Kabut Cinta Sang Bidadari

Kabut Cinta Sang Bidadari
Perang Bintang


__ADS_3

Senjata aneh milik Pendekar Pemecah Gelombang melesat, menebas Serek Bokos yang masih terpendam dalam rengkuhan mesra jari jemari es Ajian Pemecah Gelombang.


Serek Bokos menatap nanar sebuah lobang menganga, tembus sampai ke punggungnya. Darah merah mewarnai lapisan es. Rasa perih dan dingin menyeruak.


Menderita luka yang sedemikian rupa membuatnya meraung. Tubuhnya bergerak menghancurkan belenggu es.


Satu lompatan tinggi, dari udara Serek Bokos melepaskan pukulan menepuk Sunan Tembolak.


Bang!!!!


Tanah berlubang. Sosok pendekar Pemecah luput, jika dia tidak segera berkelit maka tubuhnya akan terkubur dalam tanah.


Serek Bokos terus memburu. Dia bergerak bagai banteng yang terluka. Segala sesuatu yang ada didekatnya menjadi korban.


Sunan Tembolak terus berjuang menahan amukan Serek Bokos dengan menciptakan hamparan es. Bergerak menggulung.


Manusia Raksasa Serek Bokos tidak mau menyerah, tangannya yang sekeras baja meninju, membongkar lapisan es.


Darah merembes semakin banyak. Tubuh besar Serek Bokos mulai limbung dan melambat. Pukulan dan lompatannya terhenti.


Kraaaaakkk!!!


Lapisan es membelenggu setengah tubuh serek Bokos dari kaki sampai dada. Tangannya memukul menghancurkan lapisan es.


Weng...weng weng!!!!


Suara ribuan tawon menderu dari arah belakang Serek Bokos.


Suara teriakan berat dan serak menggema saat senjata aneh itu mulai berpesta.


Leher hampir putus dan batok kepalanya terbelah menampilkan cairan otak keputihan.


Serek Bokos bergetar, kelojotan dalam cengkeraman es. Darah yang memenuhi kerongkongannya menahan teriakannya. Akibatnya suaranya bagai Suara hewan yang disembelih.


Sunan Tembolak mendongak berbisik pada langit, sinar perak melesat menghilang di langit biru.


Serek Bokos masih membeku dipaku es. Dia mati dengan mata melotot dan mulutnya menganga. Seolah tak percaya bahwa kematian ternyata berlaku baginya


Tubuhnya yang kebal ratusan jenis senjata membuatnya berpikir umurnya ditentukan olehnya.


Ternyata takdir berkata lain. Dia tak sempat menyesali dan bertobat atas dosa dosanya.


Kini perjalanan panjang menuju alam baka akan dilewatinya tanpa bekal. Dia hanya punya segunung dosa dan kesalahanπŸ˜“.


.....


Delima dan gadis kecil terpana melihat sosok Serek Bokos yang mati membeku diselimuti es. Lelaki kasar yang sering datang mengganggu kehidupan mereka telah kaku menjadi mayat.


Dia adalah sahabat guru mereka. Karena status itu Delima masih menghormatinya. Selain itu dia punya ilmu kebal dan kekuatan tubuh diluar nalar. Sulit membayang kan dia mati begitu mudah.


"Maaf aku terpaksa membunuhnya, aku tak punya pilihan lain" Sunan Tembolak merasa bersalah.


Delima tak menjawab. Jauh dihatinya ada rasa lega. Setidaknya tak ada lagi lelaki sok gagah yang mengganggu hidupnya. Memaksanya menjadi isterinya.


Dia melambai, gugusan kabut menyelimuti mayat Serek Bokos. Kabut itu terus bergerak, mengangkat mayat itu jauh ke luar Gili Lebur. Tercebur di laut.


....


Angin laut naik menghempas ranting bakau yang tumbuh subur di sepanjang garis pantai Gili Lebur.


Suara burung camar berbaur dengan deburan ombak.


Raksa dan Sekar berdiri dari jarak yang cukup jauh menyaksikan satu demi satu mata rantai kisah perjalanan nasib seorang Pendekar berakhir. Kematian. Ujung paling tragis dari sebuah pertempuran.

