
Sekar yang sedang duduk melamun terperanjat dari duduknya. Berdiri dan berlari menuju seseorang yang tegak dipintu taman.
Tangis Sekar pecah. Meski hanya Isak kecil itu cukup membuktikan bahwa selama tiga bulan dia telah berjuang menahan hasrat hatinya.
Raksa membuka lebar tangannya. Menanti Sekar berlari ke dalam pelukannya.
"Eee... Jangan, tidak boleh," Suara Darmiliawati menghentikan gerakan Sekar dan Raksa.
Raksa tidak tahu. Malaikat penjaga ternyata ada diantara bunga-bunga.
Sekar tak kuasa memikul getar pertemuan.langkahnya goyah. Ahirnya dia duduk sambil menangis sesugukan.
Raksa tersenyum. Dia membiarkan Sekar melepas beban jiwsnya. Tangannya terulur, mengacak nakal rambut hitam gadis itu.
Merasa dianiaya Sekar bangkit. Dia mendorong tubuh Raksa hingga terjatuh ke belakang.
Melihat itu Sekar berlari sambil tertawa terbahak-bahak. Dia menjulurkann lidahnya yang merah. Berlari berputar-putar diantara bunga dan rerumputan. Dia berjuang semampunya menghindari kejaran Raksa
Darmiliawati menggelengkan kepalanya melihat adegan itu. Dia menyesal ada di sana. Kehadiran ya telah menjadi gulma pelepasan rindu Sekar dan Raksa.
....
Rencana pernikahan Raksa dan Sekar telah direncanakan jauh-jauh hari sebelum kepulangannya.
Kedua keluarga telah bertemu beberapa kali membahas segala sesuatunya.
Waktu pelaksanaan ditentukan. Pakaian adat disiapkan. Semua warga bahu membahu menyiapkan, terlihat langsung dalam acara persiapan pernikahan Sekar.
......
Satu hari menjelang pernikahan Raksa dan Sekar.
Ki Buyut Bayanaka dan putrinya, Raden Wirangbaya dan isterinya serta Sekar dan Raksa duduk berkumpul diruang keluarga. Mereka membahas masalah ayah Sekar yang tak bisa hadir karena statusnya.
Sekar kaget, Ayahnya ternyata berada dipenjara kerajaan Selaparang.
Kakek menenangkan bahwa Ini semua demi kebaikannya. Setidaknya disana dia akan aman dan terpelihara.
Sekar memaklumi kondisi itu. Akhirnya Ki Buyut yang akan menjadi walinya.
Raden Wirangbaya meminta penghulu desa untuk mendidik Raksa tentang tata cara pernikahan. Dalam kesempatan itu juga Raksa menguatkan ikrar sebagai seorang muslim dan belajar sendi agama.
.....
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Acara ijab qobul penyatuan Raksa dan Sekar berjalan lancar. Diiringi tangis bahagia kedua keluarga. Pasangan muda itu resmi menjadi suami istri.
Pekik bahagia memenuhi setiap sudut desa. Makanan lezat tersaji memuaskan semua lapisan. Tak ada tamu undangan istimewa. Hanya beberapa kerabat dekat kedua
......
Malam beranjak turun. Pesta telah usai. Sisa sisa keceriaan masih hangat membekas, melekat pada riasan dan keindahan pelaminan yang belum sempat dibereskan.
Raksa dan Sekar duduk berdampingan dikamar penganten. Suasana canggung jelas terasa.
Sekar pemilik kegelisahan yang sempurna. Dia menatap Raksa yang kini telah resmi menjadi penjaga hatinya. Lelaki yang hadir seperti mimpi, menjaga dan merawatnya tulus.
"Mengapa kau kelihatan bingung, ada apa, apakah kau tak bahagia?"Raksa menatap wajah isterinya.
"Hei ... Aku bahagia, sepenuh jiwaku. Memiliki mu adalah hal paling indah dan berharga yang pernah ku miliki"Sekar menatap mata biru Raksa. Jaraknya hanya satu inci. Bahkan panas desah napas keduanya jelas terasa.
Raksa tersenyum dengan keberanian isterinya. Dia sendiri, meski laki laki tidak tahu harus mulai darimana untuk mencairkan suasana canggung malam pertama pernikahan mereka.
