
Melihat dua orang didepannya tak memberi jawaban cepat, tangan Delima melambai, mainan dari janur terbang menghempas dinding kayu.
Merah Kepundung terkejut dengan kakaknya. Mata polosnya menatap kakaknya dengan rona tidak percaya.
Delima sendiri hanya bisa mematung. Dia menatap cincin perak diajari manisnya yang menjadi sumber kekesalannya.
Tak tahu apa yang musti dilakukan karena sosok yang dicari tidak ada gadis itu berbalik pergi.
.....
Malam turun menyelimuti pernik dunia. Selimut kelamnya tak sepenuhnya mampu menghitamkan semua hal.
Bulan yang menggantung dilangit bersinar pucat. Bias cahayanya memantul dipermukaan laut. Menyapa riak gelombang yang menghempas ujung ranting dipesisir gili.
Delima duduk di tepi pembaringan Merah Kepundung. Mengelus rambut gadis kecil itu.
Merah Kepundung sendiri tidur dengan membelakangi kakaknya. Dia tidak terlelap. Peristiwa tadi sore membuatnya mengurung diri. Malas makan dan berbicara pada kakaknya.
"Maafkan kakak, kakak hanya kesal pada Pendekar Pemecah Gelombang, tanpa sadar kakak melampiaskan pada kalian"
Delima berusaha menjelaskan situasi uang yang memicu peristiwa itu.
Setelah merapikan selimut adiknya Delima keluar dari kamar Merah Kepundung.
Dia tahu tak ada yang bisa dia lakukan untuk meredam kekesalan adiknya. Sebab dia paham akan sifat adiknya. Dia tak perlu dihibur. Dia hanya butuh sendiri. Waktu akan menyembuhkannya.
Langkah kaki Delima tidak langsung ke kamarnya.
Dia menuju sebuah ruangan rahasia.
Lemari panjang penuh dengan kitab kuno. Beberapa senjata juga tergantung dinding.
Delima membuka sebuah peti yang diletakkan khusus.
Sebuah pedang bergagang hitam dengan penampilan tipis. Sebuah kitab tipis dari kulit dan obat anti rayap.
Delima menimang pedang tipis itu. Cukup berat untuk ukuran sebuah pedang tipis dan pendek.
Ketika pedang dibuka nampak pedang itu terbuat dari bahan yang unik. Bukan besi baja pada umumnya.
Pedang itu terbuat dari meteor yang ditemukan ditubuh siluman laut.
Mata pedang seolah tembus pandang. Merah muda dengan dihiasi bintik jernih tertebar seperti gugusan bintang saat langit diujung malam.
Pedang itu dibuat sendiri oleh gurunya. Sepuluh tahun dia berjuang membentuk batu meteor yang keras menjadi sebuah pedang.
Dalam jangka waktu itu pula ia berusaha menciptakan sebuah jurus pedang.
Sebuah maha karya untuk generasi sesudahnya. Mengajarkan pada setiap orang bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri. Hidup juga untuk generasi penerus sebagai mata rantai harapan.
Jurus Hati Semesta. Hanya ada tiga pecahan jurus dengan sembilan gerakan dimasing masing jurus.
Sebuah gerakan yang sangat panjang melewati batasan jurus normal yang biasanya hanya sampai lima gerakan.
Gurunya menciptakan jurus itu setelah menyadari berapa besar kekuasaan tuhan. Tak ada kekuatan hamba yang bisa melampaui kekuasaanNya.
Tak ada yang akan menyangka sang guru yang terkenal jahat memiliki pemikiran semputi diakhir hayatnya.
Sekar berusaha memecahkan kesulitan jurus itu. Setelah sedikit lancar dia mencoba menggunakan pedang meteor untuk menjajal jurus itu.
Keindahan langit seolah turun ke bumi. Sosok Delima menjadi gambaran seorang dewi yang diutus menggantikan tugas malaikat kematian.
Gerakan indah dengan taburan bintang dan keindahan sosok menyatu. Membuat seseorang akan rela melepaskan nyawa, bukan hanya karena tajamnya pedang tetapi karena keindahan yang ditampilkan.
Delima berlatih sampai pajar hampir tiba. Rasa lelah menggerogoti sekujur tubuhnya. Dia menyeret langkah kembali ke kamarnya.
....
Azan subuh berkumandang.
Raksa terperanjat. Dia terjaga dari meditasinya yang mendalam.
Selama tinggal dikerajaan dia berkali-kali mendengar suara azan.
Ada kerinduan menelusup memenuhi panggilan itu. Kini jiwanya bergolak. Dia berjalan keluar kamar menuju sumber suara itu.
Langkahnya ragu. Takut. Bukankah dia bisa tersenyum diantara desing pedang?
