Kakak Iparku Ayah Dari Anakku

Kakak Iparku Ayah Dari Anakku
LOH?


__ADS_3

...****************...


Berhari-hari audina lalui dengan menghindari seorang dika almans. Dia begitu menyesali mengapa, mengungkapkan segalanya dan menangis penuh menyedihkan pada dika hari itu.


Niatnya hari ini, audina sama akan menjauhi dika. Tapi, karena ada pekerjaan yang mengharuskan audina melakukan tugasnya sebagai sekretaris, jadi pagi ini sudah dengan baju kantorannya. Audina menunggu seperti biasa di samping mobil dika.


Sekedar informasi, selain menjadi sekretaris yang baik untuk dika, audina jiga menjadi sopir pribadinya.


Dapat audina lihat dari sini, dika telah keluar dari pintu utama. Tapi mata audina menyipit, memastikan apa itu kirani?


Dan benar saja. Semakin dekat, audina dapat melihat jelas bahwa itu kirani dengan mesra menggandeng lengan dika. Sedang dika terlihat biasa saja.


Saat keduanya sudah mendekat kearah mobil, audina segera membuka pintu mobil dan menghalangi kepala mereka agar tak mengenai bagian atas mobil.


Tanpa berlama-lama lagi, audina segera mengendarai mobil ke kantor.


Cuaca kali ini mendung. Tapi mengapa rasanya tubuh audina panas, apalagi melihat kirani yang mencuri cium ke wajah dika.


Audina hilangkan semua prasangka buruk dalam pikirannya. Ia harus lebih sadar diri disini.


“Audina,”


“Iya, bu?” sahut audina. Menatap sekilas di cermin.


“Apa saja kegiatan dika hari ini?”


“Jam sembilan pagi ada rapat bersama perancang mesin. Dilanjut dengan bapak yang di undang untuk mendatangi perluncuran mobil terbaru milik perusahaan jeyata. Dan malamnya, beliau ada dinner bersama bapak kaivan.” Jelas panjang lebar audina.


Kirani mengangguk. “Bisa kosongkan makan siang untuk dika? Kami sudah lama sudah tidak makan bersama.”


“Tentu.”


Mobil yang audina jalankan. Telah sampai didepan pintu masuk perusahaan ternama milik dika. Seperti biasa, audina bukakan pintunya lalu berdiri hingga keduanya masuk kedalam. Barulah, audina masuk ke dalam mobil kembali dan memarkirkan mobilnya.


....


Sesuai


Sesuai permintaan kirani. Jadwal dikosongkan untuk makan siang. Jadi setelah keduanya selesai makan, audina langsung mengendarai mobil ke gedung diselenggarakannya peluncuran mobil terbaru milik perusahaan jeyata.


Di dalam mobil, keduanya tetap bungkam. Tanpa ada suara musik, atau radio. Sebab tuan dika yang penuh hormat sangat tak menyukai kebisingan.

__ADS_1


Tapi aneh, kerjaan dika masuk keluar club. Padahal di club suara musiknya lebih besar dan bisa mendengungkan telinga. Namun lelaki itu tak merasa terganggu—


“Kamu bisa bicarakan didepan orangnya langsung,” ucap dika tiba-tiba. Membuat audina refleks menginjak pedal rem.


Untung keduanya memakai sabuk pengaman. Jadi tak ada kejadian kepala terbentur.


“Maaf, pak. Saya kaget.” Audina kembali menjalankan mobilnya dengan sesekali melirik dika melewati cermin. Naasnya, dika sama sedang memperhatikan audina. Membuat adegan saling tatap terjadi.


“Ada yang mau kamu tanya?”


“Tidak ada.” Balas seadanya audina.


Ternyata jarak kantor dengan gedung ini tak terlalu jauh. Jadi hanya butuh sekitar 15 menit untuk sampai.


“Pak, jika ditanya tentang proyek baru perusahaan, tak usah dijawab.” Ucap audina mengingatkan.


“Iya. Kamu yakin gak mau tanya sesuatu?” dika mencegah audina untuk turun dari mobil.


Tapi perempuan itu tak menjawab. Dan malah, membukakan pintu. Dika tersenyum, ia sengaja mendekatkan wajahnya dengan audina saat saling berhadapan.


Mata audina melotot, kala tiba-tiba dika mencium pipinya dan mengedipkan sebelah mata sembari tersenyum manis.


“Ya tuhan ... kenapa kau ciptakan orang setampan dia?” jerit audina


“Hah? AKU BUKAN BERBICARA DALAM HATI??” teriak audina kaget. Dia cepat-cepat menutup mulutnya dan meminta maaf berulang kali pada dika.


