
Raksa berdiri tegak dihalaman tumah Raden Wirang baya. Dihadapannya para tokoh desa berkerumun, berbisik tentang situasi yang terjadi dihadapan mereka.
Raden Wirang baya segera membawa isterinya masuk. Membaringkannya di atas tempat tidur. Dibelainya wajah perempuan yang telah merawat dan menemaninya selama dua puluh tahun. Melewati suka dan duka.
Isteriny bernama lengkap Darmiliawati. Gadis desa yang ditemuinya saat dalam pengembaraan mencari pengalaman. Kisah cinta yang mereka jalin tak semulus tembok istana. Penuh liku, keraguan karena terpisah jarak dan waktu.
Dia harus meyakinkan ayahnya yang meragukan pilihannya. Sang bunda seolah netral tetapi diam diam mendukungnya.
Dia juga harus berjuang menolak halus beberapa gadis bangsawan yangvdidodorkan Sang ayah dan orang tua mereka sendiri. Dengan halus dia menolak semuanya. Sampai akhirnya semua orang menyerahkan pilihan pada padanya.
Dengan penuh kasih sayang dia mencium kepala isterinya. Menyelimutinya dengan selimut tenun khas desanya. Ragi Blek.
Selimut itu hasil kerajinan para gadis desa ini. Mereka harus mampu menenun kain sejenis dalam jumlahmlah selusin baru dianggap dewasa dan siap menikah. Sementara calon suami harus memelihara sapi sampai beranak pinang. Bukti kedewasaan dan kemampuan menjaga dan mencari rizki.
Sungguh sebuah tatanan adat yang luhur. Sebab berumah tangga adalah hal serius, dibutuhkan banyak hal untuk sukses menjalaninya.
Raden Wirang baya beranjak dari tempat tidur dan keluar menemui kerumunan. Dia memberi isyarat pada Raksa untuk duduk. Penginang sirih diletakkan didepannya sebagai tata cara penyambutan tamu.
Beberapa saat sepi menyapa semua orang yang hadir. Raksa duduk berhadapan dengan Raden Wirang Baya. Disampingnya para tetua desa duduk bersila menunggu kejelasan maksud kedatangan pemuda didepan mereka.
Setelah beberapa saat Raden Wirang baya meminta Raksa memperkenalkan diri dan menceritakan maksud kedatangannya.
Raksa ragu karena ini bersifat pribadi. Tetapi Raden Wirang baya meluruskan bahwa disini mereka adalah satu keluarga. Jabatan hanyalah simbol. Tujuannya ada hanya agar tercipta hidup yang teratur dan disiplin. Diluar itu mereka sama, keluarga.
Raksa menceritakan maksud kedatangannya. Mencari kejelasan tentang siapa orang tuanya.
Raden Wirang baya terdiam sebentar. Setelah beberapa saat dia menatap para sesepuh desa. Semua yang hadir tak berani menatap lama wajahnya.
Raden Wirang baya meminta maaf pada semua yang hadir. Selama ini dia telah menyembunyikan satu hal.
Sembilan belas tahun yang lalu, ketika isterinya hamil tua dia membawa nya pergi dengan alasan mengunjungi orang tua. Tetapi sebenarnya dia pergi menyembunyikan kelahiran putranya. Setelah lahir anskniyu di serahkan pada seorang sakti. Pendekar Selaksa Angin. Dia ingin anaknya didik menjadi pendekar. Tetapi sebenarnya dia khawatir tentang keselamatannya. Misteri kehidupan didesa ini, setiap kelahiran berarti Kematian
Raksa ahirnya paham siapa dia dan siapa kedua orang tuanya.
Ada rasa mirip es Sordang di dadanya. Bercampur aduk antara memahami dan membenci. Dia tidak percaya ada takdir hidup serumit ini. Takdirnya. Takdir desa dan seluruh warganya.
"Maafkan kami, Ayah dan ibumu. Kami tidak punya pilihan lain. Membiarkanmu seolah mati selama delapan belas tahun. Kami ingin datang menjemputmu setelah genap usiamu delapan belas tetapi tuhan berkehendak lain. Maafkan kami" Raden Wirang baya menatap Raksa dengan tatapan bersalah.
Raksa tidak bisa berkata apa-apa. Dia butuh waktu untuk mencerna situasi ini.
Tiba tiba sesosok tubuh menghambur merangkul Raksa. Tangis parau dan pelukan erat seorang wanita. Dia terkejut dan ingin mendorongnya, tetapi jauh dilubuk hatinya ada rasa kerinduan yang membuncah. Tangannya gemetar. Dadanya bergemuruh.
