Kabut Cinta Sang Bidadari

Kabut Cinta Sang Bidadari
Dua Sisi Hati


__ADS_3

Semberani melesat menuju lokasi turnamen tanding para pendekar tanah Selaparang di adakan.


Setelah sampai Raksa ternyata ditunggu oleh urusan kerajaan.


Rupanya kabar pertempuran yang menewaskan Ki Dursila tembus ke istana.


Tim khusus yang mirip intelijen mengajukan beberapa pertanyaan.


Raksa memberikan informasi yang akurat. Sosok bangsawan yang menghilang dari kerajaan ternyata sesuai dengan gambaran Raksa.


Situasi kerajaan memang sedikit memanas. Gerakan bawah tanah yang selama ini mengubur diri sedikit menggeliat. Untunglah titik terang tercapai. Beberapa pejabat dan kaki tangannya pergi meninggalkan ibu kota . . .


Para peserta dan penonton sudah banyak yang hadir. Kursi-kursi yang disiapkan hampir semuanyo terisi. Terutama kursi di bagian yang dianggap strategis. Dimana pandangan penonton leluasa menyakasikan pertarungan diatas panggang.


Panitia yang ditugaskan menjaga dan mengatur keramaian sedikit kewalahan. Tugas terberat mereka adalah memastikan tidak ada orang yang melakukan kegiatan judi. Menjadikan para peserta yang bertanding sebagai sasaran taruhan.


Selain itu panitia juga meneliti para penonton yang datang dengan kondisi tidak sehat, mabuk atau membawa barang mencurigakan. Sebab selain peserta dilarang untuk membawa senjata.


Seorang lelaki bertelanjang dada menjadi pusat perhatian di luar pintu masuk.


Rambutnya panjang sebatas bahu. Mengenakan ikat kepala yang warnanya sudah pudar. Kain sarung penuh daki menutupi tubuh bagian bawahnya. Tanpa alas kaki.


Sebuah Gegandek. Sejenis tas dari anyaman bambu menghiasi pundaknya. Satu satunya barang yang melekat ditubuhnya. Didekapnya dengan mesra.


Warna tas bambu itu sudah pudar. Tanpa pewarna dan riasan apapun. Hanya tali pengikat dari rotan yang dijahit rapi sedikit memberi kesan berharga.


Lelaki kurus itu seolah tak terpengaruh oleh banyaknya orang. Dia sendiri mulai sibuk mengunyah sirih.


Daun sirih diberi sedikit kapur. Pinang muda segar yang terlihat manis. Dilinting rapi dan mulai dikunyah.


Ekspresi nikmat dan tenang menghiasi raut wajahnya. Sejumput tembakau hitam dijadikan penyeka lelehan air merah yang mulai membanjiri mulutnya.


Beberapa saat kemudian dia mulai meludah.


Puh!


"Kakek, sudah hampir penuh didalam, ayo cepat kita masuk!" Seorang anak lelaki berusia sekitar sebelas tahun muncul dari samping pintu gerbang. Ada tanda pengenal peserta tergantung di pinggang nya.


"Ya.... Kita masuk!" Kakek tua dan bocah lelaki bergerak hendak masuk. Beberapa orang penjaga menatap mereka mata mendelik.


Penjaga itu mengira dia pengemis.


Jika tidak karena pemuda belia yang datang mengajaknya masuk mereka akan mengusirnya.


Panggung mulai bergetar.


Pertandingan pendekar pemula terakhir menyapa penonton.


Dua peserta termuda tampil diatas panggung.


Bara Satria dari perguruan Ksatria Selaparang tampil setelah sebelumnya menang melawan Selir Tanpa Akhir dari Tanjung Maringkik.


Perguruan Ksatria Selaparang adalah perguruan bela diri yang sedang naik daun. Tumbuh didaerah panas diselatan bumi Sasak. Tanah yang kering dan tandus.


Lawannya adalah murid dari pendekar Pulir Bake', pendekar gila dari Selak Alas. Pemuda itu bernama Gasing Nyungsa'


Pendekar Pulir Bake' adalah seorang pendekar pengelana yang penuh rahasia.


Keberadaan nya sulit ditemukan. Bahkan di areal panggung dia tidak tampak mendampingi muridnya.