Lelaki itu tertawa dan mengusap lembut kepala audina. “Santai. Aku suka kamu yang frontal.” Ucapnya sembari berjalan, tak memedulikan audina yang sedang menahan malu.


Audina tanpa berlama-lama mengikuti dika yang sudah kedalam.


Lumayan menghabiskan banyak waktu. Akhirnya acara yang lebih disebut ajang pamer dari pada peluncuran sebuah mobil selesai.


Bukan semata-mata audina menyebutnya ajang pamer. Daritadi yang dilihatnya hanya mereka yang membangga-banggakan barang apa saja yang mereka hasilkan. Ketimbang saling menyapa kabar.


Saat sampai parkiran tak sengaja audina dan dika bertemu dengan kaivan bersama sekretarisnya juga.


Sebab mengenal, audina sapa kaivan lalu ijin pamit masuk dahulu kedalam mobil karena suruhan dika tadi.


“Kau pernah mengajak merokok bersama kan? Ke atas. Kita rokok di roftoop.”


Ajakan dika saat diparkiran berakhir membawa kedua pria tampan itu berdiri di depan pembatas, dengan menikmati setiap pemandangan yang terpampang di ibukota kala matahari akan terbenam.

__ADS_1


Masih dengan merek rokok yang sama keduanya sedot ujung rokok yang terasa manis lalu melepaskannya dan mengepulkan asa ke udara, dengan sebanyak-banyaknya.


“Saya tak mengira kamu akan kecanduan rokok,” ungkap kaivan yang sejak tadi hanya mencuri lirikan kearah dika.


“Lumayan juga rasanya,” balas lelaki itu. “Tapi, masih enak bibir audina.” Lanjut dika dalam hati. Mana mau ia ucap itu di hadapan kaivan, nanti bisa-bisa pria itu ingin mencobanya.


Kaivan mengangguk. Lalu menatap kembali lampu-lampu kendaraan yang berlalu lalang begitu cepat. “Thanks buat flasdick yang waktu itu. Sangat berguna bagi perusahaanku, dan maaf untuk ide yang ku curi,”


“Sebanding, dengan apa yang yang kau beri. Tentang curian aku tak terlalu peduli. Karena dengan itu, aku dapat rancangan yang lebih baik.”


Keduanya lalu terdiam hingga satu batang rokok ditangan masing-masing telah habis. Mereka jadi menahan hasrat untuk kembali mengemut penyakit.


“Aku dengar dari sekretarisku, kau mengajakku makan malam bersama. True?


“Nope. Itu hanya alasanku agar terhindar dari kirani,” jujur dika.


“Aku pikir, kalian pasangan yang serasi,”


“Benar jika didepan publik. Tapi di kehidupan nyata bukan begitu.”


Kaivan tertawa. Ternyata berteman dengan rival perusahaannya selama ini tidak terlalu buruk. Kaivan jadi mengingat awal mula mereka bermusuhan karena saat sekolah menengah pertama, kaivan merebut posisi juara taekwondo yang dipegang dika.


Dari sana, mungkin dika merasa tersaingi. Dia pun selalu mengikuti kemana kaivan bersekolah. Hanya untuk membuktikan bahwa ia lah yang terbaik daripada kaivan.


“Ck, jangan kau ingat-ingat lagi masa lalu kita!” geram dika, melihat kaivan melamun. Dia benar-benar ogah harus ada ditahun-tahun persaingan tak guna bersama kaivan.


“Hahahaha, kenapa? Padahal itu momen teraneh menurut saya,”


Dika palingkan wajahnya ke langit. Telinganya terasa memerah. Dan pasti, sekarang wajahnya juga ikut berwarna yang sama dengan kedua telinganya.


Dengan jahil, kaivan bersiul-siul. “Merah banget tuh. Di tonjok siapa sih? Saya aja waktu kamu pukul gak semerah itu,” ujarnya.


“Berisik.” Dika lalu membawa kartu nama dari saku jasnya pada kaivan. “aku beri ini. Dan kau harus beri aku kartu namamu juga,”


“Untuk?”


“Aku butuh nomor telepon mu. Cepat!” desak dika. Dia baru ingat telah meninggalkan audina begitu lama.


Kaivan lalu memberikannya pada dika. “Jangan pakai buat pinjaman online!” peringatnya bercanda.


“Ya! Asal balas pesanku nanti!” setelah ucapan itu, tubuh dika menghilang dibalik pintu rooftop.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2