
Raksa menatap beragam jenis senjata dan ajian kesaktian yang bergerak bagai hempasan ombak samudra.
Serangan pertama datang dari Rajawali merah menyambar dengan kuku yang menyala. Melesat dibelakangnya puluhan senjata rahasia berbagai jenis dan bentuk. Belum lagi desing pedang, tongkat dan beberapa bola berduri menderu menuju satu titik.
Sepintas, tak akan ada yang berani menjamin ada orang yang mampu bertahan menghadapi gempuran seperti itu.
Pendekar Taring Kematian awal nya ingin turun tangan. Tetapi dia ingin menunggu saat yang tepat.
Kini dia justeru diliputi ragu. Dia bingung. Jarang Pendekar memiliki ketenangan seperti yang ditunjukkan oleh Raksa. Bahkan diwajah Raksa tersungging senyum. Seolah menikmati hentakan irama kematian yang berdansa datang meminta selembar nyawanya.
Beberapa orang penyerang yang belum mendapat giliran sama terkejutnya dengan pendekar Taring Kematian.
Taring Kematian memperhatikan Raksa bukan tanpa alasan. Raksa dalam satu gebrakan telah memberinya pemandangan indah. Puluhan mayat yang berserakan. Hampir semua dengan luka patal. Luka yang membuat seseorang mati tanpa rasa sakit.
Siapakah Taring Kematian? Dia adalah salah satu dedengkot kejahatan.
Masa mudanya habis untuk menipu, merampok dan membunuh. Mewarisi bakat ayahnya. Dia dikenal buas dan tanpa ampun. Dalam kisah hidupnya dia pernah membumi hanguskan satu desa dalam bara api kematian. Tetapi sekarang dia berdiri terpaku seolah disihir oleh pemuda belia.
Apakah benar kejahatan paling takut pada sesuatu yang lebih jahat dari dia?
Raksa mengalirkan hampir lima ratus lingkaran tenaga dalam. Sebuah jumlah yang selama ini tak pernah dia gunakan.
Beberapa detik ketika serangan datang, tubuhnya melesat, membumbung tinggi ke angkasa.
Setelah diudara dia tak langsung turun layaknya pendekar pada umumnya. Raksa menekan Ajian kijang kencana sampai titik klimaks. Tubuhnya mengambang diudara.
Puluhan serangan menerpa ruang hampa. Bahkan ada yang lolos sampai menghancurkan gerbang markas.
Pendekar Rajawali dari Utara terperangah. Dia tak menduga pemuda di depannya mampu terbang. Bahkan melayang di udara. Seolah tak ada bobot tubuh.
Melayang di udara Raksa menampilkan sosok yang mengagumkan. Sukses melawan gravitasi.
Raksa menggenggam Pedang Pusaka Ruyung Hitam dengan kedua tangan. Cahaya biru menyelimuti tubuh, bahkan mata birunya berkilat semakin terang.
" Pendekar Rajawali dari Utara, kau mengaku dari golongan putih tetapi ternyata kau dedengkot golongan hitam, apakah kau berencana menghancurkan kerajaan Selaparang?" Raksa berteriak dari udara.
"Jangan sok jadi pahlawan, kau hanya anak kemarin sore, kau tak berhak tahu rencana kami, pulanglah, bawa isterimu kesini, aku akan membiarkan kau hidup, ha..." Ki Dursila tertawa mengejek.
Setelah mengumpat dengan kata kata kotor lelaki tua itu menerobos kerumunan, melompat tinggi sambil menyerang dengan pedang merahnya. Burung api melesat lurus menyambar.
Raksa sepenuhnya mengerti tujuan mereka mencoba menculiknya. Sekar.
Apakah ada sisa ampun untuk orang yang ingin mencelakai Bidadari Kecil nya?
Raksa tak butuh jawaban panjang lebar. Dari udara pedangnya menebas. Ajian Serat Jiwa melolong memecah udara malam.
Bum! Bum ! Bum!