__ADS_1
"Terus apa yang mengganggu hatimu. Sungguh aku melihat kabut tipis berarak menutupi cahaya mentari di mata isteriku. Cahaya yang bisa membekukan jiwaku" Raksa mengulurkan tangan menaikkan sehelai rambut yang menutupi tatap mata bidadari kecilnya.
"Maukah kau bersabar menantiku?" Sekar bertanya serius. Tatapannya menyeruak mencari jawaban pada gugusan langit biru di mata Raksa.
Raksa tak urung terkejut. Dia meneliti kesungguhann kalimat itu.
"Apakah kau akan pergi meninggalkanku?" Raksa sedikit heran.
Sekar menggeleng pelan. Dia memegang wajah Raksa dengan kedua tangannya.
"Masalah ini ingin kujelaskan padamu sejak lama. Tetapi aku merasa inilah saat yang paling tepat untuk mengatakan semuanya. Kita sudah menikah. Kau tak mungkin meninggalkan ku gara-gara masalah ini" Kalimat terakhir membuat Raksa tambah bingung.
"Katakan apa masalah itu, Bidadari Kecilku. Dadaku seluas samudra tak ada cerita yang tak bisa kutenggelamkan didalamnya" jawaban Raksa menguatkan keyakinan Sekar.
Sebelum menjelaskan duduk masalahnya. Sekar terdiam cukup lama. Mengumpulkan kekuatan agar dia tahu harus mulai darimana.
"Aku berlatih jurus Selendang Sakti Sapuan Badai. Satu tahun ini aku sudah menguasai empat unsur. Tinggal satu unsur yaitu unsur cahaya matahari. Aku butuh waktu untuk itu. Kau tahu aku mempunyai tubuh istimewa. Sebelum unsur terakhir mampu aku kuasai kesucianku harus tetap terjaga. Jika tidak itu akan membunuhku. Inilah salah satu alasan kita dijodohkan dan lebih cepat dinikahkan. Agar kau bisa menjagaku. Bagaimana..." Sekar terhenti. Dia melihat Raksa tersenyum lebar dan tertawa dengan lepas.
"Bidadari Kecilku, kau jangan pernah meragukanku, seribu tahun aku akan menunggu, aku akan menjagamu dengan seluruh kekuatan yang ku miliki" Raksa menghapus titik bening diujung mata bening Sekar Ayu.
Wanita itu tak kuasai menahan haru. Dia menghambur kedalam pelukan Raksa. Sekarang mereka suami istri dan tak ada masalah untuk itu.
Mereka sepakat untuk menunggu. Raksa juga berjanji untuk membantu isterinya melewati rintangan yang dihadapi Sekar.
Mereka berjanji untuk merahasiakan ini dari para orang tua agar tak menimbulkan masalah. Sebab hanya Sekar dan Raksa yang tahu masalah ini.
Demikianlah. Malam pertama pernikahan, mereka lewati sambil berpandangan sampai pagi.
..........
Hari masih sangat pagi.
Seorang gadis berbaju merah bersama seorang gadis kecil berdiri di pintu gerbang perguruan Burung Laut.
"Maaf, adik berdua ada perlu apa?" Penjaga bertanya.
"Kami mencari Pendekar Pemecah Gelombang" gadis berbaju merah bertanya tanpa ekspresi. Dingin seperti salju.
"Silahkan adik duduk dulu, kami akan apakah orang yang nona cari ada" penjaga menjawab sopan.
Perguruan Burung Laut termasuk perguruan nomor satu. Wilayahnya luas dengan ratusan murid. Dibutuhkan cukup waktu untuk memastikan kehadiran seseorang.
Ahirnya jawaban yang dinanti datang juga. Pendekar Pemecah Gelombang sedang tidak diperguruan. Dia sedang ada misi keluar. Dia akan kembali dalam satu minggu.
Gadis berbaju merah terpaku. Nampak dia agak kesal. Tetapi dia berjuang keras, sangat keras untuk bersabar menerima kenyataan bahwa orang yang dicari ternyata tidak ada.
Saat gadis itu bertanya tujuan pendekar Pemecah Gelombang, dia tidak mendapat jawaban. Itu tugas dengan tujuan rahasia.
