
Sunan Tembolak berdiri mematung. Gelombang serangan gadis Bergaun Merah datang seperti arus banjir bandang.
Beberapa murid perguruan yang melihat Sunan Tembolak hanya berdiri, pasrah, seolah menanti kematiannya, mereka terheran-heran.
Ini bukan sosok Pendekar Pemecah Gelombang yang mereka kenal.
Binatang buas berbentuk banteng dengan tanduk berjelaga menabrak tubuh Pendekar Pemecah Gelombang.
Tanpa perlindungan. Tanpa pengerahan tenaga dalam tubuhnya seperti daun kering. Terlempar sejauh puluhan tombak.
Tak bergerak beberapa saat. Membuat semua orang menahan napas.
Tiba-tiba tubuh Pendekar Pemecah Gelombang bergerak. Dia bangkit perlahan. Memegang dadanya yang remuk.
Hoek!!!
Seteguk darah tertumpah. Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit. Dia mencoba bertahan untuk tetap kokoh berdiri.
Puluhan binatang buas masih berdiri beberapa meter siap menunggu perintah.
Melihat kondisi pendekar Pemecah Gelombang yang kepayahan beberapa sosok tubuh bekelebat mendekat. Mereka adalah beberapa orang murid inti perguruan. Siap membantu menahan serangan si gadis Bergaun Merah.
Pendekar Pemecah Gelombang menggelengkan kepala. Dengan isyarat jelas dia menolak untuk dibantu. Membuat orang-orang itu bergerak menjauh.
" Bicaralah, katakan kejujuran yang selama ini kau sembunyikan, mengapa pisau itu bisa menjadi penyebab kematiannya, jika tidak, hidupmu akan berakhir disini!" Teriakan gadis itu dingin menembus tulang.
" Kakak, hentikan serangannya, ingat kata kata terakhir guru, semua ini bisa diselesaikan dengan lembut" suara gadis kecil menyambar.
Gadis bergaun merah menghentikan gerak serangannya. Cukup lama dia terdiam sebelum tatapan matanya kembali dingin. Dia berjongkok. Dia meraih gadis kecil dan memeluknya.
Delima mengangguk pelan. Gadis kecil tersenyum manis, tangan mungilnya menghapus linangan air mata gadis bergaun merah.
Pendekar Pemecah Gelombang menatap adegan itu dengan pandangan aneh.
"Simpan saja rahasia itu sampai akhir hidupmu, kita sudah tidak ada urusan lagi" gadis bergaun merah memegang tangan mungil gadis kecil dan bergerak pergi.
Beberapa murid berlari menyelamatkan Pendekar Pemecah Gelombang yang roboh. Dia pingsan. Beberapa tulang rusuknya patah.
Ketika dia membuka mata, dia menemukan dirinya terbaring dibalai pengobatan. Sekujur tubuhnya sakit. Tetapi jauh dikedalaman hatinya, ketika ingatan menyentuh masa lalunya, rasa sakit menyeruak. Jauh lebih dahsyat dari luka tubuh yang dideritanya saat ini
.......
Sekar berdiri di tepi tebing. Menatap jauh ke arah kedalaman lembah. Menatap cadas bebatuan. Rumput ilalang yang tumbuh disela bebatuan.
Dia juga menyakasikan gugusan awan berjelaga. Datang dan pergi mengikuti gerak langkah angin bertiup.
Kedatangan dan kepergian kabut itu seperti tabir panggung sandiwara. Menghadirkan aktor utama.
Segara Anak.
Danau vulkanik yang terbentang ratusan mil. Damai dipagari perbukitan yang kokoh. Serupa tangan raksasa yang memegang batu permata multi warna.
Airnya membiru. Dikelilingi warna keemasan. Warna itu berasal dari air belerang, kuning memantulkan warna keemasan saat diterpa cahaya matahari.
" Bagaimana, indah bukan?" Raksa berdiri dibelakangnya. Memeluknya lembut.
Sekar berbalik. Menatap mata suaminya. Dia seperti menemukan sebuah kesamaann
" Danaunya sangat indah, sama seperti mata kekasih hatiku" Sekar menatap danau dan mata Raksa bergiliran.
Raksa mencubit hidung Sekar. Memeluknya lebih erat. Membelai hitam rambutnya yang berantakan dihempas angin.
__ADS_1
Hatinya berbisik pada semua inci lembah Rinjani. Dia tak lagi sendiri. Dia mempunyai seseorang untuk diajak berbagi.
Kenangan masa kecil dan masa remaja yang penuh sepi dan sayat luka, ditatapnya dengan bangga.
" Lihatlah wanita dipelukanku ini, Bidadari Kecilku, ini adalah hadiah untuk kesabaranku berjuang menghadapimu"
Angin berdesir dari kedalaman lembah. Menggoyang keras pucuk-pucuk pohon cemara. Menjauhkan dedaunan dan biji berwarna merah.
Raksa menutup mata Sekar. Mengarahkannya untuk menikmati musik alam.
Derai Cemara memecah kesunyian. Bergema menyentuh sisi lembah.
" Suaranya seperti jeritan rindu, jerit hatiku saat jauh darimu" Sekar berbisik pada Raksa.
" Kau semakin pintar merayu!" Raksa berbisik ditelinga Sekar.
Wanita itu tertawa bahagia. Dilepaskannya dekapan Raksa. Berlari, berdesir seperti angin menikmati hamparan bunga keabadian. Andar Nyawa.