Burung api musnah. Lontaran cahaya biru menyambar tiga orang penyerang paling depan hangus terbakar. Beberapa bagian tubuhny bahkan meleleh dan menjadi debu.
Lusinan orang penyerang mundur ketakutan. Wajah mereka pucat. Sosok biru yang mengambang dilangit seperti malaikat kematian . . .
Kebahagiaan apa yang dunia tawarkan sehingga kau begitu jatuh hati padanya?
Lalu penderitaan apa yang kematian tawarkan sehingga kau begitu takut menghadapinya?
Pendekar Taring Kematian tak lagi mampu menahan keterkaguman. Dia mengangkat tangan dan memberi acungan jempol. Memuji kehebatan pemuda itu.
Pendekar Rajawali dari Utara yang melihat itu tak bisa menahan diri.
" Taring Kematian, mengapa kau hanya bengong, ayo kita serang pemuda itu!"
" Penampilan ku memang jelek, tetapi otakku tidak bodoh, kalau aku menyerang itu sama saja menyerahkan nyawaku. Aku masih ingin hidup!" Taring kematian justeru mundur dan melesat pergi.
Beberapa orang yang melihatnya mengaku kalah dan pergi terpengaruh. Apa kehebatan mereka dibandingkan Taring Kematian?
" Pengecut, hei kalian semua, jangan ada yang coba-coba pergi, cepat maju, jika kalian mundur kalian akan dicap penghianat dan akan diburu seumur hidup kalian!"
Para pendekar golongan hitam yang tersisa tak punya pilihan lain. Kata kata pendekar Rajawali dari Utara bukan omong kosong.
Ki Dursila membuka kendi dari labu yang selalu tergantung dipinggangnya.
Kabut hitam mengepul. Sosok bayangan burung hitam muncul.
Sayapnya terentang menutupi hampir separuh langit dalam bahasa ironi. Ganas dan penuh hawa membunuh. Seolah tercipta dari hawa kematian yang menguap dari tetes ribuan darah dan kutukan kegelisahan.
Pendekar Rajawali dari Utara memamerkan senjata pamungkas dengan penuh kesombongan.
__ADS_1
Dengan sekali lompat dia telah duduk diatas punggung binatang itu.
Raksa tak urung merasakan tekanan darahnya mengalir lebih deras.
"Binatang sihir, sulit dibunuh, setiap bagian dari tubuh burung itu juga beracun, kita harus berhati-hati!" Roh pedang mengingatkan Raksa.
"Kau kenal binatang itu?" Raksa penasaran.
" Itu rajawali iblis, salah satu hewan milik penguasa kegelapan, dia mampu bangkit dari kematian bahkan membangkitkan jiwa tuannya"Roh pedang menjelaskan.
Raksa penasaran. Secepat kilat ia melesat. Pedang ruyung hitam bederak memotong kepala rajawali iblis.
Pendekar rajawali dari Utara tertawa lepas. Dalam hitungan detik burung iblis itu pulih seperti sedia kala.
Ki Dursala tertawa dan dengan pongah ia melambai. Ratusan bulu rajawali iblis melesat mengejar Raksa.
Raksa sedikit terkejut. Aliran listrik pedang pusaka Ruyung Hitam menyadarkannya. Ampan Lolat tahap akhir menjadi perisai akhir.
Duar!!
Raksa terpental puluhan meter. Dadanya terasa sesak. Dia bangkit dan mengatur jalan darahnya yang mendadak kacau.
" Burung itu tak bisa dibunuh. Mendekati penunggang juga sulit, apa rencanmu?" Raksa mencoba menggali ide tempur roh pedang.
" Kita butuh mitra tempur!"suara serak mengisi kepala Raksa.
Raksa mengangkat tangan. Melukis lingkaran kosong diudara. Sebuah energi seperti terowongan yang berhubungan dengan dimensi lain terbuka.
Raungan Naga menggelegar. Sosok naga bertanduk dengan mata merah menyala keluar dari terowongan diudara.