Hanya beberapa orang yang menyadari pendekar itu tengah asik mengunyah sirihnya di bawah pohon jambu, ratusan meter dari arena di gelar.


Serangan Bara Satria tegas dan mendominasi. Jurus pedangnya jujur mengandalkan kekuatan murni. Kecepatan adalah kunci serangannya.


Sedangkan Gasing Nyungsa' tampil penuh guyon. Lucu dan terkesan tak serius. Dia bergerak seperti mainan gasing yang salah arah.


Jurus pedang Tanpa Ampun mendesing. Cepat dan luas. Sasaran nya adalah bagian paling memastikan dari tubuh. Jantung, leher dan beberapa bagian vital lain.


Serangannya jelas dan terlihat mudah dibendung tetapi saking cepatnya susah untuk diantisipasi.


Gasing Nyungsa' tampil dengan tawa dan raungan ketakutan aneh tanpa henti. Seolah dia akan mati setiap serangan datang.


Penonton banyak yang menjamin dia pasti kalah tetapi setelah puluhan jurus dia masih bertahan. Bahkan mulai menapaki jalan terang menuju kemenangan.


Tak banyak yang tahu bahwa jurus yang dipakai olehnya menjamu Bara Satria adalah salah satu jurus legendaris. Reregang Seda.


Pertahan kaki yang kokoh dengan gerak tubuh yang lentur. Susah ditebak. Jurus menghindar yang mampu membuat pemiliknya bergerak sendiri. Menghindar dan tak tersentuh apapun kondisi bahayanya.


Bara Satria terus mengincar dengan pukulan yang cepat dan lugas. Semua tak ada yang mampu membuka pertahanan musuhnya.


Kini Gasing Nyungsa' tampil menyerang. Langkah ajaibnya dipadu jurus yang tak kalah anehnya. Godek Mopong Alu.

__ADS_1


Tangannya berubah seperti getah lengket yang mampu menjerat tubuh lawan.


Bara Satria merasakan gerakan tubuhnya dikendalikan. Dia berputar seperti gasing dan membuat nya kehilangan pertahanan dan serangan.


Tessss!!!!


Pantat Bara Satria meletus. Tamparan tangan Gasing Nyungsa' mendera.


Tes.. tessss. Tessss!!!!


Tiga pukulan dipantat kembali mendarat!.


Bara Satria merasakan pantatnya seperti dicambuk rotan. Panas dan pasti bengkak. Membuati meraung dan berjingkrak seperti tingkah monyet yang ekornya terjilat api.


Penonton tertawa lepas. Bahkan ada yang sampai mengamuk melakukan hal yang sama pada teman menontonnya.


Bara Satria mengusap pantatnya yang panas. Dia bingung, mengapa harus bagian itu yang harus ditampar.


Beberapa gadis yang hadir menyakasikan pukulan itu dengan wajah merah padam. Terbayang jika pukulan yang sama mendarat pada mereka. Tak ada sudut sungai yang mampu membenamkan wajah malu mereka.


Sebaliknya bagi para lelaki yang hadir sangat bergairah. Itu pukulan yang sangat indah dan sasarannya sangat indah.


Hei... Ini bulan puasa Lenek Bagus!!!


Gasing Nyungsa' tersenyum lebar. Tangannya terangkat kearah Bara Satria yang meringis mengusap pantatnya.


"Aku menyerah!" Bara Satria berbalik arah. Dia langsung melompat turun panggung.


Tingkahnya yang polos membuat semua yang hadir tertawa.


Gurunya memeluknya dengan penuh sayang. Membantu menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu.


Lain halnya dengan Gasing Nyungsa'. Dia kembali ketempat duduknya sambil menerima tepukan dan tawar meriah.


Pertandingan Pendekar pemula berakhir.


Gili Lebur.


Pendekar Pemecah Gelombang duduk termenung sejak matahari baru terbit. Kini sudah meninggi dan bayangannya sendiri sudah tegak. Menyamarkan kehadirannya diantara gugsan batu karang dan pepohonan perlu.


Dia menatap hamparan laut biru. Gelombang yang naik turun. Buih mengapung. Ombak yang berkejaran saling memburu. Sampai akhirnya berdebur pelan.


Suaranya berdebur pelan dan tak sekeras ombak saat menyapa daratan pasir.


