Kabut Cinta Sang Bidadari

Kabut Cinta Sang Bidadari
10. Banjir Darah


__ADS_3

Raksa memperhatikan dengan seksama tiga orang yang bergerak diantara rumpun ilalang. Tiga orang itu nampak percaya diri mengintip suasana di sekitar perguruan Selendang Sakti.


Raksa curiga bukan hanya mereka yang berada disekitar perguruan Selendang Sakti.


Tubuh Raksa melesat seperti panah, berdesir laksana angin. Menembus Padang ilalang yang mulai gelap. Gerakannya hampir tak terdeteksi.


Hasil pengamatannya mengejutkan. Dibeberapa tempat tersembunyi disekitar perbukitan, hutan bahkan didalam lembah beberapa pasukan berkumpul. Mereka rata rata memilki kemampuan pendekar menengah. Setiap sepuluh kelompok itu dipimpin oleh pendekar kelas atas.


Gerakan mereka teratur mendekati wilayah perguruan Selendang Sakti.


Apakah ini serangan balasan karena kehancuran perguruan Naga Hitam?


.....


Raksa memasuki rumah utama perguruan Selendang Sakti. Sekar melirik Raksa dengan ekor matanya. Selebihnya dia sibuk membaca sebuah buku kuno tentang Ilmu pengobatan. Dia tak peduli saat Raksa melintas didepannya dan memperhatikan buku yang ada ditangan Sekar.


"Hei .. kakek mana?" Raksa bertanya kepada Sekar yang acuh dengan pertanyaan Raksa.


Raksa mengambil buku ditangan Sekar dan menyembunyikan di belakang punggungnya.


Sekar menatap Raksa dengan tatapan kesal. Mata indahnya seolah ingin menembus hati pemuda itu. Tangannya terulur. Jemari tangan yang halus bergerak meminta.


"Kakek mana, ada hal penting yang harus ku laporkan pada beliau " Raksa bertanya serius. Mata birunya yang indah membuat Sekar terpesonanya sesaat. Gadis itu seakan menatap gugusan langit biru dihiasi bintang bertaburan.


Raksa geregetan. Dia mrnyentakkan kakinya ringan ke lantai dan berputar seperti penari balet.


Ibu yang mendengar suara ribut-ribut muncul dari kamarnya.


"Raksa, kau sudah kembali, ibu mendengar kau mencari kakek, ada apa?" Ibu bertanya kepada Raksa.


Raksa berbicara pelan kepada ibu. Dia takut menimbulkan reaksi berlebihan. Ibu mengerti dengan cepat. Langkahnya panjang terayun menuju ruang pengasingan Ki Buyut Bayanaka.


Beberapa saat kemudian terdengar suara gaduh diberbagai bagian perguruan Selendang Sakti. Kondisi perguruan yang sedang menurun menyebabkan jumlah murid menurun. Beberapa murid utama nampak sibuk mengatur bawahannya.


Beberapa murid perempuan berjaga-jaga didepan rumah utama. Rata rata mereka membawa selendang berwarna warni sesuai warna pakaian mereka.


.....


"Maafkan aku, kau pasti kesal atas sikapku"Sekar berbisik pada Raksa yang berdiri di atas atap rumah mengintai keadaan sekitar.


Raksa menatap Gadis di hadapannya.


"Melihatmu tersenyum, itu sudah cukup memberiku keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja"


"Gombal!" Sekar tersipu malu. Dia berdiri di sisi Raksa sambil menggigit bibirnya. Matanya terasa basah.. Dia terharu. Dalam keadaan sulit tuhan telah mengutus pemuda berwajah dan berhati malaikat untuknya.


"Cengeng, begitu saja menangis" Raksa mengelus rambut panjang gadis itu.


Sekar menggelengkan kepalanya.


"Kau mulai berani menyentuhku!" Sekar melotot marah.


"Maaf, aku tak sengaja, itu takkan terulang lagi" Raksa merasa bersalah.


"Cobalah sekali lagi, rasanya cukup nyaman" Sekar tersipu malu.


Raksa terkejut. Dia bingung. Wanita sulit untuk di tebak.


.......


