Kakak Iparku Ayah Dari Anakku

Kakak Iparku Ayah Dari Anakku
Dag dig dug deg


__ADS_3

...****************...


“Cadel,” panggil ke sekian kali Dika pada bocah yang sedang duduk di sampingnya. Tapi tak kunjung, ditatap. Membuat Dika kesal sendiri, dan berakhir menepuk bahu Adrean.


“Apa?” sahutnya.


“Selain cadel, kau budek juga ya?”


“Emang uncle panggil, Ad tadi?” tanya Adrean balik.


“Lah, kocak. Daritadi aku memanggilmu!”


Adrean menggeleng. “Uncle tadi panggil cadel. Sedangkan namaku A-dre-an, bukan cadel-cadel itu.” Jelas Adrean. Yang mampu memunculkan rasa gemas dalam diri Dika. “Terserah. Intinya aku memanggilmu,” Dika menyandarkan kembali punggungnya ke kursi, dan menatap Adrean.


“Ya, ya, ya. Kenapa uncle memanggilku?”


“Ayahmu tinggal di mana?” tanya Dika tanpa berbasa-basi.


Dalam beberapa waktu, Adrean tak langsung menjawab. Dia pusing bagaimana menjelaskannya.


“Aku tetap memaksamu untuk menjawab ya, Ad.”


Adrean pun mengangguk. “Aku tak akan menjelaskan secala detail kepada uncle, karena uncle tak sedekat itu denganku. Tapi yang pasti. Ayahku ada, dan dia pelgi entah kemana.” Jelas singkat Adrean, yang bertepatan mobil terhenti didepan halaman rumah nenek rosi.


Adrean lebih dulu keluar. Lalu disusul dengan Dika.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan, hingga saat menginjaki kaki diruang televisi. Keduanya mendapati, Rosi, Sisil dan Audina, yang sedang menonton film horor terbaru.


Dengan akal busuknya, Adrean berjalan ke belakang sofa, lalu memeluk sang ibu dari belakang. Yang membuat refleks Audina berteriak, dan mengagetkan juga Rosi dan Sisil yang ada di sampingnya.


“Adrean drucula!! Kau ini ya!” Audina berdiri dan menghampiri adrean. Tapi, adrean langsung berlari, membuat audina yang sudah kepalang kesal pada sang putra, mengejarnya.


“Uncle! Help me!!” teriaknya, dan bersembunyi dibalik tubuh dika yang sedaritadi menonton pertengkaran antara ibu dan anak itu.


Tapi, dika tak langsung membantu. “Jika aku menolongmu, apa imbalannya?” dan malah bertanya apa hadiah yang akan diberikan. Dasar pamrih!


“Design! Design mobil! Aaaa tolonggg!!”


“Okay.”


Audina yang tadinya sudah mendapati tubuh adrean, malah melepaskan. Kala sadar, dika memeluknya dari arah belakang.


Dalam beberapa detik yang berjalan. Degup jantung Audina sangat cepat. Belum lagi wajah yang memerah, dan tubuh menegang. “Aku kenapa?!! Apa gara-gara, aku telah lama tak ada kontak fisik dengan pria, jadi begini?” tanyanya beruntun dalam hati.


“Bay mommy! Ad ke kamar.”


Lihat. Pelaku dari semua yang dirasakan Audina sekarang, seenak jidat malah pergi.


“Mas?” panggil kirani dari arah tangga. Yang membuat Dika menghampiri sang istri.


Audina pun lebih memilih untuk ikut bergabung kembali dengan nenek Rosi. Menonton kelanjutan film horornya.

__ADS_1


Melupakan, apa yang dirasakannya tadi.


...


“Ada keperluan apa, kau kemari?”


“Sebelumnya, aku Faiz dari pihak kepolisian yang enam tahu lalu menangani kecelakaan mobil terbakar di jurang,” ungkap pria itu sembari memperlihatkan kartu polisinya.


Dika mengangguk. “Bisa langsung ke poinnya?”


“Baik. Ini foto-foto yang aku kumpulkan dari TKP. Dan kami sama sekali tak menemukan jasad wanita bernama Audina disana.” Faiz membeberkan foto tersebut diatas meja. Dan langsung dibawa serta diteliti oleh Dika.


Setelah yakin. Dia mencoba untuk menahan amarahnya kepada polisi satu ini. “Kenapa kau baru memberitahuku?!” bentaknya yang kesal, karena beberapa tahun ke belakang ini Dika selalu bersedih atas kematian anaknya.


“Sebenarnya aku sudah lama mencarimu, dan berusaha untuk berkomunikasi. Tapi, akses bertemu denganmu seperti di blok oleh seseorang, jadi baru hari ini aku dapat menyampaikan hal ini. Aku benar-benar meminta maaf.” Sesal Faiz. Tapi dia segera memberikan setumpuk koran berita berbahasa inggris pada dika. “Mungkin ini akan sedikit membantu,”


Dikoran itu tertulis tentang berita satu anak remaja yang sengaja menabrakkan sepeda motornya ke truk. Karena menjadi korban pembullyan disekolahnya.


Dika menatap kembali Faiz sembari menyandarkan tubuhnya dikursi kerja. “Aku sedang malas berfikir,”


Faiz menghela napas. Tatapannya seperti menerawang jauh kepada kejadian itu. “Saat dua tahun lalu, aku kerja di new york dan mendapati kasus, kecelakaan ini. Sebenarnya semua sederhana. Tapi yang membuat kasusnya menjadi rumit adalah, saat remaja yang mengendarai motor itu hilang di TKP. Sama seperti kejadian nyonya Audina. Dan setelah diselidiki, ternyata remaja itu dibantu seseorang dan karena luka bakar yang parah di wajahnya, dia harus melakukan operasi plastik,”


“Jadi, aku berpendapat, bisa saja nyonya audina melakukan apa yang remaja itu lakukan. Karena dorongan tertentu.” Setelah mengucap itu, Faiz bangkit dari duduknya dan pamit pergi dari ruangan Dika.


Meninggalkan Dika yang lagi-lagi berfikir. “Dorongan? Apa karena ia hamil anakku?”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2