
...****************...
Semalam pertengkaran hebat terjadi antara Dika dan Kirani. Tapi tak ada seorang pun yang berani melerai atau masuk kedalam kamar kedua orang itu.
Audina saja, yang harusnya tidur di kamar samping Dika, lebih memilih mengungsi ke kamar Adrean. Sebab saking bisingnya suara bentakan keduanya.
Namun, saat di meja makan pagi ini, penghuni dalam rumah nenek rosi terlihat seperti tak ada yang terjadi apa pun.
Malahan kedua pelaku dari kehebohan semalam, sekarang duduk berdampingan dan berlagak seperti pasangan suami istri yang harmonis.
Audina juga tak terlalu memusingkan hal itu. Ia lebih memilih menyiapkan roti serta susu stroberi untuk adrean.
“Audina?”
Sontak Audina yang sedang mengoleskan selai coklat di rotinya, mendongak. Menatap kirani yang memanggil.
“Em, aku meminta maaf atas tuduhan beberapa hari lalu kepadamu.” Ucap kirani.
Audina mengangguk. Dia sangat-sangat ingin membatasi interaksi dengan kakaknya.
“Kau sekarang akan bekerja, Audina?” Rosi tiba-tiba bertanya.
“Iya, nyonya rosi. Apa kakimu sudah membaik?”
__ADS_1
Rosi tersenyum dan melirik Adrean. “Yeah, ini juga berkat tangan genius anakmu itu,”
“Iya nek. Tak usah menyombongkanku.” Adrean menyahut padahal ia sedang fokus memakan rotinya.
Rosi tertawa. Dia lalu menatap Dika, namun matanya seketika menyipit, kala melihat wajah Dika yang memerah. Itu seperti tanda jika alergi Dika tengah kumat. “Nak, kau habis memakan kacang?” tanya Rosi, khawatir.
Membuat atensi seluruh orang di meja makan berpusat padanya.
“Tidak aku—“
“Dika ... rotinya tadi aku oleskan selai kacang...” cicit Kirani.
Tak lama dari itu, Dika mengalami kesusahan bernafas. Rosi pun mendorong kursi rodanya sendiri dan memeluk kepala sang cucu. Menyuruh para penjaga untuk memanggil dokter pribadi segera.
Audina pun jadi ikut panik. Ia cepat menolehkan kepalanya pada Adrean, dia tahu obat nya apa. Tapi jika melakukan ini, bisa saja, identitas Audina yang sebenarnya akan terbongkar. Masa bodoh, melihat Dika hampir kehabisan napas, membuat hatinya terenyuh.
Audina lantas berlari ke arah kulkas. Disana ada jahe, lalu ia menghaluskan jahe itu sehingga keluar cairan serta sari-sarinya. Setelahnya audina memasukkan ke gelas dan membawa kepada dika yang sedang dibaringkan disofa.
“Nyonya, aku izin ya?”
Rosi mengangguk yakin. Audina pun memegang kepala Dika, dan membuat lelaki itu meminum obatnya.
Butuh beberapa detik untuk obatnya bekerja. Sehingga, pernapasan Dika kembali teratur. Namun, lelaki itu langsung tak sadarkan diri. Bertepatan dokter pribadi keluarga Rosi datang.
__ADS_1
...
“Jelaskan apa yang kau dapat, Jaz.”
“Setelah aku selidiki. Kecurigaan tuan, tentang ibu Adrean itu audina yang sama dengan Audina yang mengandung anak tuan, benar adanya.” Jaz pun memberikan bukti-bukti nya.
Disana dika melihat, ada foto saat seorang lelaki berpakaian hitam membawa tubuh audina setelah kejadian mobil meledak. Lalu ada juga foto audina saat melakukan operasi plastik. Dan terakhir, ada foto audina yang sedang mengandung.
“Sudah kuduga,” lirih Dika.
Dia telah menduga ini dari awal kejadian kopi itu. Ditambah, saat audina memberikan obat untuk alerginya seminggu lalu. Dika tahu, obat itu adalah racikan dari audina sendiri untuknya saat dahulu pacaran.
“Okay jaz. Gajih bulan ini akan kunaikkan untukmu. Cari lagi, bukti-bukti yang lebih kuat.”
“Baik tuan. Aku izin keluar.”
Sekarang tinggallah Dika sendiri yang ada di ruangan tempat ia bekerja.
Berarti Adrean adalah anaknya.
Dia mengingat-ingat kembali, kejadian serta sikap yang sama antara ia dengan adrean. Memang begitu mirip. Apalagi tentang otak pintarnya. Membuat adrean terkekeh. “Pantas saja dia genius. Orang ayahnya aku.” Ucapnya dengan penuh percaya diri.
Lalu tatapan dika berahlih kearah foto audina. “Mau bagaimana pun wajahnya, sikapnya tetap seperti orang bodoh!”
__ADS_1
“Sepertinya, bermain-main sedikit dengan audina akan seru.” Dika langsung tertawa. Dengan memikirkannya saja sudah membuat ia sebahagia ini. Apalagi jika langsung dipraktekan?
...****************...