Kabut Cinta Sang Bidadari

Kabut Cinta Sang Bidadari
Pertarungan Para Pendekar


__ADS_3

Raksa dan rombongan tiba di lokasi turnamen tarung para pendekar tanpa halangan. Hanya saja mereka tidak turun ditengah keramaian agar tidak mengundang perhatian.


Raksa menyuruh Sekar menggunakan penutup wajah agar tidak dikenali karena bagaimana pun dia pernah tinggal di kota kerajaan. Selain Itu banyak orang yang ingin memilikinya karena tubuhnya yang istimewa


Setelah mendaftar dan mendapat nomor peserta mereka diantar ke kamar khusus bagi peserta turnamen dan rombongan.


Tak ingin mengganggu Raksa dan Sekar Pendekar Selaksa Angin memilih tinggal dikamar berbeda.


Hari pertama turnamen diisi dengan acara pembukaan yang dihadiri langsung oleh Raja Selaparang. Selanjutnya dilanjutkan dengan acara makan dan hiburan.


Raja Selaparang berbaur dengan para pendekar tanpa jarak. Sikapnya mencerminkan raja yang merakyat. Dia memang dikenal sebagai pribadi yang ramah.


Dia juga penyayang. Selalu ada saat rakyat mengalami kesusahan. Sikap penyayng ini ditularkan kepada semua bawahannya. Itulah sebabnya semua rakyat memuja dan menghormatinya.


Raksa dan Sekar juga menikmati jamuan dengan gembira. Dia secara sederhana mengenalkan Ki Buyut Bayanaka kepada gurunya. Kedua pendekar tua itu memang sudah saling kenal.


Nama Pendekar Selaksa Angin memang melegenda. Tetapi karena menghilang hampir dua puluh tahun sehingga beberapa generasi di bawahnya tidak mengenal bentuk fisiknya.


Pendekar Selaksa Angin meminta Raksa untuk tidak terlalu mencolok. Ki Buyut Bayanaka sangat setuju. Terutama untuk keamanan Sekar . . .


Pada hari kedua pertandingan para pendekar dimulai. Sistim yang dipakai pada babak penyisihan adalah sistim gugur.


Setengah peserta tereliminasi pada hari pertama. Baik itu dipihak pemula maupun para senior.


Batas pemula sampai dua puluh tahun. Sedang untuk pendekar senior sampai empat puluh tahun. Lebih dari itu dianggap sebagai pendekar tua. Tidak diperkenankan ikut.


Pada hari pertama di ini Raksa mendapat lawan tarung yang lumayan. Usia pendekar itu 18 tahun. Dia salah satu pendekar muda berbakat murid dari seorang pendekar tua bernama Pendekar Bambu Kuning.


Bambu Galih menggunakan senjata sepotong bambu hijau yang terkenal alot dan kuat.


Pertarungan berlangsung cukup seru. Raksa menghadapi serangan bambu hijau dengan santai.


Baong Galih prustasj dengan serangannya. Raksa seolah tahu setiap arah serangannya. Sebagai penutup serangannya dia meraung menyerang dengan pukulan pamungkasnya.


Jurus Bambu Hijau Penjinak Naga.


Serangan bambu hijau ditangannya mengeluarkan sinar hijau bergelombang. Warna dan bentuk serangan itu terlihat begitu indah. Mengalir seperti gelombang pegas, bergerak semakin besar saat mencapai sasaran serang.


Raksa segera mengerahkan ajian Ampan Lolat dengan pengerahan tenaga dalam hampir seratus lingkaran. Tubuhnya mengeluarkan hawa tangguh yang menekan.


Baong Galih yang melihat lawannya tidak menghindar dan menerima pukulannya sedikit terkejut.


Wuuut! Duar!


Ledakan terjadi. Tubuh Raksa kokoh seperti karang dihempas gelombang.


