
Raungan binatang buas menggema dari balik gugusan kabut. Menggetarkan setengah dari dataran Gili.
Pendekar Pemecah Gelombang berdiri terpaku sama seperti terakhir kali dia menghadapi serangan ini.
Pecut Sakti bertindak sebaliknya. Dia melompat mundur puluhan meter. Langkah terakhirnya terhenti ragu.
Bahaya mengancam jiwa pendekar Pemecah Gelombang.
Sunan Tembolak menutup matanya. Dia tak ingin melihat sepasang mata yang selalu dikaguminya.
Dulu mata itu menutup diri tepat dipangkuan nya. Lalu terpejam untuk selamanya. Kini mata itu hadir lagi, maka biarkan matanya yang terpejam dan tak pernah terbuka lagi.
Delima menatap Pendekar Pemecah Gelombang dengan tanpa berkedip. Menatapnya lekat dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Dia tak terlalu tinggi. Kulit sawo matang, rambut ikal tebal dan tubuh sedikit gempal. Lumayan gagah untuk ukuran seorang lelaki. Cocok jadi pejabat atau juragan tanah.
Apakah benar sosok ini yang telah membunuhnya ataukah kisah kematiannya tak seperti dugaannya?
Guru sekaligus orang tua mereka memang tak setuju kakaknya menikah dengan Pendekar golongan putih.
Pecut Sakti yang melihat gadis bergaun merah menahan diri mencoba memanfaatkan situasi.
"Hentikan seranganmu, kami datang bukan bermaksud jahat. Pendekar Pemecah Gelombang ingin menjelaskan persoalan kalian. Aku mohon, terakhir kali kau menyerangnya dia hampir mati" Pecut Sakti memohon.
Delima menghentikan serangannya. Tangan yang terangkat mendorong, serangkum angin keras menghantam tubuh Pendekar Pemecah Gelombang.
Tubuh Sunan Tembolak melayang dan terhempas menghantam semak.
"Pergi, tinggalkan Gili ini, jika tidak aku tidak akan menahan diri" Delima berbalik hendak pergi.
"Tunggu, beri aku kesempatan untuk menjelaskan kejadian kematian Pujawati!" Sunan Tembolak bangkit dan menghampiri Delima.
Pecut Sakti yang tahu bahaya akan datang lagi menahan langkah Sunan Tembolak.
Delima berbalik dan pergi. Langkahnya pelan seolah menghitung kepastian bumi menerima hentakan kakinya yang ringan.
Tak ada yang melihat, setitik bening mengalir membasahi mata indahnya.
Dia menangis. Tangis yang dia sendiri tak mengerti untuk siapa.
"Aku akan menunggu disni sampai kau mau mendengarkan penjelasanku. Aku sudah siap untuk resiko apapun yang kau tawarkan. Aku moho " Sunan Tembolak berteriak dengan emosi kesedihan.
" Aku tidak butuh penjelasan, simpan rahasia itu sampai kematian menjemput mu" Delima tetap melaju menuju istana kecilnya ditengah Gili . . .
" Delima aku datang, dimana kau!" Suara kasar dan berat terdengar dari sisi barat yang merupakan pintu masuk ke Gili.
Mengiring gema terikannya, kawanan burung laut yang tengah asik melepas lelah beterbangan ketakutan.
Tubuh tinggi besar dan berotot melesat dari satu pohon ke dahan pohon lain. Langsung menuju istana Gili Lebur.
" Delima aku datang!" Lelaki itu langsung menghempaskan tubuhnya keatas kursi dari rotan di ruang tunggu tamu.
Seorang gadis kecil datang dari balik pintu. Wajahnya yang cantik dan polos tersenyum.
"Kakak sedang istirahat, dia tidak akan datang menemui paman, apa paman akan menunggu?" Gadis itu bertanya polos.
Lelaki itu berdiri dan memegang pundak gadis kecil itu. Tangan kasarnya mencengkeram sehingga gadis itu meringis kesakitan.
" Paman kau menyakiti aku, lepaskan!" Gadis itu meronta-ronta.
Lelaki kasar melotot kearah gadis kecil itu.
*Aku tidak akan menunggu seperti twry kali aku datang kesini. Cepat panggil kakakmu atau aku akan masuk sendiri dan menyeretnya keluar!"
Gadis kecil itu mulai ketakutan. Dia mulai menangis pelan. Tangan kecilnya berusaha melepaskan cengkeraman tangan lalaki itu di pundaknya.
" Lepaskan gadis kecol itu, apa kau tidak malu menyakiti gadis yang tidak berdaya!" Suara datar penuh ancaman menahan gerak lelaki itu.
"Hei .. siapa kalian, mengapa kalian bisa ada disini, apa kalian bosan hidup dengan ikut campur urusanku?" Mata lelaki itu menyipit. Lima garis datar tercipta didahinya yang lebar. Rambut tipisnya turun naik dan terkihat lucu.