Para pendekar golongan hitam yang tersisa terpana. Sosok binatang legenda terpampang dihadapan mereka.
Raksa melompat, dia mendarat dikepala Naga Selaksa Angin. Tanduk yang melengkung ke belakang menjadi penahan bagi tubuhnya.
"Naga Selaksa Angin, aku butuh bantuanmu!" Raksa memegang tengkuk naga itu.
"Baiklah Tuan, keluarkan perintahmu, aku akan melaksanakan dengan senang hati" suara jernih dan bergelombang terdengar dikepala Raksa.
"Jangan pura pura tidak tahu, Naga jelek!" Roh pedang berteriak serak.
" Ruyung Hitam, kau tak pernah berubah, itu basa basi, dasar kau selalu menyebalkan!" Naga Selaksa Angin terdengar kesal.
Naga Selaksa Angin bergerak pelan, matanya tak berkedip melihat burung rajawali iblis yang mengepakkan sayapnya dan menimbulkan gelombang angin.
"Tuan, gunakan pukulan jarak jauh, incar kepalanya!" Naga Selaksa Angin memberi komando.
" Jangan banyak omong, aku tahu apa yang kau rencanakan, mari kita mulai!" Toh pedang terdengar tidak sabaran.
Raksa merasakan kehangatan mengalir merasuki jiwanya. Pemahaman Pedang Pusaka Ruyung Hitam dan Naga Selaksa Angin sungguh mengejutkan baginya.
Raksa tidak tahu bahwa kedua anggota timnya telah melewati banyak pertempuran bersama.
Naga Selaksa Angin siap menyerang, dia meraung, mulutnya terbuka dan bola api merah sebesar gajah menggumpal siap ditembakkan.
Wusss!!!
Raksa tidak tinggal diam, hentakan Pusaka Ruyung Hitam ditangannya menjadi tanda bahwa ia harus menyerang, maka dengan cepat ia bereaksi, kali ini ia menyiapkan Luka Angin.
"Sekarang!!!" Raksa memberi komando. Dia melayang tinggi, memisahkan diri dengan Naga Selaksa Angin, meluncur secepat kilat.
Luka Angin menderu. Hawa panas melesat, kemudian lenyap pendekar rajawali dari Utara mengejek pukulan Raksa. Dia berpikir bahwa itu gagal. Tetapi sekian detik kemudian dia terkejut, hawa panas mendadak bangkit dan menghantam kepala burung iblisnya.
Belum hilang terkejutnya datang serangan bola api.
Duar!!!
Ki Dursila kehilangan pegangannya. Dia melayang, jatuh menghempas tanah. Dia berusaha menggapai hewan iblisnya.
Raksa tak lagi memberi ampun. Sekali lagi Luka Angin menyeruak dari angkasa.
Bum!!!
Debu beterbangan. Sosok Ki Dursala lenyap menyisakan sosok tubuh yang mirip daging cincang.
Pendekar golongan hitam yang tersisa tak lagi punya nyali. Tanpa komando mereka melarikan diri.
Untuk sesaat Rajawali iblis meraung-raung menatap tubuh tuannya. Ketika wujudnya telah pulih, dia melesat keutara.
__ADS_1
Hampir pagi ketika pertempuran berakhir. Merah cahaya fajar diupuk timur memperjelas tumbukan mayat dan kehancuran. Rumah yang hampir rata, hutan berubah lapang dan berantakan.
.....
Sesosok tubuh menatap peristiwa kematian Ki Dursala dengan tatapan tidak percaya.
Dia mencoba mencari kepastian tentang peristiwa itu pada mata anak gadisnya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, ayah?" Gadis itu bingung.
Lelaki berpakaian mewah menarik napas panjang. Untuk beberapa saat dia hanya berdiri mematung.
"Kita akan pergi ke perguruan Lembah Tengkorak. Kita akan menyusun langkah selanjutnya disana" lelaki itu bergerak menuju arah Utara di susul putrinya.
