah hilang terakhir kali saat dia terbaring di pangkuannya.


"Kau lupa satu hal dan lupa bahwa kita berbeda alam!" Gadis itu memasang wajah cemberut.


"Aku tahu, aku tak membawa bunga mawar kesukaanmu, aku tidak tahu delima telah memindahkan istana terakhirmu kesini, maafkan aku!" Sunan Tembolak memelas penuh sesal.


"Aku bercanda, mawar merah itu ada di belakangku, aku ingin kau menjaganya, sama seperti kau menjagaku"


Sunan Tembolak menatap delima yang berdiri di belakang gadis bergaun putih.


"Aku tidak berani mengulang kegagalan yang sama, aku gagal menjagamu, jangan bebankan sesuatu yang akan kusesali untuk kedua kali!"


Delima yang mendengar kata-kata Sunan Tembolak sedikit terkejut. Dia tanpa sadar mengelilingi pusara itu. Dia terhenti tepat dibelakang Sunan Tembolak.


Dia menatap kehampaan yang menjadi lawan bicara lelaki itu. Memastikan bahwa sosok kakaknya benar benar ada disana.


Dia tak melihat sosok lawan bicara lelaki didepannya.


Pemandangan aneh didepannya membuat dadanya bergemuruh.


Delima merasakan getar yang asing memasuki dirinya. Rasa amarah yang berkarat seperti disepuh oleh rasa simpati.


Gadis berbaju merah itu perlahan mundur. Dia menatap sosok lelaki yang terlihat rapuh bersimpuh disamping pusara kakaknya.


Sunan Tembolak hanyut dalam bahasa angan dan kerinduan.


Pemandangan misterius itu berkahir saat semilir angin menyapu sosok gadis bergaun putih. Menyisakan kekosongan dan menahtakan kenyataan pahit bagi sosok rapuh yang terasing sendiri.


Dia sesugukan dalam tangis yang pahit dan amukan derita yang tak bertepi.

__ADS_1


Sosok gadis berbaju merah berdiri ratusan meter didepannya. Dia menatap sendu kearahnya.


Dia tersentuh dengan kondisi kejiwaan lelaki yang hampir mati ditangannya.


Sunan Tembolak berdiri dan menghampiri gadis itu.


"Tetap berdiri disana!" Delima menunjuk tepat kearah Sunan Tembolak.


"Aku ingin menjelaskan persoalan yang selama ini menjadi rahasia kematian kakakmu!"


"Aku tidak membutuhkan itu lagi, semua persoalan itu aku anggap berakhir disini, apapun itu, biarlah kau dan kakakku yang mengetahuinya!"


Delima ingin melangkah pergi ketika tiba tiba dia merasakan sesuatu yang kasat menabraknya. Dia merasa hawa aneh merasuki dirinya. Tatapannya kabur dan kesadarannya hilang.


Sunan Tembolak melihat kejanggalan dari sikap Delima. Tubuh gadis itu untuk beberapa saat bergetar tak terkendali. Matanya indahnya terpejam.


Delima tenang setelah beberapa saat menunjukkan sikap aneh. Dia membuka matanya dan Sunan Tembolak terkejut.


"Kemarilah kakang, ini aku !"


Tatap mata Delima yang biasanya sendu dan tanpa ekspresi mendadak hangat.


Sunan Tembolak bergerak mundur. Tangan halus Delima meraih tangannyannya dan menyeretnya pergi.


"Ayo kita pergi ke tempat di mana kita biasa bersama menghabiskan waktu!"


Sunan Tembolak berusaha menahan gerak gadis itu. Kehangatan yang mengalir dari genggaman gadis itu membuatnya merasa risih.


Dia melepas tangan delima dan bergerak menjauh. Dia kini sadar bahwa roh Pujawati telah merasuki jasad Delima.


Sunan Tembolak tak ingin menodai tangan halus gadis itu.


Delima melihat keraguan disikap sunan Tembolak.


"Mengapa kau menghindar kakang, apakah kau tak bahagia kita bisa melewati sedikit waktu untuk bersama seperti dulu!"


Sunan Tembolak menggelengkan kepala. Sikap hangat dan terlalu hangat yang ada selalu membuatnya canggung milik Pujawati kini hadir kembali.


"Kau masih belum berubah, selalu menjaga jarak, kau tak sayang lagi padaku!"


Senyum hangat milik Pujawati tersungging dibibir sehalus batu giok milik Delima. Rambut hitamnya melambai ditiup angin. Matanya yang jernih, serupa titik embun menatap kagum pada sosok lelaki didepannya.


"Berikan cincin yang ku berikan padamu!" Pujawati mengulurkan tangannya.


Sunan Tembolak yang sudah lama merasa terbebani oleh barang pemberian Pujawati segera mengeluarkan benda itu dari balik bajunya.


Pujawati mengambilnya dan memakaikannya dijari manis Delima.


"Kau harus berjuang sekali lagi, jagalah bunga mawar merah ku ini"


Melihat peristiwa itu Sunan Tembolak kaget. Dia merasa tak nyaman. Dia menggeleng berulang kali. Menegaskan bahwa dia tak sanggup menerima pesan dan keingianan Pujawati.


Delima memejamkan matanya. Tubuhnya sedikit gemetaran. Beberapa detik kemudian mata indahnya terbuka. Tatapan dingin seperti tumpukan salju di atas kelopak mawar.


Dia sejenak bingung dengan posisi berdirinya. Jaraknya dengan Sunan Tembolak terlalu dekat menurut jarak mereka terakhir kali.


Sunan Tembolak merasakan bulu tengkuknya dingin. Tanpa menunggu lebih lama dia berbalik dan melompat pergi. Gerakannya ringan, melesat menembus rimbun dedaunan.


