
Raksa kaget dengan tatapan Sekar. Mata indah yang mampu membekukan segala sesuatu kini seolah bergolak bagai kawah Segara Muncar. Membara seolah ingin menghancurkan relung jiwanya. Dia bergerak mundur beberapa langkah.
Dia menatap berkeliling. Tatapannya jatuh pada ayahnya. Mencari solusi bagaimana harus bersikap dan menghadapi Sekar.
Ayahnya mengangkat tangan isyarat menyerah. Menyerahkan sepenuhnya kepada Raksa.
Dia sebenarnya ingin tertawa melihat tingkah putranya. Pemuda polos yang belum sepenuhnya mengerti arti cinta.Apakah sebentar lagi dia akan mempunyai cucu? Tiba -tiba dia merasa sepuluh tahun lebih tua.
Sekar berhenti menatap Raksa. Dia berjalan kearah lelaki berpakaian hitam. Mereka berbicara beberapa saat. Setelah memberi tanda, lelaki berpakaian hitam itu segera pergi membawa tubuh ayahnya yang pingsan.
Sekar kembali kearah Raksa. Hanya saja tak menunjukkan bahwa Raksa ada disana. Dingin. Dia berjalan beberapa langkah dan menjura hormat kearah Pangeran Wirangbaya.
"Terimakasih paman, jika paman tidak datang membantu mungkin hasilnya akan berbeda. Secara pribadi dan atas nama perguruan Selendang Sakti mengucapkan terimakasih" Sekar menatap Raden Wirang baya.
Raksa yang melihat sikap Sekar yang tiba berubah menjadi bingung. Dia tak bisa berkata apa-apa.
Sekar segera pamit pada Raden Wirang baya.
Saya akan kembali ke perguruan, Paman!" Sekar berbalik pergi. Ekor matanya melirik Raksa yang berdiri tepat di samping ayahnya. Mata indah itu seketika membara seolah ingin membakar Raksa sampai ke tulang-tulangnya.
Sekar berkelebat pergi. Menembus rimbun dedaunan. Pakaian hijaunya melambai. Setelah beberapa ratus meter dia menoleh. Dia mendengus melihat Raksa yang terpaku menatap kepergiannya.
Raden Wirang baya tiba-tiba menjitak kepala Raksa. Matanya melotot. Raksa tambah bingung. Mengapa semua orang membuat nya pusing. Setelah Sekar sekarang ayahnya.
"Anak bodoh, kau tak mengerti bahasa tubuh wanita!" Raden Wirang baya seolah ingin meremas wajah Raksa.
"Apa maksud ayah, mengapa Sekar dan Ayah menjadi bersikap aneh?" Raksa bingung.
"He... Berhenti bertanya, sekarang kejar Sekar, jangan biarkan dia kembali sendiri, arahnya sama dengan arah perempuan bertopeng itu. Cepat!" Raden Wirang baya tak lagi ingin berdebat.
Raksa mematung. Dalam beberapa detik ia mencoba memahami dimana letak geografis kesalahan yang di perbuatan nya.
Setelah menggaruk kepalanya dan tak bisa menemukan kesalahan itu. Dia memutuskan untuk menyusul Sekar.
Tubuhnya berkelebat, berdesir seperti angin. Menimbulkan suara mendesis saat dia membelah kesunyian senja. Dia memilih terbang melewati tingginya pepohonan. Melayang seperti burung. Sebuah kemampuan yang jarang dimiliki oleh pendekar. Apa lagi seusianya.
Dari jarak beberapa kilometer dia melihatku bayangan hijau berlari. Menembus Padang gersang yang belum sepenuhnya menghijau oleh air hujan. Setelah beberapa saat dia berhasil menyusul. Dia melayang turun didepan Sekar.
Raksa berdiri beberapa meter di depan Sekar. Dia berusaha untuk tersenyum. Tetapi tiba-tiba dia terbeliak kaget.
