
Tubuh Delima bergetar hebat. Lusinan binatang yang meraung memenuhi langit sangat dikenalinya. Salah satunya adalah gagak iblis yang sangat berbahaya.
Perasaan bersalah menyelimuti relung hatinya. Mengapa jalan hidupnya tak pernah lepas dari dosa?
Setelah tak kuasa menahan perasaan, gadis itu terduduk. Rambut hitamnya tergerai menyapu lapisan tanah.
"Kakak, apa yang sebenarnya terjadi?"
Delima berusaha berdiri dengan tubuh gemetar. Tangannya terkepal. Dia tak kuasa menjelaskan kegelisahan jiwanya pada adiknya.
Dia harus bertanggung jawab atas petaka yang ditimbulkan oleh binatang buas itu.
Kabut itu melesat mengikuti arah terbang binatang raksasa itu. Ketika melewati sebuah hutan kecil Delima berhenti.
Dia meneliti kawasan hutan itu. Tatapannya tertuju pada sebuah pohon besar tua. Akarnya yang besar melingkar dan menyembul seperti ular dari dalam tanah. Menciptakan bentuk lubang yang cukup besar untuk ukuran sebuah perlindungan.
"Tunggu kakak sini, tempat ini cukup aman untuk berlindung!"
"Mengapa kita tidak kembali ke Gili ?"
"Kita akan kembali, tapi tidak sekarang, terakhir bencana datang disana, untuk sementara kita akan mencari tempat yang baru sampai kita tahu apa yang mengancam kita!"
"Aku takut tinggal sendiri disini!"
"Hanya sebentar, sebelum matahari tenggelam kakak akan kembali, bersabarlah!"
Merah Kepundung melihat kesungguhan dan tekad membara dari nada bicara kakaknya.
"Kakak harus cepat kembali!"
Gadis itu berlari menuju pohon besar. Tubuh mungilnya merangkak memasuki akar pepohonan.
Delima tak menunggu lama. Tubuhnya melesat mengikuti arah burung raksasa terbang.
Dia tak butuh waktu lama. Ribuan meter didepannya nampak gerombolan burung Raksasa yang dikendarai oleh penunggang bertopeng tengkorak.
Beberapa penunggang dibarisan paling belakang menyadari gugusan kabut yang bergerak tak wajar. Melesat di seperti bintang jatuh. Meliuk diantara pepohonan dan perbukitan.
.....
Kisap Mantar berdiri tegang. Puluhan Pendekar yang sedang menghadiri pertemuan dengannya menjadi panik.
"Laporkan segera, apa kabar penting sehingga kau terlihat panik!"
"Lapor pendekar, pasukan pengintai harus depan melaporkan bahwa ada sesuatu yang mirip burung raksasa mendekati wilayah kerajaan!"
"Mereka telah berhasil menghancurkan segel binatang buas itu, ini bencana besar, kita terlambat bereaksi, kita tidak bisa membiarkan mereka masuk ke wilayah padat penduduk!"
"Apa yang harus kita lakukan Kakang?"
"Adik pendekar Petir, kau pimpin tim satu menghadapi mereka, cegat jangan sampai masuk ke ibu kota, kemudian tim yang lain bersiaga sesuai dengan tugas masing-masing. Satu lagi, Diah Selasih dan Rara Kemuning, kalian bawa tim kalian untuk melindungi penduduk, jauhkan mereka dari medan pertempuran!"
Semua pendekar yang hadir serempak mengangguk. Tanpa banyak komentar mereka bergabung dengan tim masing-masing untuk bersiap-siap.
Pendekar Pemecah Gelombang yang tergabung bersama Pendekar Petir bergerak cepat. Tubuhnya melesat mengikuti lusinan pendekar yang menyongsong datangnya serangan.
Saat mereka samapai diperbatasan pemandangn mengenaskan terpampang. Beberapa pasukan garis depan yang bertugas menghadang kocar kacir.
Pendekar Pemecah Gelombang melesat kedepan. Tepat ketika burung raksasa hendak menyambar seorang lpemuda yang telah terkapar bersimbah darah. Luka memanjang dipunggung membuat pemuda itu sekarat.
Hawa dingin merebak. Lautan es terhampar membentengi tubuh pemuda itu.
Gerakan burung raksasa terhempas membentur dinding es. Dia meraung keras. Perhatian burung itu mengarah pada pendekar Pemecah Gelombang.
Sosok bertopeng tengkorak memberi kode. Kepakan sayap burung itu menyapu, angin kencang seperti badai melaju menyapu pendekar Pemecah Gelombang.
Pendekar Pemecah Gelombang menjejak tanah keras, tubuhnya melenting tinggi ke udara, serangan burung itu luput beberapa jengkal dibawah kakinya.
Pendekar Petir yang mengawasinya dari jarak kejauhan tak mau tinggal diam, teriakan nya disertai oleh gemeretak petir yang mendesis.
"Semua, pergunakan pormasi ganda!"
Teriakan itu menyadarkan anggota tim yang lain. Kini mereka melesat berpasangan.
