
Malam turun menebarkan sayap kelam. Menghadirkan kerlip bintang di langit . Angin malam berhembus menggoyang pucuk dedaunan.
Apa Rencanamu, Den Ayu Lestari? " Ki Dursila menatap lekat wajah gadis manis disamping Raden Manik Sangka Langit
Ayu Lestari tersenyum. Mata yang sipit berputar dan menatap ayahandanya.
" Jalan kekerasan tidak mungkin kita lakukan. Raksa bersama Pendekar Selaksa Angin dan Ki Buyut Bayanaka. Kita tahu mereka bukan orang sembarangan. Lagi pula turnamen juga merupakan acara kerajaan jadi kita tidak bisa mengacaukannya. Itu terlalu mencolok. Gunakan cara halus. Misalnya dengan racun atau obat" gadis itu tersenyum licik.
Wajah Raden Manik Sangka Langit berubah cerah. Dia menatap putrinya dengan mata berbinar. Tangannya mengelus putri satu satunya.
"Usul yang bagus, lumpuhkan keduanya dengan racun. Setelah itu tangkap mereka, kematian anakku Menggala harus dibalaskan. Sekar harus bertanggung jawab kematiannya!" Wajahnya yang tirus mengeras. Rahangnya yang menonjol seperti menggigit bongkahan dendam yang mengeras.
"Aku yang akan mengatur bagaimana racun itu sampai, Ki Dursila siapkan saja racun pelumpuh tulang atau racun lain yang mematikan!" Lestari berdiri dan berjalan mendekati jendela. Dia menatap langit malam.
Terbayang bagaimana penderitaan kakaknya Menggala Sangka Langit. Dia yang tergila gila kepada kecantikan Sekar dan berakhir gila di pasungan. Kematian menjemputnya dalam teriakan penderitaan. Mati mengenaskan karena cintanya yang tak sampai . . .
Pagi hari. Burung gereja bernyanyi menyambut datangnya pagi. Matahari yang hangat menyapa bunga melati yang bermekaran ditaman. Mengirim aroma jernih embun pagi diujung rerumputan.
Sekar baru saja selesai berdandan. Dia mematut diri didepan cermin. Senyumnya yang manis menyambut Raksa yang masuk setelah berolah raga dihalaman.
Raksa menatap isterinya sambil membuka mulutnya. Ekspresinya seperti orang yang salah makan obat.
Sekar tahu dia sedang digoda. Bibirnya segera memasang wajah cemberut. Dia berpura-pura marah padahal hatinya mekar seperti kerupuk soda.
"Ajak aku jalan-jalan, tunjukkan aku tempat terindah yang ada disini" Raksa memeluk pinggang isterinya lembut.
Hari ini turnamen diliburkan untuk memberikan waktu istirahat bagi peserta dan penonton. Karena itu Raksa dan Sekar akan pergi untuk melihat suasana sekitar lokasi turnamen.
"Aku tidak punya tempat seperti itu. Bagaimana jika ku kenalkan kau pada seseorang. Dia orang yang luar biasa" Sekar tersenyum.
"Luar biasa, apakah dia gagah sepertiku?" Raksa terlihat penasaran.
"Lebih !" Sekar memasang wajah serius.
Raksa sedikit terkejut. Dadanya bergemuruh. Dia berputar menatap lekat wajah Sekar.
"Kau serius, apa dia mantan .." Raksa terlihat tidak senang. Mata birunya berkilat menahan sesuatu yang membuncah didadanya.
"Begitulah, kau takkan bisa menggantikannya dihatiku" Sekar berbicara tanpa peduli nyala api yang mulai menyala di mata Raksa.
"Hei ... Kau ..kau ..!" Raksa tak bisa berbicara banyak. Dia mencoba menegaskan kemarahannya.
Sekar tak peduli. Dia menyeret Raksa menuju sebuah tempat.
Mereka keluar cukup jauh dari lingkungan turnamen. Melewati hutan kecil. Melintasi sungai yang dipenuhi begitu banyak batu. Saking banyaknya sampai tak ada tanah yang terlihat.
__ADS_1
Sungai berbatu. Terlihat seperti permata hitam tersebar dibawah gemerisik air sungai lebar dan dangkal.
Raksa terus mengikuti langkah Sekar. Mereka bergandengan dalam irama diam yang tersaji ditengah permainya alam.
Mereka melewati jalan setapak. Diujung jalan terdapat sebuah pohon asam yang besar. Sebuah rumah mungil berdiri seolah seperti sosok jamur yang berlumut.
Raksa mengikuti langkah Sekar. Mereka berhenti dihalaman rumah yang ditumbuhj beberapa pohon singkong dan talas liar.
Asap mengepul dari arah dapur. Aroma masakan tercium.
Sekar langsung menuju dapur. Langkahnya ringan tanpa suara.
*Nenek, aku datang!" Dia berdiri diambang pintu.
Seorang wanita tua yang sedang berjongkok didepan perapian menoleh. Mata tuanya yang rabun terkesima. Seolah dia sedang bermimpi.
*Sekar, benarkah kau Sekar?" Wanita itu sedikit bingung.
*
Sekar melangkah dan memeluk perempuan tua itu. Dia tak peduli dengan pakaian penuh tambalan dan sosok wanita tua yang terlihat kotor dan dekil.
