Kabut Cinta Sang Bidadari

Kabut Cinta Sang Bidadari
Segel Kematian


__ADS_3

Pendekar Pemecah Gelombang tanpa sadar mengangkat tangan.


Puluhan pasang mata menatapnya dengan penuh tanda tanya. Dia dikenal sebagai Pendekar yang dingin dan sedikit tertutup soal masalah pribadi. Mereka tak menyangka dia akan seterus terang ini dihadapan mereka.


"Kau yakin mengenal cincin ini?" Ki Burung Laut sedikit penasaran, pertanyaan yang dia ajukan seolah mewakili perasaan semua orang yang hadir.


"Kisah terlukanya Pecut Sakti segel berhubungan dengan cincin itu, juga masalah yang sekarang kita hadapi!"


"Apakah ini juga mengandung unsur pribadi?"


Pendekar Pemecah Gelombang ragu untuk menjawab. Dia menatap wajah penuh kasih milik sang guru. Ujung matanya menangkap tatapan semua orang yang menantikan jawabannya.


"Selain Pemecah Gelombang, silahkan kemabali ke tempat kalian masing-masing. Persiapkan diri bagi yang akan berangkat besok!"


Semua yang hadir mengiakan kalimat Ki Burung Laut. Sebentar saja ruang pertemuan Perguruan Burung Laut yang semula ramai kini hanya dihuni oleh Ki Burung Laut dan muridnya.


"Apakah kau keberatan jika aku mendengar kisah dibalik cincin ini?"


"Tidak guru, tapi murid tidak tahu harus mulai dari mana ..."


"Katakan saja beberapa bagian penting yang tidak terlalu rahasia, aku penasaran, apakah benda ini yang membuat hidupmu penuh dengan terpaan gelombang!"


Pemecah gelombang melihat senyuman manis tersungging di bibir sang guru. Sesuatu yang aneh dan unik menilik pribadi gurunya yang tak pernah memperdulikan lagi urusan hati anak muda.


" Baik guru"


Pendekar Pemecah Gelombang mulai menguak kisah pilu di balik cincin perak itu. Kisah tentang seorang lelaki yang hidup dengan memikul beban masa lalu.


Ki Burung Laut melihat emosi dan luka berbaur menjadi kisah getir nan pedih mengalir menyentuh ujung jiwanya.


"Aku kenal dengan wanita penghuni Gili Lebur, sepak terjangnya di dunia persilatan, bahkan kami pernah bertarung. Aku tak menduga kau memiliki hubungan dengannya. Jujur ku katakan. Kisahmu indah dan menakjubkan. Aku yakin kisah ini masih memiliki episode baru yang harus kau selesaikan!"


"Murid tidak mengerti guru"


"Kisahmu berhubungan dengan masalah yang kini akan kita hadapi, kau termasuk pemain kunci, maka kau memiliki tanggung jawab menentukan akhir kisah ini. Sekarang mari kita buka pesan yang dibawa oleh burung ini!"


Telapak tangan tangan Ki Burung Laut terbuka. Gumpalan energi yang berbentuk bulat sebesar kelereng keluar dari tubuh burung itu.


" Tutup matamu dan konsentrasi !"


Energi itu kemudian diarahkan ke jidat pendekar Pemecah Gelombang. Bagai menembus benda beronggab, cahaya energi itu mengalir masuk dan mempengaruhi beberapa inderanya.


" Dikaki gunung Sangkareang, Merahku tersandera diujung kematian. Memaksaku kembali pada kegelapan. Lelaki tua dengan tongkat tengkoraknya. Tak banyak waktu tersisa sebelum segel terbuka. Temukan cahaya dilangit timur, ketika uap air sungai menyapa langit. Kami menunggu uluran tanganmu!"


Ki Burung Laut menyaksikan ekspresi penuh keterkejutan diwajah pendekar Pemecah Gelombang. Setelah beberapa saat dia membuka mata. Tak ada gerakan berarti. Setiap inci tubuhnya bergetar menyimpan amarah.


Seseorang telah menitipkan Delima padanya untuk dijaga. Belum hilang kalimat itu terngiang ditelinganya bayangan kegagalan telah menerpanya.


Apakah masa lalu ketika dia gagal menjaga belahan jiwanya kini akan terulang lagi?


"Gadis yang saya ceritakan dipaksa untuk membantu para tokoh golongan hitam untuk membuka segel binatang buas yang terpenjara. Dia terpaksa demi adik kecilnya. Apa yang harus kita lakukan guru?"


"Kita tak bisa gegabah, golongan hitam telah membuat markas dilokasi penjara para binatang dan siluman. Sebuah kelengahan golongan putih yang sangat patal. Jika kita menyerang sama saja dengan bunuh diri!"


" Jika kita menolong membebaskan Delima dan adiknya kita tidak tahu jenis racun apa yang ada ditubuh gadis kecil itu. Nyawanya akan terancam bagaimana menurut guru!"


