
Raksa menyeret tubuhnya keluar dari air. Setelah susah payang berjuang dia sampai di dataran yang keras dan kering.
Dia mencoba menenangkan diri. Dia bersyukur setidaknya Pusaka Ruyung Hitam tidak terlepas dari tangannya. Dengan adanya pusaka ini dia tidak akan sendirian. Ada teman berbagi pengalaman dan penderitaan.
"Cobalah untuk duduk bersila dan mengumpulkan tenaga" Suara Roh pedang memberi saran yang jelas.
Raksa berusaha duduk bersila dengan sisa energi yang ada. Pada awal semadi dia memuntahkan seteguk darah kental. Luka dalam yang diderita cukup parah.
Beberapa kali dia jatuh pingsan tak sadarkan diri. Setelah bangun dia kembali mencoba mengumpulkan tenaga dalam. Roh pedang benar benar kagum dengan tekad Raksa untuk bertahan hidup.
Selama hampir satu hari Raksa bersila mengembalikan tenaga dalam yang terkuras habis. Hal itu tidak mudah di lakukan sambil menahan nyeri dan rasa dingin di sekujur tubuhnya.
Pada hari ketiga Raksa sudah memiliki sedikit tenaga. Dia sudah punya kemampuan menggunakan energi batin mengambil beberapa barang dari cincin Pusaka.
Dia juga mengganti pakaian yang dikenakan karena itu sudah rusak d kotor. Cincin Pusaka pemberian gurunya dan beberapa barang yang ada di dalam nya terasa sangat berharga pada saat seperti ini.
Tiba - tiba dia merindukan guru yang telah merawat dia sejak kecil.
Setelah satu Minggu memulihkan kondisi Raksa jauh lebih baik. Dia sudah. Bisa berjalan dengan baik.
Banyak hal yang harus dilakukan. Dia harus mencari jalan keluar dari ruang bawah tanah yang tersembunyi ini.
Salah satu jalan adalah mampu mendaki ke puncak ruangan ini yaitu tempat jalan masuknya sedikit cahaya.
Dia mencoba berhitung. Sekitar seribu meter. Sementara dinding yang harus dilewati tegak dan licin ditumbuhi lumut dan beberapa tanaman aneh.
Setelah berkeliling beberapa saat dia menyadari bahwa ruangan ini cukup luas. Ada juga ruangan lainnya yang banyak di tumbuhi berbagai jenis jamur dan sejenisnya.
Ketika dia bertanya kepada Roh pedang terkejut. Jamur dan tumbuhan yang hidup di dinding gua ini adalah sejenis obat herbal yang langka dan berkhasiat untuk kesehatan dan tenaga dalam. Beberapa bahkan Anti racun.
Raksa tenang. Persoalan makanan sedikit ada solusi. Disungai kecil juga terkadang ada beberapa ikan, kepiting dan udang yang bisa di makan.
Demikianlah, Raksa berusaha untuk bertahan hidup dengan menggunakan segala yang ada. Dia makan jamur yang membuat dia muntah darah darah pada awalnya. Ternyata itu mengeluarkan sisa energi es dan mengobati luka dalam serius yang di deritanya.
.....
Satu bulan berlalu.
Kondisi Raksa sudah sehat. Tubuhnya kini dirasakan berbeda. Ini karena mengkonsumsi jamur dan tanaman obat langka. Apalagi Bunga Patah Hati yang legendaris. Mengobati pembuluh darah dan menguatkannya. Kini Raksa dapat mengalir kan tenaga dalam lebih mudah dan cepat.
.....
Derap langkah kaki kuda memecah keheningan malam. Penunggang nya adalah seorang lelaki yang gagah dengan sorot mata tajam dan berwibawa. Pakaiannya penuh debu membuktikan bahwa dia telah menempuh perjalanan cukup jauh.
Didepan pintu gerbang Desa dia berhenti. Penjaga pintu gerbang desa yang terkantuk-kantuk segera bergerak membuka gerbang.
" Anda sudah kembali Raden" penjaga itu memberi hormat.
" Ya, apakah selama aku pergi ada peristiwa penting yang terjadi" Lelaki itu bertanya sambil menyerahkan kuda pada penjaga.
