
...****************...
Selepas pulang bekerja, Audina langsung datang ke dapur dan memasak untuk makan malam nanti.
Dia melakukannya tanpa ada paksaan, melainkan lebih ke sadar diri sebab telah menumpang dirumah orang.
Setelah semua makanan telah selesai dibuat. Audina berahlih untuk mencuci alat-alat yang tadi dipakai. Ia begitu fokus, sampai tak sadar ada orang yang mendudukan diri di kursi pantry.
“Bi, buatkan aku kopi, seperti biasa.” Ucap orang itu.
Awalnya, Audina tak merasa orang tersebut memanggil ‘bi’ kepada ia. Tapi, kala ingat hanya ada Audina saja di dapur. Ia pun langsung mematikan dahulu air. Dan berjalan ke tempat pembuatan kopi yang berada di belakang.
Otomatis, Audina membalikkan badannya. Dan melewati meja pantry. Tapi lagi-lagi ia terkejut.
Dika. Pria yang tengah duduk sembari memainkan ponselnya, adalah orang yang sama yang memerintah untuk dibuatkan kopi. Mengapa dia ada di sini sih!
Sebab ingin cepat-cepat pergi dari sana. Audina langsung membuatkan kopi madu tanpa ampas, favorit Dika.
“Ini. Aku pamit.”
“Tunggu!”
Terpaksa langkah Audina berhenti. Dia berbalik dan menatap Dika, yang sedang mencoba kopinya.
“Dari mana kau tahu, kopi kesukaanku seperti ini?” tanya Dika sembari mengernyit.
“Bukannya, tuan yang bilang tadi, seperti biasa?”
“Aku mengatakannya karena tak ingat sedang tidak berada dirumah. Lagian, hanya pembantu rumahku, dan satu orang yang tahu, racikan kopi ini,” bingung lelaki itu dengan menghadapkan penuh tubuhnya kepada audina. “Lalu, kau tahu dari siapa?”
“Ya tuhan, bantu aku! Aku tak tahu harus menjawab apa.” Batin Audina menjerit. Meskipun wajah telah diganti, tapi tetap saja. Ingatan tentang Audina yang dahulu masih melekat.
__ADS_1
“Nyonya Audina?”
Demi apapun. Audina sangat berterima kasih pada orang yang saat ini memanggilnya. “Sisil?”
“Adrean sedang mencarimu. Cepatlah ke sana.” Ucap Sisil yang seperti tahu bagaimana kondisi antara dia dengan Dika.
Setelah tubuh Audina lenyap dibalik tembok dapur. Sisil menatap Dika. “Maaf tuan, dia ibu dari Adrean, yang memang tinggal disini.”
“Namanya Audina?”
“Iya. Apa ada yang kau perlukan lagi?”
Dika menggeleng. “Apa ninin, telah bangun?”
“Sudah. Sebentar lagi makan malam, nona Ratu pun akan—“
“Biar aku yang membawa ninin.”
...
Makan malam dimulai. Sama seperti ucapannya tadi. Dika lah, yang membawa ninin menggunakan kursi roda ke meja makan.
Disana ada Adrean dan Audina yang dipaksa untuk makan bersama. Meski tak enak, tapi sepertinya akan lebih tak sopan jika menolak, ajakan sang tuan rumah.
“Audina, silahkan makan. Maaf aku belum menemui lagi,” kata Rosi.
“Tak apa nyonya. Aku paham akan kondisimu. Mau aku bawakan lauk pauknya?”
Rosi tersenyum. Hal itu, dianggap iya bagi Audina. Sehingga ia menambahkan semua makanan yang ada disana. Tapi, saat akan menambahkan ikan gurame, suara kedua orang berseru.
“Ninin alergi ikan.”
__ADS_1
“Nenek tak boleh makan ikan.”
Audina lantas langsung menyimpan kembali lauk itu. Dan menatap wajah Dika serta Adrean bergantian yang tadi bersuara.
“Ikatan batin mereka begitu kuat.” Ucapnya dalam hati.
Kala mereka sedang fokus makan. Suara pintu dibuka begitu keras dan teriakan wanita, mengejutkan mereka.
Tak lama, muncullah pelaku dari keributan itu. Mata Audina membola besar. Dia, Kirani.
Tiba-tiba Kirani menghampiri sang suami dan langsung melemparinya dengan tas. “Baru aku tinggal kamu beberapa hari keluar negeri ya. Dan kamu udah berani bawa selingkuhan dan anaknya ke rumah ninin! Kamu gak pikir, bagaimana perasaan aku dan ratu, anakmu?!” cerocos Kirani.
Membuat emosi Dika seketika naik. Belum ada, Dika membalas perkataan kirani. Rosi lebih dulu berbicara.
“Hah? Aku tak salah mendengar, kau anggap ratu sebagai anakmu? Kemana saja, kau selama ini Kirani! Kemana saja, saat anakmu menangis karena ingin minum asi? Saat dia membutuhkan kasih sayang seorang ibu? Kau kemana?! Dan lagi! Wanita ini bukan selingkuhan dari dika.” Sela Rosi. Dan memilih untuk meminta adrean mendorongnya segera ke kamar.
Meninggalkan Audina yang terdiam kaku. Dia pikir, hubungan Dika dan kakaknya itu berjalan baik. Tapi tidak.
“Mamah!” suara seorang anak perempuan terdengar.
Dia berlari dengan tubuh mungilnya dan rambut tergerai panjang. Dengan rindu, Ratu memeluk kaki sang ibu. Tapi yang dilakukan wanita itu, selanjutnya membuat Audina merasa sakit.
Kirani menendang tubuh Ratu hingga kepalanya menyentuh lantai. Karena sisi keibuannya, audina menghampiri ratu. Dan memeluknya. Tapi aneh, anak ini tak menangis sedikit pun.
“Kirani! Masuk kamarmu! Jangan sentuh lagi Ratu. Karena kau akan menerima akibatnya.” Ancamnya.
Dika berjalan pergi. Tapi tak datang atau bertanya bagaimana keadaan Ratu. Dan malah masuk kamarnya.
Membuat lagi-lagi Audina termenung. Sebenarnya mereka kenapa?
...****************...
__ADS_1