
Dari atas pohon Raksa memperhatikan beberapa bayangan hitam yang mengendap mendekati rumah sang kakek tua. Dua orang bayangan mulai beraksi membobol Lambah halaman depan. Gerakan mereka cekatan dan hampir tanpa suara.
Beberapa saat kemudian mereka berhasil masuk. Tiga orang menyusul dua temannya di depan.Sementara dua orang berjaga di pintu masuk.
Raksa melayang turun dari atas pohon. Kehadirannya yang tiba tiba membuat kawanan pencuri itu kaget. Orang paling depan yang bertindak sebagai pemimpin maju sambil mengacungkan pedang besar.
Raksa tak menunggu lebih lama. Sorot matanya tajam menahan amarah. Dia sadar bahwa tak ada ampun untuk orang orang macam Ini. Dia segera bergerak. Para penyamun itu hanya merasakan desiran angin. Sekian detik kemudian mereka semua sudah jatuh pingsan.
Kakek Retet yang mendengar suara ribut terbangun. Dia melihat beberapa tubuh tergeletak pingsan.
Raksa meminta kakek itu membangunkan beberapa tetangga. Karena jarak rumah berjauhan butuh waktu cukup lama sehingga beberapa orang datang.
Kawanan pencuri itu segera di ikat. Esok paginya mereka dibawa ke Kerajaan untuk di adili.
.......
Siang hari. Gerimis kecil turun membasahi tanah berdebu. Menebarkan aroma tanah gersang yang menguap menyapa rongga dada.
Raksa duduk beristirahat di berugak bersama kakek Retet. Beberapa warga juga ikut hadir. Mereka beramah tamah dengan Raksa.
Pemuda itu berbicara seperlunya. Dia menghindari pertanyaan tentang identitas dirinya. Sebab dia sendiri bingung dengan itu.
Kakek Retet yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan menyadari itu. Dia merasakan raut kesedihan dan kegelisahan yang terpendam saat mereka mencoba mengorek asal usul pemuda ini.
Menjelang sore Raksa pamit untuk berjalan jalan mengitari dusun kecil ini. Kakek meminta cucunya, Kemangi untuk menemani. Gadis kecil itu nampak agak berat hati tetapi melihat tatapan kakeknya yang penuh permohonan gadis kecil itu ahirnya setuju.
Adakah yang lebih indah dari langit sore sehabis hujan?
Raksa dan Kemangi menikmati suasana kampung yang asri. Sepanjang jalan mereka lebih banyak diam. Agar tujuan mereka jelas Raksa sedikit bertanya tentang tempat yang bagus.
Kemangi membawa Raksa ke ujung timur dusun kecil itu.
Ternyata di sana ada mata air yang sangat jernih. Hutan yang lebat dengan binatang yang hobi memanjat dan aneka burung. Sungguh laksana surga ditengah gersang Savana.
Loang Gali.
Raksa memandang takjub pemandangan di depannya. Jernihnya air mengalir disela bebatuan. Gerobok Blek Tian berenang riang. Perut buncitnya membuat gerak binatang itu terlihat lucu. Raksa terpana. Di gunung dia tak pernah melihat hewan kecil ini.
Raksa menyadari Kemangi tak ada di dekatnya. Gadis kecil itu nampak duduk disebuah batu besar. Kaki kecilnya terjulur ke air sambil melempar batu batu kecil ke tengah air.
Raksa di duduk agak jauh dari gadis kecil itu.
"Apakah Kemangi sering datang ke tempat ini?" Tanya Raksa sedikit canggung.
__ADS_1
Kemangi tersipu. Bibirnya komat Kamit tapi tak ada suara yang keluar. Dia mengintip Raksa dengan ekor matanya.
"Aku sering kemari, dulu ketika ibu masih ada kami sering kesini untuk ..." Suara gadis kecil itu tersekat. Kerongkongannya terasa kering. Beberapa saat kemudian ada butiran air mata membasahi pipinya.
......
Aku ingin menjadi air mata bagimu ...
Keluar dari bening matamu. Mengalir melewati halus pipimu meski akhirnya harus gugur ...
Tapi setidaknya gugur di merahnya bibirmu. Rasanya pasti manis seperti gula. SUGAR. Hei .... Aku tak menyesal.
.......
Dedaunan tersibak. Sepasang mata tajam mengawasi muda mudi itu. Setelah cukup lama dia bergerak pelan meninggalkan tempat itu. Tubuhnya berkelebat melintasi pepohonan. Dapat dipastikan pemiliknya memiliki kemampuan bela diri yang cukup tinggi.
