Kakak Iparku Ayah Dari Anakku

Kakak Iparku Ayah Dari Anakku
KANTOR


__ADS_3

...****************...


Dengan penuh kehati-hatian, adrean bersihkan tiga nanah terakhir dikedua kaki rosi. Lalu mengoleskan obat racik miliknya. Setelah pengobatan seperti biasa selesai, adrean rapihkan kembali alat-alatnya.


Dia menatap rosi, lalu melirik luka. Dan balik tatap rosi kembali yang sedang menyandarkan kepalanya ke punggung kasur. “Lusa, kaki nyonya sudah sembuh. Nanti ean temani berjalan dibelakang taman. Jika lancal, pekeljaan ean selesai sesuai janji.” Ucap adrean dan bangkit dari duduknya.


“Cepat-cepat pergi dari rumah ini. Aku muak melihat kau dan ibu penggodamu itu.” Ucap rosi menohok.


Adrean bergidik acuh. Pintu kamar rosi terbuka sedikit. Terlihat wujud kirani yang sedang menguping.


“Eh, cucuku, sedang apa kau disana? Sini masuk!” titah rosi yang membuat kirani tersenyum senang. Meski tadi jantungnya berdegup lebih cepat sebab takut dimarahi.


“Hehe, iya nih ninin. Kirani bawa manisan buat ninin,” kirani menyodorkan kotaknya. Segera rosi bawa. Kala ia akan memakan salah satu manisan apel itu, suara adrean mencegah.


“Nyonya dilarang makan manisan, sebelum penyakitnya sembuh. Aku hanya mengingatkan.”


Setelah berucap itu. Tubuh adrean menghilang dibalik pintu. Meninggalkan seribu kesal yang kirani pendam.


“Awas aja tuh bocah! Untung bentar lagi bakal pergi dua penganggu itu!” batin kirani.


“Yaudah ninin, nanti kirani bawa makanan lain ya?”


“Gak usah repot-repot. Ninin mau istirahat dulu, kamu bisa keluar.”


Kirani lalu pergi dari kamar rosi. Tadinya, kaki kirani akan melangkahkan diri ke kamar. Tapi melihat, ada tubuh adrean yang sedang menyimpan entah barang apa, di dekat ruang billiard. Memunculkan pikiran jahat dan berakhir, Kirani menghampirinya.


“Aduh, kasihan banget ya kamu bentar lagi pergi dari rumah mewah ini,” ucap kirani. Tapi tetap tak mengalihkan perhatian adrean. Membuatnya merenggut kesal. “Tapi bagus deh. Aku malas kalau harus satu atap sama manusia-manusia gak tahu diri. Udah dikasih tumpangan tapi malah, mencelakakan anak majikannya, menggoda suami orang, bersikap seperti tuan rumah. Hadeh, kalau aku sih malu. Apalagi anak dari manusia itu yang berbicara seperti tak diajarkan etika—“


Byar!


Barang tadi, adrean sengaja lemparkan ke tanah. Ia tatap penuh amarah ke kirani. Dan menunjuk perempuan itu. “Halusnya tante lihat kaca, sebelum bicala hal buruk tentang olang lain, paham? Ingat juga. Keadaan bisa belbalik kapan aja.” Adrean mengucapkannya dengan nada tenang tapi siapa saja tahu, anak ini tengah menahan emosi.


Kirani tarik baju adrean mundur kebelakang, saat bocah itu akan pergi. Dengan mudah, kirani balikkan tubuhnya dan mencengkeram rahang adrean. “Kamu yang harus tahu diri disini. Bukan aku. Dan yang tadi kamu ucapkan benar, keadaan bisa berbalik. Tapi aku yang membalikkannya bukan kamu ataupun ibumu itu!” kirani hempaskan wajah adrean ke samping. Dengan tenang ia berjalan pergi, tapi betapa terkejutnya kirani saat sebuah sepatu melayang dan mengenai kepalanya dari arah belakang.


“Siapa yang ber—KAU?!”


“Iya aku. Wanita dari anak yang tadi kau sebut penggoda ibunya,” ucap audina setelah mengecek keadaan adrean. “Kenapa? Kau marah karena aku bisa menggoda suamimu sedangkan kau yang istrinya tak mampu melakukan itu?” lanjut audina kembali.


Kirani berkacak pinggang tak percaya. “Ini kau yang berucap? Seorang pelayan yang terlihat tunduk dan polos, nyatanya bisa berkata sekasar itu? Waw! Aku begitu terkejut!” ucapnya.

__ADS_1


Tapi audina tak peduli. Dia dalam hati berucap maaf berulang kali kepada tuhan sebab mulutnya akan mengucapkan hal yang menyakitkan orang lain. “Iya, it’s me! Dari dulu aku seperti ini, kau baru tau, nyonya kirani yang haus hormat? Oh, kau juga sama kan, dibelakang dika seperti setan dan didepanya seolah bagai malaikat yang tak bernafsu apapun.” Saat akan mencengkeram lengan kirani, sebuah tangan berurat lebih dulu menghalangi.


“Pelayan tak punya hak, menyentuh dan melukai tuan rumahnya.” Suara bernada tajam milik dika, menguar ke pendengaran dua perempuan itu.


Audina maju tak terima. “Punya! Aku disini sebagai seorang ibu. Bukan pelayan!” katanya lantang.


“Tak ada kedudukan ibu. Kau tetap pelayan dimataku. Hanya pelayan, jadi jangan bersikap tak sopan pada istri majikanmu!”


Audina terdiam. Dia hanya dapat melihat punggung dika dan kirani yang sedang bergandeng mesra. Berjalan terus jauh, sampai dinding menghalangi.