" Kami hanya pengelana, sedikit urusan membawa kami kesini, cepat lepaskan gadis kecil itu, atau ku patahkan tanganmu!" Pecut Sakti ikut emosi. Dia paling tidak suka ada orang menyakiti anak gadis yang lemah.
" Ha ...ha... Aku pendekar Serek Bokos, seumur hidup tak pernah menerima perintah dari siapapun, sekarang kau malah mengancam ku!" Tangannya mendorong gadis kecil sampai terjerembab.
Dengan gerak kasar melompat kehalaman. Dia berdiri sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
" Ayo, kita selesaikan dengan cara laki laki. Jika kau mampu menahan tiga seranganmu, maka aku akan melepaskan gadis iecil itu!" Dia menunjuk Pecut Sakti . . .
Sekar menatap suaminya dengan muka cemberut. Mata indahnya berputar mengikuti gerakan jarinya yang menunjuk dada Raksa.
"Ada apa, mengapa kau bertingkah seperti anak kecil?" Raksa.
*Aku bosan, aku ingin jalan-jalan, turnamen kan nanti sore, bawa aku pergi ke tempat yang bagus!" Sekar merajuk.
Raksa mencubit hidung Sekar. Dia tertawa kecil dan menarik tangan isterinya.
"Ayo, kita pergi menikmati indahnya lautan biru, kita belum pernah ke laut. Aku mendengar Laut Kayangan Selaparang sangat indah" Raksa menyeret Sekar menuju halaman belakang.
Hutan kecil menyamarkan kehadiran sosok kuda api yang berpijar jndah. Membawa terbang dua sosok menuju angkasa . . .
Tiga jurus yang dijanjjkan ternyata bukan omong kosong belaka. Dua pukulan mendarat di perut dan dada Pecut Sakti.
Menerima dua pukulan membuatnya bertarung serius. Kini dia sudah mengeluarkan senjata andalannya.
Suara menderu dan mencuit diringi ledakan memburu sosok tinggi besar yang menghindari ujung cambuk sambil tertawa-tawa.
" Kau bukan lawan tandingku, senjatamu itu cocok dipakai oleh kusir kuda, jadi tak ada artinya bagiku!" Suara ejekan itu membuat Pecut Sakti semakin menyerang dengan ganas.
" Kau terlalu banyak cakap!" Pecut sakti menebas. Letusan cambuk menggema, daya serangnya berubah aneh. Penuh tipuan.
Tas!!!!
Ujung Pecut meletus diwajah lelaki itu. Nampak gurat merah melintang dan membuat ujung bibir nya yang tebal bengkak.
*Kau berani melukai wajah tampanku!" Dia kini betul betul marah.
" Ha... Kau bilang dirimu tampan, hello...apa kau tak pernah berkaca, ha...!" Pecut Sakti tertawa mengejek.
" Hati hati paman, dia sangat kejam!" Gadis kecil meneriakkan peringatan kepada Pecut Sakti.
Tubuh lelaki besar itu bergetar. Asap kehijauan menyelimutinya. Mendadak tubuhnya berubah menjadi besar. Dua kali lipat dari semula. Ototnya betonjolan, mengeras seperti palang baja.
"Tunjukkan kehebatan cambukmu!" Dia mendelik marah.
Cambuk sakti memutar cambuk diudara. Cahaya merah menyelimuti. Pukulan Cambuk Api. Suara meletus bernada sakit merobek langit.
Bunga api memercik. Tiga kali ujung cambuk menusuk tubuh lelaki itu.
Serek Bokos tak bergeming. Tak ada luka bahkan goresan kecil tak tersisa.
Pecut Sakti terkejut. Senjata andalannya tidak berguna. Dia putus asa.
Wusss!!!.
Tangan besar sekeras palang baja menderu. Tak sempat menghindar, tubhny terpental puluhan tombak. Menghantam sebuah pohon sehinggu berderak tumbang.
Sunan Tembolak tidak tinggal diam. Dia melesat menghampiri sahabatnya. Memeriksa luka.
Dia sedikit lega. Pecut Sakti masih hidup. Luka dalam yang diterima akibat pukulan tadi membuat beberapa organ dalamnya terluka.Tulang bahunya remuk.
Sunan Tembolak menotok titik yin dan yang di punggung Pecut sakti mengehentikan pendaray internal. Beberapa butir obat langsung di berikan.
Darah yang dari mulut dan telinga Pecut Sakti berhenti mengalir. Kesadaran nya belum pulih.
Gadis kecil berlari menghampiri Pecut Sakti. Dia terlihat panik.
" Dia masih hidup, tolong jaga dia sebentar, aku akan mengurus moster ini!" Sunan Tembolak membaringkan Pecut Sakti ditempat yang aman.
Gadis kecil berlari ke dalam istana Gili Lebur . . .