Malam semakin larut. Bulan mengintip malu dibalik awan hitam. Sinarnya redup menciptakan suasana remang temaram. Tak ada suara binatang malam. Sepi memuncak seolah menunggu sesuatu yang menakutkan.


Saat yang dinantikan akhirnya tiba.


Pintu gerbang perguruan Selendang Sakti yang tebalnya puluhan senti dengan berat hampir ratusan kilogram tiba tiba bergetar. Detik berikutnya pintu gerbang itu roboh dihantam pusaran badai pukulan sakti.


Serbu!!!


Teriakan garang memecah kesunyian, lusinan sosok tubuh menerobos masuk.


Wutt!!!


Lusinan panah dan senjata rahasia menyambut para penyerang. Perangkap mematikan berderak ganas. Menyapu bersih para penyerang itu.

__ADS_1


"Awas perangkap, mundur!" Suara pemimpin kelompok pertama dari penyerang terdengar panik.


Sisa yang selamat segera melarikan diri. Menghambur keluar pintu gerbang.


Rsksa berdiri di atas atap bangunan paling tinggi. Pandangannya menyapu segala penjuru. Melihat penyerang mundur beberapa kelompok murid bermaksud mengejar. Raksa segera memberi kode untuk berhenti.


Dia sudah menduga munculnya musuh pasti dengan rencana. Raksa melompat tinggi. Pandangannya menangkap gerakan musuh dati belakang perguruan. Raksa segera memberi kode. Puluhan anak panah meluncur kearah rumpun ilalang yang bergoyang. Teriakan kesakitan membahana.


Raksa tetap waspada. Kekuatan musuh sudah mulai berkurang. Tinggal menunggu serangan utama.


Udara mendadak menjadi terang. Panah api melambung ke udara menuju bangunan perguruan.


Raksa memberi kode kearah lusinan gadis berselendang pimpinan Sekar. Udara mendadak membeku. Hembusan angin dari gadis gadis cantik yang membumbung tinggi membahana. Menghalau serangan panah itu. Terus seperti itu. Sampai serangan panah itu terhenti.


Raksa tersenyum puas. Taktik musuh membuat suasana kacau telah gagal. Kondisi ini membust kerusakan dipijak perguruan Selendang Sakti dapat dihindarkan.


Sekarang tinggal dia beraksi. Penjahat yang merugikan harus dikirim ke akhirat untuk diadili. Agar dia tak merugikan banyak orang. Merampok, menipu dan berbuat dosa di dunia.


....


Raksa melolos pusaka Ruyung Hitam dari cincin Pusaka Insani. Suara serak terdengar di kepalanya.


Dia bergerak. Berdesir seperti semilir angin. Seperti derai Cemara yang melantunkan jerit kepedihan.


Raksa menebas. Teriakan kematian terdengar membahana memecah suram malam. Darah tumpah membasahi tanah. Bau amis merebak. Mengirim aroma Kematian.


Melihat pembantaian terhadap rekan mereka ratusan penyerang yang tersisa mencoba menghentikan Raksa. Mereka bersatu menyerang Raksa.


Ajian serat jiwa bergerak. Kabut hitam, hijau, keemasan, silih berganti terhampar. Segala yang dilaluinya musnah tanpa sisa. Puluhan tubuh terbakar. Mati dengan mengerikan.


Lima pendekar kelas atas melompat menghadang Raksa. Mereka adalah pimpinan dari regu penyerang yang telah habis dan hanya mereka yang tersisa.


Seorang lelaki dengan tubuh besar seperti raksasa, otot tubuh betonjolan menyeringai ganas. Senjatanya berupa pedang besar teeangkat. Pedang itu bernama pedang Taring Kematian. Entah berapa banyak korban berjatuhan gara gara pedang itu.


Sosok kedua adalah seorang lelaki dengan tampang cengengesan. Kepalanya selaku bergerak seolah ikan pesut. Tak pernah berhenti bergersk. Dia Pendekar tangan besi. Tangannya keras, mampu menghancurkan batu karang dan perisai baja.


Lelaki ketiga adalah dedengkot perguruan Kelabang Biru. Ahli racun dan senjata rahasia. Dia bersama selusin anak buahnya datang namun tinggal dia yang tersisa. Jarum Sakti.


