Kabut Cinta Sang Bidadari

Kabut Cinta Sang Bidadari
Pedang Rajawali Merah


__ADS_3

Raksa mendengar namanya dipanggil. Musuh tandingnya adalah murid dari seorang pendekar yang terkenal sakti dan menjadi jago nomor satu persilatan saat ini. Ki Dursila atau Pendekar rajawali dari Utara.


Tandur jagat dengan tatapan sombong menyapu penonton. Selanjutnya dia melompat ke atas arena. Dia mengangguk penuh percaya diri saat mata nya bertemu dengan tatapan gurunya.


Setelah melepas tangan Sekar yang dengan enggan melepasnya, Raksa naik ke panggung dengan tenang. Mata birunya meneliti sosok Tandur Jagat yang menatapnya dengan pandangan merendahkan


Pendekar Kisap Mantar memberikan sedikit arahan. Selanjutnya dia memberi kode bahwa pertandingan di mulai.


Raksa dan Tandur Jagat saling tatap beberapa detik. Sepasang mata biru dan tatapan setajam burung rajawali beradu.


Tandur Jagat berteriak nyaring. Serangannya langsung dibuka dengan Jurus Kepakan Sayap Rajawali, tubuhnya melesat dengan jari rangan seperti pedang. Tendangan berputar seperti kincir meraung. Mengincar dada dan leher Raksa.


Raksa meladeni dengan tenang. Dengan benteng Ampan Lolat dan Penerapan Kijang Kencana dia menghindari setiap serangan yang datang.


Tubuhnya menjadi ringan, licin dan keras seperti batu karang ditengah lautan.


Tandur Jagat yang semula yakin dapat menumbangkan lawan dalam beberapa gebrakan kini mulai marah.


Dia mendengus. Sebilah pedang dengan pamor berwarna merah tergenggam ditangannya.


Cahaya pedang itu memamerkan hawa haus darah. Beberapa penonton terkejut. Pedang seperti itu seharusnya tidak menjadi senjata golongan putih.


Pendekar Selaksa Angin juga tak bisa menahan terkejutnya. Sebagai pendekar golongan tua dia tahu betul akan pedang itu.


Sekar yang duduk disampingnya menyadari perubahan raut wajah pendekar Selaksa Angin. Tiba tiba perasaannya tidak enak. Dia menatap Raksa dengan tatapan mata sedikit aneh.


Raksa tak punya pilihan lain. Pusaka Ruyung Hitam keluar dari kehampaan. Kehadirannya yang tiba tiba tak urung mengundang decak kagum.


Dua pedang beda warna kini mengundang perhatian.


Raja Selaparang sampai tercengang sesaat. Dia memperhatikan pedang ditangan Tandur Jagat dan Raksa serta cincin yang melingkar dijari pemuda itu.


Dia berbalik dan mengucapkan beberapa kata kepada salah satu tokoh kerajaan dibelakangnya.


Suara serak yang tak asing memenuhi kepala Raksa. Raksa memberikan sedikit penjelaslan kepada Roh pedang.


"Pedang Rajawali Merah, pedang yang haus haus darah, aku kenal pedang ini dan pemilik sebelumnya, dia dari golongan hitam, mengapa bisa muncul disini!" Roh Pedang keheranan.


"Apa maksudmu?" Raksa kebingungan.


"Kehadiran pedang ini selalu membawa bencana, kita harus menghancurkan pedang itu" roh pedang menjelaskan dengan serius.


Disisi lain Ki Dursila kaget dengan pusaka ditangan Raksa. Tiba tiba dia terlihat gelisah. Dia tak menduga jalan pertarungan muridnya akan berakhir dengan Tandur Jagat harus memakai pedang merah.


Tandur Jagat tak lagi meremehkan musuhnya. Dia meraung menerkam seperti malaikat kematian. Cahaya merah berdetak seperti kobaran api kebencian. Membakar udara sehingga panggung semakin membara.


