
Kemenangan Diah atas Rara Kemuning disambut suka cita oleh Ki Bayanaka. Ini artinya pamor perguruan Selendang Sakti akan naik.
Ini juga berpengaruh pada penerimaan murid baru tahun depan. Krisis murid setidaknya akan terpecahkan.
Pesta kecil kecilan diselenggarakan dipenginapan Perguruan Selendang Sakti.
Rona kebahagiaan diwajah Diah selaras dengan perlakuan yang diterima oleh semua yang hadir.
Pendekar Selaksa Angin asyik mengobrol sambil menikmati kopi hitam dengan sesepuh Perguruan Selendang Sakti. Mereka larut dalam obrolan tingkat tinggi. Terlihat sangat serius jauh dari kesan pesta.
Angin segar kemenangan dalam turnamen tahun ini sepenuhya berhembus lembut kearah mereka. Diah dan Raksa menjadi buah bibir semua orang.
Disudut pesta Sekar tampil cantik. Tanpa cadar dia menyihir semua yang hadir. Beberapa murid utama yang bertugas sebagai pelayan wanita selama turnamen dibuatnya iri.
Setelah menikah kecantikan Sekar semakin tak terkendali.
Beberapa murid wanita bahkan heran, setelah hampir tugas bulan menikah, Sekar tidak terlihat berubah layaknya perempuan bersuami .
Raksa sendiri memilih menjauh dari pesta kecil itu. Ada sesuatu yang mengganggu perasaannya. Dia merasakan getar kegelisahan dari dimensi mitra tempurnya.
Mata birunya menatap jauh kearah gunung Sangkareang yang terlihat samar dalam pencahayaan bulan.
Ada sesuatu yang bergolak dengan gunung itu. Sepertinya kaca dibawah gunung itu bergolak. Siap meledak mengeluarkan hawa panas.
Sangkareang.
Gunung paling misterius yang menjulang tinggi disisi barat Rinjani.
Ketika malam semakin larut pesta kecil itu berakhir. Beberapa murid mengundurkan diri untuk istirahat.
Pendekar Selaksa Angin melambai ke arah Raksa. Memberi isyarat untuk duduk didepan nya. Raksa bergerak cepat. Dia dapat menangkap situasi yang mendesak dari sikap gurunya.
"Aku tahu kau mencoba berkomunikasi dengan beberapa mitra tempurmu. Kau merasakan kegelisahan mereka yang mampu menggetarkan perasaan mu"
Pendekar Selaksa Angin membelai jenggot panjang nya. Seolah dia juga ingin bercerita bahwa dia juga mengalami hal yang sama.
"Guru, aku merasa ada sesuatu yang bergolak dipuncak gunung Sangkareang. Tetapi aku tidak tahu apa itu!"
Ki Bayanaka dan Sekar yang mendengar kalimat Raksa seolah disiram oleh air dingin. Mereka penasaran dengan topik pembicaraan Raksa dan gurunya.
"Ini masalah serius, sudah menjadi rahasia umum Gunung Sangkareang adalah tempat bersemayamnya berbagai bintang berbisa dan siluman berbahaya. Leluhur kita menjadikan gunung Sangkareang sebagai penjara bagi mereka setelah beberapa ratus tahun yang lalu membuat kekacauan dipulau ini"
"Acara turnamen tanding ini juga ada hubungannya dengan peristiwa itu. Para pendahulu kita berharap para pendekar aliran putih tetap memiliki penerus untuk selalu siap siaga menghadapi ancaman jika sewaktu waktu bahaya para binatang dan siluman itu datang.
"Bukankah mereka dipenjara disana?" Raksa penasaran.
Pendekar Selaksa Angin menatap kerah Ki Buyut Bayanaka. Dia seolah ingin meminta bantuan.
"Raksa, binatang dan siluman itu memang dipenjara dikawah gunung Sangkareang. Tetapi bukan tidak mungkin penjara itu bisa terbuka. Sudah ratusan tahun segel itu tidak diperbaharui sebab segel itu hanya bisa dibuat oleh orang yang memiliki tubuh istimewa dengan kekuatan lima unsur!"
Raksa terkejut. Dia menatap wajah gurunya dan wajah Ki Buyut Bayanaka bergantian.
"Apakah ini berarti Sekar adalah ..!" Raksa tak mampu melanjutkan kalimatnya.
Sekar memeluk Raksa dari samping. Dia membelai lembut wajah Raksa dan berusaha tersenyum. Mata indahnya menjelajahi langit biru di mata Raksa.
"Kau sudah tahu ini?" Raksa keheranan.
Sekar mengangguk. Dia seolah tak terbebani oleh tugas yang pernah terbayangkan oleh Raksa.
"Itu tertulis dikitab Sapuan Badai yang kupelajari, sebuah tugas berat yang harus ku pikul demi kelangsungan nasib semua orang dipulau ini !"