Dipihak lain, Baong Galih terpental beberapa langkah. Tongkat bambu hijau ditangannya terlepas.


Pendekar Kisap Mantar melesat seperti Kilat. Dia berdiri disamping Baong Galih. Membantunya berdiri tegak. Beberapa regu pengobatan berlari naik panggung.


Raksa menghampiri Baong Galih dan meminta maaf. Sikapnya membuat kagum semua orang.


Raksa memang terlihat bertarung tanpa bermaksud melukai. Dia hanya bertahan. Pendekar Bambu Kuning juga naik ke panggung. Dia mengangguk kearah Raksa dan mengucapkan terima kasih. Dia tahu Raksa bukan lawan muridnya.


Penonton terpana dengan gaya bertarung Raksa. Musuhnya menderita kekalahan dengan cara yang sederhana. Bertahan. Bagaimana jadinya jika dia menyerang?


Raksa kembali ke sisi Sekar. Dia disambut oleh Pendekar Selaksa Angin dengan tatapan bangga. Dia merasa beruntung memiliki murid rendah hati seperti Taksa.


Sekar sendiri sibuk memeriksa tubuh Raksa. Sebaliknya Raksa merasa risih karena banyak pasang mata melihat sikap Sekar.


Sepasang mata tajam dari deretan kursi tamu kehormatan khusus bangsawan menatap adegan itu tanpa berkedip. Tatap matanya penuh selidik.


Malam di penginapan para pendekar.


Raksa sedang bermeditasi. Sekar tidur nyenyak dipembaringan. Dia tertidur sambil tersenyum. Entah apa yang ada di dalam mimpinya.


Tiba tiba dia merasakan kehadiran seseorang sedang mengendap diatas genteng kamarnya.


Raksa segera mengambil posisi waspada. Dia melesat menuju pintu dan membukanya perlahan. Melesat ke halaman dan besembunyi dikegelapan. Matanya yang tajam mengawasi sesosok tubuh yang sedang mengintip kedalam kamarnya.


Raksa tidak mau mengambil Resiko. Ketika dia bermaksud bergerak sesosok tubuh lain telah lebih dulu Melompat ke atas genteng.


Raksa mengenali sosok kedua. Dia adalah pendekar Selaksa Angin. Gurunya sendiri.


Bayangan yang mengintip kaget. Dia segera berlari dari atap keatap. Gerakannya yang lincah dan ringan tak menimbulkan suara


Pendekar Selakaat Angin tak mengejarnya lebih lanjut.


Raksa bergerak menghampiri gurunya.


"Guru, apakah guru mengenli orang itu?" Raksa bertanya penasaran.


" Tidak, tetapi aku tahu nama ilmu peringan tubuh yang dipergunakannya. Itu ilmu peringan tubuh milik perguruan Lembah Rinjani. Dia pasti murid perguruan Lembah Rinjani. Hati hati. Didalam istana ini semua Pendekar hampir murid perguruan Lembah Rinjani. Itu sebabnya kita tak boleh gegabah" Pendekar Selaksa Angin terlihat serius.


"Terus apa Rencana guru?" Raksa penasaran.

__ADS_1


" Serahkan urusan menjaga Sekar pada malam hari padaku. Kau tidur saja seperti biasa agar orang itu tidak curiga!" Pendekar Selaksa Angin membuat rencana. Setelah itu dia kembali ke kamarnya disamping kamar Raksa.


Raksa mengangguk. Dia segera kembali ke kamar untuk menjaga Sekar.


Didalam kamar dia menatap wajah isterinya. Merapikan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.


Sekar merasakan perlakuan suaminya. Dia membuka mata dan tersenyum.


" Ada apa, mengapa Kakak belum tidur?" Dia menatap Raksa dengan tatapan heran.


" Aku baru selesai meditasi. Tidurlah lagi" Raksa duduk dibaringan.


Sekar mengangguk. Dia kembali terlelap. Raksa kembali bermeditasi sampai fajar tiba.