"Ibu ...!' batinnya berteriak. Teriakan itu tak mampu melewati melewati kerongkongannya. Lidahnya kelu.
"Maafkan ibu, anakku, ibu bersalah padamu!" Darmiliawati menatap wajah putranya. Membelai sekujur tubuh dan memastikan bahwa dia tak bermimpi.
Dia telah menemukan putranya. Dia telah kembali. Tidak akan ada lagi rindu yang terbang membelah sayap malam dengan sayap kegelisahan.
Dia tak peduli berapa banyak kerut diwajahnya karena dia telah punya jawaban yang lebih menyiksa. Putraku ada dihadapan ku.
Setelah suasana lebih tenang Raksa mengeluarkan sebuah tabung bambu dari cincin Pusaka Insani. Kini saat yang tepat untuk membuka rahasianya.
"Raksa, aku meminta kau membuka surat ini setelah kau yakin telah menemukan orang tuamu, itu untuk mengulur waktu. Ketika surat ini kau buka, aku yakin umurmu pasti sudah memasuki usia delapan belas tahun. Mungkin saja lebih. Maafkan kedua orang tuamu. Mereka melakukan ini untuk menjamin keselamatan mu. Raden Wirang baya dan Darmiliawati adalah ibumu"
,........
Tiga orang penunggang kuda memacu binatang tunggangannya seperti kesetanan. Binatang bertenaga raksasa itu melaju seperti angin meninggalkan kepulan debu berterbangan.
Mendekati wilayah perguruan Naga Hitam langkah kuda kuda itu sedikit melambat. Pintu gerbang ltrrbuka dan gerombolan itu melesat masuk tanpa jeda.
__ADS_1
.....
"Ha ...ha ... Bagus sekali hasil kerja kalian, aku puas!" Rekso Jiwo memegang pundak Rekso Pati dan mengguncangnya bahagia.
"Selanjutnya, apa yang harus kita lakukan, Ketua?" Rekso Pati bertanya.
"Kirim surat kepada perguruan Selendang Sakti bahwa Ayah Sekar Ayu ada ditangan kita. Jika dia ingin ayahnya selamat suruh dia datang sendiri kesini untuk membebaskannya. Paham!" Rekso Jiwo memberi perintah.
"Tapi Ketua, gadis itu sangat hebat, dia bisa menghancurkan perguruan kita" Kata Rekso Pati ragu dengsn rencana itu.
"Hei ... Apa kau ragu dengan otakku, ingat ... Ini perintah Kanjeng Ratu!"Rekso Jiwo melotot. Matanya yang besar dan bibirnya yang tebal menjulurkan lidah merah yang menjijikkan.
Rekso Pati menepuk jidatnya. Dia lupa orang yang ada di belakang mereka. Sosok sakti dan licik. Penguasa Tanah Kematian. Sebuah Gili di ujung timur pelabuhan Kayangan.
Letak Gili itu sekitar lima kilometer dari darat. Penuh dengan binatsng buas dan berbisa. Tidak semua orang bisa datang. Bahkan melihatnya keberadaannya juga sulit. Gili itu seolah menghilang karena ditutupi sejenis ilmu sihir.
Gili itu disebut juga Gili Lebur karena seolah tidak pernah ada. Keberadaan menjadi momok menakutkan. Sosok wanita yang kejam penghuni Gili itu sering menebar teror, menculik gadis anak gadis dari kampung disekitarnya.
,......
Sunan Tembolak mengelus jenggotnya yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Dia berpikir keras sampai jidatnya mengkerut. Nampak beberapa helai rambutnya sampai rontok.
' Bagaimana Kakang Tembolak, apa kau tidak tertarik dengan berita ini?" Pendekar Pecut Sakti yang baru pulang dari Sulawesi terus mancing rasa penasaran pendekar Pemecah Gelombang itu.
Sunan Tembolak menatap lekat pendekar Pecut Sakti. Tubuhnya yang kurus kering tinggal tulang belulang melakukan gerak yang aneh, bibirnya seperti menjilat sesuatu yang lezat.
"Hei..jangan begitu, kita ini pendekar aliran putih. Tak boleh melakukan perbuatan tercela. Itu dosa. Ingat ajaran Kanjeng Sunan Prapen, sahabat kita. Gelar Sunan yang ku terima darinya tidak boleh ternoda. Kau ada ada saja, ah..!!' Sunan Bonang marah.
