Kabut Cinta Sang Bidadari

Kabut Cinta Sang Bidadari
Jala Derita


__ADS_3

Merah Kepundung membuka mata. Pemandangan langit menyapanya pertama kali.


Punggungnya terasa dingin. Dia menemukan dirinya terbaring diatas tanah yang kasar berkerikil. Sedikit basah oleh embun malam yang telah lama berduyun turun.


Tanah sedikit miring, batang pohon tumbuh berjauhan. Selebihnya dipenuhi rumput liar. Akar pepohonan bertonjolan nampaknya hujan telah mengikis permukaan tanah ini.


Beberapa langkah di depannya lusinan sosok hitam berkelompok memebentuk gerombolan kecil. Beberapa orang berdiri agak menjauh, sepertinya bertugas mengawasi keadaan.


Merah Kepundung merasakan kepalanya sedikit berdenyut. Tangan dan kakinya yang terikat membuatnya kesulitan untuk bangun dan bergerak.


Gadis kecil itu mencoba meronta. Tali pengikat tangan dan kakinya terlalu kuat untuk ukuran tenaganya. Dia berhenti bergerak setelah mesakan pergelangan tangannya panas dan melepuh.


Merah Kepundung mencoba mengingat kembali peristiwa yang menimpanya.


Dia sedang bercanda dengan Pecut Sakti ketika lusinan orang datang. Langsung menyambar dan memisahkan nya dari Pecut Sakti.


Tak ada yang menyadari kedatangan mereka. Seolah mereka melangkah dari pekat malam.


Kejadian itu begitu cepat. Beberapa penyerang melumpuhkannya. Pecut Sakti yang mencoba menolong terkapar muntah darah.


Keributan membangunkan Pendekar Pemecah Gelombang, dia mengamuk, lusinan orang yang memiliki kemampuan tinggi bukan tandingannya.


Selanjutnya dia tak ingat apa-apa lagi. Saat dia membuka mata dia terbaring di sini.


"Kakak, dimana kau, selamatkan aku, aku takut!"


Setitik air mata mengalir membasahi pipi gadis kecil itu. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Dia tidak tahu harus meminta pertolongan pada siapa lagi.


Dia hanya punya seorang kakak. Sungguh. Mereka berdua sebatang kara menatap kehidupan yang tak sepenuhnya ramah.


Mereka bertahun-tahun terasing dalam kesepian. Mereka hanya berdua merawat nenek sekaligus guru mereka.


Takdir telah menggariskan dia hanya memiliki seorang kakak. Semua orang yang dia sayangi telah pergi tanpa pernah kembali lagi. Sekarang takdir semakin menerkam buas.


Mereka terpisah. Apa yang dia inginkan dari seorang gadis lemah?


Lelaki tinggi besar dengan codet luka diwajah berdiri. Dia memberi kode dengan beberapa gerakan tangan.


Belasan orang yang rata-rata bertampang seram mengangguk, gerakan mereka terlihat kompak. Sepertinya mereka telah melewati metode pelatihan yang keras untuk misi khusus seperti ini.


Langkah berat mendekat. Sebuah tangan kasar meraih pinggang kecilnya. Dia melayang seperti kapas dan mendarat dipundak lelaki itu.


Aroma tubuhnya menyesakkan dada. Gadis kecil itu mencoba meronta tetapi semua sia-sia. Tangan kokoh itu seperti terbuat dari baja menahan gerakannya.


"Siapa kalian, mengapa kalian menculikku?"


Lelaki bertopeng tengkorak tak menjawab. Seolah tak mendengar apapun. Dengan ringan tubuhnya melesat, berlari seperti terbang. Bergerak seperti hantu memanggul tubuh Merah Kepundung.


Tubuhnya gadis kecil terguncang. Rambut panjangnya melambai, berkibar. Di beberapa kesempatan tersangkut diantara ranting dan rerumputan. Meninggalkan rasa sakit yang meletus dikulit kepalanya.


