Kabut Cinta Sang Bidadari

Kabut Cinta Sang Bidadari
11. Bidadari Kecilku


__ADS_3

Raksa dan Sekar seperti disambar petir disiang bolong.


Nirmalasari tersenyum melihat tingkah Raksa dan Sekar. Bahasa jiwa mereka murni, memancar dari bias bahasa hati mereka masing masing. Dia menatap anak gadisnya penuh kelembutan. Menahan rasa sedih yang tiba-tiba mengisi relung jiwanya.


Dia seorang ibu yang tak berbakti pada anaknya. Setengah dari bagian penting kehidupan putrinya tak sempat dilaluinya. Putrinya, gadis yang dipuja banyak orang tak berhak untuk di banggakannya. Dia tak pernah ada ketika gadis itu membutuhkan kasih sayangnya.


Kesempatan untuk menebus kesalahan itu datang tetapi kini harus pergi lagi. Dia harus merelakan semuanya. Dia sadar bahwa kebahagiaan putrinya sekarang tidak lagi dari dirinya.


.....


Lupakan semuanya tentang aku. Meski itu namaku. Sebab kini ada seseorang yang lebih pantas untuk kau perhatian. Dia yang memiliki segalanya melebihi aku. Biarkanlah aku seperti fajar diupuk timur yang beringsut pergi dari pelajaran hatimu demi sayangnya sinar surya yang lebih terang menyinatimu.


.......


Darmiliawati tersenyum puas melihat hasil kerja kerasnya. Semua sudah ditata rapi. Penuh warna mencerminkan kamar seorang gadis.


Beberapa kali Darmiliawati harus mengusir suaminya yang tertawa melihat tingkahnya. Dia tak peduli. Beberapa pelayan bahkan heran dengan sikap majikan mereka. Siapakah yang akan datang?


.....


Suara ringkik kuda memecah suasana. Dua penunggang melompat dengan mantap. Tanpa suara menyentuh permukaan tanah.


Darmiliawati berlari menyongsong kedua penunggang kuda itu sambil berteriak histeris.


Raksa tersenyum melihat tingkah polah ibunya. Dia berlari kecil. Tetapi ada yang aneh. Ibunya tak memperdulikannya. Dia terus berlari melewatinya.


Raksa kaget dan heran.


"Sekar Ayu, apa benar ini kau?" Wanita itu memegang pundak calon menantunya dengan tatapan tak percaya.


Dia butuh beberapa detik untuk menutup mulutnya. Terpana oleh kecantikan yang benar-benar memukau mata. Tatap mata yang mampu menghentikan gerak waktu, napas dan detak jantung siapa saja.


Darmiliawati berputar mengitari Sekar. , Mengelus rambut hitam yang tergerai seperti air terjun. Tertegun menatap tubuh tinggi semampai dengan kulit seperti batu giok.


Sekar yang diperlakukan seperti itu merasa risih. Semua yang hadir tak ada yang bisa melindunginyadari tingkah sang calon mertua.


Akhirnya dia pasrah. Dengan anggun dia membungkuk pada wanita setengah baya dihadapannya.


"Hormat saya ibu" ucapnya lembut.


"Aduh, Sekar kau cantik sekali, seperti ibu waktu muda" dia memeluk Sekar.


Suaminya yang mendengar kalimat itu sampai merasa mau pingsan.


....


Hei ...!!!


Seorang lelaki harus segera dan menyegerakan diri, ketika wanita meminta sesuatu, memuji kecantikannya dan melerainya saat berkelahi dengan sesama wanita. Jika tidak satu kota akan ribut dibuatnya.


..........l


Darmiliawati tak bisa tahu harus berkata apa lagi melihat tampilan Sekar. Dia menggiring gadis itu memasuki rumah.


Setelah memasuki kamar yang dipersiapkannya untuk Sekar sejak pagi dia mulai menjerit. Suara teriakannya menggema membuat beberapa pelayan tergopoh-gopoh kalang kabut.


Raksa terpana. Dia dilupakan begitu saja. Dengan langkah gontai dia memasuki kamarnya. Membenamkan wajahnya pada bantal dan mencoba tidur. Dia penat. Sudah cukup lama dia tak tidur dengan pulas.