" Ya nenek, ini Sekar, maaf baru sekarang aku bisa menjenguk nenek" air mata Sekar mengalir tak tertahankan.
Sekar memperkenalkan sosok wanita tua itu. Dia adalah pelayan dirumahnya dulu. Ketika keluarga mereka hancur dengan perpisahan ibu dan ayahnya dia memilih pergi dan hidup menyendiri disini.
Mendengar kisah hidupnya dibongkar Sekar hanya bisa cemberut dan beberapa kali memukul pundak Raksa yang tertawa mendengar kisah Sekar.
Nenek tua itu terlihat bahagia. Apalagi setelah tahu Sekar sudah menikah. Dia tak henti membelai rambut Sekar, sama seperti ketika gadis kecil itu masih dalam perlindungannya.
Nenek tua juga memberi pesan kepada Raksa untuk menjaga Sekar.
Seharian penuh Sekar menemani nenek tua. Dia membantu beres beres rumah. Memasak untuk makan siang seadanya.
Sore hari mereka pamit untuk pulang ke penginapan.
Sekar dan Raksa akan membawa nenek tua itu pulang ketika mereka kembali ke perguruan Selendang Sakti.
Pendekar Pecut Sakti mendekap buntalan pakaian milik Pendekar Pemecah Gelombang. Dia tak bergeming meski diminta oleh pemiliknya.
"Berikan padaku, Pecut Sakti!" Pendekar Pemecah Gelombang terlihat mulai kesal.
"Untuk apa kakang pergi ke Gili Lebur menemui gadis itu, apa kakang ingin menemui ajal disana?" Nada Pecut Sakti penuh tanda tanya.
"Ini bukan urusanmu, sudah kubilang ini masalah pribadi, kau bahkan tak berhak untuk tahu!" Suara tinggi Pendekar Pemecah Gelombang bagai Petir.
__ADS_1
Pendekar Pemecah Gelombang tak bisa jujur sekarang. Dia tidak tahu harus memulai dari mana untuk menceritakan kisah suram masa lalunya. Masa lalu yang pahit.
Bertahun tahun dia hidup sambil menanggung beban masa lalunya. Memendam perasaan bersalah.
Dia pernah lari seperti seorang pecundang. Pergi meninggalkan jasad seseorang yang begitu berharga baginya. Dulu ia pergi begitu saja dan tak menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Sekarang dia ingin menjelaskan semuanya kepada gadis bergaun merah. Apapun resikonya.
Pecut Sakti terdiam. Dia seolah terlempar dibenua berbeda dengan pendekar Pemecah Gelombang. Kalimat terakhir itu membuatnya seperti orang yang tak saling mengenal. Padahal banyak hal yang telah mereka lewati bersama.
Rasa perih, peduli dan kasihan pada sosok sahabatnya yang kini seperti sebatang pohon mati.
Sebatang pohon yang meranggas lara didera oleh musim kemarau yang berkepanjangan.
Terbayang dipelupuk matanya bagaimana gadis bergaun merah menatapnya. Mata itu telah membangkitkan lagi rasa sakit yang telah dikuburnya.
"Baiklah kakang, kau boleh pergi tetapi dengan satu syarat, aku harus ikut!" Pecut Sakti menatap sahabatnya dengan mata memelas.
"Tidak, aku akan pergi sendiri!" Pemecah gelombang melangkah pergi tak peduli dengan buntalan pakaian dan perbekalan ditangan Pecut Sakti.
"Tunggu Kakang, aku ikut, hei..!" Pecut Sakti berlari mengejar. Dia terus berteriak.
"Apa lagi, mengapa kau ribut sekali?" Pendekar Pemecah Gelombang berhenti.
"Aku ikut, kakang!" Pecut Sakti memohon.
" Terus masalahnya apa, bukankah sejak tadi kau sudah ikut?" Senyum nakal pendekar Pemecah Gelombang menyadarkan Pecut Sakti bahwa ia telah kena jebak.
" Kau .. kau senang sekali mengodaku!" Pecut Sakti melotot marah. Dia mengangkat kaki dan bertingkah seperti bocah kecil.
"Dasar Pendekar Pecut Kuda, " Pendekar Pemecah Gelombang berlari sambil tertawa-tawa. Meninggalkan sahabatnya yang melongo mendengar gelar barunya yang terdengar aneh.
Sekar bergelayut manja dibahu kakeknya. Tingkahnya membuat Raksa dan Diah Pitaloka menahan tawa.
" Aku ingin tidur disini malam ini dengan kakek, aku rindu kakek!" Dia merajuk.
Terus bagaimana nasib suamimu, kau tega membiarkan dia sendirian?" Ki Buyut Bayanaka mencoba bertahan.
" Kakak Raksa tidak akan keberatan, lagipula ini hanya satu malam, ia kan kakang?" Sekar menatap Raksa manja.
" Tidak apa-apa kakek, saya tidak keberatan" Raksa mengiakan keinginan Sekar.
Ki Buyut Bayanaka akhirnya tak kuasa menolak. Mata indah Sekar berbinar-binar. Dia meringkuk seperti anak kucing di pangkuan kakeknya.
Malam ini Sekar menginap di kamar kamar penginapan perguruan Selendang Sakti .
__ADS_1
Raksa duduk bersamadi didalam kamar