Kabut Cinta Sang Bidadari

Kabut Cinta Sang Bidadari
05. Ajian Pemecah Gelombang


__ADS_3

Mendengar peringatan dari Roh pedang Raksa segera bangkit. Dia memasang kewaspadasn tingkat tinggi. Dengan lincah dia melompat keluar dari Goa.


Setelah berpikir sebentar dia memutuskan bersembunyi ditengah derasnys air terjun Mayung Polak. Menempel erst dibatu yang berlumut dan licin. Tubuhnya terlindung derasnys air terjun.


Tidak lama kemudian dua bayangan muncul. Sunan Tembolak dan Pendekar Tanah Tebaban .


Pendekar Tanah Tebaban memiliki kemampuan melacak yang mumpuni. Tanpa menunggu lama dia langsung menuju gua yang telah ditinggalkan oleh Raksa. Sunan Tembolak mengikuti dibelakangnya.


"Dia tahu kehadiran kita, pasti belum pergi jauh, periksa tempat ini, jangan ada yang terlewatkan !" Pendekar Tanah Tebaban mengambil secumput tanah dan mengendusnya.


Tanpa dikomando keduanya segera menerima sekeliling tempat itu. Bebatuan, semak dan pepohonan semua diperiksa. Setelah cukup lama tidak ada hasil.


Raksa berusaha mempertahankan posisi sebaik mungkin. Kakinya sudah mulai bergetar karena dingin dan licinnya bebatuan.


Tangannya yang mencengkeram bebatuan mulai mati rasa. Dia mencoba melawan itu dengan mengerahkan tenaga dalam.


Tiba-tiba sebatang pohon seukuran paha jatuh. Kauyu itu menerpa tubuhnya Raksa. Ranting bengkok pada kayu itu tersangkut pada pakaiannya. Raksa ikut tertarik kebawah bersama aliran air.


Byuuur!!!!


Suara tubuhnya yang jatuh mengundang perhatian. Kedua pendekar yang mencarinya akhirnya melihatnya.


"Jangan biarkan dua lolos!" Sunan Tembolak melompat di pinggir air terjun.


Raksa segera menyelam dan berenang mencoba bersembunyi. Air yang jernih dan curug yang tidak terlalu lebar membuatnya sulit bersembunyi. Perlu waktu untuk menggapai tempat yang lebih tersembunyi.


"Jangan ambil resiko, jika dia tidak bisa kita tangkap hidup-hidup, mayatnya juga bukan masalah!!" Pendekar Tanah Tebaban menyiapkan serangan. Tanpa tanggung-tangung Ajian Bayu Geni sudah disiapkan.


Raksa merasa dadanya akan meledak karena terlalu lama di dalam air. Kepalanyo pusing. Tanpa ada pilihan, Dia bergerak ke atas menghirup udara.


Sunan Tembolak yang berdiri di pinggir curug mencabut pedang pendeknya. Dia segera melompat dan berlari diatas air. Ilmu peringan tubuhnya yang sempurna membuatnya mengambang diatas air. Menyerang Raksa yang berendam didalam air.


Raksa tidak mau mati konyol. Dia segera melompat menyongsong, duel di atas air terjadi.


Sunan Tembolak bukan tandingan Raksa. Kemampuan dan pengalaman tempur jauh diatasnya.


Tetapi dia adalah Teguh Jaga Raksa. Hidup dilingkungan serba sulit selama di puncak Rinjani membuatnya pantang menyerah.


Pendekar Tanah Tebaban hanya berdiri jadi penonton. Dia yakin kemampuannnya tidak diperlukan. Sebagai pendekar dia juga merasa malu jika harus mengeroyok anak kemarin sore.


Raksa mengeluarkan pedangnya. Suara Roh Pedang bergema diotaknya.


"Dia bukan tandinganmu, pikirkan cara untuk melakukan diri"


Raksa mengerti sepenuhnya. Sambil bertarung dia mulai mencari celah untuk lari.


Sunan Tembolak mencium gelagat itu. Serangannya dipercepat. Gelombang demi gelombang serangannya laksana air bah. Dia sedikit terkejut dengan kemampuan lawannya. Terutama pedangnya. Beberapa bagian pedangnya nampak rusak. Dia mulai tertarik dengan pedang kayu hitam ditangan pemuda itu.


Pendekar Tanah Tebaban mulai tidak tenang.


