Kabut Cinta Sang Bidadari

Kabut Cinta Sang Bidadari
04. Mustika Berare Lidah Biru


__ADS_3

Raksa menyaksikan pemandangan aneh di depannya dengan mulut terbuka. Ular besar sepanjang hampir lima puluh meter sedang bertarung dengan seorang lelaki. Dia nampak seukuran semut yang berlaga melawan ular piton.


Meski begitu, orang itu nampak seperti pawang ular. Mulut ular yang besar mengeluarkan api biru tidak menjadi halangan baginya. Gerakannya gesit. Menolak ukuran tubuhnya yang berlemak.


Raksa segera mengeluarkan Pusaka Ruyung Hitam. Suara serak segera menggema di kepalanya.


" Ini kebetulan sekali, biarkan mereka bertarung , kita akan mengambil keuntungan saat ular itu lemah" Roh Pedang menjelaskan rencananya.


",Tapi ... ular itu sepertinya kebal senjata tajam. Buktinya pedang laki laki itu tak mampu melukainya" Raksa ragu ragu dengan rencana itu.


" Ha .. kau meremehkan kekuatanku, aku bisa memotong benda apapun, hanya saja itu tergantung tenaga dalam yang aku konsumsi. Itu sebabnya aku menuntut kau berlatih lebih keras" Roh Pedang berbicara dengan sinis.


"Terus bagaimana sekarang, kapan kita bergerak, terus terang aku takut kalau ...," Raksa mengeluarkan keringat dingin.


Roh pedang menjelaskan, bahwa setiap binatang mempunyai titik kelemahan. Bagian perut berwarna putih adalah titik lemah nya. Pada bagian itu juga tempat dia menyimpan Mustika miliknya.


Raksa mengerti dan siap menanti petunjuk kapan dia akan bergerak.


Pertempuran berlangsung pada puncaknya. Ajian pamungkas mulai digunakan.


"Ajian Pemecah Gelombang, ternyata dia berasal dari perguruan Burung Laut, tetap waspada" Roh pedang mengingatkan Raksa.


Duar!!!!!


Ledakan dahsyat terjadi. Radius seratus meter porak poranda. Api biru membakar apa saja di depannya, sedangkan hawa dingin membekukan segala yang dilaluinya. Api biru dan Es bertabrakan.


Ular Berare Lidah Biru berguling guling menghantam bebatuan. Sementara lawannya melayang menyusuri tanah.


"Ini saatnya, gunakan pukulan terbaikmu, arahkan pada kelemahannya" perintah roh Pedang.


Raksa segera berkelebat. Pedang Pusaka Ruyung Hitam di pegang dengan kedua tangan.


Ular besar tak menyangka. Saat dia tengah menghimpun sisa energi bahaya mengancam jiwanya. Dia hanya pokus pada lawan tarungnya.


Seeet!!!!


Raksa muncul di samping perut ular itu. Pedangnya terayun dengan kekuatan penuh.


Luka menganga di perut ular itu. Membuatnya meraung. Dari perutnta keluar rembesan darah seperti banjir. Bau amis menyebar.


Sekilas ada cahaya biru samar diantara luka ular itu.


"Cepat ambil mustika ular itu, gunakan cincin pusakamu, cepat!" Roh pedang berteriak di kepala Raksa.


Raungan ular yang kesakitan menyadarkan musuhnya bahwa ada orang yang memanfaatkan situasi. Dia berusaha bangkit meski sempoyongan.


Ular berusaha mencegah Raksa mengambil mustikanya. Ekornya menampar dan mulutnya menganga mencoba meraih pemuda itu. Tetapi gerakannya lambat. Raksa menghindari dengan mudah, dia melompat maju dan mencongkel mustika ular dengan pedangnya lalu menyimpannya ke dalam cincin Pusaka Insani.


Ular besar itu meraung pilu. Matanya menyala menahan amarah dan rasa sakit. Dia meronta menghancurkan segala sesuatu yang ada di dekatnya.


Raksa segera bergerak menjauh. Di berkelebat. Pergi sejauh jauhnya. Gerak pelariannya di buat zig zag demi menghilangkan jejak.


Lawan bertarung ular itu melotot marah. Dia mencoba mengingat ciri pemuda itu. Dia akan mencarinya.


Siapakah dia?


Dia adalah salah seorang tokoh penting di perguruan Burung Laut. Sunan Tembolak Abang.


Dia mendapat tugas penting mendapatkan mustika ular Berare Lidah Biru. Dia sudah menunggu lama menunggu saat terlemah ular itu. Yaitu saat berganti kulit. Tugasnya itu kini gagal gara gara Raksa.