I


"Itu sebuah pemikiran yang bagus, begini saja, aku akan berkomunikasi melalui telepati dengan Gusti Prabu menyampaikan. Informasi ini. Selain itu, sekarang juga kau pergi ke Turnamen tanding, sampaikan informasi ini pada Gusti Prabu atau Pendekar Selaksa Angin. Sampaikan salamku!"


"Baik guru, saya akan pergi sekarang juga!"


.....


Delima berdiri menghadap dinding penyegel yang retak. Ada celah seukuran rambut yang memanjang dipermukaan segel itu.


Delima menyentuh dinding itu. Dia merasakan beberapa unsur yang memadat menjadi satu. Tanah, es, api, udara dan unsur lain yang menyilaukan. Meski pudar dan melemah Delima tahu bahwa itu unsur cahaya matahari.


Lelaki bongkok melangkah mendekati Delima.


"Muridku akan mengalirkan segel pengendali melalui celah, memilah beberapa binatang yang melemah karena tersegel lama. Kau kan menembus celah ini dengan Ajian Selimut Kabut. Larutan tubuhnya dan seret dia keluar. Kau paham!"


"Melarutkan dan memaksa keluar membutuhkan energi yang tidak sedikit karena harus melalui celah sempit, aku tidak akan bertahan untuk satu binatang!"


"Kau tidak perlu hawatir, aku telah menyiapkan ratusan orang yang akan mentransfer energinya padamu, lakukan saja!"

__ADS_1


Dengan sigap selusin orang melangkah mendekati celah. Setelah melakukan beberapa gerakan tangan energi pengendali meresap melalui celah kecil.


Tanah bergetar, raungan binatang buas menggema seolah akan menghancurkan kaki gunung Sangkareang.


"Pokus pada binatang terdekat dari celah segel, kemudian pertahankan, kendalikan dia dengan sempurna!"


Pendekar Bongkok nampak puas dengan kinerja muridnya.


"Sekarang tugasmu Delima, bawa binatang itu keluar!"


Delima tak punya pilihan lain. Meski dadanya terasa perih karena melawan hati nuraninya, ahirnya dia mulai bergerak.


Kabut tipis merebak. Membumbung tinggi diangkasa. Selanjutnya mulai meresap memasuki celah segel.


Delima berjuang dengan sekuat tenaga. Raungan binatang buas semakin membahana. Tubuh gadis itu bergetar. Pakaian merahnya berkibar aliran energi yang melaju deras.


Tubuhnya semakin menjuntai. Melihat itu puluhan orang bergerak. Aliran energi mengalir memasuki tubuh Delima.


Kabut yang tadinya meresap ke dalam kini perlahan mulai merembes keluar. Membumbung tinggi ke angkasa.


Sosok binatang hitam bermata merah menyala keluar dari gugusan kabut.


"Cepat kurung dia!"


Seorang pemuda membuka botol dari sejenis batu, secara ajaib binatang raksasa mirip gagak tersedot masuk.


Pendekar Bongkok tersenyum puas. Puluhan pendekar gokongn hitam dibelakangnya juga turut tertawa senang.


Sosok Delima dimata mereka menjadi semakin menggiurkan. Penuh potensi sebagai aset berharga bagi perguruan mereka.


Setelah sukses binatang buas pertama, binatang selanjutnya terus tersedot keluar, proses itu berhenti tatkala Delima sudah tak mampu lagi menggerakkan ujung jarinya.


Semua energinya terkuras habis. Wajah di balik topeng peraknya pucat pasi. Dia dibawa ke kamarnya sambil dipapah oleh beberapa orang pelayan wanita.


.....


Kuda yang membawa Pendekar Pemecah Gelombang berlari laksana terbang. Dia sampai di kerajaan Selaparang setelah matahari terbit.


Setelah bertanya kepada beberapa orang penjaga dia lqngsung menuju tempat penginapan peserta turnamen dari perguruan Burung Laut.


Pendekar Kisap Mantar mewakili beliau menerima dan mendengar kabar penting yang dibawanya.


Mengingat pentingnya informasi ini dia langsung membawanya menghadap Raja.


"Benarkah kabar yang kau bawa ini?" Raja seolah tidak percaya.


"Begitulah tuan pendekar, Guru saya Ki Burung Laut menyampaikan salam kepada Gusti Prabu.


"Sebetulnya aku sudah tahu gerakan ini, tetapi aku ingin menunggu turnamen ini berakhir, jika begini jelas tidak bisa kita lanjutkan"


"Terus bagaimana sebaiknya Gusti?"


"Kisap Mantar, lakukan secara rahasia agar tidak menimbulkan kepanikan, bentuk tim khusus dari gabungan para Pendekar, anggotanya silahkan kau diskusikan terutama dengan para pendekar sepuh, kemudian segera laporkan hasilnya langsung padaku!"


"Hamba mengerti Baginda!"


"Terima kasih Pendekar Pemecah Gelombang, atas nama rakyat Selaparang, aku mengucapkan terima kasih atas usahamu!"


"Ini sudah menjadi kewajiban hamba!"


Kisap Mantar dan Pemecah Gelombang segera pamit. Kisap Mantar segera menuju ruang panitia turnamen.