......


Turnamen Tarung hari ketiga.


Pada hari ketiga waktu pertandingan dimulai padab sore hari. Memberikan kesan santai karena tujuan turnamen juga untuk sekedar ajang silaturrahmi dan mencari bakat terpendam generasi muda.


Peserta pertama yang tampil.adalah Raden Sukma Jaya utusan dari Perguruan Lembah Rinjani melawan Galih Cemara dari perguruan Cemara Siu.


Perguruan Lembah Rinjani memang tempat favorit para putra dan putri bangsawan kerajaan. Inilah yang membuatnya menjadi perguruan nomor satu di tanah Selaparang.


Raden Sukma jaya sendiri memiliki paras gagah dan murah senyum. Dia dikenal sebagai pangeran yang baik hati. Membuatnya terkenal dan mempunyai banyak pengagum rahasia.


Lawan tandingnya bernama Galih Cemara. Cucu Ketua perguruan Cemara Siu. Dia pemuda yang serius. Tanpa senyum.


Raden Sukma jaya menerima serangan pertama Galih Cemara dengan tenang. Demikian sampai beberapa jurus keduanya masih menahan diri.


Begitu memasuki menit ke lima, Galih Cemara memilih menyerang dengan ganas.


Senjata adalah tongkat kayu dari pohon cemara berusia ratusan tahun. Tongkat itu berwarna kecoklatan. Menderu mengejar pangeran Sukma Jaya.


Tidak mau ketinggalan, sang pangeran juga melolos pedang berbentuk ukiran naga digagang pedang.


Jurus pedang naga langit dan jurus tongkat seribu bayangan saling tindih menindih. Kedua sama sama lincah, disiplin dalam menyerang dan bertahan.


Galih Cemara mencoba mengakhiri pertandingan lebih cepat.


Dia mulai menggunakan jurus Tongkat Seribu Bayangan. Sesuai namanya serangannya tongkatnya berubah, seolah seribu tongkat mengurung sang pangeran.


Pangeran Sukma Jaya mencoba bertahan dengan menggunakan jurus naga langit. Dia tidak berhasil. Pukulan asli dan bayangan tongkat sulit dibedakan.


Ahirnya pangeran Sukma Jaya mengeluarkan pukulan terkuat yang baru saja dikuasainya.


Wes! Duar!


Galuh Cemara terkejut. Setelah dia menahan tebasan pedang maka datang Sambaran naga emas menyusul. Dua pukulan beruntun. Pedang dan Sambaran naga emas.


Kini giliran Galih yang kedodoran. Jurus tongkatnya kacau oleh ledakan naga emas. Beberapa bagian tubuh Galih Cemara nampak hitam oleh ledakan. Pakaiannya terbakar dibeberapa tempat.


Melihat itu Pendekar Segara Muncar yang ditunjuk sebagai juri mengamati dengan cermat kondisi pertarungan. Setelah melihat bahwa Galih Cemara terus terdesak ahirnya dia menghentikan pertandingan.


Raden Sukma Jaya menang.


Galih Cemara yang melihat wajah pangeran yang bertarung jujur melawannya memasang wajah puas. Dia mengakui kekalahannya.


Para penonton berteriak dan bertepuk tangan. Mereka puas dengan pertandingan pertama ini.


Pertandingan kedua menjadi giliran bagi para senior. Pendekar dari perguruan lembah Rinjani menjamu Pendekar Perguruan Petir.


Pendekar senior yang tampil naik ke panggung adalah Pendekar Kapas Perak. Dia terkenal dengan ajian peringan tubuh yang jarang ada tandingannya.


Musuh tandingnya adalah Pendekar Petir. Pemilik Ajian Petir Menyambar.


Setelah memberi penghormatan, kedua peserta bersiap. Juri pertandangan memberi kode perang tanding dimulai.