Saat dia kembali Pecut Sakti sedang menerima perawatan. Gadis kecil menyuapinya beberapa potong lobak yang dihaluskan.


Secangkir obat hasil perasan daun Bebele atau daun Dewa diteguknya dengan wajah meringis.


"Bagaimana perasaanmu, apakah sudah lebih baik? " Sunan Tembolak mendekati sisi tikar.


"Aku sudah lebih baik, pundakku saja yang masih sulit digerakkan. Untung saja aku punya dokter yang hebat, jadi lukaku pasti cepat sembuh!" Pecut Sakti mencoba mencairkan suasana.


"Hei .. kau menggodaku lagi, Paman!" Gadis kecil merajuk. Dia menekan ujung tekunjuk kearah luka Pecut Sakti.


Pecut Sakti meringis. Dia tertawa melihat gadis kecil yang meliat bibir dan mengangkat alis tipisnya.


Merah Kepundung tak pernah memiliki kesempatan untuk berteman. Dia sejak kecil terkurung ditengah gili.


Setiap hari dia hanya mengisi hari nya dengan belajar membuat obat. Mengenal nama tumbuhan dan khasiatnya.


Guru dan kakaknya sibuk berlatih. Mereka jarang menemaninya bermain.


Dia memiliki pisik yang lemah. Tubuhnya tak boleh terlalu lelah. Itulah sebabnya dia tak diizinkan belajar ilmu kesakitan. Dia harus menunggu usianya genap tujuh belas tahun. Begitulah pesan sang guru.


Gadis kecil pergi membawa piring dan gelas kosong. Beberapa saat kemudian dia kembali.


"Paman Sunan, kakak Delima meminta ku memberikan mu ini!" Gadis kecil menyerahkan secatik kertas dari daun lontar.


" Temui aku di pusara Kakak Pujawati!"


Sunan Tembolak membaca kalimat itu berulang kali. Mencoba mencari maksud tersembunyi dari permintaan penulisnya.


Dia segera pamit pada Pecut Sakti dan gadis kecil.


"Semoga lukamu cepat sembuh!" Pecut Sakti berteriak menggoda.


Sunan Tembolak tak peduli. Dia melesat kearah selatan. Tak ada tujuan lain. Sebab sisi utara dan timur adalah tempat yang berbahaya. Itu tempat bersemayam bintang buas dan siluman yang dikumpulkan oleh pemilik sebelumnya.


Turnamen tanding.


Pertandingan kedua tersaji, sekaligus peserta terakhir karena para peserta akan memasuki tahap final.

__ADS_1


Peserta ini bukan dari perguruan atau pendekar. Peserta adalah para kerabat dan pejabat istana. Mereka tampil untuk menghibur penonton.


Peserta pertama adalah pendekar senior dari istana. Dia adalah pelatih prajurit kerajaan termuda. Sandubaya.


Sosoknya yang tampan menjadi pemandangan menarik tersendiri.


Memakai pakaian seperti prajurit dia memberi hormat pada pemilik kerajaan Selaparang.


Peserta kedua adalah seorang wanita


Dia adalah juara turnamen tahun sebelumnya dari perguruan Lembah Rinjani.


Raksa merasa tidak asing dengan wajah Ayu diatas panggung.


"Dia adalah Denda Lentik Wangi, keponakan dari sang Raja. Dia adalah gadis pujaan para pria diistana ini" Sekar berbisik pada Raksa.


"Dia memang menarik!"Raksa tanpa sadar memujinya.


Sekar yang mendengar pujian itu mendengus. Matanya menatap Raksa yang seolah tak peduli dengan reaksinya.


Sang kekasih hati tetap menatap lurus kearah panggung. Menahan tawa sambil memegang tangan kekasihnya. Sebab dia tahu jika tangan itu bebas dia akan gentayangan menyiksa.


"Kau milikku!" Bisiknya sambil mencoba melepaskan tangannya.


Pertarungan berlangsung berlangsung lambat. Sandubaya menyerang dengan jurus Garuda Winata. Jurus resmi yang diajarkan kepada para prajurit kerajaan.


Gerakannya tangkas dan penuh wibawa. Mampu bersanding dengan segala macam senjata. Terutama pedang dan tombak.


Lentik Wangi sendiri bertarung dengan jurus favoritnya. Jurus tingkat dasar. Tetapi ditangan gadis itu seolah menjadi jurus kelas menengah bahkan lebih.


