
Bayangan hitam itu menerobos ke ruangan utama. Dia langsung menuju ke depan pintu ruangan paling besar. Dia berdiri mematung sejenak dan hendak mengetuk. Gerakannya terhenti.
"Masuklah, aku sudah lama menunggumu" suara lembut terdengar dari ruangan itu.
Lelaki itu segera masuk. Dia langsung berlutut dihadapan Ki Buyut Bayanaka.
"Hormat saya guru, maaf membuat guru menunggu" laki laki itu menjura dengan tangan terkepal. Dia menahan tubuhnya cukup lama dihadapan Ki Buyut Bayanaka.
"Tidak apa apa, bagaimana penyelidikanmu" Ku Buyut duduk tenang. Dia merapikan ujung mantel tebal yang dikenakannya.
Sebelum melapor lelaki berpakaian hitam menatap wajah lelaki tua di hadapannya. Dia merasa ada gurat kecemasan. Sesuatu yang tak pernah dilihatnya hampir puluhan tahun.
Selesai mendengar laporan muridnya Ki Buyut menarik napas berat. Tangannya bergetar menahan emosi. Dalam hitungan detik wajahnya seolah menua satu tahun lebih cepat. Dia berusaha tenang.
" Jadi perguruan yang mengincar Sekar adalah perguruan Naga Hitam. Apakah kau tak menemukan gerakan dari perguruan lain?" Ki Buyut bertanya lebih jauh.
"Tidak ada guru, beberapa perguruan masih menahan diri, terutama dari golongan netral. Golongan putih tidak ada. Apa tindakan kita selanjutnya, Ketua?" Lelaki berpakaian hitam penasaran.
"Tetap cari informasi tentang perguruan yang mengincar Sekar, laporkan pada malam bulan purnama berikutnya" Ku Buyut memberi perintah.
"Baik guru, Saya pamit" lelaki berpakaian hitam itu memberi hormat kemudian berbalik untuk pergi.
"Tunggu dulu, Ajian Setumbal Segara yang kau pergunakan tadi sudah hampir sempurna, itu luar biasa!" Puji Ki Buyut Bayanaka.
"Terimakasih atas pujian guru, ini berkat bimbingan guru!" Lelaki berpakaian hitam bergegas keluar dan lenyap di kegelapan malam.
"Bencana besar perguruan ini sudah dimulai, aku tidak menyangka diujung usiaku harus menghadapi ancaman menakutkan seperti ini, Sekar cucuku...." Ku Buyut menarik napas letih. Seolah beban berat mengganjal dalam saluran pernapasannya.
........
Raksa duduk bersila mengatur lonjakan tenaga dalam yang menyentak seperti gulungan banjir bandang. Dantiannya membara. Dua kekuatan tenaga dalam di tubuhnya berputar kacau. Energi dari mustika Berare Lidah Biru dan tenaga dalam dari hasil latihan dengan bantuan jamur dan tumbuhan langka.
Raksa sudah mencoba hampir seharian penuh. Kini dia sedang memasuki proses tahap akhir. Tubuhnya bergetar dengan keras. Keringat membanjiri sekujur tubuhnya.
Didalam dantiannya dua energi besar bergolak, bergabung mempertahankan keunggulan masing masing. Energi biru panas dan putih cemerlang bercampur membentuk warna biru dan keemasan didalam Dantiannya.
Duar...!
Ledakan energi memuncak saat kedua tenaga itu berkumpul menjadi satu. Tubuh Raksa bergetar hebat. Pembuluh darahnya mengeras dibanjiri energi. Setiap bagian tubuhnya terasa terbakar. Secara mengejutkan cahaya berwarna biru memancar dari tubuhnya. Tatapannya berubah. Bola mata yang dulunya hijau dan keemasan kini berubah menjadi biru dengan dikelilingi warna keemasan.
Raksa terus berjuang menahan rasa aneh ditubuhnya. Dia seperti terbang dalam dimensi yang berbeda.
Setelah beberapa saat kemudian tubuhnya kembali tenang. Raksa memeriksa tubuh dan kemampuan barunya. Tubuhnya terasa lebih ringan. Pandangannya semakin terang. Seolah dia mampu melihat gerakan debu. Segala yang ada disekitarnya terlihat lebih berwarna.
Pikirannya lebih jernih seolah dia dilahirkan kembali dalam bentuk yang berbeda. Beberapa helai rambutnya bahkan berwarna biru dan beberapa helai berwarna keemasan.
Tubuhnya basah oleh cairan lengket. Itu adalah kotoran yang selama ini bersemayam dalam tubuhnya. Bagi seorang pendekar kotoran ini mengganggu jalannya penguasaan suatu ilmu. Setelah kotoran ini keluar kulitnya kini lebih lentur dan bersih.