__ADS_1


Sekar menatap sosok gadis bergaun merah yang telah mengirim tubuh raksasa Serek Bokos ke tengah lautan.


Gadis itu pernah menjadi lawan tarungnya. Dia mengaku bahwasanya gadis itu sangat hebat.


Raksa tidak terlalu peduli dengan pemandangan terakhir yang sedang dinikmati oleh Sekar.


"Ayo kita pergi, sudah lewat tengah hari, turnamen akan segera dimulai" Raksa memegang pergelangan tangan isterinya.


Sekar bergerak mengikuti Raksa meski ujung matanya masih mempertahankan tatapan pada sosok bergaun merah dikejauhan.


"Tidak ada yang boleh datang dan pergi di tanah ini tanpa izin dariku!" Suara lembut menyusup memecah seantero Gili.


.


Raksa menghentikan langkahnya. Dia sudah tahu siapa yang berbicara. Ilmu penyusup suara hanya dimilki oleh beberapa tokoh. Dia pernah mendengar dari gurunya bahwa pemilik Gili Lebur adalah salah satunya.


"Kami tidak ada keperluan disini, lain kali kami akan tinggal lebih lama!" Raksa menjawab dengan mengerahkan tenaga dalam yang mampu merontokkan dedaunan.


Wessss!


Sesosok bayangan merah melintas dan berdiri beberapa meter dihadapan Sekar dan Raksa.


Dua mata indah bertemu. Sepasang dengan keindahan yang mampu menghentikan waktu, napas dan detak jantung, sedangakn satunya lagi dingin tanpa ada emosi. Seolah kedalaman samudera tanpa batas mengalir, mampu membenamkan segala yang dilihatnya.


"Jangan halangi kami, ini memang tempatmu, tapi jika kau berniat jahat, aku akan meratakan Gili ini dengan lautan!" Sekar mendesis seperti ular berbisa.


Delima tersenyum. Senyum aneh. Senyum itu seolah tak pernah ingin tinggal lama. Dia sepertinya menyadari bahwa sendu, beku dan tanpa ekspresi adalah pemilik wajah itu.


"Aku pernah mengundang lelaki disampingmu untuk mampir ke tempat ku, sekarang dia datang, aku harus jadi tuan rumah yang baik!" Delima berbicara pada Sekar sambil melirik Raksa.


Nada suaranya memang datar tetapi lirikan terakhir sangat jelas ditangkap oleh Sekar.


Sikapnya membuat tenggorokan Sekar gatal. Dia merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya.


Sekian detik Delima terdiam. Kemudian dia tersenyum lebar.


"Ooooo, benarkah, maafkan saya, tidak saya sadari ternyata ada penganten baru berbulan madu ke istana kecilku, selamat ya, sayang aku tidak ada hadiah!" Dia memegang ujung bajunya dan perlahan pergi.


Langkahnya tetap sama. Pelan seolah menanti persetujuan bumi atas kaki kecilnya.


"Aku menunggu, kita minum teh bersama!" Dia berbicara tanpa menoleh.


"Kami tidak akan datang!" Sekar menyambar dengan nada mengejek.


"Aku mengundang suamimu, dia yang berhak menentukan ya atau tidak!" Delima terus melangkah.


Rambut hitamnya bergelombang melambai ditiup angin. Setiap helai berkilau ditimpa sinar matahari. Menutupi garis punggungnya yang sempurna.


Pemandangan yang indah. Mencongkel mata sang mentari yang berteriak serak pada gugusan awan yang menghalangi pandangannya.


Sekarang terbukti. Cepat pisahkan wanita yang berseteru atau kau akan pusing tujuh keliling.


Dia tak mungkin menolak tawaran Delima. Dia seorang lelaki dan seorang pendekar. Seorang lelaki meletakkan pedang dan undangan ditempat yang layak.


Itulah jiwa seorang ksatria. Teguh. Tidak seperti awan yang bergerak kemanapun angin bertiup.