"Kakang, kita datang melamar ... Bukan menculik, siapa tahu Sekar jodohmu, siapa yang berani meremehkanmu. Pendekar Pemecah Gelombang. Pecahkan hati gadis itu, bekukan!" Pecut Sakti tak mau makalah berdebat.
"Aku tak berminat, silahkan kau saja!" Sunan Tembolak memasang wajah datar.
"He, ini hidupku, aku tahu yang terbaik untukku!"Sunan Tembolak melotot, pura-pura marah.
"Jangan marah Kakang, bagaimana jika kita selidiki gadis itu, kita teliti!"
"Ah, kau ini, tapi boleh juga usulmu, lihat dulu model barangnya baru kita ambil kesimpulan" bisik Sunan Tembolak.
"Kita bersaing, setuju!" Pecut sakti meraih tangan Sunan Tembolak.
"Apa .. bersaing, kau ... !, berani sekali kau bersaing dengan Sunan Tembolak, kau tak tahu Senjerit Ratu Bayan pewarisnya adalah aku!" Sunan Tembolak bertolak pinggang.
"Kakang tidak tahu, Sulawesi aku belajar Kecial Turun tangis, kau tak tahu kehebatannya. Kambing saja jatuh cinta pada ku!" Pecut sakti tertawa terbahak.
Kedua sahabat itu larut dalam canda sambil menikmati kopi pahit di halaman perguruan Burung Laut.
........
Ki Buyut Bayanaka menerima pesan dari Raden Wirang baya bahwa Raksa telah kembali. Ini artinya pencarian telah di hentikan. Sebagai balasan Ki Buyut Bayanaka mengirim surat balasan mengabari bahwa ayah Sekar diculik perguruan Naga Hitam. Sekar telah pergi tanpa sepengetahuan mereka. Dia telah mengutus seseorang untuk menyusul Sekar.
......
Sekar Ayu berdiri didepan gerbang perguruan Naga Hitam. Dengan lambaian tangannya tanah terangkat, menghantam pintu gerbang hingga hancur berkeping keping.
Beberapa murid yang bertugas jaga kaget. Belum hilang terkejut mereka sebuah aliran udara seperti ****** beliung menyeret mereka terbang, terhempas bagai secarik daun yang tercampak dikaki musim semi.
Ratusan murid perguruan berhamburan membawaberbagai bentuk senjata. Mereka mencoba mengepung Sekar Ayu. Gadis itu seperti domba ditengah gerombolan serigala lapar.
Sekar tersenyum sinis. Mata indahnya menyapu kerumunan serigala dihadapannya. Tangan kiri melamba, tanah terangkat membuat keseimbangan goya, tangan kanan bergerak hembusan angin menerpa, lusinan murid perguruan Naga Hitam terkapar. Gadis itu berhenti, hawa dingin merebak, gugusan es membekukan langkah, detik kemudian api panas menderu membakar segala yang ada dihadapan gadis itu. Puluhan murid membeku dan berguling terbakar oleh api.
__ADS_1
Tiba tiba suara tawa menggema seolah keluar dari kehampaan. Kabut hitam menggumpal seolah menutupi matahari. Sesosok tubuh langsing, memakai pakaian warna merah keluar dari kabut itu.
Gerakannya anggun. Topeng terbuat dari perak menutupi wajahnya. Dia melangkah dengan lenggok menggairahkan. Tangannya memainkan ujung rambutnya yang berwarna hitam bergelombang.
Sekar merasakan tekanan yang tidak sedikit. Dengan satu lompatan indah dia melesat, tanah, angin, api dan es berpacu mengikuti irama hentakan tubuhnya. Gerakannya yang gemulai indah memukau siapapun yang melihatnya.
Gadis bertopeng tak mau kalah. Kabut hitam menggumpal, sosok binatang buas berbagai jenis berlari dari dalam kabut menyongsong tarian empat unsur milik Sekar.
Binatang buas itu menerjang mencoba mencabik Sekar Ayu. Jumlahnya yang seolah tanpa habis membuat Sekar harus berjuang mati matian. Gadis bertopeng juga tak tinggal diam. Dia melompat menerjang, puluhan senjata rahasia melesat mengancam titik vital ditubuh gadis itu.
Sekar menggigit ujung lidahnya. Tenaga dalamnya semakin melemah. Sergapan binatang datang tanpa henti, belum lagi jarum hitam yang mengandung racun mematikan. Beberapa kali Sekar harus membuat lapisan tanah dan es untuk menahan serangan itu.