" Tidak ada Raden, kecuali ada seorang pemuda yang mencari Raden, usianya sekitar 18 tahun, dia gagah dan ...." Penjaga bingung menjelaskan
Raden Wirang baya tertegun dengan penjelasan dari penjaga itu. Dia mencoba mengingat ciri seseorang yang seperti itu. Namun tak berhasil.
" Ya sudah, tolong kau urus kuda ini, saya ingin istirahat, besok kita bicara lagi agar lebih jelas" Raden Wirangbaya melangkah menuju kediamannya.
" Baik Raden!" Penjaga gerbang itu segera melaksanakan tugas.
.......
Malam semakin larut. Suara serangga bergema menyanyi kan lagu kegelisahan. Tak ada sinar bintang dan rembulan. Samar. Semuanya tertutup awan hitam.
Dipembaringan Raden Wirangbaya diliputi kegelisahan. Entah menfapa Rasa lelah seharian berkuda dari istana tak membuat matanya terpejam.
Sang isteri yang tertidur didekatnya menyadari kegelisahan suaminya.
__ADS_1
"Ada apa kanda, mengapa kau tidak tidur?" Wanita yang selama ini setia mendampingi bertanya dengan lembut.
"Entahlah Dinda, kabar penjaga tentang seorang pemuda yang mencariku satu bulan yang lalu sepertinya membuatku gelisah. Mungkin kah dia?" , Raden Wirangbaya tak mampu meneruskan kalimatnya.
Isterinya yang awalnya tenang saja menjadi lebih panik.
"Dia mungkin Raksa, anak kita. Apakah Eyang guru telah gagal menahannya di puncak Rinjani?" Tangis kecil mulai terdengar dari wanita itu.
"Aku berhitung umurnya sekarang belum genap delapan belas tahun. Jika dia kembali dia dalam bahaya. Ini tidak boleh terjadi. Kita harus menyelamatkan ya" Raden Wirangbaya bangkit dan mondar - mandir penuh kegelisahan.
.....
Kehidupan di desa Lenek penuh dengan Misteri. Desa kecil itu mengalami peristiwa aneh sepanjang perjalanan berdiri ya. Jumlah penduduk nya tidak bisa bertambah lebih dari 100 orang. Umumnya yang meninggal adalah bayi sampai usia genap dibawah 18 tahun. Peristiwa ini sudah terjadi bertahun tahun.
Raden WirangBaya ditugaskan oleh Raja Selaparang memimpin Desa Lenek. Dia menyaksikan kepergian dini putra dan putri rakyatnya untuk selamanya. Sebetulnya dia tak percaya kisah ini tetapi setelah beberapa kali terjadi dia mulai yakin
Tanpa sepengetahuan rakyatnya dia telah menitipkan putranya pada seorang Sakti di puncak Rinjani. Mengapa dia merahasiakan itu?
Dia tak ingin rakyatnya mengikuti sikapnya yang seolah ketakutan. Hidup mati ditangan Gusti Allah. Begitulah rakyat menerima segala takdir. Anak yang mati atau terus hidup sudah diatur takdirnya.
.....
Satu bulan digua perut bumi.
Setelah tubuhnya sehat dan kuat dia berhasil menyerap energi mustika Ular Berare Lidah Biru. Tubuhnya seperti dialiri gelombang energi api yang membara. Sorot matanya mengandung energi misterius. Berpijar indah berwarna biru keemasan.
Dia butuh seminggu untuk memantapkan posisi energi itu didalam Dantiannya. Setelah mendapat petunjuk dari Roh pedang dia mampu mengontrol energi yang melonjak seperti amukan badai petir dan api.
Saat dia coba menggunakan jurus Serat Jiwa energi pedang Pusaka Ruyung Hitam berubah menjadi cahaya hitam pekat pads jurus pertama. Tahap kedua berwarna merah dan tahap ketiga berwarna keemasan. Perlahan tapi pasti dia mencoba jurus keempat yang mampu mengeluarkan warna biru. Segala sesuatu yang tersentuh oleh api ini berubah menjadi debu.
Kini dia mampu mengeluarkan empat jurus Serat Jiwa berturut-turut tanpa kehabisan tenaga dalam. Roh pedang menjelaskan itu masih perlu dilatih dan disempurnakan.
......