Raksa mengelus dada. Meratapi nasibnya yang malang. Sebentar lagi dia akan melihat perang bintang.


Dia bergerak. Menyambar tubuh indah Sekar. Menggendongnya menuju istana Gili Lebur.


......


Delima menarik tangan gadis kecil yang sedang membersihkan bekas darah di wajah dan leher Pecut Sakti.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan, kau bukan pelayan disini!" Delima menatap tajam Merah Kepundung.


" Kakak, dia sedang terluka, dia terluka karena membelaku, aku tidak bisa membiarkan dia sengsara tanpa berbuat apa-apa!" Gadis kecil itu membela diri.


Delima menatap Pendekar Pemecah Gelombang yang terlihat kaget dengan kehadiran Raksa dan Sekar.


"Dia tamuku, bawa temanmu pergi dari sini!" Suara Delima dingin dan menusuk jiwa.


"Aku akan pergi setelah masalah kita selesai!" Sunan Tembolak tak peduli. Dia menatap kearah pohon bakau dengan akarnya yang meninggi lalu turun menghujam bumi.


Itulah gambaran hatinya. Pemilik mata yang dikenalnya akan memanggilnya dengan lembut dan menyejukkan jiwa. Tetapi sekarang, menjulang tinggi dan menghujam ke dalam jiwa.


Dia sekarang sedikit menyadari. Menemukan seseorang yang pernah kita sayangi menjelma dalam diri seseorang, tetapi memiliki sikap berbeda ternyata menyakitkan. Seperti menggenggam mimpi dimana kita harus mengasihani diri. Berharap bahwa itu dia. Tetapi ternyata hanya ilusi.


.....


Katakan padaku bagaimana rasanya ketika kekasih yang kau sayangi, menatapmu dengan tatap mata yang kehilangan cinta?


Jawab di kolom komentar!


.....


Delima mendengus. Dia menatap dingin Sunan Tembolak. Selanjutnya dia melangkah menuju istana kecilnya diikuti oleh Raksa dan Sekar.


Raksa tersenyum kepada Pendekar Pemecah Gelombang. Senyum seribu makna.


"Terima kasih atas Mustika Berare Lidah Biru itu!" Raksa melintas dihadapan Sunan Tembolak.


...


Angin laut membelai wajah Sunan Tembolak yang mengeras. Dia ingin membuat perhitungan dengan Raksa tetapi dia tak ingin memperkeruh suasana hati gadis bergaun merah.


Dia adalah kunci suasana hatinya sekarang.


"Paman, kita harus membawa teman paman ketempat yang lebih nyaman. Tolong angkat dia dan ikuti aku!" Gadis kecil meminta bantuan Sunan Tembolak.


Tanpa menunggu lama mereka beriringan menuju sebuah bangunan terpisah. Bangunan itu berfungsi sebagai gudang tempat beberapa barang yang sudah tidak terpakai.


Pecut Sakti tergolek dan belum sadarkan diri.


Gadis kecil muncul membawa makanan. Dia meletakkannya di lantai.


"Makanlah, paman pasti lapar!" Dia meletakkan makanan diatas meja.


.....


Teh tersaji. Delima menampilkan sosok yang hangat sebagi tuan rumah. Gerakannya anggun menghidangkan teh dan mengajarkan bagaimana cara menikmatinya.


Setiap tegukan penuh dengan rona kesukuran. Memperlihatkan lehernya yang jenjang. Seolah sutra putih diselempangkan menutup setangkai mawar merah.


Gadis berbaju hijau didepannya tampil seperti pelangi. Bergerak melingkari gunung yang kokoh berdiri. Seolah menutup pandangannya akan keindahan mawar.


Perang bintang masih tersaji.


Raksa hanya bisa mengurut dada. Mencoba menenangkan Sekar dengan senyum dan anggukan kecil setiap kali mereka beradu pandang. Bagaimanapun mereka adalah tamu.


......


Setelah acara minum teh berakhir Raksa dan Sekar pamit. Turnamen menanti kehadiran mereka.


Semberani melaju secepat kilat menuju pusat kerajaan Selaparang.


Nb. Like dong! πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2