Sebuah pukulan melanda dadanya. Dia mundur beberapa langkah. Belum hilang rasa terkejutnya, sebuah pukulan kembali mengarah padanya. Raksa berkelit. Beberapa saat pukulan dan tendangan terus mengincarnya. Dia semakin bingung. Sambil menghindar dia berteriak menyadarkan Sekar. Gadis itu tak mau berhenti.
Ahirnya Raksa memilih cara nekad. Dia berhenti bergerak.
Buk ! Buk! Buk!
Tiga pukulan beruntun menghajar nya sampai mundur beberapa langkah. Setetes darah nampak membasahi ujung bibirnya. Dia meringis kesakitan
Sekar yang menyadari itu tiba tiba berhenti. Kini dia bingung harus berbuat apa. Dia maju mundur beberapa langkah. Wajahnya memucat. Dia ahirnya memegang pundak Raksa dengan tangan kiri dan mencoba meneliti wajah Raksa yang membiru.
Raksa menepis tangan Sekar. Dari cincin dia mengeluarkan sebuah pisau kecil. Dia mengulurkan pisau itu ke arak Sekar.
" Kau ingin membunuhkup, pakai ini agar tanganmu tidak kotor! " Raksa menata Sekar sendu.
Kemarahan gadis itu kembali membara. Dia mengambil pisau itu dan bersiksp seolah hendak membenamkan pisau itu ke jantung Raksa.
"Kau ... Kau.. ah! " Sekar melemparkan pisau itu ke rerumputan yang mengering. Dia berbalik dan berjalan menjauh dari Raksa. Mencabut beberapa rumput dan membuat kerajinan tangan tanpa bentuk.
"Ada apa denganmu, mengapa kau bersikap aneh seperti itu" Raksa tiba sudah duduk samping Sekar. Dia masih mengelus wajahnya yang masih terasa sakit.
"Kau menyebalkan, kau tak berperasaan!" Sekar kini berbicara sambil menahan Isak tangis.
"Sekar, aku bingung, tadii kau marah sekarang kau menangis, ada apa jelaskan padaku apa masalahnya?"
"Dasar pemuda bodoh. Dia bersikap seperti itu karena dia sayang padamu!" Suara merdu seorang wanita terdengar menjawab pertanyaan Raksa.
Sekar dan Raksa menoleh kearah sumber suara tersebut.
Seorang wanita bertopeng perak nampak berdiri beberapa puluh meter dibelakang mereka. Sikapnya genit memperhatikan dua anak muda yang terkejut melihat nya.
Sekar segera bangkit. Selendang sakti sapuan badai tergenggam ditangannya. Semburat merah terang menyilaukan menerangi senja.
Raksa menahan gerak Sekar. Dua maju beberapa langkah mendekati wanita bertopeng.
Wanita bertopeng itu menatap Raksa dengan tatapan mata yang genit. Tubuhnya yang seksi menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Pemuda yang gagah dan perkasa. Sungguh menarik siapa nama mu?," Perempuan bertopeng bertanya dengan suara yang lembut dan penuh perhatian.
"Dasar wanita jahat!" Sekar melompat menyerang wanita bertopeng perak itu. Raksa bergerak menghadang. Dia haestir dengan keadaan Sekar. Jika dia mengerahkan tenaga dalam penuh Itu akan membuat luka dalam nya kambuh lagi.
"Tunggu Sekar, untuk saat ini kondisi mu tidak memungkinkan untuk bertarung. Lukamu belum sembuh benar!" Raksa menahan, mencoba menenangkan Sekar.
__ADS_1
"Lelaki yang perhatian, menarik!' wanita bertopeng tertawa dengan keras, suara tawanya merdu, renyah seperti kacang goreng.
"Mengapa kau mengganggu kami, apa kau ingin bertarung lagi?" Raksa bertanya dengan lantang. Dia bersyukur mendengar nasihat ayahnya menyusul Sekar. Jika tidak dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi.