Di sebuah ruangan besar berhiaskan segala bentuk barang aneh. Seorang lelaki berpakaian seba hitam sedang membakar kemenyan dan kembang tujuh rupa ditaburksn diatas air beras ketan hitam. Di belakangnya beberapa lelaki dengan gampang kasar setia menunggu dan tak berani bergerak sembarangan.
Beberapa saat kemudian sesosok tubuh dalam balutan kain hitam muncul ditengah kabut. Hadir diantara ilusi dan nyata. Cantik dalam semu. Tak ada kata untuk melukis kan bagaimana dan siapa dia. Penulis juga tak mampu.
"Apa keperluan mu memanggilmu, Rekso Jiwo, !!!" Suara merdu terdengar seperti bisi kan kehampaan.
"Ampuni Gusti Ratu, saya ingin menjadi, ilmu Kala Surat yang ratu ajarkan tidak bisa sempurna..!" Rekso Jiwo menjelaskan.
" Kau sudah melengkapi semua syarat nya, mungkin ada yang kurang.." suara itu terdengar tanpa emosi.
"Sudah lengkap Gusti Ratu, tapi hasilnya belum sempurna, lihatlah jari kelingking saya budak bisa bersambung kembali" Rekso memegang tangan kirinya yang tanpa jari kelingking.
Sang Ratu diam beberapa saat.
"Aku merasakan, telah muncul tubuh istimewa. Energinya masih lemah sekarang. Temukan dia. " tubuh sang ratu lenyap dikehampaan.
"Bagaimana kami bisa nengenalinya gusti, apa cito ciri nya" Rekso nampak lega.
"Dia mampu mengendalikan lima unsur. Dari energinya sepertinya seorang gadis. Usia ya baru memasuki usia tujuh belas tahun" selanjutnya tubuh halus itu lenyap tanpa bekas.
.......
"Kalian dengar sendiri apa yang aku butuhkan. Segera debat semua murid mata mata untuk mencari orang yang punya tubuh istimewa itu!" Rekso Jiwo memberi perintah kepada mata mata perguruannya.
Beberapa orang kepercayaan yang bertugas memimpin menggangguk tanda mengerti. Mereka segera di undur diri.
Setelah memberi perintah dia larut dalam buaian minuman haram yang mengundang dosa dan murka yang maha kuasa. Satu jam kemudian terdengar suaranya yang mabuk berbicara penuh omong kosong.
........
Raksa tersenyum puas. Energi yang dulunya meledak-ledak kini telah mampu di kuasainya. Tubuhnya terasa ringan. Pandangan matanya menjadi lebih terang. Dia mampu melihat titik kecil. Bahkan sebesar semut dari jarak ratusan meter. Semua indera ya menjadi lebih peka.
__ADS_1
Dari segi pisik dia juga berubah. Kulitnya semakin halus dan bersih. Wajahnya semakin tampan. Sekarang akan semakin banyak kota yang hancur.
Dengan kemampuan ini Raksa mencoba melompat tinggi mencapai titik cahaya yang masuk. Percobaan pertama dia tak mampu mencapai sepertinya. Kondisi dinding yang licin membuatnya terperosok.
Dia tak mau menyerah. Dicobanya berkali kali. Selama hampir satu bulan dia terus nencoba. Hasilnya selalu gagal. Jarak seribu meter bukan hal yang mudah.
Roh pedang menyarankan dia melatih lagi ilmu Kijang Kencana sampai melewati batas normal. Raksa mengikuti saran itu. Itung itung mengambil manfaat dari kondisi yang sulit ini.
Tanpa terasa enam bulan sudah Raksa terkurung di gua perut bumi. Selama itu dia telah berjuang melewati batas kemampuannnya. Sepi menyiksa, menyayat ujung jiwanya yang paling dalam. Dia rindu sinar matahari. Gugusan langit biru di hiasi bintang. Derai cemara dihempas angin pegunungan, sesuatu yang selalu ingin di nikmatiya tanpa pernah jemu.
Dia rindu seseorang. Senyum dan tetap mata yang mampu membekukan segalanya. Bagaimana kabarnya sekarang. Apakah dia di takdirkan terkurung di sini selamanya.