.......


Disebuah Padang rumput yang dipenuhi dengan bunga bunga liar. Seorang gadis tengah duduk merenung. Sebuah batu seukuran kerbau mendapat kehormatan menjadi singgasana cinta bagi sosoknya yang jelita itu.


Baju hijaunya melambai ditiup angin sore. Matanya kosong menatap hamparan lembah dan bangunan di kejauhan. Bangunan adalah milik sebuah perguruan putih.

__ADS_1


Itu adalah rumah keluarga ibunya. Perguruan Selendang Sakti.


Dua telah berjalan siang malam menuju ke utara wilayah kerajaan Selaparang. Menuju rumah ibunya di Desa Mekar Sari.


Ya. Ibunya. Nirmalasari.


.....


Ibu


Sebuah nama bagi kasih yang abadi


Sebuah dambaan musafir yang tersesat oleh bayangan kelabu yang jauh


Sebuah pernyataan rindu yang terus berputar tak menentu dalam qalbu


Sayang , semuanya telah tumbang, keluar dari pitrah namamu sendiri


Di suatu senja yang gerimis


Sore itu.


(Anonim)


......


Dia mengusap air matanya. Ada pertanyaan yang harus dicari jawabannya. Kunci itu semua adalah ibunya.


"Kelak jika umurmu menginjak usia tujuh belas tahun, datanglah pada ibu bagaimanapun caranya, ada sesuatu yang sangat berharga yang ingin ibu berikan padamu dan serta sebuah rahasia mengenai pertunanganmu" kata kata ibunya terngiang kembali.


......


Kedua orang tuanya berpisah karena perbedaan kasta. Ibunya hanya seorang putri dari seorang ketua perguruan Selendang Sakti. Sementara ayahnya saudara tiri raja. Mereka terpisah setelah mengalami liku cinta yang mengharukan. Kisah inilah yang merubah Watak ayahnya. Sehingga ia ingin memberontak kepada kerajaan.


......


Dua orang petugas jaga menahannya, mereka adalah murid pemula . Keduanya saling pandang. Heran. Entah apa yang ada dipikiran masing masing.


Apakah mereka sedang bermimpi? Tiba tiba saja ada bidadari turun dari puncak Rinjani.


Sekar Ayu, sudah biasa diperlakukan seperti ini. Kecantikannya memang selalu dapat menghentikan gerak apapun. Termasuk napas seseorang. Kecuali satu orang. Pemuda yang penuh rahasia. Teguh Jaga Raksa. Pemuda yang akhir akhir ini mengisi lamunan malam sepinya.


......


Dia seperti waktu ....


Dia adalah detik demi detik yang berjalan tanpa hambatan menelusup pelan dalam rongga sukmaku ...


,.......


Petugas Jaga akhirnya sadar.


" Nona ada perlu apa, atau mencari siapa?" Petugas Jaga bertanya penasaran.


Sekar Ayu sudah lama tidak kesini. Hampir tujuh tahun. Pantas jika dia agak canggung.


Tiba tiba seorang lelaki tua kebetulan datang. Nampaknya dia ingin pergi keluar. Lelaki tua itu tertegun. Dia mengucek matanya.


" Sekar ... Den Ayu, apa benar ini anda, Den Ayu!!!' lelaki tua itu berteriak.


Petugas jaga kebingungan. Mereka menepi memberikan jalan pada lelaki tua itu.


Sekar memutar otak mencoba mengenali lelaki tua ini. Dia gagal.


" Saya paman Boncel, Den Ayu, tukang masak perguruan ini. Ingat ...!!" Boncel tersenyum lebar.

__ADS_1


Sekar Ayu ingat, laki laki ini selalu memanjakannya dengan makanan lezat. Terutama Kelpon Kecerit kesukaannya.


" Ternyata kau paman Boncel, apa kabar paman?' Sekar memberi hormat.


Boncel segera mundur. Dia tak layak menerima salam itu. Dia berteriak histeris meneriakkan kedatangan Sekar. Dia sampai lupa melapor secara resmi. Sebab dia tahu, kehadiran Sekar sangat di nanti. Suaranya menggema menembus dinding setiap kamar.


Suara yang histeris membuat semua isi perguruan panik. Seolah ada musuh menyerang. Beberapa orang bahkan keluar dengan membawa senjata.


Seorang wanita setengah baya berlari. Wajahnya yang masih terlihat cantik menggambarkan perasaan tidak percaya.


" Sekar Ayu, anakku..!!!" Dia berlari menembus kerumunan dan terpaku satu langkah di hadapan gadis itu. Dia ingin memastikan bahwa dia tak bermimpi, ini bukan hayalan kosong seperti kehendak sunyi dari kerinduannya.