"Aku yakin, dengan kakang disampingku, kita akan berhasil menyelesaikan misi ini!"
Raksa akhirnya sadar semua orang diruangan ini tahu masalah ini kecuali dia.
"Kemungkinan besar acara turnamen akan sulit dilanjutkan. Baginda pasti sudah menyadari situasi ini, beliau pasti akan bertindak segara!"
"Bagaimana guru begitu yakin?"
"Baginda Raja adalah pendekar yang perkasa, aku kenal beliau, pengasinganku dipuncak gunung Rinjani bersamamu bukan tanpa alasan, ini misi langsung beliau!"
Pendekar Selaksa Angin membuka rahasia pengasingannya selama puluhan tahun. Dia dan gurunya ditugaskan menjaga dan mengawasi gunung Sangkareang.
"Lambat lain kau akan mengerti apa yang terjadi, sekarang kau keluar, ada tamu diluar, suruh dia masuk bergabung dengan kita!"
Raksa tak membantah. Gurunya mempunyai ajian Tilik yang mampu mendeteksi keberadaan seseorang bahkan sampai beratus meter jauhnya.
"Terlambat kau menyambutnya, aku sudah tidak tahan dengan gigitan nyamuk diluar, aku kasihan mereka akan menjadi korban darahku yang pahit, ha...!" Sesosok tubuh masuk dari pintu yang terbuka seperti hantu.
Rambut panjang dengan ikat kepala lusuh. Tubuh bagian atas telanjang tak terpengaruh dinginnya malam. Sebuah Gegandek tua tergantung dipundaknya.
Aroma sirih menyebar memenuhi ruangan.
Sekar mengerenyit seperti anak kucing disini suaminya. Dia tidak nyaman dengan kehadiran lelaki tua yang mirip orang gila.
Pendekar Selaksa Angin segera berdiri. Dia langsung memeluk lelaki itu. Demikian juga Ki Buyut Bayanaka.
"Pulir Bake' silahkan duduk!"
Pendekar Selaksa Angin merubah posisi duduknya sejajar dengan Ki Buyut Bayanaka memberikan ruang bagi tamunya.
"Selaksa Angin, sudah lama kita tidak bertemu!"
__ADS_1
"Hampir dua puluh tahun, kita terpisah oleh tugas yang melelahkan!"
"Setelah turnamen terakhir dua puluh tahun yang lalu, kita tidak pernah bertemu, kau juga tidak pernah mampir ke Puncak Rinjani"
"Aku sibuk mencari beberapa barang pesanan Baginda Raja, beberapa obat dan senjata, jadi aku sangat sibuk, ha..!"
"Kenalkan ini Ki Bayanaka, ketua Perguruan Selendang Sakti dan cucunya Sekar, dan ini suaminya, muridku, Raksa!"
"Aku sering mendengar tentang Ki Bayanaka, baru sekarang kita bisa bertemu!"
"Aku jarang keluar, walau termasuk golongan tua aku lebih banyak mengurung diri, aku juga sering mendengar kisah Pendekar Pulir Bake' yang luar biasa!"
"Ha... Aku hanya pengemis jelek yang berkeliaran tak tentu arah, kau terlalu memuji!"
Pendekart Pulir Bake' tertawa ujung matanya memperhatikan Raksa dan Sekar yang menatapnya keheranan.
"Kita bertemu di Masjid tadi pagi, aku tak menduga kau murid Selaksa Angin, kau lelaki beruntung tetapi penuh ujian, kalian pasangan yang akan mengemban tugas besar!"
Sekar sekarang tahu kemana suaminya pergi tadi pagi, dia merasa sedikit aneh. Selama ini dia sering mencoba mengajak tetapi Raksa seolah menunggu saat yang pas.
"Jika kau serius aku bisa mengenalkanmu pada seseorang yang paham betul akan agama Islam. Kau bisa belajar banyak hal pada ya, tetapi kau soal makan sirih tanyakan saja padaku, ha ..!"
Lelaki tua itu membuka Gegandek dan mengeluarkan sebuah kitab.
"Aku mendapatkan ini dari beliau tetapi aku tidak bisa membacanya. Lebih baik kau yang menyimpannya. Ambillah!"
Raksa menerima kitab itu. Terbuat dari kulit dengan tulisan arab disampulnya. Dia merasa membuka dan melihat tulisan yang sama didalamnya.
"Itu kitab suci Al Qur'an, kitab agama Islam, kau masih muda, kau punya banyak kesempatan untuk belajar membacanya"
"Terima kasih kakek!"
Raksa menyimpan kitab itu dicincin pusakanya.
"Nampaknyo Gegandekmu penuh dengan keajaiban?"
"Begitulah, isinya bisa memenuhi seluruh ruangan ini, ha...!"