Ahirnya gadis berbaju merah itu pergi sambil menggandeng gadis kecil disampingnya. Dia memberi pesan bahwa ia akan kembali jika Pendekar Pemecah Gelombang telah pulang dari misinya.
.......
Raksa dan Sekar menikmati sarapan pagi dengan penuh nikmat. Sumringah diwajah mereka jelas menggambarkan perasaan bahagia.
Hari ini Raksa ingin membawa Sekar jalan-jalan. Tujuan mereka adalah tempat favorit Raksa.
Lembah Rinjani.
Sekar penasaran dengan hamparan bunga keabadian dan derit cemara saat angn gunung bertiup.
Raksa menggambarkan seolah itu seperti rintihan kerinduan.
__ADS_1
Sekar sebetulnya tak memaksa sebab lokasinya sangat jauh. Butuh waktu berhari hari.Tetapi Raksa punya cara agar singkat dan mudah.
Mereka berpamitan kepada ibu. Bekal dan oleh oleh disiapkan untuk eyang guru.
.......
Sekar tak henti-hentinya dibuat terkejut.
Sesosok burung Rajawali perak tiba-tiba keluar dari kehampaan. Sayap selebar sepuluh meter. Bulunya berkilau saat terkena sinar matahari pagi. Siap mengantar pasangan itu ke puncak Rinjani.
Mereka dibawa terbang melintasi awan. Menyaksikan rumah, sawah dan hutan seperti titik kecil yang indah.
.......
"Aku mencintaimu sederhana tanpa meminta jawaban karena aku takut akan menyakitkan saat kau memberikan jawaban ...
Tetapi sekarang....
......
Sunan Tembolak berdiri dengan kuda-kuda menyerang. Ratusan paku es membentuk formasi sempit udang.
Musuh ya adalah seorang pemuda seumuran 17 tahun yang memiliki sorot mata tajam dan tubuh tegap.
Pemuda itu juga menggunakan serangan yang sama dengan Sunan Tembolak. Ratusan paku es telah siap untuk di lepaskan.
Detik berikutnya tarian paku es memecah kebekuan. Hawa dingin dan suara es pecah bergema. Semakin dahsyat dan menyilaikan mata.
Setelah hampir satu jam Sunan Tembolak memberi perintah untuk berhenti.
"Bagus ! bagus sekali, Ajian Pemecah Gelombang telah kau kuasai, tinggal kau sempurnakan dengan banyak berlatih. Dengan begitu dikompetisi besok kau dapat menang dengan gemilang"Sunan Tembolak mengacungkan jempolnya.
"Terima kasih atas bimbingan senior, adik akan berusaha sebaik mungkin" Surya Malela memberi hormat pada seniornya.
" Bagus, saatnya kita kembali ke perguruan. Aku merasa ada seseorang yang sedang menunggu kedatangan kita" sambil melangkah.
"Darimana kakang tahu itu? " Surya Malela penasaran.
"Ha .. ha .. belum saatnya kau tahu itu!" Teriaknya lantang membuat Surya Malela garuk kepala.
.....
"Apakah kau yang bernama pendekat Pemecah Gelombang?" Gadis bergaun merah bertanya dengan ekspresi dingin.
Sunan Tembolak terkejut melihat tatapan gadis itu. Dia seperti mengenal sorot mata itu. Dingin dan tanpa ekspresi.
"Ya ... Begitulah sebagian orang memanggilku" sunan Tembolak mencoba membuka kembali ingatan masa lalunya.
Gadis berbaju merah mengeluarkan sebuah pisau pendek dari balik bajunya.
"Pisau ini tertancap dijantung seorang wanita. Pisau yang merenggut nyawanya. Apa penjelasan logis darimu untuk itu? " Gadis itu menatap Pendekar Pemecah Gelombang dengan sorot yang berubah.
Ada api yang membara dibalik tatapan itu.
Sunan Tembolak terpaku. Dia kenal pisau itu. Dia kenal pemiliknya. Seperti dia mengenal dirinya sendiri.
"Pisau itu milikku ...tetapi..." Sunan Tembolak gugup.
Gadis berbaju merah tersenyum. Tangannya melambai. Kabut hitam merebak. Ribuan binatang buas menerjang.
"Semakin jelas jawabanmu, semakin cepat serangan ini terhenti!"pekik gadis itu.
__ADS_1
......
Bersambung