Lelaki keempat adalah lelaki dengan tampang tenang. Parasnya cukup tampan dan mengenakan pakaian mewah. Durjana dari Selak Alas. Leleko Garit. Seorang pendekar yang terkenal sadis dalam membunuh. Licik dan penuh tipu daya. Kipas dari baja hitam tergengfam ditangannya.


Raksa berdiri tenang menggenggam pedang pusaka Ruyung Hitam. Tenaga dalam dikerahkan hampir lima ratus lingkaran. Membuat pedang ditangannya mengeluarkan sinar mistik hitam.


"Ikuti arahan ku, mereka semua pendekar kelas atas. Jika kita salah langkah kita kesulitan. Pergunakan Ajian Serat Jiwa tahap istimewa" Roh pedang mengingatkan Raksa.


Mata Raksa tiba-tiba bersinar. Cahaya redup seperti kabut melamun merebak. Menyapu radius pertarungan.


Para pendekar aliran hitam merasakan pikiran mereka seperti dihipnotis. Mereka seolah berada di dunia yang berbeda. Langkah mereka menjadi lamban.


Raksa bergerak. Seperti desir angin pedang pusaka Ruyung Hitam berkelebat. Pendekar Pemetik bunga tak menyangka dia akan pertama kali menjadi korban. Matanya terbeliak tidak percaya. Cahaya keemasan berkiblat kepalanya terpisah dari badan. Raksa tersenyum.


Jarum sakti terkejut. Seumur hidup baru pertama kali dia melihat seseorang membunuh' sambil tersenyum. Tangannya bergerak. Lusinan Jatim hitam terbang mengincar titik vital ditubuh Raksa.


Raksa melenting keatas, menukik seperti Burung Laut, cahaya biru menebas, mengarah ke bagian atas tubuh jarum sakt, memburu langkah pendekar itu yang mundur ke belakang.


Ajian serat jiwa tahap istimewa membuat langkah jarum kacau. Lelaki tua kurus mencoba menahan gerak Edang Raksa dengan pedang melengkungnya.


Raksa mengurungkan niat menyerang jarum sakti tinuhnya berputar seperti gasing. Cahaya biru merebak.


Wutt!


Hawa panas menyapu. Teriakan pendekar kurus trrdtngar tersekat di tenggorokan. Tubuhnya luruh seperti lilin sebelum hancur menjadi debu.


Tiga Pendekar yang tersisa mencoba untuk mundur.tetapi cahaya biru yang menyelimuti mereka seolah menahan setengah dari bagian tubuh mereka. Gagu. Mereka merasa idiot.


Raksa mendengar suara serak mengarahkannya pada lelaki paling tinggi besar.


Pendekar pedang besar menyapu kedepan. Angin tajam seperti ****** beliung menyeruak. Mendorong Raksa dan membuat sinar biru melamun sirna.


Raksa sekarang menyadari dia kekurangan daya serang. Jurusnya hanya itu saja.


Angin ****** beliung kembali merebak mengincar Raksa. Jarum beracun menyusul dibelakang Sambaran angin itu.


Raksa mendesis. Tenaga dalamnya dilipatgandakan. Dinding tebal mengembun melapisi permukaan tubuh Raksa. Dia menyalurkan hampir seluruh tenaga dalam yang dia miliki.

__ADS_1


Raksa melompat tinggi. Pedang hitam diangkat tinggi. Cahaya biru seperti badai melolong. Angin ****** beliung tersapu. Jarum beracun diremas seperti lidi. Menyeruak ke depan, mengaum membungkus lelaki tinggi besar. Membuatnya terbang puluhan meter. Tumbang seperti gedebuk pohon besar. Menggeliat sebentar dan mati dengan mengenaskan.


Daya tahan tubuhnya luar biasa sehingga tak membuatnya hancur menjadi debu.


Raksa berdiri dengan napas memburu. Pertarungan ini cukup melelahkan.


Dia melirik pada dua pendekar yang tersisa. Wajah mereka memucat. Kaki mereka gemetar. Bayangan kematian seolah terlukis jelas diwajah mereka.


