
...****************...
“Brengsek! Harusnya aku bunuh saja gadis picik itu waktu di kamar mandi.” Kesal Rosi. Dia lemparkan lagi gelas kaca yang dibelinya di Jerman kala itu, ke dinding, hingga tak berbentuk. “Ah! Sialan! Kalau begini rencanaku bisa-bisa gagal!” kali ini, Rosi lampiaskan kemarahannya dengan mengacak-ngacak rambut yang baru di salonnya kemarin. “Argh. Sisil!”
“Iya, nyonya.”
Dengan mata memerah Rosi angkat wajahnya dan menatap penuh kebencian kepada Sisil. Dia berandai-andai jika Sisil adalah Resca. “Lakukan apapun agar si Resca itu meninggal. Biarkan dia ikuti jejak ayah dan suaminya.” Rosi tertawa. “Dia harus tahu sedang bermain-main dengan wanita perebut seperti apa...” Katanya yang diakhiri dengan meminum tuntas sebotol wine.
...
“Alamatnya tak salah?” tanya berulang kali Kirani, memastikan. “Benar, ini alamatnya. Kita harus masuk.” Dan itulah jawaban ke sekian kali yang juga diberikan Kaivan. Namun bedanya, sekarang mereka memberanikan diri masuk kedalam kastel tua yang tempatnya di tengah-tengah hutan.
Kirani menatap ragu, tadi saat mereka berdua tak sengaja bertemu di jalan. Kirani ikut menumpang kepada mobil Kaivan dan Kaivan menyetujui tapi dia harus ke suatu tempat dahulu.
Kirani pikir, tempat yang dimaksud adalah rumah kerabat atau berkaitan tentang pekerjaan tapi ternyata yang didapat hanya bangunan seperti tak berpenghuni ini.
“Ayo, Ra!” Ajak Kaivan.
Maka keduanya berjalan melewati rumput-rumput panjang yang telah lama tak di babat. Dan berhasil berada di teras kastel itu. Kaivan mencoba tetap mempertahankan tata kramanya dengan mengetuk pintu. Nihil, sudah ketukan ke lima tak ada satu orang pun yang menyahut. Sehingga, Kaivan tarik gagang pintu yang mirip seperti di kerajaan-kerajaan.
Terbuka.
“Kamu dulu, saya jaga belakang.”
Kirani menoleh tak terima. “Enak aja, nanti kalau ada apa-apa pasti aku yang kena pertama. Gak-gak, kamu dulu aja,” Tolak mentah-mentah Kirani.
Kaivan menghela nafas lalu mengangguk. Saat baru masuk, suasana yang dirasakan adalah sunyi dan udara dingin menerpa kulit mereka. Disana banyak perabotan rumah namun semua tertutup kain putih. Kecuali, jam besar diujung rumah, dia seperti dibiarkan terkena debu.
“Kira—“
Teng!
“KAIVAN!” Kirani berteriak ketakutan sembari memeluk lengan pria itu, yang juga sama terkejutnya namun masih mempertahankan sikap cool. “Bukan apa-apa. Itu hanya penanda sekarang sudah jam tiga sore.” Tenang Kaivan sembari menjauhi tubuh mereka berdua yang terlalu dekat.
“Okay ... tarik nafas, buang ... iya rileks, tarik nafas—BAIKLAH!”
“Astaga.” Kejut Kaivan saat Kirani berteriak dikalimat terakhirnya.
“Hehe, peace,” Kirani berucap dengan menunjukkan jari telunjuk dan tengah seperti huruf V. “Setelah aku pikir lagi, lebih baik kita jalannya damping-dampingan aja, gimana?”
__ADS_1
“Terserah.”
Kedua manusia itu, berakhir mengelilingi kastel tua untuk menemukan hadiah yang dikatakan Dika pada hari itu. Kastel ini terdiri dari tiga lantai dan banyak kamar. Bisa dibayangkan jika dulu, pemiliknya orang kaya. Dilihat dari beberapa barang bermerek yang ada.
Kirani berjongkok dan menelungkup kepalanya di antara kedua lutut. “Ck! Kamu harusnya tau, Dika bisa jadi tipe pembohong buat rival bisnisnya,” Kesal Kirani. Setelah mereka menaiki banyak anak tangga hingga saat ini kembali lagi ke lantai awal mereka datang. Tanpa hasil apa pun.