Didalam kamarnya Sekar dilayani seperti ratu. Mulai dari mandi, berpakaian dan merias diri.


Sang calon mertua langsung tampil sebagai komando. Menyulap Sekar tampil sempurna.

__ADS_1


.....


Ketika acara makan malam tiba.


Sekar keluar dari kamar dengan wajah tersipu. Menatap risih kearah Raksa yang terkejut dengan penampilan barunya.


Sekar tidak awam dengan riasan seperti dandanan seorang putri. Ketika masih bersama ayahnya di istana dia sering melakukan itu. Tetapi semenjak mereka lari dan hidup di perguruan Selendang Sakti dia tak pernah melakukan itu.


Kini dia kembali hadir dengan penampilan penuh. Tak ada sisi pada dirinya yang tak mengundang decak kagum. Sempurna.


"Raksa, jaga tatapanmu" ayahnya mengingatkan puteranya.


Raksa tersipu. Darah mudanya berdesir. Mengalirkan lebih banyak bayangan semua ke otaknya.


Sebaliknya Darmiliawati tertawa lepas dia tak henti memuji kecantikan Sekar. Tak bisa mengontrol perasaannya. Tak terbayang calon menantunya adalah seorang bidadari.


"Raksa, lihatlah Bidadari Kecilmu!" Dia berkata bangga.


........


Malam turun menyelimuti pernik dunia.


"Bagaimana perkembangan keamanan didesa kita, ayah" Raksa brtbincang dengan ayahnya.


"Sudah ada titik terang, pelakunya dua orang iseng yang nampaknya hanya ingin bersenang-senang" lelaki itu mendesah.


"Terus bagaimana dengan penyakit aneh yang menimpa warga, apakah ayah tahu penyebabnya?" Raksa


"Ayah sudah mendapatkan petunjuk dari seorang alim,Kanjeng Sunan Prapen, menurut beliau kita harus lebih serius membina warga disini dalam urusan agama" Raden Wirang baya mengangkat gelas kopinya.


Raksa bingung. Kemudian ayahnya mulai memaparkan sekilas tentang ajaran agama Islam yang dianut oleh masyarakat baru baru ini. Tetapi warga banyak yang tidak memenuhi kewajibannyo sebagai hamba.


"Kita akan membangun masjid. Sebagai sarana ibadah, tempat berkumpul memuji tuhan yang menciptakan kita. Semoga dengan adanya itu, setelah semua warga dan kita semua melakukan kewajiban kita Allah mengangkat semua cobaan ini" Raden Wirangbaya berkata penuh keyakinan.


Raksa merenung. Pertanyaan tentang siapa diri dan keberadaan alam semesta yang selama ini menggelitik jiwanya menemui titik terang.


"Bagaimana dengan rencana pernikahanmu" Ayahnya mengalihkan materi diskusi.


"Semua saya serahkan kepada ayah dan ibu" Raksa merasa risih dengan pertanyaan itu.


"Ayah akan mengurus semuanya, kau tenang saja" Raksa melihat antusias yang luar biasa dari Ayahnya.


.......


Halaman perguruan Burung Laut.


Sunan Tembolak dan Pecut Sakti sedang duduk menikmati sesuatu yang istimewa. Jagung rebus disiram air nira yang sudah dimasak sampai mendidih. Ini adalah makanan kesukaan mereka.


" Kakang Sunan, bagaimana persiapanmu menghadapi perhelatan Akbar para pendekar tanah Selaparang. Apakah kau punya sesuatu yang istimewa sekarang?"; Pecut Sakti bertanya menyelidik.


"Em... Pertanyaan yang bagus, aku gagal mendapat Mustika Berare Lidah Biru, tetapi aku dapat senjata yang tak kalah hebat!" Sunan Tembolak tersenyum lebar.


"Senjata apa kakang, apakah itu keris, pedang atau...." Pecut Sakti tak melanjutkan pertanyaannya.


"Rahasia"Sunan Tembolak sibuk mengunyah jagung dengan nikmat.