"Kau jangan patah semangat, menurutku kau berlatih tanpa dukungan, manfaan semua yang ada disekitar mu. Banyak tumbuhan berharga disini. Carilah beberapa yang bisa meningkatkan lagi tenaga dalamnmu. Menurut ukurannyo sekarang, tingkat tenaga dalamnmu hampir seratus lingkaran. Kau setara dengan musuh terakhir mu. Coba lah sampai mencapai dua ratus atau lebih. Jika kau bisa sampai seribu, aku akan bahagia sekali. Kau bisa bebas menggunakan ku.
Seribu lingkaran. Berapa lama untuk itu. Sepuluh atau bahkan seumur hidupnya. Raksa bergidik ngeri. Terus apa yang harus di lakukan, menyerah?
Raksa tak punya pilihan. Dia akhirnya menyerah untuk berpikir keluar. Dia hanya ingin meningkatkan tenaga dalamnya. Maka dia mulai berlatih serius. Mengkonsumsi jamur dan tumbuhan langkah dalam jumlah besar. Jika Raksa sadari para pendekar akan rela saling bantai demi jamur dan semua tumbuhan langka yang dia anggap cemilan setiap hari. Hanya Roh Pedang yang tahu ini. Itu sebabnya dia menyuruh Raksa memanfaatkan sumber daya itu. Berlatih siang dan malam. Dia tak lagi peduli waktu.
Lingkaran tenaga dalamnya terus bertambah. Dari seratus, dua ratus, tiga ratus, tujuh ratus, seribu.
.......
Kemangi duduk termenung di berugak depan rumahnya. Dia menatap anak-anak yang tengah asyik bermain gasing dijalan dusun.
Hampir setahun dia sering melakukan ini semua. Termenung seorang diri. Entah apa yang ada di benaknya.
......
Rekso jiwo berdiri dengan gelisah.Matanya nanar menatap bawahan dan para murid perguruan yang bertugas sebagai mata mata.
"Laporkan padaku hasil kerja kalian, apakah kalian gagal lagi!" Mata jelek itu melotot. Hampir melompat keluar. Tangannya terkepal marah.
"Kami gagal ketua, gadis itu sangat hebat, dia bisa mengendalikan lima unsur. Kami bahkan tak sanggup mendekati. Apalagi menangkapnya. Dia sudah mengalahkan setengah dari jago perguruan Naga Hitam kita" Rekso Pati menerangkan.
"Atur siasat, jadikan orang terdekatnya sebagai sandera, jangan melawannya langsung. Selidiki keluarganya!," Rekso Jiwo memberi perintah.
Para mata mata segera bergerak. Hanya tinggal Rekso jiwo dan Rekso Pati di ruangan itu.
"Apakah gadis itu sangat cantik, Rekso Pati?' Rekso Jiwo bertanya sambil menggerakkan matanya dengan nakal.
"Sangat ketua, saya taknpernah bertemu dengan bidadari secantik itu. Sungguh ketua. Selain itu sikapnya juga rendah hati. Pokoknya dia cocok untuk saya!" Rekso Pati keceplosan
Bang!!!
Dia terbang setelah sebuah tendangan mendarat di pantatnya. Menabrak dinding dan berakhir di halaman. Beberapa murid perguruan tak berani tertawa. Meski terlihat lucu. Peristiwa seperti ini memang sudah sering terjadi.
......
Raden Wirang Baya duduk terpaku menatap Puncak gunung Rinjani yang tegak menantang zaman. Dia telah jauh jauh datang untuk bertanya tentang Raksa. Sang guru memberi jawaban mengejutkan. Dia telsh turun gunung hampir setahun yang lalu.
Berarti benar dia yang datang? Lalu sekarang dimana rimbanya?
.......
Beberapa bayangan hitam mengendap di sekitar belakang bukit di samping perguruan Selendang Sakti.
Beberapa murid yang asik mengobrol tak menyadari kehadiran bayangan hitam itu. Berdiri didekat pepohonan. Hal yang aneh. Hanya dengan selembar daun Tubuhnya telah tersamarkan.
Dia bergerak dengan kecepatan tinggi menuju bangunan utama. Hinggap di atas atap laksana burung gereja.
Tanpa suara dia melompat turun dan mengarah ke pintu maduk. Selembar daun di tangannya melindunginya dari tatapan penjaga.
Wuuussss!!!
Seperti hantu dia menerobos ke dalam.
__ADS_1
.... Bersambung ...