Tuhan memberi hidayah sebagai anugrah terindah bagi hambaNya.
Sekar terbangun dan tak menemukan suaminya didekatnya. Ini sesuatu yang janggal selama usia pernikahan mereka.
Langkah kaki Sekar bergerak meninggalkan kamarnya. Sejak terjadi penyerang an mereka mendapat rumah khusus yang terlindung tembok tinggi dan memiliki taman yang luas dan indah.
Rumah yang menyatu dengan rumah para bangsawan yang memiliki akses pintu masuk dengan penjagaan ketat.
Sekar berjalan ditaman tanpa alas. Telapak kakinya yang berwarna merah muda menyentuh rerumputan yang masih basah oleh embun malam.
Rambutnya yang panjang tergerai menutupi punggung dan hampir menyentuh mekar bunga diantara ranting dan dedaunan.
Dia tak menemukan suaminya.
Sambil menunggu ia memilih berlatih. Gerakannya yang ringan memecah dinginnya cuaca pagi.
Ketika sinar matahari mulai menyapa bumi sosok Raksa muncul di pintu masuk.
Sekar segera menghambur menyongsong kehadiran permata birunya.
Raksa menerima kehadiran sang isteri dengan dekapan hangatnya.
Malu karena menyadari tubuhnya basah oleh keringat Sekar mendorong suaminya menjauh. Dia menyanggul rambutnya dengan melilitnya diatas kepalanya. Pemandangan indah lehernya yang jenjang mengusik jiwa Raksa.
__ADS_1
Tangan sang suami menyeka keringat yang menetes diwajah dan leher Sekar. Perhatian itu membuat Sekar menggelinjang geli. Tatap matanya berubah redup.
Raksa tahu ujung akhirnya. Dia menggandeng tangan isterinya dan mengajaknya sarapan pagi.
....
Merah Kepundung tak menemukan kakaknya didapur. Semalam dia tak makan sehingga saat terbangun dia kelaparan.
Jari kecilnya mengetuk pintu kamar Delima.
Pintu terbuka dan sosok aneh Delima membuat gadis kecil itu tertawa.
Delima tahu dia terbangun dengan wajah sembab karena kurang tidur. Rambutnya kusut masai. Sesuatu yang selalu dia rahasiakan layaknya setiap gadis perawan.
"Kakak jelek!" Gadis kecil itu berceloteh sambil berlari menjauh.
Saatnya memecah kebekuan.
Delima pura-pura marah. Dia bergerak mengejar gadis kecil itu. Tanpa sadar mereka keluar dari ruang dalam menuju halaman.
Suara tawa mereka mengusik keheningan pagi. Membuat sosok tubuh yang sedang membelah kayu bakar menoleh.
Pemandangan yang indah tersaji.
Delima menyadari situasinya. Rasa malu membuncah. Dia segera melesat kembali kedalam istana kecilnya.
Di balik pintu dia berdiri dengan rasa malu yang luar biasa. Jika ini dimasa lalu maka kematian pasti akan menjadi akhir bagi lelaki itu.
Delima merasakan lututnya gemetar. Napasnya memburu. Kulit wajahnya terasa terbakar.
Dia memeriksa diri dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Untunglah pakaiannya layak dan dia memilih potongan yang pas. Andai dia memakai model musim panas maka nasibnya akan kiamat.
Hanya saja rambut dan wajahnya acak acakan terlihat oleh lelaki itu. Dia pura pura bengong dan memasang tampang tak berdosa.
Dia terbiasa hidup tanpa kehadiran seorang lelaki disini.
Dia segera menyelinap kebagian belakang bangunan istana Gili Lebur.
Beberapa puluh meter dibelakangnya terdapat mata air alam. Terlindung disebuah lekukan kecil serupa lembah. Seolah menjadi dinding pembatas akan rahasia pemandangan di bawahnya.
Sebuah telaga kecil dengan dikelilingi beraneka macam bunga. Seolah telaga itu tercipta khusus bagi para bidadari.
....
Pecut Sakti melihat kilat mata penuh kemenangan dimata Suanan Tembolak.
"Kakang, pagi ini kau tampil bahagia, ini sedikit berbeda, ada apa gerangan?"
"Tidak ada apa-apa, aku bahagia melihat kau semakin membaik, dengan begitu kita bisa cepat pergi!"
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak pintar berbohong, jadi katakan saja sejujurnya, kau ingin aku selamanya sekarat disini agar kau bisa melihat gadis itu setiap hari!"
"Tidak, kau salah total. Jujur aku merasa beruntung bisa melihatnya tetapi aku juga diliputi ketakutan!"