"Tahun ini ku dengar banyak pendekar muda yang akan tampil. Sementara untuk golongan tua beberapa peserta tahun kemarin sudah melatih diri dengan giat" Pecut Sakit menyeramkan.


"Terus apa hubungannya dengan ku" Sunan Tembolak berteriak bingung.


"Kakang, bukankah kau selalu ikut meski tidak menang, apa kau akan .." Pecut Sakit tak berani melanjutkan.

__ADS_1


Sunan Tembolak menjitak kepala Pecut Sakti.


"Apa kau meremehkan kemampuanku?" Dia melotot marah.


"Bukan begitu kakang, tapi..," dia tak terlihat tersenyum lucu menatap Sunan Tembolak.


Sunan Tembolak menggelengkan kepalanya. Matanya berputar dengan senyum yang mengundang tanya. Dengan sekali lompat dia segera menjauh beberapa langkah.


Dia bersedekap. Menutup mata dan membaca beberapa mantra. Menatap langit biru seperti menunggu turunnya sesuatu.


Weng.!!


Sebuah benda aneh terbang, turun dari langit dengan cahaya yang menyilaukan.


Dalam hitungan detik benda itu tergenggam ditangan Sunan Tembolak.


" Ba .. ba ... Batek Tong Tong!" Pecut Sakti terbeliak. Matanya melotot seolah biji matanya hendak loncat keluar.


Sunan Tembolak tersenyum mengejek. Dia menatap Pecut Sakti dengan tatapan aneh.


" Itu senjata legendaris kakang, jangan main main!" Pecut Sakti merasakan gelagat yang mencurigakan. Dengan gugup dia berdiri, mengambil jarak aman dari Sunan Tembolak.


"Serang !" Sunan Tembolak memerintahkan senjata itu menyerang Pecut Sakti.


Senjata berbentuk aneh itu terbang seperti kilat menyerang Pecut Sakti. Cahaya putih dan suara mendengung seperti ribuan tawon berkumandang.


Weng, weng, weng!!!


Pecut Sakti segera menghindar. Serangan pertama berhasil dihindarinya tetapi serang berikutnya datang lagi tanpa jeda. Cahaya putih dan suara tawon terus mengejar Pecut Sakti.


Senjata aneh itu seperti punya mata dan indera lainnya. Seolah hidup dan bernyawa.


Sunan Tembolak tertawa terbahak bahak. Dia sampai menekan perut melihat Pecut Sakti yang jatuh bangun, berguling guling untuk menghindari kejaran senjata itu.


Dia bahkan mengeluarkan Pecut saktinya, mencoba menghalau senjata itu tetapi selalu lolos.


" Kembali!" Sunan Tembolak memanggilmu senjata anehnya. Sinar putih dan suara tawon berhenti. Senjata itu tergenggam ditangannya.


Sunan Tembolak membaca beberapa mantra dan senjata itu terbang ke langit. Meninggalkan secercah cahaya yang sirna dilangit biru.


Pecut Sakti mengurut dada. Dia mendelik marah. Hampir saja nyawanya hilang diambil dari badannya.


Dia segera bangkit dengan mata mendelik marah. Sunan Tembolak tahu arti tatapan itu.


Dia tertawa dan melompat mengambil langkah seribu.


" Hei tunggu.....! Sialan, aku dikerjai habis habisan, celana ku robek, mati aku Simin ku sayang pasti akan marah besar!" Pecut Sakti bangkit dan menepuk debu dipakaiannya.


......


Raksa duduk dengan gagah diatas punggung kudanya. Dia melambaikan tangan kearah Sekar dan ibunya.


Hari ini dia akan pergi ke puncak Rinjani untuk menemui gurunya. Dia harus menemukan jurus baru melengkapi pukulan saktinya.


Sekar membalas lambaian tangan Raksa. Mereka tidak bisa pergi karena ibu Sekar melarang. Mereka belum menikah jadi kurang pantas berpergian bersama dalam jangka waktu yang lama.


Setelah Raksa pergi Darmiliawati membawa Sekar masuk kamar pribadinya. Dari balik lipatan bajunya ia mengeluarkan sebuah benda berkilau indah.


Mata Sekar menyipit melihat benda itu


... Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2