Raksa tak mau tinggal diam. Dia bergerak seperti desir angin. Tubuhnya lenyap mengurung Tandur Jagat. Sinar hitam menghantam tubuh Tandur Jagat beberapa kali memaksa pemuda itu mundur beberapa langkah.


Keanehan terjadi. Tak ada luka setetes pun. Tubuh Tandur Jagat tak bergeming.


"Percuma saja, pedangmu tidak mampu melukai tubuhku, ha. . !" Tandur Jagat tertawa sombong.

__ADS_1


Raksa akhirnya mengerti sumber utama kesombongan musuhnya.


Ternyata dia tidak terluka ketika terkena sabetan Pusaka Ruyung Hitam.


"Dia memakai baju pelindung, kalau tidak salah dia memakai baju Zirah Trenggiling. Salah satu benda keramat dunia persilatan" suara serak terdengar dikepala Raksa.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, kau tak mampu menembusnya, apakah kita harus memakai pukulan dari kitab Selaksa Angin? Raksa sedikit memanasi roh pedang.


"Jangan meremehkan aku, sebaiknya sekarang kau bertindak cepat, aku merasa kehadiran pedang ini ada kaitannya dengan Sekar. Berikan aku tenaga dalam yang cukup, kita hancurkan pedang itu!" Toh pedang terdengar gelisah.


Dada Raksa berdetak kencang saat roh pedang menganalisis kehadiran pedang merah.


Tatapannya segera berubah tegas. Sinar biru merebak. Membekukan langkah Tandur Jagat.


Merasakan sensasi yang berbeda saat menatap mata Raksa, Tandur Jagat menyalurkan lebih banyak tenaga dalamnya. Pedang merah bersinar lebih terang.


Tandur Jagat merasakan hawa iblis merasuki pikiran nya. Tatapannya menjadi kosong. Dia merasa hawa membunuh mengalir membanjiri setiap inci tubuhnya.


Para penonton merasakan haw berbeda dari pertempuran ini. Ini tidak sama dengan pertarungan sebelumnya. Beberapa bahkan merasakan buku kuduknya merinding.


Tandur Jagat meraung. Dia melompat dengan gerakan agak kaku. Pedang merah menerjang Raksa ganas.


Raksa paham arti serangan kni. Penuh nafsu membunuh. Ajian Serat Jiwa merebak. Beberapa kali benturan cahaya hitam, keemasan dan biru silih berganti menahan tebasan pedang merah.


Duar!!!!


Setelah mendapat perlawanan sengit, Tandur Jagat semakin emosi dan kehilangan kendali. Dia menyerang dengan serangan diluar ukuran pendekar pemula.


Pendekar Kisap Mantar, selaku juri, sejak tadi sudah bersiap untuk menghentikan pertandingan. Tetapi melihat sikap Raksa yang tenang membuatnya menahan diri.


Rajawali Marah.


Tandur Jagat memutar pedangnya. Setelah itu pedang diletakkanya tepat didepan dadanya. Sinar merah berguling dari ujung pedang dan membentuk rupa seperti burung rajawali.


Burung merah itu berputar mengelilingi tubuhnya. Sayapnya membara. Mata merah seperti bara api siap membakar lawan tarungnya. Dia seperti sosok yang dibangkitkan dari darah dan kebencian api neraka.


Raksa berdiri tenang. Setengah dari tenaga dalamnya dialirkan mengisi haus pusaka Ruyung Hitam. Cahaya hitam merebak. Hawa menindas menyelimuti panggung.


Beberapa Pendekar senior dan golongan tua sedikit terkejut. Hawa penindasan yang seberat gunung menyelimuti panggung.


Tandur Jagat merasakan tangannya gemetar. Rajawali merah berhenti berputar. Sinar merahnya meredup dan ber saat menipis dan menghilang. Penindasan dari pengerahan tenaga dalam Raksa memberi sinyal bahaya.