Pulir Bake' melirik cincin dijari Raksa dan mengangguk penuh arti. Nampaknya dia tahu fungsi cincin ditangan Raksa.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, aku merasa ancaman sudah semakin dekat, terutama bagi perguruan Selendang Sakti. Cucuku yang menjadi kunci maslah ini akan semakin dalam bahaya!"
Ku Buyut Bayanaka tak lagi ragu menyebut masalah yang akan mengancam Sekar dan seluruh tanah Selaparang.
"Aku merasa kita harus mulai dari awal, menyusun rencana dan melibatkan semua perguruan dan Pendekar tanah Selaparang. Kita akan mendengar bagaimana tanggapan Baginda Raja"
Semua perhatian tertuju pada Pendekar Selaksa Angin. Penjelasan tentang cara awal menghadapi masalah nampaknya paling masuk akal.
"Malam ini juga Sekar harus kembali ke perguruan Selendang Sakti. Tidak boleh ada yang tahu dia kembali, dia harus berlatih menguasai unsur terakhir agar tugasnya sebagai kunci penyegel bisa berjalan dengan lancar!"
" Kau akan mendapat tugas nanti, sekarag juga kau bawa Sekar kembali, pastikan semua kawasan disekitar perguruan aman, itu tugas awalmu!"
Raksa mengangguk. Dia menatap Sekar dengan dada berdebar. Dia tidak mengira semua akan berjalan begitu rumit.
"Aku akan baik baik saja, selama kakang ada disisiku!"
Sekar menggengam tangan Raksa. Dia mencoba bersikap tenang meski jauh didalam hatinya dia menyimpan kegelisahan.
"Sebagai gambaran awal, sekuat apa musuh yang akan kita hadapi!"
Mendengar pertanyaan Raksa Pendekar Selaksa Angin menarik napas panjang.
"Siluman Rajawali yang kau hadapi saat bertarung dengan Ki Dursila adalah salah satu binatang siluman itu. Bahkan bisa dikatakan yang terlemah. Masih ada yang lebih kuat dari itu. Lebih berbisa dan ganas. Apalagi jika mereka dikuasai oleh pendekar golongan hitam. Kita akan sulit menghadapi ya!"
"Selain itu korban rakyat jelata akan tidak terhitung, ini yang paling menakutkan!"
Pendekar Pulir Bake' menambahkan penjelasan Pendekar Selaksa Angin. Wajahnya yang biasanya terlihat santai menegang.
"Bagaimana dengan Selendang Sutra Hijau yang ada padamu, apakah kau sudah memperbaikinya, Selaksa Angin?"
"Selendang itu kuberikan pada Sekar, aku tidak tahu bagaimana menemukan kunci kekuatan dan memperbaiki Selendang Sutra Hijau itu!"
"Kalau begitu berikan padaku, aku akan mencoba memperbaikinya, aku kenal seorang pengerajin kain yang luar biasa, mungkin dia bisa, bagaimana?"
"Baiklah, Sekar, berikan Selendang itu pada Kakek Pulir Bake', dia akan membantumu, semoga bisa diperbaiki, sebab leluhurmu menyegel para siluman dengan bantuan Selendang itu."
Raksa mengibaskan tangannya, Selendang Sakti Sutra hijau berada ditangannya. Dia memberikan benda itu pada pendekar Pulir Bake'.
"Aku tidak tahu kalau kau menyimpan Selendang itu, Selaksa Angin, leluhur kami telah berusaha mencarinya!"
"Aku mewarisi itu dari guruku, entah dimana dia menemukan Selendang itu"
"Baiklah, aku harus pergi, kita akan bertemu lagi besok malam, aku pamit!"
Pendekar Pulir Bake' berdiri pamit. Belum sempurna dia berdiri dia seolah lenyap ditelan udara.
Raksa terkejut dengan kemampuan kakek tua itu. Dia tak merasakan pengerahan tenaga dalam atau sejenisnyo tetapi kakek itu bisa lenyap tanpa bekas.
"Sekarang juga bawa Sekar pergi, masalah kehadiran mu diturnamen aku akan bicara dengan panitia, kau akan dianggap mengundurkan diri!"
"Baik guru, kami mohon pamit!"
Raksa dan Sekar memberi hormat sebelum pergi.
__ADS_1
.....
"Kita akan kembali dulu ke Desa, besok malam kita akan ke perguruan, dengan begitu kita akan sedikit membuat tipuan, bagaimana?"
"Aku menurut saja, aku juga rindu dengan ibu!"
Sekar mengemasi beberapa barang yang dibawanya. Dia nampak sedikit tegang dengan rencana kepergian mereka.
"Kau jangan terlalu tegang, kita akan mampu menghadapi semua ini, kita tidak sendiri, pokus saja pada latihanmu, aku akan membantumu!"
"Terima kasih kakang!"