“Mom, dua hali lagi, kita pelgi dali sini.” Ucap adrean yang membuat audina mengangguk dan memeluknya.


...


Di kantor. Karyawan dipersilahkan membuat kopi, teh, mie, telur, dan beberapa seafood, sendiri di dapur. Dengan syarat membersihkan kembali perlatannya.


Sebab telah keroncongan, dan audina lebih suka yang gratis. Jadi dia membuat mie, dan sedang menunggu air panas menenggelami mie dan telurnya.


Butuh beberapa menit. Sampai, mie siap dimakan. Audina bawa makanannya ke meja disana. Ia bisa bersantai-santai sekarang mumpung dika belum sampai.


Sembari menyeruput mie nya penuh nikmat, kepala audina berfikir tentang kejadian-kejadian kemarin. Yang dimana sikap dika berubah. Benar-benar berubah, ke kasar. Mungkin dika dulu kala berpacaran sering mengkasari audina, tapi apa yang audina rasakan kini lebih kasar dari itu.


Audina jadi bertanya, apa karena hari saat ia menangis dengan mengungkapkan segala keluh kesahnya pada dika?


“Eh, uhuk uhuk air, uhuk..” tangan audina merayap kemana-mana mencari gelas. Lalu orang yang mengejutkan tadi membawa gelas berisi air putih dan meminumkannya pada audina, hingga batuk mereda.


Setelah bisa bernafas lega, audina pukul radi—teman kantor.


“Liat dong! Aku lagi makan. Kalau mau bikin kaget nanti aja, pas udah selesai!” bawel audina.


Rudi terkekeh. “Ya kali, gua tunggu dipojok. Liat lo makan enak, nih perut gua juga keroncongan.” Jawabnya sembari menduduki diri di samping audina yang kembali makan.


Tangan rudi bawa sendok, ia lalu menyendokkannya ke telur bulat bagian kuningnya dan menyuapkan semua ke mulutnya. Audina tak peduli, toh masih ada putih telurnya dan mie juga masih tersisa.


“Lo kemar—“


“Aw!”


“Na!”

__ADS_1


Segera rudi bawa lap lalu akan memberikan pada audina, tapi segera perempuan itu tepis. Ya mana ada orang kena kuah panas, dikasih lap. Ini kulit tangan audina terasa terbakar. Apalagi ia tak memakai blazernya.


“Kau lagi?” audina menggeleng tak percaya. Mengapa kirani selalu sengaja mencari masalah dengannya.


Bukan tanpa sebab audina tuduh perempuan yang berstatus sebagai istrinya dika itu sengaja. Masalahnya tak ada faktor yang membuat mangkuk berisi kuah panas dari tangan kirani bisa jatuh kearah nya.


“Maaf ... na, aku tadi tergelincir, karena..”


“Karena apa? Lantai sudah dari lima jam lalu dibersihkan, dan kau juga memakai sandal santai yang tak licin. Terus apa alasanmu, nyonya kirani??”


“Apa ini, kau memojokkanku?” tanya kirani begitu sedih.


Kini para karyawan kantor hampir berkumpul di dapur. Audina mendesis, “wanita satu ini, benar-benar mencari simpati.” Batin audina.


“Harus kah kita cek rekaman CCTV nya nyonya?”


“Tapi, aku..“


Byur


Kirani memejamkan matanya kala air putih melayang kearah nya.


“Berterima kasih. Aku hanya mengguyur kau dengan air dingin, bukan panas.” Ujar audina. Dia akan berbalik dan menjauhi kerumunan itu. Tapi tubuh lelaki lebih besar darinya menutupi jalan audina.


“Sudah bermain-main dengan istriku, nona audina?”


“suara dika?” untuk memastikan pertanyaan batinnya. Audina mendongak, benar. Itu dika.


“Bukan saya yang memulai pak, tapi istri bapak yang..”


“Diam! Sudah berapa kali saya bilang, anda hanya seorang pelayan. Punya derajat yang lebih rendah dari kirani, yang notabene istri saya.” Tegas dika, ia berjalan melawati audina dan memeluk tubuh kirani.


Audina lihat itu. Jiwanya kembali sakit, entah karena perkataan dika yang jahat, atau melihat rasa sayang yang ditunjukkan dika untuk kirani. Audina pikir semua selesai, dan ia bisa segera pergi untuk menyendiri. Tapi salah, dika tiba-tiba membawa kuah mie milik audina yang dimeja tadi, lalu tanpa perasaan ia lempari kearah audina sampai mangkuk besi itu menghasilkan bunyi saat berbenturan dengan kepala audina.


“Anda layak dapatkan itu.”


Kedua tangan audina mengepul. Air matanya tiba-tiba jatuh. Persetan akan cinta yang audina punya untuk dika, kali ini harga dirinya sebagai wanita lebih penting.


Audina kejar dika yang akan berjalan menjauh dari kerumunan. Kala dika telah berbalik, audina tampar wajah lelaki itu. “Ini untuk anda yang mengatai hal tak pantas kepada saya,” audina berikan satu tamparan lebih keras disisi yang lain. “Dan ini untuk mangkuk yang ada lempar hingga kepala saya sakit!” setelah mengucap itu, audina tarik kerah dika hingga wajahnya saling berhadapan. “Saya benci anda! Sekarang saya bukan pelayan ataupun sekretaris anda lagi dika.” Audina lalu lempari kartu kantornya dengan keras kepada dika. Dan lalu membalikkan badan keluar dari kantor.

__ADS_1


Meninggalkan mereka dengan pandangan tak percaya.


...****************...


__ADS_2