"Jangan terlalu lama bermain-main, habisi dia!" Teriaknya marah


Sunan Tembolak melotot marah. Ajian Pemecah Gelombang mulai diterapkan. Hawa dingin merebak. Bongkahan es terbentuk. Bertarung diaerah berair memang sangat menguntungkan baginya.

__ADS_1


Raksa merasakantekanan yang semakin berat. Dia menggigil menahan dingin.


"Jangan menyerah, pergunakan jurus serat jiwa tahap ketiga, kau harus melumpuhkannya dalam satu pukulan!" Roh pedang berteriak serak.


Butiran es kini terbentuk menjadi paku es yang berjumlah piluhan. Siap untuk di luncurkan. Jarak tempuhnya pendek. Tak ada keraguan diwajah Sunan Tembolak. Pertempuran ini pasti berakhir dalam satu serangan.


Raksa melompat mundur dan berdiri diatas sebuah batu. Jurus serat jiwa siap di lancar kan.


Hiyaaaaaatt!


Dia menebas ke depan, gumpalan. Kabut hitam panas melonjak kedepan. Menyambut paku es yang terbang laksana kilat.


Duaaaaa!


Ledakan menggema. Beberapa paku es putih hancur. Tetapi bahaya tidak berakhir. Sebagian seperti punya naluri, terbang menembus dada Raksa.


Tubuh pemuda itu tertancap paku es. Darah menetes. Hawa dingin dan rasa perih menjadi satu. Belum hilang rasa terkejutnya, puluhan paku es kembali mengancam jiwanya.


Raksa ingin menghadang tetapi tenaga dalamnya sudah terkuras habis. Dengan sekuat tenaga dia mencoba berdiri. Perih dan hawa dingin mengganggu gerakannya.


"Menyerahkan anak muda, nyawamu akan ku ampuni, serahkan Mustika dan pedangmu," Sunan Tembolak berteriak gagah.


"Tidak, selama aku masih bernapas, simpan tawaran mu itu!" Teriak Raksa.


"Jangan mengambil resiko kematian, dia memiliki Ajian Pemecah Gelombang, kau bukanlah lawan tarungnya, jika kau hidup banyak cara yang bisa kau lakukan, serahkan saja, penuhi keinginannya, jika kita ditakdirkan bersama maka kita akan bersatu lagi" roh pedang berteriak di kepalanya. Nadanya getir dibalut duka.


"Tidak!, sebaiknya kau diam, ini urusanku dengannya" Raksa memasang kuda kuda menyerang.


Sunan Tembolak menggelengkan kepalanya, dia menggerakkan tangannya krmbali, paku es krmbali bergerak, terbang ke arah Raksa.


Wuut!!!


Paku es menyerang ganas. Raksa menghadang dengan sabetan pedang. Beberapa potong es mampu dihancurkan tetapi tidak semua.


Ah..!!!


Tubuhnya terlempar ke tengah Curug. Rasa sakit dan dingin semakin hebat. Dia menggigit lidahnya berusaha mempertahankan kesadaran nya. Napasnya tersengal. Menatap ke depan dia melihat gelombang serangan berikutnya datang.


Raksa menarik napas dalam. Selanjutnya dia mencoba menghindar dengan masuk ke dalam air. Ada sudut sempit di dinding air terjun yang lebih terlindung. Dia merasa pusaran air dibawah kakinya.


Mengapa air ini seperti tersedot keruang lain?. Raksa penasaran. Dia menyelam lebih dalam dan semakin dalam. Lima meter, sepuluh, lima belas, dua puluh.


Dikedalaman lima puluh meter seharusnya akan berubah gelap. Tetapi Raksa seperti melihat bias cahaya. Rasa sakit dan dingin di tubuhnya membuat kesadaran semakin tipis. Sekali lagi dia menggigit lidahnya hingga berdarah.


Ada lorong di dincing Curug seukuran tubuhnya. Dari sana ada bias cahaya. Air mengalir mrnyeret tubuh Raksa memasuki lorong itu. Kesadarannya hilang, dia pingsan dan hanyut oleh aliran air itu.


......


Sunan Tembolak dan Pendekar Tanah Tebaban pada awalnya Raksa akan segera muncul hidup atau mati. Tetapi setelah sekian lama mereka bingung. Akhirnya mereka nemeriksa sampai ke dalam air tetapi mereka gagal. Pendekar Tanah Tebaban bahkan menyelam jauh ke dalam. Gagal. Tak ada apapun. Raksa lenyap seperti ditrlan bumi. Dia tak menemukan lorong pusaran air karena letaknyo dicelah sempit. Dia tak pernah menduga akan ada hal seperti itu.


