Kabut Cinta Sang Bidadari

Kabut Cinta Sang Bidadari
Pendekar Selaksa Angin


__ADS_3

Benda ditangan Darmiliawati tidak terlihat mewah apalagi mahal.


Itu hanya sebuah gelang terbuat dari batu zamrud. Sederhana tetapi mengandung kesan menenangkan.


"Ini melambangkan kesuburan dan kesejahteraan, cobalah!" Darmiliawati memakaikan gelang itu ditangan kanan Sekar.


Gelang hijau yang melingkar menjadi bukti bahwa Sekar adalah menantu keluarga Wirangbaya.


Darmiliawati mengulas kisah indah dibalik gelang itu. Kisah yang sama saat ibu mertuanya memakaikan gelang itu ditangannya. Sama seperti kisahnya saat ini.


"Pasangan yang belum menikah tidak boleh hidup bersama, jadi begitu Raksa kembali kalian harus segera menikah agar tidak terjadi fitnah, Semoga aku segera diberkahi oleh cucu-cucu yang sehat, gagah seperti Raksa dan cantik sepertimu".


Mendengar kata cucu Sekar tersenyum. Terbayang dibenaknya sosok lucu dan imut berlarian sambil berteriak memanggilnya ibu. Membuatnya senyum-senyum sendiri.


Darmiliawati menyentuh pipi Sekar. Gadis itu kaget. Dia menatap malu-malu wajah calon ibu mertuanya. Keduanya lalu tertawa dengan keras.


Darmiliawati kemudian mengambil sisir dan mulai merapikan rambut hitam Sekar yang tergerai. Setelah itu dia mengikatnya dengan rapi.


Usai memanjakan Sekar didalam kamar. Darmiliawati mengajak Sekar ke belakang rumah. Memberi kejutan yang membuat gadis itu terpesona.


Dihadapan Sekar terhampar kebun bunga yang indah. Tumbuh subur dan terawat. Ditengah tengah taman itu terdapat sebuah telaga kecil dengan air yang bening.


Darmiliawati memperkenalkan surga kecilnya. Tempat menghabiskan waktu saat dia merindukan Raksa. Menikmati kepakan sayap kupu kupu beraneka warna.


Sekar takjub. Dia berlari dari bunga ke bunga. Menikmati keindahan dan keharuman yang merebak. Membuat sosoknya yang anggun terlihat bagai dewi ditaman nirwana.


.......


Pendekar Selaksa Angin menyambut kedatangan Raksa dengan tatapan bangga. Berapa tidak. Raksa datang dengan kondisi tak terduga. Tenaga dalam melimpah, meridian yang kokoh dan bersih. Selain itu Raksa juga memiliki darah yang kebal terhadap racun tingkat tinggi.


Raksa juga datang membawa beberapa jenis jamur langka dan tanaman berhasiat. Bahkan ada yang dianggap sudah punah. Seperti bunga patah hati dan rumput pembalik jiwa. Rumput dengan dua warna yang berguna untuk ramuan lelaki yang ingin beristeri dua.


Rumput incaran para raja dan pejabat tinggi.


Raksa lalu mencerikan masalah penting yang dihadapinya. Tentang situasi hidup mati dan bahaya Sekar. Keinginan Roh pedang dan jurus dan pukulan Sakti yang diinginkan Roh pedang.


Pendekar Selaksa Angin tersenyum lembut. Dia memahami kondisi Raksa.


Dia lalu membawa Raksa ke tempat rahasia. Letaknya disebuah tebing terjal didekat Pancoran Mas.


Pancoran Mas adalah nama sebuah mata air yang mengalir disisi timur Gunung Rinjani. Disebut Pancoran Mas karena airnya bercampur belerang. Ketika diterpa sinar matahari sepenggalah warnanya kuning seperti emas. Indah menyilaukan mata.


Jika musim hujan airnya akan mengalir membentuk anak sungai. Tempat yang pas untuk menyepi dan berimajinasi bagi pengembara dan pengelana sepi.


Pendekar Selaksa Angin memperkenalkan tempat favoritnya. Tempat dia berlatih dan menghabiskan beberapa dekade kehidupannya.


Dilindungi mantra suci. Gua tersembunyi itu ternyata menyimpan benda benda sakti dunia persilatan tanah Selaparang. Mulai dari berbagai keris, tombak, pedang dan baju pelindung perang.


Semua ini adalah koleksi Pendekar Selaksa Angin. Didapatnya selama mengembara mengelilingi bumi Selaparang.


Lelaki tua itu lalu mengarah ke dinding gua. Mengambil peti hitam. Isinya adalah kitab kuno yang lusuh dan butut.


Kitab Selaksa Angin.


Kitab rebutan para pendekar dari penjuru nusantara. Salah satu ilmu paling Sakti yang ditulis oleh pendekar pilih tanding, pengawal pribadi Dewi Rinjani. Raden Barong Segeti.