Dua burung diserang oleh dua orang. Satu memegang posisi bertahan menahan laju burung itu dan satunya lagi menyerang.
"Gunakan pukulan terbaikmu, serang pengendalinya, kau siap?"
Pemecah gelombang beteriak kepada Raden Sukma Jaya yang kelihatan sedikit ketakutan disampingnya.
"Aku siap, mari kita mulai!"
__ADS_1
Pendekar Pemecah Gelombang melambai, tarian naga es meraung, dibelakang nya raungan naga api tak kalah hebatnya.
Kedua Pendekar beda usia itu mulai mengamuk, teriakan keduanya membahana membangkitkan emosi pasangan lain.
Disisi lain, dua orang pasangan jelita tak mau kalah, mereka adalah Diah Selasih dan Nilam Cahya.
Selendang Diah Selasih melambai, pusaran angin seperti badai berbentuk teratai mekar meraung mengejar burung raksasa. Walupun ukurannya tidak mampu sepenuhnya membahayakan tetapi cukup merusak jarak pandang binatang itu.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Anjangsari. Jiwa pedang dipadu dengan jurus Pelangi Membelah Langit.
Cahaya indah seperti pelangi melonjak sebelum turun melengkung, ujungnya menghancurkan sasarannya.
Akibatnya sungguh menakjubkan. Binatang raksasa itu meraung. Beberapa bagian tubuhnya terbakar.
"Serang penunggangnya!"
Diah Selasih memberi peringatan. Dia semakin bersemangat. Pusaran angin berbentuk teratai mekar semakin ganas mengejar burung itu.
Sementara dibarisan belakang, dua burung raksasa masih melayang diangkasa. Berputar-putar mengamati perkembangan suasana pertempuran.
"Bagaimana sekarang, Taring Kematian , apakah kita akan ikut menyerang?"
"Malih Rupa, tugas kita hanya mengamati, ingat kita hanya memberi sedikit pesta pada mereka. Ini permulaan!"
Taring Kematian tak bergeming. Dari balik topengnya dia cukup terkejut dengan serangan pihak musuh.
"Tanganku sudah gatal ingin menguji kemampuan burung gagak iblis ini!"
Taring Kematian menatap Malih Rupa yang sejak tadi gelisah ingin ikut menyerang.
"Ingat tugasmu, awasi kemunculan gadis itu, dia pasti disekitar sini, aku melihat dia terbang dengan ilmu kabutnya!"
"Itu masalahnya, jika kita menyerang, kemungkinan kita akan unggul, mungkin dengan cara itu dia akan keluar, itu kesempatan kita membunuh adiknya, kita buat pitnah keji atas kematiannya!"
"Rencana yang bagus, ayo kita maju!"
Pendekar Taring Kematian melesat, burung gagak iblis yang ditungganginya melesat. Sosoknya yang jauh lebih besar dari burung raksasa lain membuat penampilannya menebar teror.
Munculnya dua musuh yang ternyata jauh lebih tangguh merubah ritme pertarungan.
Kedua burung itu menyerang secara acak. Pindah dari satu pertempuran ke pertempuran lain.
Pendekar Petir terpaksa turun ke arena. Tubuhnya meledak dipenuhi cahaya petir. Pukulan Petir Menyambar meraung membantu para pendekar yang terpecah konsentrasinya oleh dua gagak iblis.
Pendekar Pemecah Gelombang hampir tersedak. Dia sampai berhenti menyerang. Dia mengenal pasti sosok itu. Pakaian merah dengan rambut panjang bergelombang.
Tatap matanya yang tenang. Berpijar ajaib mengalahkan kilau perak yang menutupi wajahnya.
Tangannya yang seputih salju melambai membelah udara. Menyapa langit dengan tarian kegelisahan. Memanggil kengerian yang bersemayam didasar jiwanya.
Kabut menutupi radius ratusan meter. Saat raungan terhenti dari balik gugusan kabut itu muncul binatang buas mirip kelelawar.
Suaranya tajam melengking mengeluarkan gelombang ultrasonik. Burung raksasa yang terpapar serangannya menjerit dan berputar hilang keseimbangan.
Ritme pertarungan berubah. Pasukan burung raksasa kini kocar kacir.
"Mundur!"
Suara Taring Kematian menggema. Serentak para pengendara hewan raksasa terbang itu memutar haluan. Melesat meninggalkan arena pertempuran.
Delima tak ingin berhenti begitu saja. Tubuh indahnya melenting ke arah kelelawar raksasa. Dengan satu sentakan dia melesat kedepan.
Pendekar Pemecah Gelombang tersadar dari tindakan gadis itu. Bahaya baginya mengejar.
"Delima, tunggu !"
Dia berteriak sambil melesat. Gugusan es tercipta dibawah kendali langkahnya. Membuat tubuhnya seperti berselancar dan mengangkatnya tinggi mendekati Delima.
Panggilan itu menghentikan gerakan Delima. Kelelawar raksasanya melambat.
"Naiklah!" Dia berteriak.
Pendekar Pemecah Gelombang seperti tak percaya kan perintah itu
"Naik, cepat!"
