Kakak Iparku Ayah Dari Anakku

Kakak Iparku Ayah Dari Anakku
Rumah sakit


__ADS_3

...****************...


Terlalu sibuk akan pekerjaannya akhir-akhir ini. Kaivan belum bisa pergi ke alamat yang kala malam itu diberikan Dika padanya.


Dia juga tak ada niat untuk tahu apa hadiahnya. Kaivan pikir, Dika hanya iseng belaka padanya. “Zey, hari ini Airin check up, kan?” tanya Kaivan pada sang sopir plus orang kepercayaannya.


“Iya, tuan. Apa kita akan ke sana?”


“Ya. Aku sudah lama tak bertemu adikku.” Maka tanpa berpikir lama, Zey kendarai mobil menuju rumah sakit kepemilikan keluarga Narcela. Yang Kaivan juga masuk kedalam jajaran keluarga terpandang itu.


Sudah lama sekali, mata Airin tak dapat melihat. Namun, beberapa bulan ke belakang ini, Airin sedang giat-giatnya ingin sembuh dari kebutaannya itu. Mereka juga tengah mencari donor mata untuk Airin.


Kaivan segera turun dan masuk kedalam rumah sakit. Para pekerja di rumah sakit itu, menyapa serta memberi hormat pada Kaivan.


“Pagi, pak, Kai,” sapa Regi, dokter tua yang telah lama mengabdikan dirinya, di sini.


“Pagi.”


“Mau temani adiknya ya?”


Sejujurnya Kaivan malas menanggapi. Mereka sekarang sedang ada di lift. “Iya.” Singkat Kaivan.


Dokter tua itu menggandeng wanita lebih muda dari nya dan menunjukkan pada Kaivan. “Ini putri saya yang pernah saya ceritakan itu, pak. Bapak tak berniat untuk berkenalan? Namanya shenia dia baru lulus di harvard dan akan—“


Ting


Dengan lirikan, Kaivan menyuruh Zey untuk mengurusi ocehan Regi. Sedangkan dirinya, langsung keluar dari lift menuju ruangan tempat Airin periksa.


Kaivan sudah muak akan segala rayuan Regi yang memaksa ia untuk menikahi putrinya yang dikata-kata lulusan universitas bergengsi. Namun, mau bagaimanapun wujud perempuannya sampai saat ini, Kaivan tak ada niatan untuk menikah.

__ADS_1


“Kakak?!” Teriak Airin saat ia dapat menghirup parfum yang Kaivan pakai. Lalu dengan bantuan tongkat dan asisten pribadi di sampingnya, Airin berjalan kearah kakaknya itu.


Tangan Kaivan bawa tubuh mungil Airin kedalam pelukannya lalu mengelus-elus rambut Airin. “Kok rambutnya dipotong?” Tanya Kaivan kala sadar Airin memotong rambut panjang kesukaannya.


“Gak apa-apa. Adek mau buang sial aja.”


Meski tahu, Airin tak dapat melihatnya. Kaivan tetap tersenyum lebar. Ia tuntun adiknya itu untuk keluar, setelah menyapa singkat Dokter Yasmin.


“Tadi Dokter Yasmin suruh kamu apalagi?” kata Kaivan, sembari berjalan kearah taman. “Hmmmm, apa ya? Yang adek inget, adek disuruh sering senyum, jangan strees kaya kemarin-kemarin, terus harus banyak gerak dan lakuin semua yang adek pengen. Katanya gitu, sih!” berakhirnya kalimat Airin, mereka sampai di taman.


“Wah. Bagus saran dari dokter Yasmin. Dan adek harus ikut yang dibilang dokter Yasmin, ya.” Balas Kaivan setelah mendudukan Airin ke kursi. Lalu diikuti olehnya yang duduk di samping Airin. “Adek, mau tahu enggak di taman lagi ada apa aja?” Tanya Kaivan.


Dengan semangat. Airin mengangguk. “Sekarang ada dua burung yang diam didepan kita. Terus ada anak-anak kecil juga yang main. Cuaca sekarang lagi cerah-cerahnya nih,”


“Eh kakak, adek potong kalimatnya gak apa-apa?”


“Waktu Adek tunggu dokter Yasmin, Ada anak kecil yang kasih adek permen lolipop. Katanya, adek harus semangat buat bisa lihat dia. Kata anak kecil itu juga, dia punya penyakit buta warna. Namanya Ratu!” Semangat Airin di akhir kalimatnya.


“Ratu?”


“Iya! Jadi, adek tambah semangat lagi deh buat sembuh, hehe.”


Kaivan diam sejenak. Nama Ratu, tiba-tiba terbesit wajah Ratu anak Kirani dan Dika dikepalanya.


“Kita pulang, ya?”


“Oke, kakak!”


...

__ADS_1


“Astaga! Gimana bisa kaki kamu patah tulang begini, Na?!” suara kehebohan Rosi menyuar saat baru membuka pintu.


Mengejutkan Dika yang sedang menyuapi Audina dan Adrean yang baru keluar dari kamar mandi. Dika disingkirkan Rosi dari tempatnya dan digantikan oleh ia. “Pasti, si Dika ini pelakunya, ya?!” tunjuk Rosi langsung pada Dika. “Bukan nin! Mana berani Dika buat kaki Audina kaya—“


“Halah. Bohong tuh, nek.” Sahut Adrean terlihat acuh.


“Ck! Emang gak baik kamu ini, Dik...”


Dika mengalah dia memilih mendudukan diri di samping Adrean. Dan memakan buah apel sembari menatap bengis wajah Audina yang berseri. Padahal tadi saja, saat dengannya mimik Audina hanya murung, marah, kesal, cemberut. Tak ada tuh, senyum-senyumnya.


“Awas jali dad ke gigit.”


Dika dipaksa kembali ke realita. Benar saja, buah apel itu telah habis. Tinggal jari telunjuknya saja yang tersisa.


Saat akan membalas perkataan Adrean. Pintu dibuka keras dan datanglah wanita anggun yang berjalan menghampiri Audina. Tanpa kata, Wanita itu tatap Audina.


Plak


Semua bahkan Kirani yang baru sampai ke ruangan ini terkejut. “Balasan. Untuk kamu yang berani, merusak rumah tangga anak saya.” Kata wanita tersebut tanpa merasa bersalah.


Audina tercengang dengan wajah yang masih ke samping. Dia tahu siapa wanita yang berani menamparnya ini.


“Mamah!”


“Diam. Dika, ini urusan mamah.”


Nyonya Resca Anelin Almans. Ibunda Dika, yang dulu menentang hubungan dia dengan Dika.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2