Kabut Cinta Sang Bidadari

Kabut Cinta Sang Bidadari
03. Misteri Pedang Ruyung Hitam


__ADS_3

"Untuk apa kau mengincar jantung ini, apakah kau adalah pemiliknya?" teriak Raksa sambil menghindari sabetan pedang yang mengarah ke jantungnya.


Pertanyaan itu sedikit memperlambat gerakan gadis berbaju hijau. Untuk sesaat dia terpaku sebelum kembali menyerang Raksa. Jurus pedang yang dipergunakan terlihat lembut tetapi sebenarnya mengincar titik yang mematikan.


Dia menyerang menyerang dengan salah satu hurus mematikan di kalangan dunia persilatan. Jurus pedang Ratapan Kerinduan sendiri terdiri dari 25 jurus pembuka dan 5 jurus pamungkas.


Raksa sedikit kewalahan menghadapinya. Ini adalah pengalaman tempur pertama selain dengan gurunya.


Setelah berlangsung lima belas jurus Raksa di paksa mundur.


"Tunggu sebentar, apa salah saya sehingga anda tiba tiba menyerang?" Raksa mencoba mencari penjelasan.


"Untuk apa kau mengintip ku, kau pasti punya niat jahat, itu alasan yang jelas bagiku untuk menyerang mu" orang misterius bertopeng tak memberi Raksa kesempatan.


Tubuhnya kembali melesat maju. Kini serangannya semakin ganas. Tubuhnya menghilang berubah menjadi bayangan hijau.


Lokasi pertempuran mereka semakin menjauh dari pinggir sungai. Memasuki tempat yang hampir tak pernah di jamah manusia.


Raksa mulai merasakan ancaman serius. Ajian Kijang Kencana di terapkan sampai titik akhir. Tubuhnya meliuk menghindari Sambaran pedang yang mencicit menimbulkan angin kencang. Terkadang dia berlari, melomat, segala cara menghindari serangan membabi buta orang misterius ini.


Seeet !!!


Ujung pedang menggores baju Raksa. Meski tak menyentuh daging cukup membuktikan serangan ini tidak main main.


Sambil menggertakkan gigi Raksa mengeluarkan pusaka Ruyung Hitam.


Penyerang misterius menghentikan serangan sejenak. Dia heran melihat sebuah pedang hitam dari kayu tiba tiba berada di tangan Raksa. Muncul begitu saja. Seolah itu keluar dari ruang hampa.


"Ahirnya aku keluar juga dari cincin penjara. Hei, Mengapa aku berada di tanganmu bocah kecil? " Suara asing terdengar di kepala Raksa.


Kondisi Raksa yang terlihat bingung juga membuat Sang penyerang misterius juga bingung dengan tingkah Raksa.


"Apa hubunganmu dengan Pendekar Selaksa Angin, Wira Atmaja" suara misterius bernada menindas.


"Dia adalah guru ku" jawab Raksa ragu.


Raksa berusaha memahami situasi yang di alami. Dia pernah melihat gurunya memperagakan beberapa jurus dengan pusaka Ruyung Hitam tetapi dia tidak tahu kenehan pusaka ini.


Sang penyerang misterius bergerak. Gerakan menebas mengincar leher Raksa.


" Jangan bengong bocah gemblung, apa kau ingin mati?" Suara asing terdengar di kepala Raksa.


Pusaka di tangannya memberi efek kejut seperti aliran listrik.


"Kau lemah, dengan tenaga yang kau miliki, kau hanya bisa menggunakanku 3 jurus saja, payah!" Suara asing mengejek Raksa.


Raksa terpaku. Tenaga dalamnya tersedot oleh pedang. Rasanya seperti mengisi sumur tanpa dasar.


"Wanita ini menggunakan jurus Ratapan Kerinduan dan ilmu peringan tubuh Kisap Mantar. Salurkan semua tenaga dalammu padaku!" Suara misterius bernada marah.


Pedang hijau batu giok bertemu dengan pedang Ruyung Hitam.


Tempo pertarungan mulai memanas.


"Gunakan jurus Serat Jiwa!" Suara jiwa pedang mengarahkan Raksa.


Raksa tidak menolak. Dia mundur dua langkah dan mengalirkan tenaga dalam pada pedang. Gumpalan kabut hitam menyelimuti pedang. Raksa bergerak menebas ke depan. Gumpalan kabut hitam melesat menghantam sang penyerang.


Duaaarrrrr!


Ledakan terjadi. Penyerang misterius tersapu seperti daun kering. Terbang hampir delapan meter. Dia duduk berlutut, pedangnya terkulai di sampingnya, tangan kiri memegang dadanya yang terasa sesak.


Hoek!!!


Dia memuntahkan seteguk darah. Tubuhnya bergetar. Sepertinya dia mengalami luka dalam serius.


Dia mencoba bangkit tetapi akhirnya jatuh pingsan


......


"Kau kejam juga, langsung memakai tahap tiga jurus Serat Jiwa, apa kau ingin membunuhnya?" Suara jiwa pedang bernada mengejek.