Raksa segera membersihkan diri.
Raksa mengeluarkan pedang Pusaka Ruyung Hitam dengan penuh semangat. Suara serak akrab terdengar, bergema di kepalanya.
"Kau berhasil Raksa, aku merasakan tingkat tenaga dalammu lebih dari seribu lingkaran. Ini adalah lingkaran tenaga paling besar yang pernah aku temui. Dengan ini kau akan bebas menggunakan aku. Bahkan kau bisa merubah bentuk Rohku menjadi nyata dalam beberapa menit. Bagus Raksa, kau memang hebat dan berbakat, ha ..!" Roh pedang tertawa bahagia.
"Ini berkat dorongan dan bimbinganmu, terima kasih" Raksa tersenyum puas.
"Setelah ini kau harus mencari jurus baru yang lebih hebat, Serat Jiwa takkan mampu sempurna menampung tenaga dalamnmu" Roh pedang memberi seragam.
Pemahaman Raksa seperti dikuliti. Hatinya semakin mantap menapaki langkah demi langkah peningkatan kekuatannya.
"Tugasmu sekarang, menguasai tahap istimewa Ilmu Serat Jiwa, kekuatan pengendalian mata sebagai pintu masuk serangan jiwa, ini tahap jiwa tanpa jiwa" Roh pedang membuka rahasia terbesar Ajian Serat Jiwa.
Raksa terkejut. Tahap istimewa?. Eyang guru tak pernah mengatakan ada tahap lebih tinggi dari tahap keempat. Tahap Pamungkas.
......
Isak tangis terdengar menyayat hati. Mata sembab merah dengan air mata hampir mengering, merampas kecantikan seorang wanita setengah baya. Didekatnya sang suami duduk tak bergeming. Seolah tak peduli dengan tangisnya.
"Aku tak peduli, kakang harus menemukan Raksa, bagaimanapun caranya. Kakanglah yang bersikeras mengirimnya ke puncak Rinjani. Sekarang dia pergi, dia pergi untuk mencari kita, ayah dan ibunya. Tapi... " Tangis histeris kembali pecah.
Raden Wirang baya bangkit. Dia tak tahan lagi mendengar suara tangisan isterinya. Dia segera pergi untuk mencari putranya. Sebab dia tahu, ketika seorang wanita menangis meminta sesuatu maka lelaki harus segera memberikannya, jika tidak seluruh dunia akan tahu.
__ADS_1
.....
Wanita akan marah saat ditanya berapa umurnya, berapa kerut diwajahnya dan kemana anaknya pergi, sementara dia tak tahu jawabannya.
....
Mbe aning Syamil bekedek Biwing, Erwin Jayanti?
......
Raden Wirang baya menyaksikan raut terkejut diwajah Ki Buyut Bayanaka dan Putrinya Nirmalasari. Dia datang ke perguruan Selendang Sakti membawa kabar hilangnya putranya.
Ki Buyut tidak terlalu terkejut tetapi Nirmalasari sampai terlonjak dari tempat duduknya.
"Kabar terakhir, ciri ciri Raksa mirip dengan pemuda yang menjadi lawan bertarung Sunan Tembolak. Memperebutkan mustika Berare Lidah Biru. Sunan Tembolak gagal merebut mustika itu dan Raksa menghilang tanpa jejak. Semoga Raksa tidak apa" Raden Wirang baya menjelaskan kabar terakhir yang didapatnya.
Mereka akhirnya sepakat untuk mengerahkan kekuatan masing untuk mencari putranya Raksa.
"Apakah Sekar perlu tahu?"; Nirmalasari bertanya kepada ayahnya dan Raden Wirang baya.
Setelah berdiskusi lama ahirnya mereka sepakat kabar ini harus diketahui oleh Sekar Ayu. Ini saat yang tepat untuk membuka rahasia terbesar tentang siapa tunangannya.
Sekar Ayu ahirnya ikut hadir.
Raden Wirang baya hampir tak percaya gadis yang ada di hadapannya adalah Sekar Ayu. Benar benar kecantikan yang sempurna. Tatapan mata yang mampu menghentikan gerak waktu, tarikan nafas dan hentakan jantung setiap lelaki.
Sekar merasa risih ditatap seperti itu. Dia tahu tamu kakek dan ibunya bukan orang sembarangan. Sekar merasa tamu ini mirip seseorang. Darah Sekar berdesir ketika dia ingat siapa lelaki itu.
