Kakak Iparku Ayah Dari Anakku

Kakak Iparku Ayah Dari Anakku
Minggu aneh


__ADS_3

...****************...


Minggu ini. Dika, Adrean, Ratu serta Jaz yang menemani, sedang berlatih tembakan bersama.


Tempat ini, telah papah Dika buat khusus untuk Dika. Tapi sayang, sang pembuatnya telah meninggal.


“Ad, fokus ke titiknya!” seru Dika, memantau Adrean dari jauh.


Dia lalu ikuti perintah Dika, dan dor. Peluru itu melesat begitu cepat menuju titik yang dimaksud Dika tadi. Tepuk tangan berseru. Ratu yang duduk di tempat berteduh kegirangan dan memanggil nama Adrean begitu keras.


Dengan wajah sombong, Adrean tatap Dika. “Bagaimana, dad? Not bad kan untuk olang yang pertama kali latihan menembak?” tanya Adrean, angkuh.


Dika menggeleng ia berjalan ke tengah lapangan dengan memegang sebuah kendi berisi air diatas kepalanya.


“Belum bagus. Kau harus menembak kendi ini hingga pecah. Tapi jangan salah, kendi ini bisa pecah kalo peluru yang kau tembak tepat pada tombol kecilnya.”


Merasa tertantang, adrean siap-siap untuk menembak. Ia arahkan pistolnya ke depan, lalu mencari bidikan, ketemu. Tombolnya berwarna merah. Maka dengan sekali lepas peluru maju, dan mampu mengenai tombolnya sehingga kendi pecah dan air di dalamnya membasahi kepala Dika.


“Good job boy!” puji Dika.


“I know!” teriak Adrean.


Dika tertawa sembari membuka bajunya yang terkena basah. Lalu ia lemparkan kearah jaz yang langsung ditangkap oleh sang empu.


Dika tersenyum singkat pada ratu lalu duduk di sampingnya. Mereka berdua fokus menatap bocah berumur enam tahun itu yang masih terus berlatih. Hingga suara melengking milik kirani terdengar dari arah masuk lapangan.


“Suamiku! Omaygait! Kenapa perutnya dikasih liat begitu?!” ujar Kirani sembari berjalan kearah Dika. Dengan membawa keranjang ditangannya.


“Gak apa-apa.” Jawab singkat Dika.


Kirani merenggut kesal lalu membuka isi dari keranjang itu. Disana ada kue-kue kering yang dihias selucu mungkin. Dengan semangat Kirani suapkan ke arah Dika, terpaksa Dika memakannya.


“Gimana? Enak, kan?”


Dika mengangguk. Dia masih belum memperhatikan Kirani yang ada di depannya. Fokusnya tetap untuk Adrean.


“Cih, tidak ibu tidak anak selalu saja mengambil perhatian Dika!” Kirani membatin kesal. Ia lantas membawa tembakan yang Dika gunakan tadi, lalu berdiri kembali di hadapan pria itu. “Mas, aku pengen bisa main tembak-tembakan kaya si bocah itu!” ucap Kirani.

__ADS_1


“Jangan, aneh-aneh.” Tekan dika.


Tapi Kirani tak pantang menyerah, ia berdiri di samping Adrean lalu berusaha membidik kearah titik-titik bulat yang tak Kirani paham.


Dor


Peluru benar melesat tapi bukan titik itu tujuannya. Malah peluru menembak bebas kearah batang pohon yang terletak disana.


Membuat Adrean terkekeh. Dan Dika yang menggeleng tak percaya. “Udah aku bilang. Duduk aja sini.” Ajak Dika, dia kasihan melihat telinga Kirani yang memerah sebab malu.


Akhirnya Kirani berjalan ke tempat berteduh itu. Walau dengan kaki yang disentak-sentakkan.


“Mamah, udah good kok tadi!” puji Ratu sembari memperlihatkan kedua jempolnya. Tapi hanya diberi tatapan sinis oleh Kirani.


Belum ada Kirani mendudukan diri di kursi, ponselnya berdering. Melihat nama papah yang memanggil, Kirani berlari untuk segera mengangkatnya.


Dika tak tahu apa yang dibicarakan perempuan itu bersama papahnya, namun melihat raut ketakutan dari wajah Kirani. Dika yakinkan pasti ada yang terjadi. Apalagi setelah telepon berakhir Kirani langsung pamit terburu-buru.