Sunan Tembolak berdiri dengan wajah masam. Tak pernah terbayang masalah yang dihado akan berubah runyam.
Hawa dingin merebak. Tanah dan pepohonan mendadak dilapisi gugusan es. Seolah musim salju jatuh salah alamat.
Serek Bokos mengerang marah. Dia tahan segala jenis senjata tetapi hawa dingin yang menusuk tulang membuat otaknya pusing dan tubuhnya mati rasa.
Serek Bokos meraung marah. Dia bergerak menerjang. Bumi bergetar seolah gempa melanda. Dia melompat dan tangannya meluncur.
Sunan Tembolak tak tinggal diam, ombak es melaju kedepan, membekukan jalur serang.
Serek Bokos membeku. Tubuhnya dilapisi es. Dia meraung. Otot-otot ditubuhnya memerah.
__ADS_1
Paku es berjumlah ratusan berdesing menghantam tubuhnya. Dia memang tak terluka tetapi sensasi dingin sangat menyiksa.
Duar!
Lapisan es pecah. Belum sempat dia bwrgwy bebas ombak es kembali membekukan tubuhnya.
Kejadian ini berlangsung beberapa kali.
Serek Bokos benar benar menderita. Matanya memerah.
Sunan Tembolak berusaha mempertahankan lapisan es tetap menahan tubuh raksasa besar itu. Meski dia harus berjuang dengan menahan derita.
Energinya hampir terkuras. Dia juga belum sembuh total. Musuhnya sangat tangguh. Seolah terbuat dari baja.
Bagaimana cara mengalahkannya? . . .
Delima yang sedang mengurung diri di kamar khusus mendengar suara gemuruh.
Dia segera melesat keluar. Beberapa ruangan dilewati dengan langkah secepat kilat.
Dia hampir sampai di pintu terakhir ketika sosok gadis kecil menerobos masuk.
" Kakak, tolong orang itu, Paman Serek Bokos melukainya!" Delima menemukan kepanikan diwajah Merah Kepundung.
Delima membeku sejenak. Dia berjongkok dan menatap gadis kecil itu sambil menggeleng.
" Kakak tidak bisa, mereka yang telah membunuh Kakak Pujawati!"
Merah Kepundung memegang tangan Delima. Dia menatap penuh permohonan.
"Dia terluka karena membelaku, paman Serek Bokos menyakitiku!"
Delima membeku. Dia tak berbicara cukup lama. Melihat sorot mata gadis kecil dihadapan nya akhirnya dia luluh juga.
Kabut tipis merebak menutupi tubuh mereka berdua. Selanjutnya melesat keluar menuju arena pertempuran . . .
Raksa dan Sekar melayang melintasi gugusan awan. Menatap birunya air laut. Ombak yang berkejaran. Setia membasahi gersang pasir dan meramaikan tarian sang kepiting.
Pohon kelapa melambai, beberapa perahu nelayan hilir mudik. Sebagian tertambat dibibir menanga. Berjajar mengahadap perumahan penduduk.
Desa Menanga Baris. Lokasi mancing favorit Bintang Samar dan Mancingmania Mantap😁
Raksa dan Sekar melayang mengarungi udara menikmati indahnya Pantai Kayangan.
Pemandangan yang indah sedikit terusik oleh gerombolan burung camar dan bangau putih yang berhamburan dari sebuah Gili di kejauhan.
Apa yang terjadi di Gili itu?
" Sepertinya kawanan burung ini terbang ketakutan" Sekar penasaran.
"Aku merasakan luapan energi yang lumayan hebat dari Gili itu, apakah itu Gili Lebur?" Raksa penasaran.
Mendengarkan Raksa menyebut nama Gili Lebur raut wajah Sekar berubah.
Bayangan gadis genit dibalik topeng perak mengisi benaknya.
" Aku merasakan getar tenaga dalam yang lumayan besar berasal dari Gili itu, sepertinya ada yang bertarung!" Raksa mengarahkan laju Semberani ke arah Gili Lebur.
Daya rusak dan perlindungan ajian Pemecah Gelombang semakin melemah seiring menipisnya tenaga yang mampu disalurkan oleh Sunan Tembolak.
Kondisi Pecut Sakti juga membebani pikirannya sehingga beberapa laju paku es dan pormasi serangnya kacau.
Sunan Tembolak menggigit ujung lidahnya. Dia tak punya pilihan lain.
Ditatapnya langit biru memanggil senajata legendarisnya.
Wessss!!!
Cahaya keperakan berpijar dilangit. Sebuah bayangan benda aneh melesat turun. Seolah dikirim dari surga.
Benda itu berputar-putar sebelum ahirnya tergenggam ditangan Sunan Tembolak.
"Serang !" Teriakan Sunan Tembolak mengawali kilatan cahaya perak menimbulkan suara seperti dengung ribuan tawon.
Hei ..!!
__ADS_1