.....


Raksa membuka halaman pertama kitab itu. Isinya adalah pesan dari pengarangnya. Meminta pewaris ilmu ini untuk mempergunakan ilmu itu dalam kebaikan.


Halaman kedua berisi tentang sejenis ilmu pertahanan tubuh. Ilmu Ampan Lolat. Ilmu kebal yang membuat pemiliknya keras dan licin seperti batu cadas.


Raksa butuh satu minggu dalam bimbingan sang guru untuk menguasai ilmu itu.

__ADS_1


Kemudian pada halaman ketiga Raksa harus mempelajari jurus Selaksa Angin. Jurus pedang tujuh tingkat dengan kesulitan gerak misterius.


Jurus ini adalah pasangan utama pedang pusaka Ruyung Hitam. Dengan jurus ini Raksa seolah dibawa masuk ke dalam dimensi berbeda. Gerakan yang indah penuh filosofi.


Pada halaman keempat tertulis Ajian pamungkas Luka Angin. Pukulan Sakti tanpa bentuk. Setelah berhasil menguasai Raksa mampu menghsncurkan benda dengan kekuatan tanpa bentuk. Tak ada energi yang tampak tetapi mempunyai daya rusak hebat. Kehebatannya tergantung tinggi rendahnya kekuatan tenaga dalam.


Halaman terakhir adalah gambar beberapa mahluk yang pernah ada dalam legenda. Gambar seekor naga, kuda, burung dan hewan lain dengan bentuk ikan dan serangga.


Binatang dalam gambar tersebut terikat Kontrak dengan pengarang kitab Selaksa Angin. Keberadaan kini menjadi penjaga keagungan Gunung Rinjani. Tertidur dalam dimensi gaib yang hanya mampu dimasuki oleh orang-orang tertentu saja.


Sosok binatang itu dapat dipanggil sebagai mitra tempur dalam keadaan terdesak. Beberapa nama panggilan dan cara khusus untuk memanggilnya dijelaskan secara garis besar.


Raksa teringat pertempurannya dengan wanita bertopeng perak. Kemampuan mitra tempurnya mirip dengan isi akhir kitab Selaksa Angin.


Siapakah dia sebenarnya?


........


Seekor kupu-kupu terbang rendah dan hinggap dipucuk bunga mawar merah. Sayapnya seperti potongan warna pelangi.


Sekar menatapnya dengan takjub. Tangannya terulur menawarkan tempat persinggahan. Kupu-kupu iyang merasa terusik memilih terbang menjauh.


Dia telah melewati tiga purnama dalam penantian. Selama itu dia telah belajar banyak hal.


Dia belajar menenun dan memasak. Belajar mengasuh anak warga desa yang mungil dan lucu. Meski takdir tentang hidup dan kematian mrnghantui. Warga desa tetap semangat menjalani hidup.


Kehadiran Sekar menjadi buah bibir warga. Sosoknya yang sempurna dengan pribadi yang penuh kelembutan membuat semua orang jatuh cinta.


Tiga purnama kepergian Raksa telah muncul puluhan hati yang siap bertarung memperebutkan hati sang bidadari jelita.


Kakek-kakek tua yang sudah ringkik, anak muda pengembala sapi dipasang rumput sampai bocah kecil dengan ingus. Meski hanya sebatas angan.


Cinta adalah kasih tanpa nama.


Bening seperti air danau di pegunungan


Manis, semanis senyum kekasih yang setia


......


Dua bulan lagi kompetisi para pendekar tanah Selaparang akan dimulai. Panitia yang ditugaskan oleh kerajaan telah bekerja keras.


Panggung megah dari batu gagak hitam telah berdiri dilapangan istana. Siap menjadi tempat adu ilmu dan senjata sakti para pendekar.


Kategori pemula dan kelas adidaya. Masing masing dibuatkan panggung berbeda.


Hadiah bagi pemenang sangat menggiurkan. Mulai dari uang dan jabatan penting. Selain itu ada juga beberapa oleh-oleh ilmu dari raja Selaparang yang terkenal sakti mandraguna.


Undangan telah disebar. Meminta kehadiran para jago untuk meramaikan kompetisi. Sekaligus ajang silaturrahmi.


Perguruan aliran putih yang mendapat di undangan untuk mengirim peserta semakin keras mendidik murid berbakat yang akan dikirim ke kompetisi.


Termasuk perguruan-perguruan kecil yang baru berdiri, tersebar di seluruh wilayah kerajaan Selaparang.


Bahkan ada yang membuat kompetisi kecil antar perguruan untuk sekedar uji tanding. Memberikan pengalaman tempur sebelum kompetisi dimulai.


Untuk peserta perseorangan perlu mengambil sendiri undangan peserta dengan beberapa syarat. Silsilah keluarga atau guru yang menjamin mereka adalah aliran putih.