Setelah dua kali perintah barulah dia meyakini bahwa telinganya tidak salah dengar. Dengan satu pijakan keras dia melenting keatas punggung kelelawar raksasa.
Sesat dia merasa bingung. Tangannya tak menemukan pegangan. Terpaksa dia menarik baju merah didepannya.
Delima tak bisa menolak. Dia hampir tertarik ke belakang. Untung saja dia bisa menahan laju jatuhnya.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak sengaja!" Pendekar Pemecah Gelombang melepaskan baju gadis itu. Dia merubah posisi tangan dan berpegangan pada sisi tubuh kelelawar itu.
Delima tak bergeming. Dia hanya mendengus. Mata indahnya menatap titik kecil lawan tarungnya yang mulai lenyap di kejauhan.
....
Merah Kepundung merasakan tubuhnya kaku setelah meringkuk cukup lama disela akar kayu. Sejak kepergian kakaknya dia tak berani keluar.
Suara langkah kaki mendekati persembunyiannya. Sosok berbaju merah dan seorang lelaki berbaju putih dengan ikat kepala putih mengiringi langkahnya.
"Kakak, kau akhirnya kembali!" Gadis itu keluar dari persembunyiannya
Merah Kepundung berakhir dipelukan kakaknya. Delima yang duduk mengelus rambut panjang gadis itu.
Merah Kepundung menyadari sosok dibelakang kakaknya.
"Aku merindukanmu paman, dimana Paman Pecut Sakti, apak dia baik-baik saja?"
"Dia ada di perguruan Burung Laut, kondisinya sudah lebih baik, dan yang pasti dia sangat menghawatirkanmu!"
Merah Kepundung membelalakkan matanya. Seolah sangat kagum dengan kalimat terakhir Pemecah Gelombang.
Bagaimanapun dia merasa asing ada orang selain kakaknya yang menghawatirkannya.
"Pemecah Gelombang, apa kau sudah membaca pesanku, maaf jika kau merepotkanmu"
"Tidak apa-apa, aku ...!"
Pendekar Pemecah Gelombang tak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia merasakan kehangatan mengalir memenuhi setiap inci tubuhnya. Dia lega kedua gadis didepannya baik-baik saja.
Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menebus kesalahan masa lalunya.
"Tidak apa-apa, katakan apa rencanamu setelah ini?"
Delima bangkit. Dia memegang bahu adiknya. Dengan berat hati dia mendorong gadis kecil itu kearah pendekar Pemecah Gelombang.
"Tolong jaga Merah Kepundung untukku, hanya kau yang bisa kuandalkan, aku tidak tahu harus meminta ini pada siapa lagi!"
Merah Kepundung melihat mata kakaknya basah. Dia sangat tahu watak kakaknya. Seumur hidup dia yg tak pernah meminta tolong pada seseorang.
Dia tahu kakaknya melakukan ini demi dia.
"Aku merasa mereka akan kembali mengincar kami, terutama adikku, aku ingin kau membantu mencari tempat yang aman untuknya"
"Dengan senang hati, aku akan membawanya ke istana, untuk sementara dia akan aman disana"
Delima mengeluarkan belati kecil dan memberikannya pada Merah Kepundung.
"Kau pergilah dengan Pendekar Pemecah Gelombang, aku akan menjemputmu jika masalah ini sudah selesai"
Merah Kepundung mengangguk. Dia sadar bahwa dia akan menjadi beban bagi kakaknya.
.....
Pendekar Petir memeriksa para korban luka dan memerintahkan untuk dibawa kembali ke istana untuk diobati.
Setelah itu dia mengumpulkan semua rekan timnya. Semua hadir tanpa mengalami cidera berarti.
Pandangannya menyapu semua yang hadir. Sosok pendekar Pemecah Gelombang yang pergi bersama gadis berbaju dan bertopeng perak menimbulkan tanda tanya di hatinya.
"Jika aku tidak salah, gadis itu adalah gadis iblis dari Gili Lebur, apakah ada diantara kalian yang lebih jelas tentang ini?"
Nilam Cahya yang sejak tadi terdiam seperti menahan bingung mendongak. Gadis bertopeng perak menghantui pikirannya. Dia kenal dengan gadis itu. Akhirnya setelah tak ada yang menjawab dia menunduk dan berbisik lirih.
"Benar ketua, tetapi mengapa dia membantu kita dan pergi dengan Pendekar Pemecah Gelombang?"
Beberapa pendekar pemula tak mengerti topik masalah. Mereka saling pandang penuh heran.
Mereka hanya tahu bahwa seseorang telah membantu tugas mereka.
"Kita kembali ke markas, kita akan bahas ini disana!"
Pendekar Petir memimpin semua anggotanya kembali ke istana.
......
Pendekar Bongkok berdiri sambil menggenggam erat tongkat tengkoraknya.
" Bagus, kalian sudah melaksanakan tugas pertama dengan baik, sekarang tinggal rencana kedua, tugas ini kan dilaksanakan oleh Malih Rupa, apa kau sudah siap?"
"Saya siap ketua, serahkan tugas menyenangkan ini pada saya, ha...!"
__ADS_1
....