Rekso Jiwo tersenyum puas. Sebentar lagi rencana indah nya akan berhasil. Dia tak berkedip menatap gadis berbaju hijau, napasnya memburu. Sungguh maha karya surga yang sempurna.
Sekar melolos selendang sakti sapuan badai. Semburat warna merah terang menyilaukan mata. Sekar melambaikan tangannya. Selendang merah itu terbang menjadi amukan es. Binatang buas yang keluar dari kabut hitam membeku. Sekar kemudian mengubah selendang itu menjadi pusaran angin tornado setinggi ratusan meter. Menerbangkan semua hewan buas yang sebelumnya telah membeku.
Wanita bertopeng perak sedikit terkejut. Nampaknya dia begitu menikmati pertarungan ini. Kabut hitam membumbung tinggi. Sebuah bayangan panjang keluar. Sisiknya berwarna hitam mengkilap.
Seekor naga hitam menatap menatap Sekar dengan garang. Napasnya yang membara mengepulkan asap putih.
Wanita bertopeng memberi isyarat. Naga hitam itu mengaum. Menerjang kearah Sekar. Gumpalan es yang menahan lajunya hancur terkena sabetan cakarnya. Api, air, udara, tanah, silih berganti perubahan jenis itu menghantam naga hitam. Tetapi tak mampu melumpuhksn naga itu. Apalagi Sekar telah kehilangan banyak tenaga.
Sebuah sabetan dari ekor naga membuat Sekar terpental. Seteguk darah nampak membasahi ujung bibirnya. Dia bangkit dengan sisa tenaganya. Belum sempurna dia berdiri naga hitam telah meraung menerkam.
Sekar memejamkan mata. Dia berpikir inilah akhir kisahnya. Setelah sekian detik ia merasa tidak terjadi apa apa ia membuka matanya.
Seulas senyum dari seorang pemuda menyambutnya. Tangan kirinya memegang kepala naga seperti menahan tandukan anak kambing muda.
Hei ...!!!
Sekar melompat mundur. Binatang didepannya adalah salah satu binatang yang ditakutinya sejak kecil.
"Ayah, tolong bawa Sekar mundur ke tempat yang aman!"Raksa meminta bantuan ayahnya.
Sekar tak mampu menolak. Dia hanya bisa melongo menyaksikan Raksa mrnyentakkan tangan dan naga hitam terlempar. Naga hitam itu menghantam bangunan utama kerajaan naga hitam hingga rata dengan tanah.
Raksa melompat tinggi ratusan meter. Melayang di udara. Dia terbang seperti burung elang. Pedang Pusaka Ruyung Hitam beraksi. Tahap satu ajian serat jiwa menggelegar. Cahaya hitam menyapu radius satu kilometer. Raksa terus mengamuk. Tahap demi tahap Ajian Serat Jiwa terus memborbardir perguruan Naga hitam.
Perempuan bertopeng melompat mundur menyelamatkan diri. Rekso Jiwo yang melihat suasana tak lagi terkendali juga memilih ikut kabur. Raksa melihat Rekso Jiwo berlari menuju timur menyusul wanita bertopeng. Raksa segera melesat. Dalam sekejap dia telah menyusul pria itu.
Rekso Jiwo tak lagi bisa menghindar. Dia nekad menerjang. Ajian Serat Jiwa tahap Pamungkas menerjang, menyongsong serangannya.
Wuuussss!!!
Cahaya biru bergolak. Menyapu Rekso Jiwo. Tubuh lelaki itu lenyap berubah menjadi debu yang beterbangan.
Perguruan naga hitam telah lenyap dari muka bumi.
Raksa segera berbalik menuju tempat terakhir dia bertemu Sekar. Dissna dia bertemu ayah dan sekrang lelaki berpakaian hitam yang memanggul sesosok tubuh laki laki.
.....
Sekar masih duduk bersila menyembuhkan luka dalamnya. Raksa berdiri setengah meter didepannya. Matanya menatap gadis galak didepannya dengan rasa khawatir.
....
Sekar membuka mata setelah hampir satu jam mengobati diri. Matanya yang indah terpaku pada sosok yang selama ini telah menanyakan pertanyaan konyol padanya.
"Jantung itu milikku, aku ingin mengambilnya!" Sekar berbisik pada Raksa yang terlihat bingung dan salah tingkah.
__ADS_1
Bersambung