Setelah cukup lama gadis kecil itu memilih pasrah. Dia menyerah pada penderitaan yang selama ini memang sangat akrab dengannya. Sejak kecil. Bahkan kematian bukan hal yang tabu baginya.


.......


Pasir hitam terhampar disepanjang pantai. Warna nya semakin pekat saat ombak terakhir melepas rengkuhannya. Meninggkan Beberapa garis putih buih yang bercampur sisa rerumputan.


Sinar bulan memantul membentuk bayangan diatas permukaan lautan.


Gumpalan kabut melesat dari titik kecil Gili Lebur dikejauhan. Melambung dan mendarat seperti bintang jatuh dipinggir pantai.


Kabut yang menggumpal sirna. Tiga sosok muncul.


"Terima kasih atas niat baik kalian, aku hanya bisa membantu kalian sampai disini, masalah adikku akan ku urus sendiri, ini tidak ada hubungannya dengan kalian !"


Belum selesai Delima berbicara, gugusan kabut menyelimuti tubuh gadis bertopeng perak itu. Selanjutnya tubuhnya melesat, lenyap diantara rimbunnya daun kelapa yang berjejer subur disepanjang pantai.


"Hei, tunggu !"


Teriakan lemah Pecut Sakti hanya menerpa ruang hampa. Sepenuhnya sirna oleh deburan ombak. Wajahnya yang pucat meringis menahan rasa sakit.


Bayangan gadis kecil yang meronta memanggil namanya masih segar dalam ingatannya.


Gadis kecil yang selama ini merawatnya diculik didepan hidungnya dan dia tak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


"Biarkan dia pergi, kita tak bisa menahannya, kita akan menjadi beban baginya!"


"Tapi bagaimana dengan Merah Kepundung, dia dalam bahaya, dia..!"


"Dia akan baik-baik saja, yang penting sekarang adalah menyembuhkanmu, selebihnya akan kita rencanakan nanti!"


"Kalau begitu, kita harus secepatnya kembali ke perguruan, ayo, kita tidak boleh menunggu!" Pecut Sakti memaksa diri untuk berdiri.


Pendekar Pemecah Gelombang menahan tarikan tangan Pecut Sakti sesaat. Dia menatap ke tengah lautan lepas. Menatap gumpalan kabut yang menyelimuti Gili Lebur. Membentuk sebuah titik yang terlihat lemah ditengah luasnya lautan.


Ada perasaan sepi yang menyeruak datang. Sesuatu yang selalu terjadi ratusan kali. Sesuatu yang membuatnya kehilangan warna dunia.


"Aku memang butuh sebuah keajaiban untuk bisa mengerti arti kehadiran dan kepergianmu...."


Pendekar Pemecah Gelombang menyapa sosok jelita bergaun putih yang tersenyum dalam ingatannya. Menguatkan hati dan meraih tubuh Pecut Sakti dan memanggulnya.


Tubuhnya lenyap dikegelapan malam. Melesat kembali ke Perguruan Burung Laut.


......


Berbagai jenis masakan lezat telah terhidang rapi diatas tikar pandan. Aromanya menggugah selera.


Sekar memilih Pelcing kangkung dengan irisan daging ayam kampung, dia paling suka masakan ini.


Rasa pedas yang menggigit tak dihiraukannya. Dia berjuang menaklukkan kelezatan masakan itu sambil menahan malu.


Dia berusaha tak peduli dengan tatapan aneh Raksa. Dia tak peduli matanya berair seolah menangis meratapi lezatnya masakan khas bumi Selaparang. Bibir merahnya membara dan dirasakannya seperti mengembang.


Melihat menantu tersayangnya makan begitu lahap Darmiliawati sampai menggelengkan kepala. Dia kembali tampil sebagai pelayan spesial. Beberapa kali dia memberikan instruksi sambil meletakkan beberapa potong daging ayam kampung.