“Ikuti Kirani.” Ujar Dika setelah orang di seberang sana, menerima panggilan yang Dika beri.


“Perjanjian, tuan Kaivan. Kau ingat, apa yang akan ku beri, kan?” tanya Dika dengan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dia suka bermain-main pada emosi Kaivan.


“Oke!”


Setelah telepon benar-benar tertutup. Dika bangkit dan membawa bajunya. Sembari memakai, ia berteriak. “Boy! Latihan hari ini selesai! Cepat pulang, temani wanitaku!” teriaknya keras agar terdengar oleh Adrean, sebab jarak yang terhitung jauh.


Adrean hanya memberi tanda ok. Dan Dika pun keluar dari lapangan.


...


Meski ogah-ogahan. Tapi detik ini, Kaivan sudah memarkirkan mobilnya didepan rumah Kirani. Dia hanya duduk saja dari sejam lalu, tanpa tahu wanita itu sedang apa di dalam.


Yah, sebenarnya Kaivan juga tak peduli. Ia melakukan ini hanya untuk sebuah perjanjian konyol dan hadiah entah apa yang akan diberi Dika.


Menghilangkan rasa jenuh dari dirinya, Kaivan buka kaca, lalu mulai merokok. Dia biarkan asap-asap itu beterbangan keluar.


Sampai saat akan menyulut rokok keduanya. Kirani keluar dari gerbang rumah itu. Tapi, dengan keadaan, rambut yang acak-acakan, baju yang sudah terobek di bagian tangannya, dan air mata yang mengalir deras dari kedua mata kirani. Kaivan lantas mengernyit bingung.

__ADS_1


Dia langsung saja mengikuti kemana kendaraan Kirani berjalan. Hingga mobil itu terparkir di sebuah bangunan yang tak terpakai. Setahu kaivan, bangunan ini sudah kosong dari empat tahun lalu sebab sang pemilik bunuh diri sehingga para karyawan menutup tokonya.


Cerita itu tak penting, tapi akar masalahnya mengapa wanita itu kemari? Apa mau mengikuti jejak pemilik bangunan ini, dengan bunuh diri?


Tuk Tuk Tuk


Suara sepatu kaivan beradu dengan tangga besi yang ada di sana. Dia sedang menuju ke lantai paling atas, mengikuti diri Kirani yang lebih dulu menghilang.


Mata Kaivan mencari ke seluruh penjuru atap atau roftoop. Dia berkacak pinggang, sembari mengatur nafasnya.


“Kirani!” teriak kaivan tiba-tiba saat melihat wanita itu ada di tembok pembatas siap melemparkan diri ke bawah.


Tanpa kata, kaivan tarik tubuh kirani hingga jatuh di atas tubuhnya. Mereka terdiam dengan posisi seperti itu, dan menetralkan degup jantung yang berpacu lebih cepat. Apalagi untuk kaivan, first time melihat orang akan bunuh diri.


“Sorry..” cicit Kirani, lantas membangkitkan dirinya lalu berahlih duduk tanpa alas di lantai roftoop.


“Cuman orang gila yang mau mati padahal tuhan belum panggil dia.” Sarkah kaivan.


“Lebih baik disebut orang gila! Daripada harus terus disiksa, diancam, digilir ke kumpulan judinya!!” teriak kirani histeris.


Kaivan terdiam. Wanita itu, benar dibegitukan?


“sini,”


“Gak. Aku tahu kamu juga punya niat jahat!” balas kirani.


“Mungkin. Tapi hari ini, biar saya peluk kamu.” Setelah ucapan meyakinkan Kaivan, Kirani berangsur-angsur masuk kedalam pelukan Kaivan.


Keduanya terdiam dalam posisi itu, sampai langit menjadi warna oranye. Kaivan yang pertama kali melepas pelukan mereka. Ia lalu tatap wajah kirani dan berahlih mengelusnya.


“Mau kerumah saya?”


Kirani menatap kaivan tak paham.


“Saya obati luka kamu. Sekalian ganti bajunya.” Lanjut kaivan yang membuat kirani berfikir untuk beberapa saat, hingga kepalanya mengangguk setuju.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2