Pedangnya gemulai mempertunjukkan jurus Sepi Menyapa Lembah dan Rintihan Senja. Kedua jurus ini bergiliran menyapa musuhnya. Terus berulang dengan variasi yang seolah tanpa habisnya. Satu jurus diubah puluhan perubahan. Itu adalah hasil kreasinya selama puluhan tahun.


Itulah kehebatan Lentik Wangi. Jurus apapun akan dia mainkan dalam banyak versi. Membuat jurus sederhana menjadi pecah berkeping-keping dan menjelma luar biasa.


Hal itu pula yang membuatnya lupa akan masa mudanya yang mulai berjalan menuju ujung senja. Tak ada waktu tersisa untuk melayani puluhan hati yang terkapar menahan nestapa. Hati yang menemui jalan buntu saat mencoba menelusuri jalan berkelok menuju hatinya.


Dia terlalu asyik dengan jurus demi jurus yang ingin ditaklukkan nya. Padahal umurnya tak muda lagi. Meski kecantikan nya tak memudar, itu hanyalah menunggu waktu.


Ibunya sering menasihati, hidup menua menjadi perawan tua yang kesepian itu menyakitkan. Dia tak bergeming.


Sandubaya meladeni Lentik Wangi dengan segenap kemampuannya. Bertarung dengan gigih dan sungguh-sungguh.


Setelah melewati hampir seratus jurus Lentik Wangi mengubah jurusnya. Dia mencecar dengan jurus paling mematikan yang dikuasainya.


Bidadari Menyapa Bumi


Dia melambung tinggi keangkasa. Pedangnya pecah bagai hujan gerimis. Bersiur mengajari perlawanan Sandubaya.


Pemuda itu terduduk memegang keris yang sedikit longgar dalam genggaman tangannya.


Dia tersenyum menatap lawan tarungnya. Mengangguk tanda mengakui kekalahannya.


"Kau semakin hebat, Sandubaya, kau mampu menahan semua pecahan jurus Sepi Menyapa Lembah dan Rintihan Senja dengan baik. Aku kagum!" Lentik Wangi memuji.


"Kakak jauh lebih hebat, terakhir kakak mampu memecah menjadi lima puluh sekarang lebih, kakak memang hebat!" Pemuda tampan itu memuji dengan tulus.


Lentik Wangi menerima pujian itu dengan sikap rendah hati. Dia sering mendengar pujian semacam itu tetapi dia tahu Sandubaya pemuda yang tulus.


Sandubaya bangkit dan menjura. Setelah itu dia melangkah turun dari panggung. Berjalan menuju kearah belakang di barisan pengawal raja. Sebelum duduk matanya sempat menatap gadis berbaju hijau dan bercadar.


Sekar juga sempat menangkap tatapan itu. Dia mencoba bersikap biasa-biasa saja. Meski didalam hati dia merasa tidak tenang.


Sekar sedikit gelisah menyimak pertarungan Sandubaya dengan Lentik Wangi.


Raksa merasakan getaran itu ditangan Sekar. Beberapa kali dia menangkap tatapan berbeda dimata indahnya. Sepertinya dia tidak hanya mengenal Lentik Wangi tetapi pemuda yang menjadi lawan tarungnya.


"Ceritakan padaku siapa pemuda itu!" Suara Raksa menyimpan bara.


Sekar terdiam. Bibirnya gemetar dan tak tahu harus berkata apa.


"Apa aku harus bertanya langsung pada pemuda itu?" Raksa mendengus kesal.


"Akan ku ceritakan nanti di kamar, tapi kau harus berjanji tidak akan marah" Sekar menjawab sambil menahan sesak. Dia sepertinya ingin menangis. Mata biru Raksa tak pernah setajam saat ini. Seolah ingin mencekiknya.


" Kau milikku!" Raksa berbisik. Dia bangkit dan menyeret Sekar meninggalkan arena turnamen.


....


Diujung bagian selatan Gili Lebur.


Sunan Tembolak menemukan sosok gadis berbaju merah sedang duduk berjongkok disamping pusara Pujawati.

__ADS_1


"Aku datang Pujawati!" Sunan Tembolak berbisik menyapa sosok gadis berbaju putih yang tersenyum menunggunya.


__ADS_2