Darmiliawati juga menuangkan segelas nira segar yang baru dipanen. Dia sampai meminumkannya sendiri. Rasa mansianya yang segar dan lembut menjalar memasuki setiap inci tubuh Sekar. Gadis itu sampai bergetar dan sedikit tersedak.


Raksa sampai mendelik dan memasang wajah cemberut. Dia menggeleng dan mwngingatkan Sekar agar lebih pelan.


"Eh .. jangan ikut campur, ini urusan kami berdua!" Darmiliawati tampil sebagai malaikat penjaga yang mematahkan sorot mata Raksa.


"Tatapi, ibu ...!"


Raksa tak berkutik didepan sikap ibunya. Ahirnya dia memilih diam. Sesekali dia melirik Sekar yang menyantap hampir semua masakan yang tersedia.


"Nyam, nyam ...masakan ibu sungguh sangat lezat!" Giginya yang putih seperti barisan berlian memecahkan tulang muda ayam panggang.


"Makan yang banyak, ibu akan memasakkan lagi nanti lebih banyak, ibu punya resep yang lebih lezat lagi!"


"Lebih lezat, apa nama resep itu Bu?"


Tangan Sekar menggantung diudara, mata indahnya membesar penasaran.


"Masakan dari daging sapi muda, namanya Kelak Kelor, kau pasti suka, nanti temani ibu memasak!"


Sekar mengangguk dengan bersemangat. Percakapan seputar makanan itu terus menggema sampai acara makan selesai.


Selesai sarapan Darmiliawati menyeret langkah menantunya ketaman belakang. Dia memperkenalkan beberapa jenis tanaman bunga yang baru ditanamnya. Semua itu membuat Raksa merasa dilupakan. Dia memilih berdiam diri dikamar.


Sebenarnya dia ingin keluar dan ikut bergabung dengan warga desa. Mereka sedang membangun masjid


Persoalan Sekar dan masalah yang akan dihadapinya membuatnya memutar otak. Bagaimana caranya agar persoalan ini berlalu tanpa ada resiko yang menimpa.


.....


Kabut yang membawa Delima terus melesat lurus ke Utara. Smapai terbit matahari baru di beristirahat disebuah mata air. Dia memilih menyegarkan diri dengan mandi dan mengisi perut dengan beberapa buah liar.


Setelah dirasa cukup dia kembali melesat. Kini dia mulai dihadapkan pada hutan lebat. Pohon besar menjulang dengan kerapatan yang sukar ditembus.


Delima sepenuhnya tidak tahu arah. Dia hanya berpedoman pada gunung Sangkareang yang menjulang.


Ditengah hutan gelap dia sama sekali tak bisa melihat keberadaan gunung itu. Energinya juga terkuras dengan cepat. Untuk lebih menghemat tenaga beberapa kali dia beristirahat dan memilih melanjutkan dengan berlari diantara cabang pepohonan.


Dia tidak bisa terus menerus menggunakan Ajian Selimut Kabut. Ilmu ini butuh energi yang lumayan besar.


Menjelang siang hari dia hampir sampai dikaki gunung Sangkareang bagian Selatan. Struktur tanah yang cadas dan berbatu menyulitkan perjalanannya.


Delima mengukur kecepatan penculik Merah Kepundung. Mereka pasti sudah sampai ke perguruan Lembah Tengkorak.

__ADS_1


Setelah menempuh hutan lebat kini terhampar perbukitan dengan batu dan tanah berlubang kasar.


Dia berkeliling dan menemukan banyak keanehan. Dibeberapa sisi bukit yang agak gelap dia menemukan tumpukan tulang belulang menggunung.


Gurunya pernah bercerita bahwa beberapa hewan suci seperti kucing akan memilih tempat untuk kematiannya. Ada satu tempat misterius dikaki gunung Sangkareang yang menjadi tempat favorit mereka.


