Kakak Iparku Ayah Dari Anakku

Kakak Iparku Ayah Dari Anakku
DUA ORANG DATANG


__ADS_3

...****************...


Semua terkejut saat melihat wujud audina ada di dapur pagi ini. Apalagi Kirani, dia sudah mencak-mencak dalam hati mengapa rencana untuk membuat pelayan itu jauh dari dika, gagal.


Beberapa piring yang berisi makanan, telah audina simpan diatas meja. Tapi, kali ini dia tak ikut makan bersama, dan berniat akan berbicara dengan adrean yang sedang berdiam di perpustakaan rumah ini.


“Sisil, lain kali jangan buat orang asing untuk memasak makanan kita. Dia bisa saja, menambahkan racun!” Rosi berucap dengan tajam dan memutar kursi rodanya menjauh dari meja makan.


Hal yang membuat Kirani senang bukan main. Ia langsung beranjak pergi dan sengaja menyenggol lengan audina, kala melewatinya. Sebab masih syok atas kaliman rosi, audina terdiam. Ia tatap masakannya. Semua makanan-makanan itu kini berakhir terabaikan. Audina lantas menghampiri meja, tangannya sudah akan membawa piring untuk dikembalikan ke dapur, lalu akan ia buang. Namun, lengan dika lebih dulu mencegah.


“Jangan dibereskan. Teman-teman ku akan mampir kesini, untuk sarapan.” Ucapnya, yang fokus terhadap bacaan-bacaan di buku.


Meski, sedikit ragu tapi audina mengangguk dan memilih pergi dari sana.


...


Karena diancam kerja sama antar perusahaan akan dicabut, kedua teman adrean yang baru terbangun dari tidurnya, langsung meluncurkan kendaraan ke kediaman nenek rosi. Mereka berdua diminta untuk menghabiskan makanan yang ada dirumah nenek pria itu.


“Ck, si dika tumben kasih makan. Dia biasanya paling ogah tuh,” ujar lelaki berambut acak-acakan yang diwarnai coklat.


Tanpa kasihan lelaki di sampingnya, mendorong ia sampai mengenai tiang rumah nenek rosi. “lo komen terus zay!” ujarnya yang langsung masuk kedalam rumah.


“Danil! Woi kudanil, tunggu!” zay langsung berlari. Dan ia menemukan danil sudah duduh dimeja makan dengan dika di depannya.


Mata Zay hampir saja keluar, melihat begitu banyaknya makanan disana. Dan sepertinya terlihat enak.


Dia tanpa kata makan semua masakan itu, danil pun ikut serta, dan dika juga makan namun hanya sedikit. Sebab tak terbiasa sarapan.


Butuh waktu yang lama, sampai semua makanan habis. Zay lebih dulu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sungguh perutnya terasa akan meletus saking kenyangnya.


“Dik, enak banget. Buatan siapa?”

__ADS_1


Bertepatan dengan pertanyaan itu, audina muncul dari dapur. Dia mendorong sebuah tempat untuk menyimpan piring kotor.


Tanpa sadar, zay dan danil terus menatap audina. Dia baru melihat perempuan itu disini.


Tuk


“Jaga mata.” Ujar dika setelah memukul keduanya menggunakan pulpen. Benci sekali ia melihat tatapan terpesona dari mata mereka.


Dia berahlih ke audina. “Ada pelayan, biar mereka yang bereskan,” ingatnya.


“Aku juga sama, kaya mereka.” Jawab audina masih membawa piring-piring itu ke dorongan ini.


Terlihat lelaki itu memejamkan matanya. Audina selalu sama dengan keras kepalanya. Dia kali ini memanggil kepala pelayan disana, dan menyuruhnya untuk menggantikan audina membereskan sisa makan di meja.


“Kau sekretaris ku, bukan pelayan. Cepat siap-siap lima menit, kita pergi ke kantor.” Dika beranjak darisana dan berjalan ke garasi mobilnya.


Meninggalkan zay dan danil yang masih bertanya-tanya. “Namanya kaya gak asing ya nil?”


...


Audina mendengus. Sepertinya dendam yang ada pada diri dika masih melekat begitu lengket kepadanya. Lihat saja, audina kini disuruh menunggu di luar restoran, karena lelaki itu sedang mengobrol dengan rekan bisnisnya.


Jika menunggu hanya dalam jangka waktu yang singkat, dan cuaca yang tak terlalu panas. Audina sungguh tak apa berdiri di sini. Tapi, ini dia sudah diam selama hampir dua jam dengan keadaan matahari yang sedang terik-teriknya. Huh, kalau bukan karena uang dia sudah akan pergi.


Kening audina mengernyit, saat sinar matahari tak lagi menyorot wajahnya. Ia mendongak, ternyata ada sebuah payung yang menghadang.


“Maaf, sir. Anda sepertinya salah orang,” ujar audina karena ia tak mengenal pria berpakaian kasual di hadapannya.


Namun pria itu malah, menyejajarkan tubuhnya dengan audina yang memiliki tinggi hanya sepundaknya. “Tidak. Kamu wanita cantik, jadi saya tak salah memayungi orang.”


“Ya?” audina tak salah mendengarkan gombalan pria ini.

__ADS_1


“Hahaha. Saya bercanda,” kilahnya langsung. Membuat audina bisa bernapas tenang.


“Daritadi di mobil, saya melihat kamu kepanasan di sini, jadi karena takut kamu keriput nantinya, yaudah saya payungi. Gak apa-apa kan?”


“Silahkan. Nama anda siapa?”


“Kaivan. Kenapa, kamu mau melaporkan saya sebagai orang aneh?”


Audina menggeleng sembari tertawa. Kebiasaan ketika tertawa ia selalu memukul lengan orang. Dan kali ini, tangan kaivan lah korbannya. “Eh maaf. Aku tak terlalu kuat kan memukulnya?”


“Aduh. Sepertinya saya harus kerumah sakit.” Jawab kaivan tapi dengan muka datar tanpa ada unsur bercanda di wajahnya.


“Ini bap—“


“Kai aja. Saya gak setua itu,”


“Oke. Jad—“


Kali ini kalimatnya kembali terpotong tapi bukan karena kaivan, melainkan sebab tarikan tangan seorang pria yang sejak tadi ia tunggu.


“Dika, lepas!”


Tapi dika seperti menutup kedua telinganya. Dan tetap menarik audina hingga mendorongnya duduk di mobil. Sedang dika menghadap kaivan yang tadi mengejar mereka sampai kemari. dan entah berbicara apa.


Audina lihat wajah kaivan memerah. Lalu tak lama dika masuk mobil yang memendam segala emosi.


Mobil berjalan, dengan kecepatan yang penuh. Membuat audina berkali-kali mengelus dada, dan terkadang mengingatkan pria itu. Saat telah sampai digarasi rumah nenek rosi. Dika mengurung audina yang akan membuka sabuk pengaman.


“Sekali lagi, aku melihat kau berdekatan dengan pria lain, apalagi kaivan. Jangan harap nyawa tetap ada.” Ujar dika penuh ancaman.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2