Pendekar Senior mencoba menampilkan pertarungan yang apik. Menonjolkan seni bertarung yang jujur dan ksatria.


Itu bertujuan untuk mengajarkan generasi muda bahwa dalam mencapai tujuan tidak boleh mengandalkan cara yang kotor. Menang penting, tetapi car mendapatkan itu harus dengan cara terpuji.


Pendekar Petir Menyambar mundur beberapa langkah, tubuhnya sedikit bergetar. Percikan api kecil menyelimuti seluruh tubuhnya. Berpijar dan menyambar dalam.


Pendekar Kapas Perak juga tidak mau kalah. Tubuhnya seolah lenyap. Berubah menjadi bayang melintas berputar mengelilingi Pendekar Petir Menyambar.


Pertarungan tingkat akhir dimulai.


Pendekar Petir menggebrak. Tangan kanan menghantam, petir menyambar menghantam tubuh Pendekar Kapas Perak. Menimbulkan suara keras. Batu hitam panggung berlobang.


Beberapa penonton bergidik ngeri.


Pertarungan terus berlanjut. Tak hanya mengandalkan kecepatan, pendekar Kapas Perak mengeluarkan senjata andalannya. Keris Bunyil Lombon, keris berlekuk tiga dengan warna keemasan tergenggam ditangannya.


Dia melesat menerjang mencari titik vital. Cahaya kuning mengurung tubuh pendekar Petir Menyambar. Tetapi setiap kali serangan hampir menyentuh tubuh Pendekar Petir tangannya bergetar oleh pelindung petir ditubum musuhnya.

__ADS_1


Serangannya menemui jalan buntu. Bahkan dia menderita karena petir itu mengacaukan pengerahan tenaga dalamnya.


Pendekar Petir tersenyum. Dia mengerahkan Ajian Petir tahap akhir.


Cahaya petir melonjak. Memenuhi hampir semua bagian panggung. Memaksa pendekar Kapas Perak mundur sampai sisi panggung.


Wus duar!


Petir mengamuk. Tubuh pendekar Kapas Perak terlempar keluar arena. Dia memegang tangannya yang nampak merah terbakar.


Pendekar Kisap mancar meneliti keadaan Pendekar Kapas Perak. Dia segera memberi kode. Regu medis berlari dan memberikan pengobatan.


Pertandingan kedua dimenangkan oleh pendekar Petir.


Penonton bertepuk tangan memuji kehebatan pendekar Petir. Dia menunduk kepada Raja Selaparang dan penonton. Dengan sikap tenang kembali ketempat duduk. Dia disambut bangga oleh anggota perguruan Petir


Pertandingan ketiga.


Pendekar Kisap Mantar memangil paserta turnamen terakhir hari ketiga.


Rara Kemuning dari Perguruan Andar Nyawa berhadapan dengan Diah Selasih dari perguruan Selendang Sakti.


Kedua perguruan jnj memang seteru abadi. Hal ini karena kedua perguruan jnj memiliki murid perempuan terbanyak. Hampir semua perempuan. Sehingga pihak panitia tak perlu mengundi. Wanita bertempur melawan wanita.


Beberapa dekade terakhir seteru abadi selalu dimenangkan oleh perguruan Andar Nyawa. Sebab selama puluhan tahun tak ada murid berbakat uang muncul.


Hanya Sekar yang mempunyai bakat yang istimewa. Tetapi bencana karena itu membuatnya tak diperkenankan ikut.


Selendang berwarna kuning melambai ditiup angin. Semakin lama semakin kencang. Seperti pusaran badai.


Diah Selasih memang mempunyai kemampuan elemen angin. Meski usianya baru menginjak usia enam belas tahun. Dia salah satu harapan terbesar perguruan Selendang Sakti.


Rara Kemuning sendiri adalah murid pendekar wanita yang pernah terkenal dengan kecanyikannya. Galuh Mayang Sari. Pendekar pedang yang pilih tanding dari pantai timur kerajaan Selaparang.


