
...****************...
Duduk dikursi singgasananya, dengan didampingi banyak pengawal dan senjata ditangan mereka. Dika lagi-lagi tersenyum. Dia bangkit lalu duduk di atas meja tepat di hadapan seorang wanita yang bersimpuh.
“Jadi, semua foto itu, ulahmu?” tanya Dika sembari memegang dagunya agar mendongak.
Wanita itu masih saja diam, tak mau menjawab. Padahal dia sudah mendapatkan banyak luka ditubuhnya. Salah satu pengawal berbaju hitam, akan maju untuk memberi pukulan kembali, tapi kali ini Dika mencegah dan menghidupkan sebuah layar lebar.
Di dalam layar lebar itu, muncul tiga anak kecil yang sedang disandera. Lantas hal itu, membuat Wasni berteriak. Dan langsung bersujud di hadapan Dika. “Tuan, saya mohon ... lepaskan anak-anak saya yang tak bersalah...” lirihnya yang terdengar begitu menyakitkan.
“Berdiri. Buat pernyataan di hadapan publik bahwa semua foto itu hanya editan.” Dika menendang wanita itu dan berbalik kini dialah yang berjongkok di hadapan Wasni. “Jangan berani-berani lagi, untuk memata-matai Audina dan Adrean. Kalau kau melakukannya, ketiga anakmu mati. Dan hidupmu tak akan pernah tenang.” Peringatnya. Dika pun langsung beranjak pergi setelah berkomunikasi pada Jaz lewat matanya.
Mobil merah milik Dika sekarang sudah pergi dari gedung yang terlihat tua dari luar namun, dalamnya begitu mewah. Gedung yang dijadikan pekerjaan malam oleh lelaki itu.
Saat teringat sesuatu, Dika terkekeh lalu menelepon Audina. Butuh beberapa detik untuk dijawab oleh sang empu.
__ADS_1
“Ya hallo tuan Dika terhormat, kau membutuhkan apa di jam tidur para manusia?”
“Kau seperti jengkel kepadaku, apa ingin dipotong gajih?” tanya Dika dengan menampilkan senyum miringnya.
“Tidak! Aku, aku sekarang begitu semangat! Ayo sebutkan saja kau butuh apa??”
Ingin sekali ia tertawa, tapi jika itu terjadi semua rencana akan gagal. “Siapkan kopi seperti biasa, sebentar lagi aku pulang.” Dika langsung menutup panggilan tanpa ingin tahu jawaban apa yang Audina berikan.
Sedangkan di tempat lain. Audina mencak-mencak tak jelas sepanjang jalan dari kamar sampai dapur. Bayangkan saja, dia seperti lebih dijadikan babu oleh lelaki itu daripada seorang sekretaris.
Dari kemarin ada saja keinginan Dika yang membuat audina harus ekstra sabar, mengontrol emosinya.
Matanya membola, terkejut. Kala mendapati Ratu tenggelam. Dia tanpa berfikir dua kali, langsung menghampiri.
“Ratu!” Audina membawa tongkat panjang dan menyuruh ratu untuk menggapainya, tapi anak itu tak mampu. Membuat audina lagi-lagi berfikir.
__ADS_1
Kalo saja bisa dan tak memiliki trauma akan kolam renang. Audina pasti akan langsung menyebur kedalam sana dan menolong ratu. Kaki Audina berlari kekamar adrean yang dekat dari situ. Dia ingat, Adrean ahli dalam berenang.
Dengan cepat ia membuka pintu kamar tersebut, dan menarik tangan Adrean yang tak mengerti apa-apa.
Berahlih ke Dika. Dia baru saja menginjakkan kakinya dirumah rosi. Tapi kosong, biasanya Audina akan menunggu disana. Dia pun, berinisiatif pergi ke dapur. Tapi betapa terkejutnya Dika, saat melihat sang putri sedang tenggelam di kolam renang.
Dika tanpa berlama-lama, segera berlari cepat, dan masuk kedalam kolam. Melupakan pakaian kerja masih melekat ditubuhnya.
“Ratu! Wake up! Lihat daddy,” Dika menekan-nekan dada putrinya. Tapi tetap tak sadar. Dia pun segera memberi nafas buatan untuk Ratu.
“Uhuk, uhuk! Dad..” untungnya mata bulat milik Ratu terbuka. Yang segera membuat Dika memeluk Ratu.
Lalu Kirani yang entah dari mana datangnya, muncul mendekat pada sang suami. Yang tak lama, diikuti oleh, kedatangan Audina bersama Adrean tadi.
“Ratu, dia kenapa mas??” tanya kirani khawatir. Tapi dika tak menjawab, melainkan menatap tajam ketiganya. “Kumpulkan semua anggota keluarga, dan pengawas cctv diruang tamu, sekarang!” setelah ucapan penuh perintah, Dika menggendong tubuh ratu kedalam kamarnya untuk diperiksa oleh dokter nanti.
__ADS_1
...****************...
lohhh