Ahirnya rahasia siapa tunangannya diungkap. Jelas tanpa sehelai benang menutupinya. Raksa adalah tunangan Sekar. Sekar tak menceritakan bahwa dia pernah bertemu dengan Raksa.
Bagaimana reaksi Sekar Ayu selanjutnya?
.......
Cintaku padamu sederhana tanpa jawaban karena aku takut akan menyakitkan jika kau memberi jawaban ....
.........
Apakah sang mentari tak sehati dengan embun pagi ...???
Batu sebesar kerbau kembali mendapat kehormatan sebagai tahta bagi sang Dewi jelita. Sang Dewi yang kini diselimuti seribu tanda tanya. Jemari lentiknya memegang tabung bambu pemberian Raksa.
Terbayang bagaimana mereka melewati satu Minggu bersama. Dia telah merawat dan menjaganya dengan ketulusan. Merawat orang yang justeru menginginkan jantungnya. Menanyakan pertanyaan yang konyol padanya.
........
Tuhan, mengapa kau ciptakan langit ini bisu, Sehingga aku tak bisa bertanya,.....
Dimanakah dia sekarang,
Aku ingin menjawab pertanyaannya
Jantung itu milikku.
......
Gadis itu ahirnya bangkit. Tangannya mengusap setetes kristal bening yang bergulir membasahi merah pipinya. Setelah menguatkan hati ia beranjak hendak pergi ketika sesosok tubuh telah menghalangi langkahnya.
"Ha ... Jangan terburu buru gadis ayu, temani aku menikmati dinginnya malam di sini, ha ...!" Kalimat itu terdengar nakal mengiris hati.
Sekar memperhatikan lelaki dihadapannya. Seorang lelaki dengan perut buncit. Gemuk dan kulit hitam legam. Rambut keriting dan masih bernapas. Hidup. Jika dia mati tentu tak ada masalah baginya. Karena dia masih bernapas dan napas itu panas membara penuh nafsu.
Sekar tak butuh bertanya identitas lelaki itu. Ahir akhir ini sudah lusinan lelaki yang datang dengan tujuan yang sama. Tubuh istimewa yang dimilikinya adalah penyebabnya.
Siapapun yang menjadi suaminya akan mendapatkan keuntungan. Kesaktiannya akan meningkat secara drastis.
Inilah masalah yang ditakutkan oleh ibu dan kakeknya. Sekarang itu sudah terbukti. Selama hampir satu bulan ini, sudah selusin lelaki model si gendut ini dikirimnya ke alam baka. Menambah satu lagi bukan masalah baginya.
Dia tak suka dengan tatapan yang seolah menelanjanginya ..
Sekar bergerak. Dia bersatu dengan desir angin. Lelaki itu tak sempat mengucapkan satu kata. Sebuah tangan halus menyentuh dadanya dan jantungnya berhenti berdetak. Dia mati dengan mata melotot penasaran. Mengapa dia tak sempat menghirup aroma tubuh gadis ini lebih dalam? Baginya, keharuman tubuh gadis ini sudah seharga dengan nyawanya.
__ADS_1
Malam turun menjelang. Sekar melambaikan tangan. Sosok tubuh tak bernyawa itu tersapu seperti daun kering. Terbang ratusan meter. Terkubur dikedalaman lembah. Menambah daftar roh gentayangan dari jiwa jiwa yang terlupakan.
.....
Raksa berdiri gagah menatap dunia luas. Dia telah terkurung didalam penjara perut bumi hampir satu tahun. Selama rentang waktu itu dia telah berjuang untuk hidup. Melewati siang dan malam dalam warna yang sama. Jika ada yang bertanya bagaimana rasanya. Jawabannya sederhana. Penderitaan itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Dia memejamkan matanya memuji tuhan atas kesempatan kedua yang dia terima.
Dia melesat seperti panah lepas dari busurnya. Menuju ke arak selatan. Tujuannya adalah mencari kunci orang yang mengetahui siapa dia sebenarnya.
Ketika dia melintasi dusun tempat Kemangi dia menghentikan larinya. Kondisinya yang menyedihkan setelah terkurung perlu dibereskan. Dia kotor dan bau. Dengan pasti dia menuju rumah Gadis itu.
"Kemangi!" Raksa menyapa gadis yang duduk sendiri di berugak depan rumahnya.
Kemangi lambat bereaksi. Dia butuh waktu cukup lama untuk terpaku. Dia berdiri dan justeru berlari ke dalam rumah. Raksa tertawa. Apakah dia mirip hantu. Dia sadari penampilan, terutama bajunya yang lusuh. Rambut panjang melewati pundak. Kemangi pasti mengira dia orang gila.
Ndekke Toris kepusak ekan Brunai? Lenek Bagus!!!