©. Pelawangan Timba Nuh ©
........
Pendekar Pemecah Gelombang duduk terpaku, menatap jauh dari jendela kamar yang terbuka.
Angannya terbang membuka kembar kusam masa lalunya. Masa lalu yang penuh debu.
.....
Seorang gadis bergaun putih berdiri membelakanginya. Jelas dia sedang menangis. Punggung membentuk kurva indah, ternoda oleh gerakan bahunya yang bergetar.
Pendekar Pemecah Gelombang hanya bisa berdiri mematung. Membiarkan gadis itu menumpahkan isi hatinya.
"Kita memang ditakdirkan untuk berpisah. Kehendak orang tuamu terlalu keras untuk ku tentang, jika aku memaksa, jalan yang kita lalui akan penuh derita" kalimatnya hilang dibawa senja.
Darah merah membasahi pakaian putihnya. Dia tersenyum menjemput kematiannya.
Pisau itu adalah pemberiannya kekasihnya.
......
Pendekar Pemecah Gelombang tersentak, meronta melepas pengalaman kisah pahit masa lalunya. Tetapi gores kalimat yang pernah dikuburnya terngiang kembali....
Aku mencintaimu
Manakala lapas syahadat cintaku ini menyentuh kedalaman hatimu...
Aku telah pergi jauh...
Meninggalkanmu....
Meninggalkan segala kenangan indah tentang kita...
Sepanjang perjalanan kenangan akan ku cerita kan pada seluruh dunia dan isinya
Aku pernah memilikimu
Berlabuh di dermaga hatimu
Memegang lentik jemarimu
Menyakasikan matahari terbit dari tatanan rapi senyum simpulmu
__ADS_1
Bulan terpendar awan dari fijar cahaya matamu
Menikmati renyah tawamu dan segala keindahan yang ingin ku nikmati tanpa pernah jemu
Meski sekarang hanya tinggal kenangan indah tanpa arti bagimu
Akan ku simpan cinta ini
Bagiku dia masih memiliki seribu satu keajaiban
Dan andai kau tahu tiada hari tanpa mengingatmu, adakah jawaban pasti kan kau berikan padaku?
Beristirahatlah dengan tenang, tunggu aku...
Aku pasti akan datang...
....
Delima duduk di tepi pusara yang dikelilingi oleh berbagai jenis bunga.
"Kakak, aku telah bertemu dengannya, tetapi aku tak bisa membalaskan kematianmu, maafkan aku. Aku merasakan tatapan kasih sayang yang mendalam dimatanya. Dia masih belum melupakanmu, aku tak mengerti, mengapa masih ada setelah sekian lama. Maafkan aku kakak"
Delima mengusap batu nisan diatas pusara itu. Gadis kecil yang berdiri agak jauh melangkah menghampirinya.
"Kakak aku rindu ingin pulang, sudah lama kita meninggalkan gili, kehidupan disini tidak menyenangkan. Aku rindu suasana gili" gadis kecil merengek.
Delima mengangguk. Dia menggandeng tangan gadis kecil itu meninggalkan pusara itu. Mata indahnya menatap sekilas kearah kejauhan. Menarik napas berat dan terus bergerak pergi.
.....
Melihat bayangan merah itu telah lenyap. Pendekar Pemecah Gelombang gelombang melangkah pelan. Langkahnya penuh kerinduan. Seseorang telah menunggunya datang. Tersenyum dari balik keabadian.
" Pujawati aku datang, membawa sekuntum mawar dengan dua kembar daunnya, bunga kesukaanmu ...." Kalimat demi kalimat mengalir menyentuh napas kesendirian.
.......
Raksa duduk di hadapan Pendekar Angin. Sebuah surat undangan tergenggam erat ditangannya.
Dia diundang untuk mengikuti turnamen tanding para pendekar tanah Selaparang.
Waktunya tinggal satu bulan. Sang guru sendiri akan ikut menemaninya.
Sekar tak mau ketinggalan. Dia akan pergi kemanapun sang suami pergi.
Turnamen ini tujuannya bukan semata mata materi tetapi untuk ajang silaturahmi para pendekar Selaparang. Memperkenalkan dan melestarikan ilmu warisan leluhur.
Selama menunggu periode itu Raksa dan Sekar berlatih dibawah bimbingan Pendekar Selaksa Angin.
Sekar banyak mengalami kemajuan. Dia sudah memahami sedikit hakikat pengendalian cahaya. Tinggal memperdalam pemahaman dan lebih giat berlatih.
Angkat terkejutnya dia ternyata Pendekar Selaksa Angin punya koleksi senjata seperti miliknya.
Selendang berwarna hijau. Konon senjata itu adalah milik bidadari yang turun ke bumi.
Selendang sutra hijau.
Selendang itu tak punya riwayat yang jelas. Tak ada catatan cara menggunakan dan ilmu yang menjadi pasangannya.
Pendekar Selaksa Angin menyerah kan Sekar untuk mencari rahasia dibalik selendang itu.
Akhirnya batas waktu satu bulan berlaku. Raksa dengan gagah naik diatas punggung kuda Semberani bersama Sekar. Sedangkan gurunya menaiki punggung Rajawali perak.
__ADS_1
Mereka berangkat menuju turnamen tanding para pendekar Selaparang.
...... Bersambung