"Mari kita berangkat sekarang!"
Raksa dan Sekar segera keluar. Raksa memanggil Kuda Semberani dari dimensi lain. Kuda api itu membawa pasangan itu melesat ke angkasa. Sayap apinya seperti meteor memecah gugusan awan di langit kelam.
......
Gili Lebur.
Suara teriakan Merah Kepundung membangunkan Delima dari meditasinya. Selama dua malam dia memang banyak bermeditasi untuk memecah kesulitan jurus hati Semesta.
Dihalaman nampak Pendekart Pemecah Gelombang sedang bertarung dengan selusin orang berpakaian hitam. Mereka menggunakan topeng tengkorak.
Pecut Sakti terkapar meludahkan darah segar didekat dinding gudang.
Hanya satu serangan Pecut Sakti mengalami luka serius. Hal itu karena dia masih belum pulih dari sakitnya.
"Siapa kalian, lepaskan adikku!"
Delima melompat ke tengah kerumunan , tangannya melambai dua orang penyerang terpental.
"Hentikan serangannya, jika tidak adikmu akan ku sakiti!"
Lelaki bertopeng tengkorak yang menjadi pemimpin memperingatkan. Dia mencekik leher Gadis kecil yang telah pingsan.
"Apa yang kalian inginkan, katakan!"
Delima meraung, mata indahnya menatap Si Topeng tengkorak dengan dingin.
Kabut mulai menyelinuti, raungan binatang buas menggema memenuhi seantero gili.
"Aku akan membawa adikmu ke perguruan Lembah Tengkorak di kaki gunung Sangkareang, pemimpin kami mengundangmu kesana, adikmu ini jaminan kedatangan mu!"
Delima terkejut dengan penawaran lelaki bertopeng perak itu. Dia pernah mendengar nama perguruan hitam itu. Salah satu perguruan yang mendalami seni pengendalian binatang buas sama seperti gurunya.
"Lepaskan dia, biarkan aku ikut denganmu!"
"Tidak, ini perintah pimpinan kami, kau terlalu berbahaya jika kami bermain denganmu, susul kami ke Lembah Tengkorak!"
Setelah selesai berbicara sosok hitam melompat sambil memberi siulan panjang. Lusinan penyerang yang melawan Pendekar Pemecah Gelombang ikut melesat pergi.
Delima terpana. Dia seperti bermimpi. Kakinya gemetar dan terduduk ditanah. Bayangan adiknya dan kesulitan yang akan diterima memenuhi benaknya.
"Aku akan menyelamatkan mu, apapun resikonya!"
Sunan Tembolak tak bisa berbuat banyak. Dia berlari memeriksa kondisi Pecut Sakti.
" Bagaimana keadaan Merah Kepundung, apa dia baik baik saja, apa..?"
Pecut Sakti meringis menahan sakit yang menggerogoti luka kamarnya.
"Dia baik baik saja, dia dibawa pergi, tapi kau tenang saja, kita akan membantu Delima menyelamatkan gadis itu!"
.....
"Kalian boleh tinggal disini, aku akan menyusul penculik adikku!"
Delima memberi perintah. Wajahnya telah ditutupi topeng perak. Sosok menakutkan yang telah dikuburnya kini bangkit kembali.
"Aku akan ikut denganmu, kita akan membawa Pecut Sakti ke perguruan, dari sana kita akan berangkat bersama!"
"Aku tidak butuh bantuanmu!"
"Aku telah berjanji pada Pujawati untuk menjagamu, aku mohon, aku tidak akan memberatkan langkahnyo dan aku dibawah perintahmu sepenuhnya dengan begitu kau tak perlu takut aku mengganggu rencanamu!"
"Aku juga ingin pergi, siperguruan ada Pil Bunga Kayu Raksasa, guru pasti berkenan memberikan ku, aku pasti sembuh cepat. Aku bisa ikut!"
"Baiklah, ayo kita berangkat!"
"Bukan kau yang memutuskan!"
Delima berteriak dingin. Mata indahnya berkilau seperti bintang.
"Aku mohon sekali ini, Delima aku anggap anakku, biarkan kami membantu, kita bertiga lebih baik dari pada kau sendirian!"
Delima terdiam, Dia menyadari kebenaran ucapan Sunan Tembolak.
"Baiklah, mati kita berangkat!"
Kabut tipis merebak menyelimuti tubuhnya. Beberapa bagian mengurung Sunan Tembolak dan Pecut Sakti. Selanjutnya kabut itu melesat meninggalkan Gili Lebur.
Beberapa serpihan kabut menyebar, menyelimuti seluruh wilayah Gili Lebur.
__ADS_1
Dari kejauhan gili itu seolah lenyap ditutupi kabut misterius. Semua sisi pulau yang beberapa waktu terlihat indah kini menjelma kembali sebagai gili hantu yang menakutkan.
......