Akhirnya mereka menyerah. Kembali tanpa hasil.


.....

__ADS_1


Dibalik sebuah musibah sesungguhnya Tuhan sedang mengajarkan mengajarkan padamu satu ilmu pengetahuan.


......


Sekar Ayu dibawa oleh ibunya memasuki sebuah tempat rshasia. Ruangan bawah tanah yang tersembunyi dibawah ruangan pribadi ketua perguruan. Kakeknya Ki Buyut Bayanaka menjadi orang yang paling bersemangat. Disisa umurnya dia merasa tenang, ada anak keturunannya ditakdirkan mewarisi ilmu kebanggan keluarganya.


Tuhan memberinya cucu yang memiliki paras seperti Dewi dan tubuh istimewa. Sebuah kebanggan sekaligus ketakutan. Sebab itulah segalanya harus di persiapkan sedini mungkin.


Ruang bawah tanah itu cukkup luas. Cahaya yang masuk dari pengaturan yang sempurna membuat suasana terang. Dindung batu ruangan terbuat dari batu marmer putih. Diruangsn itu terdapat tempat tidur dari batu ssn meja kecil, lemari serta kamar mandi.


Tempat sempurna untuk berlatih.


Sekar akan tinggal disini selama setahun penuh. Mempelajari ilmu yang ditakdirkan hanya untuknya. Jika dia mampu menguasai dia akan menjadi pendekar tak tertandingi. Dipundaknya kejayaan perguruan akan kembali seperti ratusan tahun saat leluhur pertama mendirikan perguruan ini.


"Berlatihlah dengan tenang di sini. Segala keperluanmu akan ibu antarkan sendiri. Jika kau kesulitan kakek buyutmu akan mencoba membantumu. Tetapi sebenarnya sukses tidaknya tergantung padamu. Kami hanya pendamping di belakangmu" bisik ibunya.


Sekar tersenyum. Matanya yang indah memancarkan sinar cerah. Dua tidak tahu untuk siapa dia berjuang. Tapi paling tidak dia bisa dekat dengan ibunya dan menebus waktu yang hilang. Dia tak punya tujuan lebih jelas dari ini. Kehawatiran akan masalah yang mengancamnya tak sepenuhnya dimengerti.


" Bu, aku akan berlatih giat, aku akan menikmati tugas ini, ibu tenang saja" Sekar memeluk ibunya.


Wanita tua itu membelai lembut kepala anak perempuan satu-satunya. Sulit untuk membahasakan rasa tang bercampur aduk di dadanya. Penderitaan selama bertahun tahun, kisah pilu cinta dan kehancuran keluarganya telah melembutkan jiwanya tanpa sisa. Kini semua sedikit terobati. Tuhan masih memberi jamnya kesempatan untuk tersenyum.


" Mati kita kembali Nirmala, biarkan Sekar istirahat, dia butuh waktu untuk sendiri" Ki Buyut menyadarkan putrinya dan cucunya.


.......


Sepeninggal ibunya Sekar duduk dipembarigan. Meletakkan beberapa barang pribadi yang di bawa keatas meja. Ketika dia memegang tabung bambu berisi obat pemberian Raksa dia tertegun.


"Apa yang kini dilakukan oleh Raksal. Apakah dia baik baik saja? Mengapa aku merasakan perih saat mengingatnya? " Desah Sekar Ayu sambil mendekap tabung bambu itu ke dadanya.


.....


Tuhan jika dia kau ciptakan bukan untukku, jauhkan rasa rindu ini dari dadaku ..


Hei .. apakah ini perasaan rindu?


Apakah aku telah jatuh cinta pada pemuda itu?


Apa itu cinta ?


Cinta adalah penderitaan yang dimuliakan, sebab berapa kali pun kau terluka karenanya, kau akan terus mengulanginya


Tak peduli lukamu sedalam lautan dan sayatannya mampu merobek langit.


Teruslah mencintai, jika tidak kau akan menyesal.


....


Raksa membuka matanya. Hal pertama yang menyambutnya adalah rasa perih dan dingin di sekujur tubuhnya. Dia terbaring ditengah aluran air dangkal. Ruangan samar minim sinar matahari.


"Kau sudah sadar, tiga hari kau tak sadarkan diri" suara serak terngiang di kepala nya.


Tempat apa ini?

__ADS_1


.... Bersambung ....


__ADS_2