Kepergian Sunan Tembolak menahtakan Delima dalam kesendirian.


Dia merasakan ada benda aneh dijari manisnya. Siapkah yang telah memakaikan cincin ini. Hanya mereka berdua disini. Itu artinya.....


Dia terkejut saat membayangkan adegan yang berputar dibenaknya.. Sekian detik kemudian wajahnya merah padam. Tatapan matanya menatap lekat kearah cincin perak ditangan kirinya.


Napasnya memburu menahan emosi. Dia segera melesat menyusul Sunan Tembolak.


......


Sekar menatap mata biru suaminya. Mencoba mendamaikan riak gelombang yang berdebur menghempas pantai kegelisahan jiwanya.


Raksa berpaling dan memasang wajah cemberut. Dia tidak puas dengan penjelasan Sekar tentang sosok Sandubaya.


"Dia adalah teman, tidak lebih, itu juga kisah lama, lagipula dia tak mengenaliku sekarang" Sekar berputar kedepan Raksa.

__ADS_1


Raksa sedikit bingung dengan sikapnya sendiri. Selama ini dia tak pernah peduli dengan orang yang bergentayangan disekitarnya tetapi sekarang dia begitu waspada.


"Aku hanya ingin berhati hati dengan setiap orang yang melirikmu!"


Sekar mengangguk, dia setuju dengan alasan Raksa meski dia merasa itu terlalu jauh untuk mewakili sikap suaminya.


"Aku rindu dengan ibu, apakah kita bisa pulang sebentar ke Desa?" Sekar mencoba mengalihkan pembicaraan.


Raksa tersentuh dengan permintaan Sekar. Dia menarik napas panjang dan melonggarkan dadanya yang terasa sempit.


"Selesai turnamen kita akan langsung ke rumah ibu, aku juga kangen masakan ibu" Raksa mencubit pipi Sekar.


Pipi gadis itu memerah. Dia meraba pipinya yang terasa panas.


Mata indahnya bersinar seperti mutiara. Dia dapat merasakan kemarahan Raksa telah mencair.


.....


Sinar lampu redup menyinari teras sebuah bangunan berarsitektur cukup indah. Daun pintu dua daun diukir apik. Hiasan tanduk rusa menghiasi sudut rumah berpasangan.


Ditengah ruangan seorang gadis berpakaian mewah tengah berbincang dengan seorang pemuda tampan yang lebih banyak menunduk daripada menatap lawan bicaranya.


" Bagaimana hasil penyelidikanmu terhadap wanita bercadar yang duduk disamping Raksa?" Gadis itu bertanya sambil mengetuk meja kayu didepannya.


"Dugaan anda sangat tepat, dia seratus persen Sekar gadis yang hilang dari kerajaaan, pergi dengan ayahnya beberapa tahun yang lalu"


Sandubaya memberi penjelasan akurat. Dia berusaha menangkap reaksi Lentik Wangi yang tersenyum mendengar pujian pemuda didepannya.


"Bagaimana dengan jurus pedang yang digunakan terakhir kali, apa nama jurus itu dan apakah benar mereka telah menikah?"


Mendengar pertanyaan terakhir Sandubaya merasakan beban menghimpit ujung lidahnya.


"Mereka sudah menikah, itu laporan dari regu penerima pendaftaran"


Lentik Wangi tertawa kecil. Dia melihat ekspresi Sandubaya tertekan saat melaporkan status Sekar dan Raksa.


Dia tahu hubungan Sekar dan Sandubaya. Dia adalah salah satu dari sekian banyak pemuda yang mengejar cinta gadis itu.


Dia juga sosok yang paling terpukul saat mengetahui bahwa Sekar menghilang. Pencarian yang dilakukannya membuktikan bagaimana dia merasa kehilangan.


"Mengenai jurus pedang yang dia gunakan, saya belum mendapatkan informasinya. Jurus itu sudah lama hilang dari dunia persilatan. Beberapa pendekar senior juga bingung dengan pedang Hitam dan nama jurus itu"


Sandubaya menunduk dan tak berani menatap wajah cantik didepannya.


"Tidak apa-apa, kita tunggu pertarungan berikutnya. Semoga aku bisa mendapat petunjuk dan bisa mempelajari beberapa jurus dari jurus pedang itu!"


Kalimat terakhir menjadi penanda berakhirnya pecakapan rahasia itu.


Sandubaya segera undur undur diri. Tubuhnya lenyap di pintu gerbang diringi sambutan hormat dari dua penjaga.


Lentik Wangi.melepas kepergian pemuda itu dari balik pintu.


......


Pecut Sakti duduk dipembaringab ditemani Merah Kepundung. Beberapa macam kerajinan dari janur kuning berserakan di sekitar mereka.


Merah Kecubung sendiri nampak serius. Tangan mungilnya menari menggulung ujung janur.


Beberapa tetes keringat mengalir didahinya yang berkilau diterpa cahaya samar yang menerobos celah dinding kayu.


Matanya tak berkedip mengawasi gerakan Pecut Sakti dan menirunya.


Beberapa menit kemudian suara melengking tajam memecah kesunyian.


Teeet .. teeeetttt .. teeeeeetttt !


Bayangan merah melintas dari arah pintu masuk. Rambutnya yang panjang hitam tergerai dihembus angin semilir.


Aroma tubuhnya yang mengusik iman memenuhi ruangan.


Gadis jelita itu menatap sosok gadis kecil yang terlihat begitu ceria. Langkahnya yang semula tergesa perlahan melambat.


"Dimana Pendekar Pemecah Gelombang?" Suara merdunya menggantung gerakan dua orang didepannya.

__ADS_1


Pecut Sakti menatap kearah Delima dengan tatapan sedikit bingung.


Bukankah mereka bertemu ?


__ADS_2