"Katakan padaku satu kejujuran, apa yang kau pikirkan?"
"Aku ingin pergi ke Turnamen tanding para pendekar tanah Selaparang
Sunan Tembolak berbicara jujur diiringi sebuah belaian dikepala Pecut Sakti. Lembut tetapi diakhiri sesuatu yang aneh.
Ting!!
Jitakan keras membuat Pecut Sakti meraung. Matanya menyipit menahan sakit. Dia mengelus kepalanya yang benjol.
"Kau selalu menyiksaku hei...!!, Jangan tinggalkan aku!""
Dia berteriak memanggil Sunan Tembolak yang tertawa dan melarikan diri.
.....
Arena turnamen tanding para pendekar tanah Selaparang.
Babak semifinal sebentar lagi akan berlangsung. Kursi penonton dan peserta sudah penuh sesak.
Bayangan secepat kilat menyambar menandai akan dimulainya pertarungan para pendekar.
Aturan pertarungan dibabak semifinal masih sistim gugur. Peserta pemula dan senior bertarung setelah diundi.
Dibabak ini para peserta dipastikan akan bertarung lebih seru. Terutama bagi pendekar pemula.
Bagi perguruan yang memasuki babak ini mereka telah mempersiapkan diri dengan jurus dan senjata yang lebih hebat.
Kisap Mantar memanggil peserta pertama.
Raden Sukma Jaya tampil gagah. Pakaian keemasan dengan dasar warna hitam membuatnya nampak gagah. Dua senjata terselip di pinggangnya. Pedang dan sebuah keris yang terlihat begitu mewah.
Dia memberi hormat kepada semua yang hadir. Senyum manis dan sikapnya yang sopan membuat semua yang hadir jatuh cinta.
Pendekar Kisap Mantar memanggil peserta yang kedua.
Surya Malela dari perguruan Burung Laut melangkah keatas panggung. Langkahnya tenang. Dia memberi hormat kepada semua yang hadir.
Pertarungan dua pendekar muda tersaji apik diatas panggung.
Raden Sukma Jaya mengawali serangan dengan jurus Naga Langit. Pedangnya melolong dan berputar membentuk sapuan. Serangan lugas mengandung daya gempur hebat.
Surya Malela tak mau kalah. Tarian Burung Camar menyambut serangan itu. Sapuan dahsyat dari pedang Sukma Jaya disambut dengan lompatan indah diundara, sebagai balas pedang ditangan Surya Malela menerobos tajam seperti seekor burung camar menyambar. Perpaduan kedua jurus itu seolah gambaran hempasan gelombang dan tarian burung camar.
__ADS_1
Kedua pendekar mendarat mulus diatas arena. Mereka saling menatap dengan tatapan tajam. Seolah mengukur kehendak dan rencana musuhnya.
Pedang ditangan Raden Sukma jaya meraung, jurus Naga Emas menebar teror.
Sosok naga api yang meraung melayang mengitari panggung. Mata apinya menatap musuh tarungnya dengan ganas.
Surya Malela tak mau kalah. Dia tampil dengan jurus barunya. Pedangnya menyapu kedepan. Hawa dingin merebak. Tak kalah cantik jurus Naga Es tampil mempesona. Raungan menghadirkan rasa ngilu dan menggigit.
Para penonton yang hadir berdecap kagum. Naga es dan naga api saling siap untuk berduel. Hawa panas dan dingin saling tumpang tindih dan menekan.
Raden Sukmajaya melompat tinggi, pedang ditangannya menebas, raungan naga api menyusul dibelakangnya.
Senyum terkulum diwajah Surya Malela, pedang ditangannya menyongsong tebasan pedang, suara mendesis api dan es membuat irama pertempuran menghebohkan penonton.
Detik berikutnya benturan naga api dan es meledak diudara.
Napas kedua pendekar muda sudah sama sama memburu. Keringat membasahi sekujur tubuh keduanya.
Surya Malela melambai, ratusan paku es merebak diudara, dari darat gelombang es menyapu.
Jurus Paku Es dan Tarian Badai Es memburu mengincar Raden Sukma Jaya.
Mendapat serangan dari darat an udara membuat Raden Sukma Jaya kalang kabut. Dia berusaha membendung aliran es yang menerjang dan tembakan paku es yang bergerak seperti hidup.
Wes !!
Duar !!
Tabrakan naga api menggema menahan ratusan paku es yang melesat mengancam. Sedngkan tebasan pedang dilambari api panas mencairkan gelombang es yang datang.
Raden Sukma Jaya jelas keteteran. Dia mengakui api tidak berkutik menghadapi es. Apalagi menghadapi gabungan dari darat dan udara.