Dia bergerak menuju tengah hutan. Didepan sebuah rumah yang mirip markas besar dia berhenti. Beberapa penjaga menyambutnya dengan hormat.
........
"Lapor Raden, orang yang telah melumpuhkan kawan kawan kita ternyata hanya seorang pemuds. Usianya sekitar 18 tahun. Dia hanya pengembara yang mampir di dusun ini" pemuda kurusvyang mengawasi Raksa memberi laporan.
"Kemampuannya pasti tidak rendah, punya latar belakang yang tidak biasa sehingga mampu mengalahkan tujuh teman teman kita. Termasuk Si Pelet yang kita tahu punya kemampuan cukup hebat" orang yang di panggil Raden memasang wajah serius.
"Jangan melakukan apapun dulu, ini bisa berbahaya bagi kita. Pihak kerajaan pasti mencium keberadaan kita di sini. Kita harus mencari tempat persembunyian baru" titah sang Raden.
"Aku lelah melarikan diri, ayah"seorang gadis tiba tiba muncul dari ruang sebelah
Dia seorang gadis berpenampilan layaknya seorang dewi. Kulit seperti batu giok. Rambutnya panjang, hitam tergerai. Mengenakan pakaian dari sutra hijau. Sempurna menutup semua hal yang pantas di kagumi. Penampilan yang tak mengundang syahwat dan melahirkan fitnah dunia. Sungguh maha karya surga yang sempurna.
"Sekar Ayu, hanya ini cara kita bisa bertahan hidup, apakah kamu mau kelaparan atau meringkuk penjara?" Ayah anak ini terlibat perdebatan kecil.
" Ini semua karena sifat ayah yang tidak setia kepada kerajaan, kita kini menderita. Bahkan kini kita resmi jadi perampok, aku tidak setuju cara hidup seperti ini!" bisik gadis itu.
Dia menatap ayahnya dengan tatapan menusuk. Tatapan yang biasanya menyimpan kelembutan itu kini memercikkan api. Sang ayah terkejut dengan sikap itu.
......
Melihatmu tersenyum, itu caraku memastikan bahwa duniaku baik baik saja.
........
Sekar Ayu pergi. Meninggalkan ayahnya dan memilih untuk mengembara. Hidup sebagai buronan dan berbuat kejahatan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Kisah penuh liku baru saja terbentang dihadapannya.
__ADS_1
Apakah dia harus pergi menemui ibunya dan siap mendengar dongeng menyebalkan tentang tunangannya, siapa pula dia?
.......
Pagi yang indah.
Raksa berpamitan kepada kakek tua dan cucunya Kemangi. Dia berjanji akan mampir jika ada kesempatan. Kedekatan dengan orang tua seperti menemukan keluarga baru. Seorang kakek dan adik kecil yang dingin seperti salju yang menutup bongkah bebatuan
Dia menuju desa Lenek. Hanya butuh setengah hari. Dia melewati hutan lebat dan gugusan pohon bambu. Beberapa bekas pencari kayu nampak jelas. Apakah hutan ini akan rusak/Talo?
Ini akan menjadi kampung halaman saudara Marhaen, hei ..... ,!!!! bukan Marhaeni !!!!!
Melewati sungai kecil Raksa melihat sepintas bayangan berwarna seseorang berbaju hijau. Gerakannya anggun. Seperti kupu kupu diantara mekar bunga bunga. Sayangnya, wajahnya ditutupi topeng.
Langkah kakinya ringan menapak direrumputan.Wanita itu meneliti keadaan sekitar. Nampaknya dia ingin membersihkan wajahnya. Ketika dia bermaksud melepas topengnya dia merasakan kehadiran seseorang.
Sebagai seorang yang berlatih tenaga dalam, dia merasakan tekanan kekuatan sedikit menekan kekuatannya.
Dia waspada, mungkin saja dia seseorang yang ditugaskan memburu dia dan ayahnya.
......
Aku menemukanmu, terasing!!
Terpapar duka dan terjangkit sepi
Dunia luas ...
Umur pendek ...
Maukah kau ikut serta denganku untuk mengelilinginya?????
........
Sekar Ayu melompat, sebilah pedang tipis berwarna hijau menebas, mengancam sesosok tubuh yang terkejut dengan serangannya yang tiba tiba, serangan yang mengarah ke jantungnya.
"Apakah jantung ini milikmu sehingga kau ingin mengambilnya? " Raksa menggerutu sambil menghindari serangan itu ...
Hei....!!!!
,ππβΊοΈπ
Bersambung ...
__ADS_1