Sekar sudah puluhan kali keluar masuk kamar. Dia tak menemukan Raksa.
Diah dan Ki Buyut Bayanaka hanya bisa bengong menatap Sekar.
Mereka telah berusaha membantu tetapi Raksa tak ditemukan. Mereka telah bertanya kepada beberapa penjaga tetapi mereka tidak tahu.
Bagaimana mereka tidak panik?
Ada sedikit bekas kegaduhan di kamar dan sisa racun pelemas tulang.
Semua itu menjadi titik balik kehawatiran mereka terutama Sekar.
Sekar menangis sesugukan. Meringkuk di sudut ranjang.
Kamar Pendekar Selaksa Angin juga kosong. Seolah mereka telah sepakat untuk pergi dan meninggalkan kebingungan untuknya sendiri.
"Apakah senyumku tak lagi mampu mendamaikan hatimu?" Dia berbisik pada bayang suaminya.
Diah masuk tergopoh-gopoh mengabarkan bahwa Raksa telah kenbali.
Sekar kalang kabut. Dia bingung, Raksa tak boleh tahu bahwa semalaman dia telah berjuang dan menangis. Jika tidak dia akan besar kepala.
Dalam balutan pakaian warna hitam Raksa kembali. Dia datang dengan pendekar Selaksa Angin.
Raksa baru menyadari bahwa gurunya memperhatikan pertarungannya sejak awal. Berjaga jika hal buruk terjadi.
Raksa mencoba tersenyum. Menyamarkan rasa letih yang memancar dari wajahnya. Meski dia sebenarnya sadar. Debu dan bau amis darah tercium telah bercerita tentang semuanya.
Sekar menghambur, terbang melintasi sudut sempit kesedihan yang menghimpit jiwanya. Membenamkan diri dalam damai yang senantiasa diuji gelombang.
"Hei, Mengapa kau menangis, aku baik baik saja!" Raksa mengelus rambut panjang isterinya yang tergerai.
"Kau sengaja menindasku!" Sekar mendekap erat suaminya. Dia tak lagi malu menumpahkan air mata. Tak peduli Raksa akan mengoloknya.
Dia adalah suaminya. Tidak ada yang aneh jika dia khawatir.
"Ini yang terakhir, aku tidak akan pergi tanpa dirimu, kecuali terpaksa" Raksa tertawa nakal.
Sekar menjauh, dia menatap mata biru dan menemukan kerlip bintang keberuntungan.
"Terima kasih telah menjagaku" dia berbisik dengan tatap mata indahnya. Mata yang mampu membekukan segala hal. Keindahan yang telah diserahkan sepenuhnya pada satu orang.Teguh Jaga Raksa.
Delima menatap dua orang yang berdiri dihadapannya.
Dia mengenal salah satunya dengan pasti. Sosok yang dia bungkus dengan kebencian.
Pendekar Pemecah Gelombang.
Pendekar Pemecah Gelombang berjuang untuk tegar. Dadanya bergemuruh. Bukankah keindahan itu telah terkubur selamanya.
Sepasang mata milik Pujawati.
Tuhan menitipkan mata itu lagi pada sosok gadis didepannya. Apakah ini anugerah atau hukuman?
Delima menatap Pendekar Pemecah Gelombang tanpa ekspresi. Pakaian merahnya melambai, rambut panjang bergelombang menutupi setengah wajahnya.
"Kau datang mengantarkan jiwamu yang dipenuhi rasa bersalah, jika kau datang untuk itu, tempat ini tak menerima mu!" Suara getir tanpa rasa mengalir mengusik kesunyian.
"Aku datang untuk menjelaskan kebenaran atas tragedi yang menimpa kakakmu"
Pendekar Pemecah Gelombang melangkah maju.
"Berhenti!" Delima mengangkat tangan dan kabut merebak. Raungan binatang buas menggema meneriakkan jerit siksa.
__ADS_1
Hei... Apakah akan terulang lagi siksa yang sama? . . .