Wanita bertopeng menatap Raksa dengan tatapan mata yang lembut. Rambutnya yang hitam panjang tebal dan bergelombang melambai ditiup angin senja. Kulit leher yang putih, pinggang yang ramping dan kaki jenjang panjang. Raksa menduga bahwa wanita ini kecantikan nya pasti diatad rata rata.
"Tidak, aku sedang tidak ingin bertarung. Aku hanya kebetulan sedang lewat. Aku ingin kembali ke rumahku di Gili Lebur. Jika kau tertarik kau bisa datang ke tempat ku kapan saja," wanita bertopeng perak mengelilingi Raksa dengan tatapan mata yang lembut.
"Wanita ****** .. !"Sekar hendak melabrak wanita itu.
Raksa melompat menahan Sekar. Wsnita bertopeng tertawa terbahak bahak. Kabut hitam merebak melayang terbang mengelilingi tubuhe wanita bertopeng. Sedetik kemudian ia lenyap seolah sirna dibawa remang senja.
Sekar menatap kepergian wanita itu sambil menahan amarah. Ketika melirik Raksa yang masih tak berkedip menatap ke arah hilang nya perempuan itu Sekar semakin kesal.
Tanpa berbicara lebih jauh dia segera melesat pergi.
Raksa kaget. Dia segera melesat menyusul Sekar. Untuk sesaat dia bayangan saling kejar mengejar. Raksa yang sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi Sekar memilih untuk tidak berbicara banyak. Dia memilih menjaga jarak dan mengikuti Sekar kembali vkr Perguruan Selendang Sakti.
Malam dihiasi bintang gemintang. Cahaya rembulan yang lembut menyepuh Maya pada. Langit cerah dan indah. Semuanya seolah menjadi saksi dua muda mudi bergerak seperti desir angin membelah remang malam
....
Dia orang murid penjaga pintu gerbang menunduk hormat ketika Sekar melintas melewati mereka. Menit berikutnya mereka terkejut dengan sosok pemuda fi belakang Sekar. Para penjaga segera menahan langkah Raksa. Terapi mereka terlihat ragu karena pemuda itu datang dengan Sekar.
"Biar kan dia lewat, meski dia jahat dia tak berbahaya!"Sekar seperti punya banyak cara untuk membuat Raksa menepuk jidatnya. Raksa mendesah dan menepuk bahu penjaga. Para penjaga pintu seperti himpit gunung Rinjani. Mereka sadar kemampuan pemuda itu.
.....
Sekar masuk ke ruang keluarga. Nampak kakek dan ibunya sedang makan. Nirmala segera menyambut putrinya dengan senyum lega.
"Ayo duduk didekat ibu, kita makan!"wanita itu melambai pada Sekar.
Gadis itu menatap ibunya. Dia ingin masuk terapi langkahnya tertahan. Beberapa kali dia menoleh ke arah pintu masuk.
"Sekar, ada apa, cepat masuk, jangan bengong di sana!" Ibunya mengjak Sekar untuk yang kesekian kalinya.
Ki Buyut Bayanaka menghentikan gerakan nya menyuap makanan. Dia mendongak dan melihat tingkah laku Sekar.
"Kau datang bersama seorang, mengapa kau tidak mengajak dia masuk!" Ki Buyut memahami tingkah Sekar.
Ibunya yang menyadari itu menjadi heran.Di segera berdiri dan berjalan kearah pintu.
"Dia siapa, Sekar?" Ibunya bertanya kepada Sekar.
Sekar menjawab malu."Dia ...dia Raksa bu" Sekar menjawab dengan wajah tertunduk.
Ibunya kaget. Ki Buyut Bayanaka juga sedikit terkejut. Nirmalasari segera berlari ke halaman, menatap Raksa dengan pandangan tidak percaya.
"Raksa, mengapa berdiri di sana, cepat masuk, ayo masuk, kita makan bersama!" Wanita itu menyeret Raksa.
Ketika mereka memasuki ruangan Sekar sudah duduk didekat kakek nya. Dia mematung tak berani mengangkat wajahnya.