"Kakak Raksa ... Sebuah suara merdu terdengar dibelakangnya. Gadis berbaju hijau berlari menghampiri. Wajahnya ditutupi kain hitam. Menyisakan tatap mata yang indah, jidat licin dihiasi beberapa helai rambut. Pita berwarna biru mengikat rambutnya yang hitam tumpah seperti Mayang.


"Sekar, mengapa kau kesini, aku mampu membereskan mereka" Raksa berbicara sambil mengatur nafas.


"Aku khawatir padamu!" Sekar melambai.


Hati Raksa bergetar mendengar alasan Sekar.


Tarian empatmpat unsur. Tanah terangkat, hawa dingin merebak, mengincar pendekar Jarum Sakti. Angin dan api berkobar mencari mangsanya.


Raksa juga tak tinggal diam. Pedangnya terayun menuju pendekar tangan besi. Lelaki itu mencoba menahan sabetan pedang hitam dengan tangannya.


Wess


Jeritan panjang menyayat hati. Hari tangan kanan putus semua. Bahkan melukai sebagian pangkal bahu lelaki itu. Dia bergerak sempoyongan. Menjauh ke arena pertempuran.


Raksa tak mengejarnya. Luka lelaki itu cukup parah. Sulit untuk disembuhkan.


Sekar tak mau ketinggalan. Tubuh Jarum Sakti babak belur dihantam tanah dan bebatuan. Lapisan es juga membuat sebagian tubuhnya membeku. Serangan terakhir Sekar mengancam, angin ****** beliung mengangkat tubuh lelaki itu, memutarnya seperti tongkat kayu dan melemparkannya menghantam tanah.


Bug!


Suara tubuh jarum sakti menandai berakhirnya pertempuran.


.......


Sekar berdiri dengan napas memburu. Wajahnya mengernyit. Tangannya menekan dada. Dia melirik kearah Raksa yang berjalan kearahnya.


Raksa menggelengkan kepala. Inilah yang dikhawatirkan olehnya. Lukanya kambuh lagi. Sekar belum sembuh benar.


.....


Raksa tersenyum penuh misteri. Gerak tubuhnya seperti angin menyambar Sekar, menggendongnya sambil melesat menggunakan Ajian Kijang Kencana.


Sekar kaget, dia berusaha meronta tetapi sia sia. Tenaga Raksa bukan tandingan nya. Dia gemetar dalam pelukan Raksa.


Ahirnya dia diam. Membiarkan tubuh kokoh itu membawanya berlari menembus Padang ilalang. Merasakan sensasi damai yang tiba-tiba mengalir menenggelamkannya dalam lautan mimpi tak bertepi.


....


Perguruan Selendang Sakti terhindar dari bencana. Ki Buyut Bayanaka berterimakasih kepada Raksa.


Pemuda itu menolak pujian itu. Menurutnya semua karena kerjasama semua pihak.


......


Raksa termenung memikirkan pertempuran terakhirnya. Dia butuh jurus yang lebih banyak. Serangannya terlalu monoton. Mudah ditebak.


Raksa lalu menceritakan keluhannya pada Ki Buyut Bayanaka. Lelaki tua itu memberi jalan keluar mengejutkan. Belajar saja jurus dan pukulan baru.


Mereka punya ruang rahasia dan banyak koleksi ilmu diperpustakasn perguruan. Tinggal dipilih saja.


Raksa kaget. Dia tak menduga Perguruan Selendang Sakti akan menawarkan bantuan seperti itu. Padahal sebelumnya dia ingin ke puncak Rinjani menemui Eyang guru.


"Itu juga pilihan yang baik. Jika kau pergi ajak Sekar!" Ki Buyut Bayanaka mengusulkan.


"Ayah mereka belum menikah.!" Ibu Sekar menimpali. Nadanya keberatan jika Sekar ikut.


Ki Buyut Bayanaka tertawa. Dia melirikRakss yang merah padam dan Sekar yang menunduk terpekur menatap lantai.


"Kalau itu masalahnya, kita nikahkan saja mereka!"Ki Buyut Bayanaka berkata ringan.


Ringan tetapi itu bagai petir di siang bolong bagi Raksa dan Sekar.


Hei...!!!!

__ADS_1


... bersambung


__ADS_2