Perguruan aliran hitam yang mempelajari ilmu untuk berbuat kejahatan seperti menipu, merampok, memperkosa baik itu anak gadis atau isteri tetangga, buronan kejahatan karena berhianat atau lari karena tak mau membayar hutang tidak termasuk kategori.


Orang seperti itu adalah sampah. Tak ada harga diri. Mereka pantas membusuk dipenjara sebelum dibakar di neraka yang menyala.


.......

__ADS_1


Pendekar Selaksa Angin mengawasi Raksa yang sedang duduk bersila menyatukan rasa. Memusatkan konsentrasi untuk memanggil beberapa hewan legenda pertempuran yang terikat kontrak dengan kitab Selaksa Angin.


Tanah bergetar. Udara memanas. Desir angin menerbangkan debu dan kerikil.


Wuss!!!


Sosok panjang ratusan meter, bersisik, mata merah menyala dan cakap kokoh dari bahan mengaum memecah kesunyian lembah. Muncul dari gugusan kabut.


Detik berikutnya teriakan melengking, sosok Rajawali perak dengan sayap ratusan meter terbang mengitari puncak perbukitan.


Detik paling mendebarkan menghadirkan hawa panas dan suara ringkik kuda. Suaranya membahana menggerakkan dinding gunung dan menggema menyapu ruang waktu.


Tiga binatang itu bergerak memamerkan karakteristik masing masing. Elang Raksasa bahkan berputar diatas kepala Pendekar Selaksa Angin.


Pendekar Selaksa Angin memberi perintah kepada Raksa untuk berinteraksi dengan binatang-binatang itu.


Ketakutan dan keraguan mengawali interaksi mereka. Setelah meyakinkan diri dan mencoba dia berhasil. Binatang itu siap bertempur membasmi kejahatan.


Raksa bahkan mencoba beberapa jurus. Pendekar Selaksa Angin mengendalikan rajawali raksasa. Raksa beraksi diatas kuda Semberani. Kuda perang dari api meringkik, menerjang, menghancurkan bebatuan dengan tapak kaki yang menyala.


Tapak kaki binatang api itu bisa membesar, meluluhkan satu bukit kecil dengan sekali pijak.


Pendekar Selaksa Angin tersenyum puas. Hasil yang dicapai melebihi harapannya.


.......


Jauh dikedalaman Gili Lebur.


Delima membuka topeng perak penutup wajahnya. Topeng yang hampir sepuluh tahun menemani langkah pertualanganya diluar Gili.


Wajahnya termasuk sempurna. Tipe wajah yang bisa menenangkan siapa saja. Tetapi kenyataannya telah menebar teror dan malapetaka.


Apakah ini menjadi alasan bahwa gagah dan cantik tak menjamin isi hatinya?


Seorang gadis kecil masuk dan berdiri dibelakang gadis itu.


"Guru memanggil kakak, beliau menunggu di kamarnya!" Gadis itu berbalik pergi.


Memasuki kamar yang gelap gadis itu langsung berjongkok di samping tempat tidur.


"Guru, aku datang" gadis itu berbisik pelan.


Wanita yang terbaring di ranjang membuka mata. Bibir pucatnya bergetar. Tangannya lemah terangkat mencoba menggapai gadis itu.


"Delima, kau telah pulang, aku khawatir ..." Air mata mengalir membasahi pipinya yang keriput. Kurus tinggal kulit dengan warna pucat.


Guru dan murid itu terlibat dalam percakapan pelan yang mengharukan. Membuat dada siapapun akan meledak dalam haru.


Pesan sang guru diujung akhir kehidupannya.


"Jadilah gadis baik. Jangan ikuti langkahku yang tersesat. Ternyata itu menyakitkan. Di ujung ajalku ini betul-betil ku rasakan. Carilah pasangan hidup. Kau pantas untuk hidup bahagia. Jaga adikmu. Kutitipkan segala yang kumiliki dipulau ini. Jaga dan pelihara. Berjanjilah padaku point' pertama. Jadilah gadis baik...." Dia berbisik. Seperti sapuan angin didaun saat senja merapat remang. Kemudian mata itu terbeliak. Diam untuk selamanya.


Delima dan gadis kecil berjongkok disamping pusara sang guru. Mengucapkan kalimat perpisahan.


"Apakah kita akan benar-benar pergi kak, jika kita pergi siapa yang akan merawat pulau ini?"gadis kecil mendongak menatap sang kakak.


"Kita akan pergi untuk kembali, pulau ini akan baik-baik saja" Delima berjongkok dan memeluk gadis kecil itu.


Kabut tipis mengembun membungkus tubuh kedua gadis itu. Bergerak seperti mimpi ditiup angin. Selanjutnya sirna tanpa bekas.


......


Pemuda bermata biru menyapa seorang gadis yang duduk termenung seorang diri menikmati senja.

__ADS_1


"Bidadari Kecilku, aku kembali" ....


... Bersambung ...


__ADS_2