Ki Buyut Bayanaka yang melihat kehadiran Raksa menghentikan makannya. Dia berdiri menyambut kedatangan Raksa. Kakek tua itu menetap Raksa dari ujung kepala sampai kaki. Dia memegang pundak Rsksa dan mencoba mengukur tingkat tenaga dalam pemuda itu. Dia kaget luar biasa.
"Lebih dari seribu lingkaran, sungguh luar biasa, semuda ini sudah mencapai kemampuan seperti ini, luar biasa, seususmu aku baru mencapai tujuh puluh lingkaran. Hei.. !" Ki Buyut Bayanaka tak berkedip menatap Raksa.
"Ayah, biarkan Raksa makan dulu, ceritanya nanti saja" ibu Sekar mengingatkan.
Ki Buyut Bayanaka salah tingkah dia segera membimbing Raksa untuk duduk di dekatnya. Disampingnya Sekar belum memulai makan. Gadis itu hanya menunduk tak berani memandang ibu atau kakeknya.
.....
Makan malam berlangsung agak canggung bagi Raksa dan Sekar. Setelah makan Ki Buyut mengajak Raksa bercerita panjang lebar. Sementara Ibu Sekar pergi ke balai khudud tamu. Dua memerintahkan pelayan untuk mempersiapkan kamar untuk Raksa.
Sekar sendiri kembali' ke kamarnya. Membersihkan diri dan berganti pakaian. Kini dia memakai baju berwarna hijau biru. Hijau dan biru memang warna kesukaannya.
Setelah itu dia keluar menemui ibunya dan bercerita tentang pengalaman hari ini.
Nirmalasari ahirnya menyuruh Sekar istirahat dan mengobati luka. Dia kemudian ikut bergabung dengan Raksa.
Wanita itu mengagumi fisik dan pribadi Rsksa. Wanita itu kini merasa tenang dengan masa depan putrinya. Sosok Raksa dan kemampuan nya yang membuat ayahnya heran sudah cukup menjadi bukti, Raksa pemuda yang tangguh.
Mereka berbicara bantak hal termasuk tentang pertunangan. Merrka ingin Raksa lebih saling mengenal sebelum menikah.
"Dia belum sepenuhnya dewasa, tolong lebih sabar menghadapinya" wanita tua itu menatap calon menantunya dengan penuh kasih.
Raksa mengangguk. Dia tak tahu harus berkata apa.
......
Setelah beberapa hari Raksa tinggal di perguruan ahirnya dia dan Sekar mendapat kesempatan berdua.
__ADS_1
Batu sebesar kerbau dipadang ilalang kembali mendapat kehormatan menjadi singgasana sang gadis jelita. Sosoknya yang anggun seperti bunga melati diantara jutaan bunga kering.
Angin menerbangkan rambutnya yang disanggul. Beberapa helai jatuh, menari di lehernya yang putih jenjang.
Dia duduk memegang lututnya, menahan hembusan angin yang menerbangkan ujung bajunya.
Tetapi batu itu tidak sendiri. Sebongkah batu didepan juga mendapat kehormatan yang sama. Dia menjadi singgasana sang pendekar muda Raksa. Duduk setengah bersila, Raksa tak sepenuhnya menghadap Sekar.
Sekar menghadapi ke timur kearah lembah. Sementara Raksa menghadap kearah selatan. Sesekali ekor matanya melirik Sekar.
Sekar tahu tatapan itu. Dia tak bisa menolak tatapan itu. Sebab dia juga melakukannya. Mereka seolah sedang bermain lirik diantara desir padang ilalang.
"Rupanya ini tempat favorit mu, ya"Raksa menatap berkeliling. Dia mengakui tempat ini lumayan indah. Tetapi kalah kalah jauh jika dibandingkan dengan tempat favoritnya di lembah Rinjani.