"Aku tidak sadar menggunakan tahap ketiga, ini karena kau sangat cerewet, aku bingung menentukan pilihan" Raksa kesal.


" Ha ..ha .. berani sekali kau mengatakan ku cerewet, kau tak kenal siapa aku" roh pedang berteriak di kepala Raksa

__ADS_1


"Apa yang harus ku lakukan pada orang itu? " Raksa bingung. Dia sadar penyerang ya belum mati.


" Terserah kau saja, aku hanya ingin mengingatkanmu, tingkatkan kemampuan tenaga dalam mu, kalau tidak hidupmu akan penuh bahaya, kalau kau mati dan aku jatuh ke tangan orang jahat itu berbahaya, aku tidak ingin mengulang kembali masa lalu yang kelabu dengan pemilik ku sebelumnya" jiwa pedang menjelaskan.


" Kita akan bicarakan ini lain kali, aku harus menolong orang itu" Raksa maju beberapa langkah.


" Baiklah, bawa dia ke tempat yang aman, salurkan energi dan berikan obat luka dalam, itu yang harus kau lakukan,cepatlah wanita itu terluka parah" roh pedang memberi saran.


"Wanita, apa maksudmu ?" Raksa bingung.


........


Raksa menyeret wanita itu ke tempat yang terlindung. Dia mengikuti saran Roh pedang.


....


Topeng penutup wajah perempuan itu telah terlepas akibat ledakan pukulan Serat Jiwa. Dihadapan Raksa kini terlihat pemandangan indah tanpa cela.


Raksa tak pernah bertemu dengan wanita yang memiliki paras begitu sesempurna ini.


Hei ... Mungkin ini dia wanita yang kecantikannya mampu menghancurkan sebuah negara, bukan kota lagi.


Bagaimana jika perempuan ini mengalami kisah dengan orang yang berbeda?


Beruntung dia bertemu dengan Raksa. Nasihat tentang budi pekerti, sopan santun dan nilai luhur suku Sasak telah diajar kan oleh sang guru.


Ya ... Dia putra Sasak yang menjunjung tinggi sopan santun, kejujuran dan sifat satria.


Setelah sepeminuman teh. Gadis itu bergerak. Kesadarannya kembali. Dia mencoba bangkit tetapi gagal, akhirnya dia memilih berbaring diatas dedaunan yang disiapkan Raksa sebagai alas.


"Kau terluka, jangan memaksakan diri, obati sembuhkan dirimu" Raksa melemparkan tabung bambu berisi obat.


" Aku tidak butuh obatmu" sang gadis itu melempar kembali obat pemberian Raksa. Tatapqn matanya yang indah memancarkan niat membunuh.


Gadis itu memeriksa pakaian yang membalut tubuhnya. Dia menarik napas lega karena tak ada bagian yang beralih pungsi.


Raksa bangkit. Dia nampak bingung. Apakah semua wanita mempunyai sifat aneh. Kemangi di gadis kecil yang dingin seperti salju. Sekarang dia bertemu seorang gadis yang galaknya minta ampun. Tiba tiba menyerangnya dan saat hendak ditolong malah semakin galak.


"Terserah kau saja, buatku tulus menolong, sejak awal juga kau yang menyerangku tanpa alasan yang jelas, Aku akan menjaga dan mencari makanan untukmu, hanya sampai kau sembuh, tenang saja aku tidak akan macam macam, beristirahatlah" Raksa pergi


"Siapa dia, nampaknya dia bukan orang jahat. Mungkinkah aku salah paham ?" batin Sekar Ayu. Ada perasaan aneh menjalar memasuki kesunyian jiwanya. Keterkaguman dan perasaan terlindungi.


"Untuk apa kau mengincar jantung ini, apakah kau adalah pemiliknya"


Kalimat ini terngiang di pikirannya dan menggetarkan jiwanya.


....


Setelah dua hari kondisi Sekar ayu mulai membaik. Dia telah mampu duduk dan luka dalamnya tidak lagi mengancam jiwanya.


Rentang waktu itu tak banyak interaksi diantaranya mereka berdua. Selain menyiapkan makanan dan membuat perapian untuk mengusir binatang buas Raksa memilih merenungkan saran Roh pedang.


Dihari ketiga Raksa memperkenalkan diri. Dia tulus ingin bersahabat. Sementara Sekar sedikit ragu sebelum menyebutkan namanya. Hanya nama. Tas ada identitas lebih. Mereka sama sama menahan diri dan membiarkan itu menjadi misteri.


....


Kenangan adalah masa lalu dan janji adalah masa depan. Keindahan arti keluarga dan kebanggaannya telah terpenjara menjadi kenangan. Mereka butuh sebuah keajaiban untuk memahami arti kehadiran kepergian orang orang tersayang dalam kehidupan mereka.


.......


Ya ... Kita membutuhkan sebuah keajaiban untuk bisa memahami arti kehadiran dan kepergian seseorang dalam kehidupan kita.


Lailatul Qadar. Cahaya kebaikan/Nurul Hikmah.