....
Raksa menikmati makan malam dengan lahap. Gaya makannya membuat Kemangi dan kakeknya berhenti makan. Raksa yang makan tetapi sepertinya mereka yang kenyang. Raksa seperti tokoh Cupak dalam legenda makan. Cocok jadi host Bikin Laper.
Setelah makan mereka bertiga berbincang di berugak. Sambil makan sirih kakek mendengar kisah Raksa terkurung di penjara perut bumi.
Kemangi sendiri tak pernah berbicara. Wajahnya tertunduk. Sesekali ia mendongak melirik Raksa. Ada air mata membasahi pipinya yang halus. Dadanya penuh sesak dengan duka membayangkan bagaimana Raksa melewati masa sulit dipenjara bawah tanah.
Raksa beristirahat beberapa hari di rumah Kemangi. Kesempatan Itu dimanfaatkan Raksa untuk lebih dekat dengan keluarga kecil itu. Satu tahun terkurung membuatnya sadar arti kehidupan keluarga.
Sebelum pergi Raksa memberikan beberapa genggam rumput dan jamur untuk Kakek. Dia berharap kakek akan selalu sehat karena dia merasa adalah keluarganya.
......
Raksa pamit kepada Kemangi dan kakeknya. Gadis itu melepas kepergian Raksa dari balik pintu. Dia bersandar menahan gemuruh dalam dadanya. Perasaan adik melepas kepergian kakaknya kembali membuncah.
Dia pernah melakukan itu sebelumnya dan kakanya pulang tanpa nyawa. Kini dia punya kakak yang baru walaupun dia merasa ada getar lebih dari itu. Dia takut itu terulang lagi.
Raksa merasa sedikit berat untuk pergi. Tapi dia berjanji untuk kembali dan membawa hadiah untuk Kemangi. Adik kecilnya yang kini mulai beranjak menjadi gadis dewasa.
.....
Raden Wirangbaya duduk dikelilingi oleh beberapa tokoh penting desa. Mereka sedang membahas cara menyelesaikan masalah keamanan di wilayah mereka. Pencurian ternak dan dua orang aneh yang mempunyai ilmu tinggi yang datang mengacau hampir setiap malam.
Belum lagi penyakit aneh yang menyebar. Walupun belum memakan korban tetapi perlu ditangani segera.
Kerumunan tiba dikagetkan oleh kedatangan penjaga pintu gerbang desa.
"Ada apa penjaga, kami sedang ada diskusi penting, tolong jangan mengganggu!" Raden Wirang baya mengingatkan warganya dengan tatapan mata yang lembut dan bahasa yang halus.
"Ampun Raden, ada pemuda asing yang ingin bertemu dengan Raden. Saya sudah mengingatkan tetapi dia sudah menunggu lama. Kasihan sekali, dia pemuda yang saya ceritakan dulu" penjaga berkata seolah dia sangat sayang pada pemuda itu.
Raden Wirang baya terkejut, dia langsung berdiri. Dia segera memberikan perintah membawa pemuda itu masuk. Sementara dia masuk ke ruang dalam menemui istrinya.
Sebentar kemudian dia keluar dengan seorang wanita yang terlihat sakit. Matanya sembab. Tubuhnya terlihat kurus. Semua yang hadir bingung.
Beberapa saat kemudian penjaga datang bersama seorang pemuda. Penampilannya membuat semua orang heran. Dia seperti mirip seseorang yang mereka kenal tetapi lebih gagah dan terlihat mistik.
Rambutnya yang panjang melewati pundak dengan warna yang berbeda beda. Sinar matanya yang indah dan menakjubkan membuat semua orang heran. Selain itu mereka merasakan tekanan tenaga dalam yang luar biasa menghimpit mereka. Masih sangat muda tetapi memiliki tenaga dalam tak terukur.
Beberapa orang bahkan mundur. Dengan tekanan kemampuan sehebat ini mereka akan disapu rata hanya dengan mengangkat jari.
Raden Wirang baya dan isteri bingung harus bagaimana. Pemuda itu berdiri di depan semua orang yang menatapnya dengan pandangan penuh selidik.
Isteri Pangeran Wirangbaya tak kuasa menahan perasaan. Tangisnya pecah. Dia limbung dan jatuh terkulai. Pingsan dalam dekapan suaminya.
Raksa bingung. Ada apa ini?
Ini kedua kalinya dia membuat seseorang bersikap aneh. Jika Kemangi terkejut dan berlari sekarang seorang wanita pingsan ?
Ada apa, apakah ini ada hubungannya dengan jati dirinya?
.... Bersambung ....
__ADS_1