Tiba tiba dia rindu tempat itu. Dia rindu dengan derai Cemara, gugusan kabut dan beningnya air danau segara Anak. Dadanya bergetar mengenang tempat yang telah menemani masa kecil dan masa remajanya yang kesepian.
"Aku suka tempat ini, bunga bunga liar dan tarian pucuk ilalang ini seperti menari menghiburku"bisik Sekar.
"Aku juga punya tempat seperti ini dipuncak Rinjani, penuh dengan bunga keabadian, harum dan tak akan layu dimakan zaman"Raksa menjelaskan dengan senyum ceria.
"Bunga keabadian, seperti apa bentuknya? Sekar penasaran.
"Seperti kau" Raksa keceplosan. Dia menutup mulutnya dengan malu malu.
"Bohong!" Sekar tersenyum. Hatinya meluap, berbunga-bunga.
Raksa melambai kearah cincin Pusaka Insani, seikat bunga bermahkota bulat putih, berukuran hanya beberapa sentimeter, batang dan daun hijau keputihan tergenggam ditangannya. Bau semerbak aroma bunga menyebar.
"Ini adalah bunga keabadian, bunga Andar Nyawa dari puncak Rinjani" Raksa mengulurkan bunga itu. Bunga yang sengaja dia bawa untuk mengobati rindu pada tempat favoritnya.
Sekar menerima bunga itu dengan tatapan penuh keterkaguman. Nama yang unik dan tak bisa layu membuatnya penasaran.
"Bunga itu rencananya untuk wanita bertopeng itu" Raksa tiba nyeletuk.
Sekar terkejut. Senyumnya sirna. Dia menatap Raksa dengan tatapan penuh murka.
"Kau, hei..mengapa kau ?"Sekar cemberut.
"Ha ... Bercanda, ketika aku turun gunung aku juga mencari keberadaan tunanganku, bunga itu untuknya, apa kau tunanganku, ha .. !' Raksa tertawa menggodaSeksr Ayu.
Sekar berdiri. Dia melompat dari batu besar, terbang seperti angin meninggalkan Raksa yang bengong.
"Hei.. tunggu aku, aku bercanda !" Raksa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Penyakitnya kambuh lagi, aduh..,!" Raksa segera melesat mengejar Sekar.
......
Sekar berlari memasuki ruang tengah ibunya heran melihat Sekar pulang sendiri.
"Sekar, ada apa, mana Raksa? " Ibunya bertanya lembut.
"Bu, Raksa menindas ku, dia.." Sekar tak bisa melanjutkan.
"Kau berbohong, apa tidak sebaliknya" ibu tersenyum. Dia tahu watak putrinya.
"Ibu .. kau membela Raksa, aku kan anakmu!"Sekar heran dengan sikap ibunya. Ibunya hanya tertawa Kecil melihat tingkah putrinya.
.......
Pendekar Bayi Geni menghirup kopi hitam dengan penuh nikmat. Dengan mengerjakan mata dia menyedot rokok daun jagung. Asap mengepul, terbang menjemput dunia impian.
"Apa benar Raksa yang menghancurkan Perguruan naga hitam?"pendekar Pecut Sakti bertanya dengan heran
"Begitulah kabar yang ku dengar, dia ternyata tunangan Sekar, anak pangeran Wirangbaya. Terus bagaimana sikap kita adik Bayu Geni?"Sunan Tembolak bertanya sambil mengunyah kacang rebus.
"Kita akan tanyakan ini pada guru besar, beliau pasti punya saran, apakah kita lanjutkan mencari mustika itu atau tidak. Bagaimana? " Dia bertanya kepada dua sahabat didepannya.
Sunan Tembolak dan Pecut Sakti mengangguk bersamaan.
.......
Raksa berdiri di atas bukit kecil di belakang perguruan Selendang Sakti. Matanya yang tajam mengawasi. Dia merasakan sedikit getar tenaga dalam.
Samar dia melihat beberapa orang tengah merunduk diantara daun ilalang.
Siapa mereka.
.....
Bersambung....
__ADS_1