Kaivan tak menjawab. Dan menatap sekitar, ada satu ruangan yang belum mereka datangi. Tapi, melihat Kirani yang sudah lelah membuat Kaivan mengurungkan niatnya. Mungkin lain kali, ia harus ke kastel ini seorang diri.
“Berdiri, kita pulang.”
Ogah-ogahan. Kirani ikuti langkah kaivan yang sudah lebih dulu jalan kearah pintu.
Satu langkah lagi, kakinya akan keluar dari kastel ini, namun, pintu berukuran besar itu tiba-tiba menutup keras, hingga membuat Kirani terlonjak kaget dan berjalan mundur.
Tubuh Kirani seketika panik. Dia terkurung di kastel ini sendiri, dan Kaivan sudah ada diluar sana!
“Kirani! Kamu dengan suara saya?” tanya Kaivan dari pintu luar.
“I-iya.”
“Saya coba dobrak, dan kamu jauh-jauh dari pintu.”
Tapi meskipun begitu Kirani tetap ikuti aba-aba dari Kaivan.
Bruk
Bruk
Bruk
“Brengsek. Susah.” Kaivan mengumpat sebab usahanya sia-sia. Otaknya kembali berfikir. Balkon!
“Kirani...”
“Ini aku.”
“Naik ke lantai dua dan keluar dari balkonnya. Saya akan tangkap kamu dari bawah. Cepat!”
Kali ini, Kirani patahkan rasa takutnya. Dan berjalan ke arah tangga, mencoba fokus akan jalannya saja. Dia dengan senter ponsel, sebagai cahaya jalan satu persatu menaiki anak tangga. Hingga inilah akhir perjuangan dan satu-satunya rintangan yang sulit.
__ADS_1
Kamar, balkon itu berada. Sebelum masuk, Kirani tekan kontak Kaivan dan memanggil lelaki itu.
“Dimana? Saya tunggu kamu, ce—“
“Berisik! Aku takut masuk kedalam sana, cepat semangati atau buat rasa takutku hilang,”
Hening
Kirani sempat berpikir teleponnya dimatikan sepihak, tapi saat suara Kaivan kembali terdengar, Kirani tersenyum.
“Kamu tahu, saya benci sekali dengan kasur. Ini aneh, tapi pada kenyataannya saat melihat kasur saya seperti melihat hewan besar yang akan memakan saya, jika saya tidur di atasnya,”
Sembari melangkah pasti, Kirani mulai menanggapi. “Kenapa? Padahal kasur adalah hal yang paling aku suka,”
“Entah.”
“Pria aneh,” gumamnya dan membuka pintu kamar.
Kaivan di bawah mendengar suara langkah kaki. Yang artinya, Kirani mulai mendekat. Sembari menunggu, dia bersandar di pilar kastel. “Saya saat kelas enam pernah mematahkan tulang kaki teman saya, hingga keluarganya menuntut saya.”
“SINTING!” Kirani hentikkan langkahnya hanya untuk menanggapi ke monsteran dari jiwa Kaivan.
“Hahahaha. I know. Sekarang ceritakan apa saja—“
“Aww...”
Ringisan Kirani diatas sana, menghentikkan kalimat Kaivan dan mampu membangkitkan rasa panik dalam diri pria itu. “Kirani? Jawab. Kirani,”
“Ya, ya. Bajuku tersangkut, bentar,”
Dengan ponsel di genggamannya. Kirani menunduk untuk melepaskan ujung dress di paku yang digunakan sebagai penahan kain putih itu. Setelah dirasa terlepas, Kirani bangkit. Tapi, tanpa disangka ia malah membuat kain putihnya ikut terrbuka.
“Aduh, gima—“
“Kirani, hallo, Kirani jawab panggilan saya!”
Telinga Kirani terasa tuli. Dia hanya fokus terhadap figura-figura foto yang tadi terhalang kain namun sekarang tidak.
Ke dua tangan Kirani mengepal. Air matanya menetes begitu saja, kala melihat dan mengingat kenangan dari foto-foto itu.
__ADS_1
...****************...