Pedang perak tipis menyambut serangan Diah Selasih. Membelokkan ujung Selendang yang menimbulkan serangkum angin keras.


Beberapa jurus berlalu. Tarian kematian yang diperagakan kedua gadis diatas panggung membuat banyak mata yatak berkedip.


Sekar mencubit pinggang Raksa. Dia cemburu melihat Raksa menatap kedua waniya diatas panggung.


Raksa memang sering melihat berkeliling. Perlahan tapi pasti dia meneliti wajah orang orang yang hadir terutama kalangan bangsawan. Peristiwa semalam mengganggu pikirannya.


Raksa meringis. Dia tahu bidadarinya cemburu. Dia mengubah posisi duduk. Menghadap Sekar. Tak peduli dengan pertandingan diatas panggung.


Sekar tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ahirnya dia memilih diam dengan meremas jarinya. Dia malu karena ketahuan cemburu buta tanpa alasan.


Pertandingan hampir selesai.


Diah Selasih tampil mempesona menahan serangan pedang Rara Kemuning. Jurus Selendang Sakti Pusaran Badai mengamuk . Menciptakan badai yang berputar, mekar seperti bunga teratai. Berputar mengacaukan permainan pedang Rara Kemuning.


Jurus ini adalah salah satu jurus yang ada di dalam kitab Sapuan Badai. Sekar sengaja mengajarkannya kepada Diah untuk mengikuti turnamen.


Rara Kemuning terus menyerang dengan lincah. Jurus pedang Seribu Bunga Berterbangan memang hebat. Seolah pedang ditangannya berubah menjadi puluhan


Dapat dipastikan bagaimana hebatnya jika dia telah mampu membuatnya menjadi ratusan atau ribuan seperti gurunya.


Kedua gadis itu bertarung alot. Keduanya sama-sama berjuang sampai titik akhir.


Pendekar Kisap Mantar terlihat berdiskusi dengan beberapa panitia. Setelah itu dia melompat ketengah arena.


Pertandingan ketiga berakhir seri. Kedua peserta kembali ke tempat duduk masing-masing.


Setelah acara selesai Raksa dan Sekar kembali ke penginapan. Ditengah jalan mereka berpapasan dengan seorang gadis dari kalangan istana.


Gadis itu mengenakan pakaian gemerlap. Ketika Sekar melihatnya dia berusaha menghindar takut dikenali.


Raksa yang sedikit terkejut dengan kecantikan gadis itu. Dia terpaku sejenak.


Mata birunya sempat beradu pandang dengan gadis itu. Dia tidak bermaksud memperhatikan. Dia hanya penasaran karena arah istana berbeda dengan arah yang ditujunya.


Gadis itu juga merasa heran. Mata Raksa yang biru sedikit aneh baginya.


Sekar sedikit emosi. Dia berbalik dan menyeret Raksa yang sedikit malu karena merasa seperti orang dungu.


Didalam kamar Raksa duduk dilantai sambil menggaruk kepala. Dia cengengesan seperti orang gila.


Sekar berdiri tepat di depan nya. Mengepalkan tangannya sambil mendengus marah.


"Awas kalau lain kali kau berani main mata dengan wanita lain, huh !" Sekar melompat ke atas pembaringan dan menutup diri dengan selimut.


Raksa hanya pasrah. Dia selalu bingung jika menyangkut masalah wanita. Apakah salah menatap wanita.


"Jika kau bertemu wanita dan meliriknya maka wanita dia pasti mengira kau tertarik dengannya, sebaliknya jika kau bertemu dan tak meliriknya, dia pasti menganggapmu orang gila tak punya mata" Raksa tiba-tiba ingat guyonan gurunya.


Kalau tak percaya, tanya saja pada mereka!

__ADS_1


Bersambung


Nb. Jangan lupa 👍 dan Coment 😁


__ADS_2