Sekar melompat seperti terbang. Tangisnya pecah membuat setiap dada bergetar dalam suka cita.


....


Rindu itu berat. Bukan hanya kata Dilan. Tetapi pengakuan semua pemiliknya.


.......


Ibu dan anak itu larut dalam tangis bahagia. Bahkan air mata itu juga mengalir dari mata keriput seorang lelaki tua. Air mata yang telah hampir mengering karena ribuan luka dan duka secara ajaib merembes membasahi kulit yang keriput.


Dia berdiri mematung di balik jeruji dari kayu jati. Dia tidak mampu keluar. Wajah tuanya tidak akan layak ditatap saat menangis. Itu akan merusak reputasinya.


.......


Sekar Ayu duduk di samping ibunya. Perempuan itu memegang kotak berpikir bunga. Dia membukanya perlahan.


Sebuah selendang berwarna hijau dan sebuah kitab tua yang terbuat dari kulit dengan tinta emas.


" Ini adalah pusaka perguruan kita. Selendang Sakti Sapuan Badai dan kitab Sapuan Badai. Tugasmu untuk mempelajarinya. Sudah ratusan tahun tak ada yang berjodoh dengan ya. Dia hanya bisa di pelajari oleh golongan darah Z. Pemilik tubuh istimewa, seseorang yang memiliki unsur angin, air, api, tanah dan cahaya. Yaitu kamu" bisik ibunya sambil mengelus rambut hitam putrinya.


Sekar Ayu terpana. Inilah rahasia yang dipendam oleh ibunya. Lalu bagaimana dengan rahasia tunangannya?


"Kau harus menguasai isi kita ini. Tubuhmu yang istimewa akan mengundang bencana. Banyak orang yang akan mengincarmu. Kau harus kuat. Setidaknya dalam satu tahun kau harus menguasai isi kitab ini. Ibu punya tempat rahasia untuk kau berlatih. Rahasia kedua yang ibu janjikan, menunggu tugas pertama ini selesai.." wanita tua baya itu menyerahkan kotak itu pada Sekar Ayu.


.........


Sekar Ayu tersipu. Ibunya seolah tahu isi jiwanya. Mata indahnya tertjnduk. kini dia percaya satu hal. Tak ada rahasia yang bisa di sembunyikan seorang anak gadis pada ibunya.


........


Sunan Tembolak menceritakan pengalamannya bertempur melawan ular Berare Lidah Biru. Pokok pentingnya adalah pemuda yang mengambil Mustika ular itu.


Ketua perguruan Burung Laut tak berkedip mendengar cerita itu. Dia akhirnya memberikan tugas kepada Sunan Tembolak untuk mengambil Mustika itu. Secara husus dia akan di bantu oleh pendekar tanah Tebaban yang terkenal nyentrik.


Mereka berdua akan berangkat setelah Sunan Tembolak cukup istirahat dan sembuh dari luka.


.....


Raksa berhenti berlari setelah satu hari penuh menembus hutan lebat. Kemudian dia mencari tempat untuk menyepi. Roh pedang menyarankan dia untuk mempersiapkan banyak hal sebelum menyerap Mustika ular.


Di dekat sebuah air terjun Mayung Polak, Raksa menemukan sebuah cekungan mirip gua. Tempat yang pas untuk berlatih.


Air terjun berfungsi di untuk mendinginkan suhu tubuhnya saat penyatuan Mustika dengan tubuhnya. Tugas yang berat mengingat dia masih muda dan kemampuan serta pengalaman masih kurang. Untung saja ada roh pedang yang siap membantunya.


.......


Suara air terjun bergemuruh. Memantulkan bias pelangi saat diterpa cahaya mentari. Suara yang riuh seperti musik, sekarang dengan gemetusik dedaunan, kicau burung dan suara lenguh binatang hutan.


Raksa duduk bersila. Dia berusaha pokus. Menyelaraskan detak jantung dengan aliran darahnya. Mempersiapkan Dantian, yaitu titik di pusar tempat terhimpunnya tenaga dalam.


Penyerapan energi mustika Ular Berare Lidah Biru akan segera di mulai. Pedang Pusaka Ruyung Hitam di tarik keluar. Suara serak yang kini mulai akrab di kepalanya bergema.


"Tunggu sebentar, aku merasakan kehadiran dua orang. Mereka memiliki kemampuan yang cukup tinggi" bisik Roh Pedang.

__ADS_1


Siapakah mereka?


..... Bersambung ....


__ADS_2