Delima menduga ini adalah tempat yang dimaksudkan oleh gurunya itu.


Delima memilih menunggu hari gelap sebelum menyelidiki dimana letak pasti perguruan Lembah Tengkorak. Sambil menunggu dia bersemedi mengumpulkan tenaga dalamnya yang terkuras habis.


Malam yang ditunggu akhirnya tiba. Pekat menutupi jarak pandang. Sulit ditembus mata biasa.


Delima bergerak lincah menelusuri aliran sungai yang mengering. Kondisi bebatuan dan bekas endapan larva membuat suasana sedikit lebih terang.


Setelah bergerak hampir satu jam , gadis menemukan sebuah daratan yang cukup luas. Kondisinya tanah bergelombang dengan serpihan batu bertebaran. Sepertinya disini pernah terjadi sebuah pertempuran maha dahsyat.


Lembah itu seperti sebuah terowongan besar yang mengarah langsung keakar gunung Sangkareang. Seolah menjadi pintu masuk kedalam kawah.


Tak ada bekas kehidupan tetapi naluri Gadis itu merasakan aura yang berbeda.


Dia adalah pengendali binatang buas dan dia menemukan hawa buas dan liar ratusan kali lebih kuat dari aura binatang miliknya.


Kabut kembali merebak menutupi tubuh gadis itu. Dia memilih bergerak pelan dan berusaha membuat gerakan yang menyatu dengan alam.


Beberapa ratus meter didepannya dia menemukan pemandangan aneh. Diujung lembah dinding batu menjulang tinggi. Sebuah cekungan besar mirip tengkorak dengan mulut menganga.


Delima memanggil seekor kadal seukuran telapak tangan. Bintang itu adalah hewan favoritnya untuk meneliti keadaan.


Kadal itu terus bergerak diantara pasir dan bebatuan.


Sing!!!


Puluhan senjata rahasia berseliweran memenuhi setiap sudut lembah.


Delima bergidik ngeri. Jika itu dia maka resiko bahaya yang ditanggungnya tidak sedikit.


Gadis itu merasa bahwa bahaya mulai mendekat. Aktifnya jebakan pasti membuka rahasia kedatangannya.


Dia melesat mundur. Memilih lokasi yang terlindung. Tubuhnya sempurna bersembunyi diantara batu cadas.


Selusin orang berpakaian hitam dengan topeng Tengkorak melesat dari dalam gua. Delima jelas mengenali sosok mereka. Mereka adalah penculik adiknya.


"Kami tahu kau telah tiba disini, jika kau ingin adikmu selamat, datanglah secara baik-baik!"


Suara serak dan kasar menggema diseluruh lembah.


Delima telah melihat dan merenungkan bahwa dia tak punya pilihan lain.


"Dimana adikku?"


.....


Sebuah ruangan dari batu berukuran cukup luas. Sebuah tempat tidur, lemari dan sebuah meja kecil menyambut kehadiran Merah Kepundung.


Setidaknya dia bisa lega, orang yang menculiknya tidak melakukan sesuatu yang menyakitinya.


Mereka memperlakukannya dengan cukup baik. Dia diberi kebebasan menuju kamar mandi diluar ruangan.


Airnya hangat dan berbau belerang.


Merah Kepundung sudah sejak tadi tertidur. Rasa lelah membuatnya cepat pulas. Antara mimpi dan nyata dia mendengar suara seseorang memanggil namanya.


Dia sangat kenal suara itu.


Saat dia membuka pintu kamar sosok berbaju merah mengenakan topeng perak berdiri didepan pintu. Cahaya lampu minyak jarak menghadirkan gambaran seseorang yang telah terpisah darinya.


Seorang lelaki seram dengan sayatan luka diwajah berdiri di belakangnya.


"Kakak!"


Gadis kecil itu menghambur ke dalam pelukan Delima.


......

__ADS_1


__ADS_2