Pada hari itu juga semua pendekar diundang dan.diberikan pemahaman tentang kondisi bahaya yang mengancam. Setelah itu dibentuk tim khusus yang akan menjadi ujung tombak menanggulangi bahaya yang mengancam.


.....


Delima membuka mata setelah duduk semalam penuh. Dia berjuang mengumpulkan tenaga dalam yang terkuras habis.


Diatas meja dia menemukan sebungkus obat penambah tenaga dan beberapa makanan.


Delima tak berani mengambil resiko meminum obat itu. Dia memilih memakan beberapa buah untuk mengganjal perut.


Setelah merasa segar dia beranjak keluar kamar. Dia menemui dua irabg penjaga dilorong.


Dia meminta izin untuk menemui adiknya.

__ADS_1


Saat kamar dibuka dia menemukan Merah Kepundung sedang duduk sambil mempermainkan ujung rambutnya.


Jenuh terlihat jelas membayang diwajah gadis kecil itu.


"Kakak !"


Dia memburu dan melilit sempurna dalam dekapan Delima. Air matanya tumpah meski tak ada suara tangis yang keluar.


Itu adalah sikapnya yang mengagumkan. Sejak kecil ia berlatih menahan tangisnya seberat apapun penderitaan yang dia rasakan.


"Bagaimana kondisimu, apa kau merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuhmu?"


Merah Kepundung melepas pelukannya.


"Kakak tidak usah menyembunyikan apapun dariku. Saat dikamar mandi aku mencium bau obat dari air seniku. Aku tahu itu racun yang perlahan akan melemahkan tubuhku!"


Delima terdiam. Dia lupa adiknya paham tentang obat dan sedikit racun.


"Kakak tidak membohongimu, kakak hanya ingin menemukan obat untukmu. Itii yang membuat kakak bertahan sejauh ini. Hari ini kakak akan meminta obat penawarnya"


"Apa yang mereka inginkan dari kakak?"


"Mereka meminta sesuatu yang sederhana, kakak sudah mengabulkannya"


Merah Kepundung menatap mata kakaknya yang berputar indah. Berpaling tak berani menatap matanya.


"Kakak tidak pintar berbohong, aku tahu kakak menyembunyikan sesuatu yang luar biasa. Kakak tidak perlu menuruti mereka jika itu membuat kakak menderita. Aku tidak keberatan menanggung penderitaan jika kakak menderita karena itu!"


Delima meraih adiknya. Dia mendekapnya erat. Sangat erat. Dadanya penuh sesak oleh perasaan berdosa.


Apakah dia akan menjadi penyebab kehancuran?


"Kau jangan berpikir terlalu jauh, kakak tidak punya siapa-siapa lagi selain kau, kita akan pergi dari sini, kakak janji!"


....


"Ketua, apakah kau akan memberikan obat penawar untuk gadis kecil itu?"


Pendekar Taring Kematian bertanya dengan rasa ingin tahu yang kuat.


"Aku memang seorang penjahat kejam seumur hidup aku telah menghilangkan ratusan nyawa. Tetapi aku bukan" pembohong. Apa yang ku janjikan pasti akan kutepati"


"Tetapi kita masih butuh tenaganya untuk mengeluarkan lebih banyak lagi binatang buas!"


"Kita akan meminta dia sekali lagi, aku berpikir, terlalu banyak juga beresiko besar, jika kita tidak bisa mengendalikan maka akan membahayakan kita sendiri, setelah itu kita akan memberikan penawarnya!"


"Tapi ketua!"


"Kita bisa membuat tragedi lain untuk mengikat gadis itu tanpa harus mengingkari janji ketua"


Raden Manik Sangka Langit ikut menimpali. Kalimatnya membuka mata Taring Kematian.


"Raden memang pintar!"


"Hubungi pendekar Malih Rupa, bukankah dia bisa menipu siapapun, dalam perjalanan dia kembali kita akan membuat seolah gadis itu terbunuh ditangan golongan putih!"


"Tapi Raden, dia pasti curiga!"


Raden Manik Sangka Langit tertawa terbahak bahak. Mata apinya menatap wajah Taring Kematian dengan sorot jahat.


"Kita telah membebaskan puluhan binatang buas. Ditambah koleksi sebelumnya kita punya lebih dari cukup. Kita akan buat kekacauan, setelah itu kita punya banyak ruang untuk membuat rencana untuk gadis itu"


"Rencana yang sempurna, mari kita rayakan, sebentar lagi kita akan menguasai dunia persilatan, ha .. !"


Taring Kematian mengangkat gelasnya dan meneguk habis minumannya.


Ketiga orang itu kemudian larut dalam suasana pesta kemenangan.


....


Delima membimbing Merah Kepundung beristirahat. Mereka dalam perjalanan pulang ke Gili Lebur.


Tiba tiba langit mendadak gelap. Puluhan bintang raksasa terbang seolah menutup matahari. Suaranya menggelegar memekakkan telinga.


Apakah bencana akan segera dimulai?

__ADS_1


.....


__ADS_2