Dia tak pernah merasakan tekanan dalam sebesar ini. Bahkan dari gurunya sendiri.


"Mari kita akhiri ini" suara serak terdengar gembira. Roh Pedang mengalirkan esensi miliknya, mengalir memasuki tubuh Raksa.


Semua orang menunggu keajaiban apa yang akan tersaji diatas arena.


Tandur Jagat berusaha kokoh berdiri. Dia menggigit lidahnya hingga berdarah. Seumur hidupnya dia tak pernah dipermalukan seperti ini.


" Aku akan membuatmu bertekuk lutut!" Tandur Jagat meludah dengan tatapan mata culas.

__ADS_1


Raksa mengendurkan tekananya. Tandur Jagat yang merasakan kekuatan nya sedikit pulih melompat ke depan menebas, bayang api rajawali merah menyusul mengikuti arah pedangnya.


Raksa tak tinggal diam. Ajian Serat Jiwa tahap akhir melesat. Cahaya biru seperti badai melolong menyongsong api rajawali merah.


Duar!!!


Dua gelombang kejut mengguncang arena . Kedua pemuda diatas panggung sama sama bergetar. Raksa yang dilindungi ajian Ampan Lolat tak berimbas dengan ledakan itu.


"Sekarang saatnya!" Suara Serak mengisi kepala Raksa.


Raksa melompat, otot lengannya mengeras. Tenaga dalam mengalir membuat permukaan pedangnya berkilat aneh.


Wusss!!!


Crass!!!


Tandur Jagat tak menduga Raksa akan datang dengan serangan balasan yang begitu cepat. Dia belum sempat bereaksi banyak ketika dia merasakan pedang ditangannya terpotong menjadi dua. Dia terkejut mulutnya ternganga, sekian detik kemudian sebuah tendangan telak menghantam dadanya.


Tubuhnya terpental, terbang seperti karung beras mendarat dibawah panggung.


Hoek!!!


Seteguk darah mengalir tumpah merenggut kesadarannya.


Para penonton terpana. Gerakan Raksa begitu cepat. Sukar diikuti oleh tatapan mata biasa.


Sejenak semua orang terdiam. Yang paling cepat bersaksi adalah Pendekar Kisap Mantar.


Tubuh Tandur Jagat masih tergeletak dengan memegang setengah dari pedang merah. Beberapa petugas medis segera melesat memeriksa keadaan Tandur Jagat.


Ki Dursila melesat kearah muridnya. Amarah yang membara nampak jelas diarahkannya kepada Raksa. Dia membuka jalan paksa petugas medis. Memeriksa kondisi muridnya. Tangannya bergetar saat mengambil pedang merah yang yg telah terpotong menjadi dua.


......


Raksa memenangkan pertarungan ketiga.


Ketika Raksa turun dari panggung ratusan pasang mata kini menatapnya dengan penuh kagum. Sosok gadis berbaju hijau dengan cadar juga menjadi pelengkap cerita ketertarikan semua orang.


Pemuda bermata biru dan gadis yang memiliki mata indah yang mampu membekukan segalanya. Sungguh pemandangan yang luar biasa.


.......


Malam menyelimuti.


Disebuah ruangan yang indah yg iga orang lelaki dan seorang perempuan sedang terlibat pembicaraan serius.


" Singkirkan Raksa, bagaimana pun caranya. Kemudian bawa isterinya padaku, aku tidak ingin kalian gagal lagi!" Lelaki berpakaian mewah membentak marah.


"Ampun tuanku, dia bukan pemuda sembarangan, pedang merah murid saya mampu dipiyongnyu, kita harus berhati-hati!" Ki Dursila menjawab h bergetar.


" Biarkan aku ikut membantu" suara merdu memecah kesunyian.

__ADS_1


Semua mata menatap sosok gadis cantik berpakaian bangsawan yang tersenyum, matanya berbinar penuh kelicikan.


Bersambung


__ADS_2