Hei... Ini nama belahan jiwaku.


.......


Hari kelima.


Mereka berpisah. Tak ada kontak fisik. Mereka bukan muhrim.


Raksa melanjutkan perjalanan ke Desa Lenek. Mencari jawaban tentang siapa orang tuanya.


Setelah berjalan setengah hari dia memasuki pintu gerbang desa.

__ADS_1


Tunggu dulu. Sepi. Desa ini seolah tanpa kehidupan. Rumah yang berjajar rapi. Hanya beberapa rumah. Desa ini ternyata tak sebesar dugaannya. Penuh misteri.


Di pintu gerbang desa tertera kalimat aneh. Bahasa yang Raksa tak mengerti.


Lock Down.


Di pintu gerbang desa, hanya ada seorang penjaga yang menggunakan masker dari kulit kayu.


Raksa maju menyapa. Laki laki itu terlihat waspada. Dia berdiri menghadang dari balik gerbang.


"Mohon maaf, situasi desa kami sedang tidak aman, orang asing di ladang berkunjung, jika ingin mencari seseorang atau keperluan lain sampaikan kepada saya. Saya akan bantu. Mohon pengertianmu anak muda." Penjaga itu bersikap sopan tetapi tegas.


Raksa bingung. Masalahnyo tidak sederhana. Dia perlu bertemu Raden WirangBaya.


" Saya ingin bertemu pemimpin desa ini" jawab Raksa .


Penjaga itu menatap Raksa penuh selidik.


"Raden?, ada keperluan apa, beliau sedang ke Selaparang, memenuhi panggilan Raja"


Raksa tidak bertanya lebih lanjut. Dia paham sepertinyo setiap pemimpin desa di panggil. Nampak nya ads sesuatu yang penting. Atau barangkali ini angenda rutin para pemimpin.


" Baiklah, aku akan kembali setelah beliau kembali, " Raksa beranjak pergi.


'Terima kasih anak muda, aku akan mengabari kedatangan mu pada beliau " penjaga itu tersenyum.


Dia bangga pada pemuda yang sopan, menghormati orang yang lebih tua dan memahami situasi. Itu artinya dia cerdas dan berwawasan luas.


Raksa tersenyum.


" Apa ini sebuah mantra?" Raksa menunjuk kalimat Lock Down yang digantung di pintu gerbang.


Lelaki itu berubah serius.


"Ya ... Itu di tulis oleh orang sakit dari daratan china, untuk mengusir bencana, apakah kau tahu artinya?" Lelaki itu penasaran.


Raksa menggeleng.


" Lo Kedok, aku mendengar di baca seperti itu" ujar pria itu.


Raksa tersenyum, " Lo Kedok?" Bahasa ini terdengar tidak asing. Lelaki penjaga itu juga bingung, dia merasa aneh setelah mengajar Raksa cara baca tulisan aneh itu.


.....


Di pinggir desa.


Raksa mengeluarkan Pusaka Ruyung Hitam. Suara parau Roh Pedang menyapanya.


" Ada apa anak muda, kau sepertinya rindu padaku, ha..." Bidiknya bakal.


"Aku perlu petunjuknya, selain meditasi adakah cara melatih tenaga dalam yang kau ketahui?' Raksa berbicara kepada benda itu seperti orang gila.


"Itu cara umum para pendekar, ada beberapa cara lain, dengan obat atau menyerap inti mustika binatang tertentu" Roh pedang menjelaskan.


Selanjutnya Raksa di beri arahan tentang tehnik itu. Obat membutuhkan seorang peracik, orang yang punya kemampuan itu sulit di cari.


" Kau harus berburu Mudtika, aku tahu tempat yang pas untuk itu. Asal kau yakin dan punya kemampuan keberanian, kita bisa bekerja sama" Roh pedang menjelaskan dengan serius.


"Dimana tempat itu?" Raksa penasaran.


Roh pedang terdiam sebentar. Dia mencoba mengorek kembali ingatannya yang telah berlumut di makan zaman.


" Hutan Keroton, di sana ada naga sakti yang telah lama hidup menyendiri. Dia bernama Berare Lidah Biru" Roh pedang menjawab dengan penuh keyakinan. Dia menjelaskan lebih lanjut lokasi nya.


" Baiklah, mati kita pergi kesana... !!" Raksa bangkit.


.....


Raksa menuju lokasi itu. Tempat itu cukup sulit di jangkau. Untungnyo dia cukup terbiasa dengan kondisi seperti itu.


Mendekati lokasi tujuan Raksa sedikit terkejut. Dia mendengar suara raungan binatang buas. Tepatnya suara raungan pertempuran. Siapa yang bertarung?


Tanah bergetar. Beberapa pohon tumbang dihantam gelombang tenaga dalam. Sesekali nampak kilatan lidah api berwarna biru.


Setelah lebih dekat Raksa melihat jelas pertempuran sengit. Seorang lelaki sedang menghadapi binatang aneh mirip ular. Tunggu. Apakah itu ....

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2