Surya Malela melihat Raden Sukma Jaya menghunus keris yang sejak tadi terselip dipinggangnya.
Keris itu berlekuk lima dengan ukiran naga ditengahnya.
Keris Naga Sastra.
Pusaka sakti milik perguruan Lembah Rinjani keluar dari warangkanya.
Cahaya merah redup merebak. Keris ditangan Pangeran Sukma Jaya tiba tiba berubah menjadi sosok naga api yang mengerikan.
Naga merah utuh dengan sisik api dan napas panas yang mendidih.
Naga api merah panjang puluhan meter meraung, dengan mulut menganga dia melolong menyerang kearah Surya Malela.
Ekspresi terkejut nampak tergambar jelas diwajah Surya Malela. Dengan sedikit gugup ia membentuk hamparan es yang melonjak membelenggu laju naga api. Sesaat naga itu dapat tertahan, sebagian tubuhnya terpendam dalam lautan es.
Tangan kiri menahan serangan naga api, tangan kanannya melambai menyerang sosok naga api. Ratusan paku es menderu menghantam.
Raden Sukma Jaya yang berdiri tanpa beban mengawasi pertempuran naga Sastra berdecak kagum. Bagaimanapun lawannya mampu menahan serangan naga apinaya.
Tak ada pilihan lain untuk menang, dia melompat tinggi, pedangnya menebas, naga emas melesat kearah Surya Malela.
Dalam kondisi yang tak bisa membagi diri, serangan lain datang mengancam membuat Surya Malela tak punya pilihan lain. Dia terpaksa menahan pukulan naga emas dengan membentuk perisai es.
Duar!!!
Ledakan menggema. Surya Malela terlempar beberapa tombak. Dia berdiri diujung panggung dan hampir terjatuh.
Belum hilang rasa pusingnya akibat ledakan, naga api telah lepas dari cengkeraman es. Ekornya melambai menghantam kearah Surya Malela.
Penonton menahan napas. Bahkan ada yang sampai berteriak histeris.Tubuh Surya Malela pasti akan menderita luka dan hangus terbakar.
Disaat krisis itu, bayangan hitam melesat menyambar tubuh Surya Malela.
Disudut pqnggung yang aman Pendekar Kisap Mantar menurunkan tubuh Surya Malela yang pucat pasi.
Penonton menarik napas lega. Pertarungan ini dimenangkan oleh Raden Sukma Jaya. Dia tersenyum pahit. Jika tidak karena keris Naga Sastra dia akan mengalami nasib yang berbeda
Pertarungan kedua tersaji setelah jeda kurang lebih sepeminuman teh.
Dua gadis cantik yang pernah terlibat pertarungan seri naik ke panggung. Rara Kemuning dan Diah Selasih.
Mereka kembali mengadu ilmu untuk menentukan siapa yang terbaik diantara mereka berdua.
Rara Kemuning tampil dengan jurus pedang Seribu Bunga Berterbangan, pedangnya seolah pecah menjadi ribuan, penuh tipuan.
Diah Selasih sudah mempelajari kelemahan jurus pedang ini. Petunjuk rahasia dari pendekar Selaksa Angin yang pernah berhadapan dengan pencipta jurus ini.
Ribuan pedang menyongsong tubuh Diah Selasih. Tetapi dia tidak panik. Dia sudah tahu mana pedang yang asli. Pedang dengan cahaya paling terang adalah pedang yang asli.
Diah Selasih segera menebar pesona dengan selendang saktinya.
Pusaran angin yang mirip dengan gasing berputar, indah seperti bunga teratai mekar menderu. Jika dulu dia mwngjncar ribuan pedang yang mendekat kini serangan itu memilih sasaran yang berbeda.
Pemilik Serangan.
Pusaran badai angin menerjang kearah Rara Kemuning yang sedikit kaget dengan serangan Diah Selasih.
Badai mengamuk, mengejar sosok Rara Kemuning yang kini terlihat kacau balau. Derasnya putaran angin yang menderu menerbangkan apa saja yang ditemukan.
Diah terus menggigit ujung lidahnya memacu seluruh kemampuannya. Dia tidak ragu, hasilnya sudah nampak didepan mata.
Rara Kemuning merasakan amukan badai sudah tak terkendali lagi. Dia sedikit risih dengan kondisi bajunya yang seolah hendak robek dan menyingkap bagian tubuhnya.
Ahirnya dengan menelan kenyataan pahit. Dia mengangkat tangan memberi kode untuk menyerah.
Pertandingan kedua berakhir dengan kemenangan Diah Selasih. Pertarungan ini menjadi kemenangan pertama Perguruan Selendang Sakti terhadap perguruan Andar Nyawa setelah puluhan tahun.
.....
__ADS_1