Kakak Iparku Ayah Dari Anakku

Kakak Iparku Ayah Dari Anakku
Hadiah


__ADS_3

...****************...


Audina dan baju piamanya berjalan kearah kamar Adrean. Dia sudah membawa satu buku cerita yang baru dibeli kemarin. Dengan antusias Audina buka pintu berbahan kayu itu. “Adrean! sayang mom—“ kalimatnya tertahan kala menemukan ada wujud Dika juga disana, sedang merebahkan diri di samping Adrean.


“Ribut banget, Na.” celetuk Dika. Tengah berpura-pura menggulir layar ponselnya.


Merubah kembali mimik wajahnya, Audina tidur di samping Adrean tanpa menghiraukan Dika ataupun ucapannya tadi. Dia lalu usap kepala Adrean, dan memberi kecupan di wajah bocah itu.


“Mom lama banget,” rajuk Adrean tanpa mau menatap sang ibu.


“Sorry, my boy. Mom tadi ketemu nenek Rosi dulu.”


“Gak ada maaf. Ad gak suka daddy lebih dulu sampai sini,”


Mata Dika melotot tak terima. “Emang kenapa?”


“Benci aja.” Balas singkat Adrean dan berlaru memeluk tubuh Audina penuh sayang. Audina hanya tersenyum lalu membuka buku cerita itu, namun tiba-tiba pintu terketuk.


Ketiganya saling tatap, seperti bertanya, siapa. Kaki Dika yang lebih dulu turun dari ranjang. Lalu diikuti Audina serta Adrean.


“Ratu?”


Ternyata orangnya ratu. Bocah perempuan itu sedang membawa guling dengan mata sembab menahan tangis. Lantas Dika bersimpuh di hadapan putrinya. “Kenapa?” bertepatan dengan kalimat tanya itu, Audina dan Adrean datang. Mereka ikut mendekat.


“Boyeh, atu tidur bareng?” tanyanya lucu.


...


Kirani sekarang sedang menatap kaivan yang tengah memarkirkan mobil didepan rumah Rosi. Setelah berbicara beberapa hal pada Kaivan tadi, Perasaan Kirani seolah nyaman. Dia sebelumnya belum pernah sebebas itu berbicara dengan orang lain. Bahkan Dika yang berstatus suaminya saja tak pernah ia perlakukan begitu. Tapi mengapa dengan kaivan dia..


“Kamu tetap akan menatap saya?”

__ADS_1


“Hah? Oh ... maaf.” Buru-buru Kirani buka sabuk pengaman dan turun dari mobil. Dia pikir, setelah itu Kaivan akan pergi, namun ternyata salah.


“Saya yang membawa kamu pergi malam-malam. Jadi, Biar saya antar dan jelaskan pada suamimu.” Ucap lelaki itu, memimpin jalan.


Kirani terdiam. Dia tatap punggung tegap milik si tampan Kaivan. Eh, mengapa jadi ia memuji pria yang baru ditemui beberapa jam lalu?


Cepat-cepat Kirani kejar diri kaivan. Dia makin memelankan langkah kakinya saat melihat Kaivan sedang berbicara dengan Dika.


Mereka sangat serius.


“Mas?” Panggil kirani yang sudah berdiri di samping kaivan.


“Dia tadi bersama saya. Maaf memulangkannya malam-malam.” Kaivan mengucapkannya sembari menatap Dika mantap.


“Kau bisa menjelaskannya di atap bersamaku.” Balas Dika yang menjauh.


Lantas kirani tatap khawatir kearah kaivan. Dia merasa bersalah.


“Mbak, permisi,”


Fokus Kirani seketika buyar. Saat wujud Audina melewatinya untuk membawa sesuatu di hadapan meja yang ia tutupi. Bertepatan dengan itu juga, mata Kirani menatap cincin yang ada di jari Audina. Membuat emosinya naik secara tiba-tiba.


“Sialan! Kau semurah itu, Audina?”


Tanpa ingin terbawa marah juga, Audina tatap diam, Kirani.


“Jangan pura-pura polos, seperti adikku saja! Itu cincin yang kau pakai. Pasti kau curi kan??” sembrono Kirani dengan mengangkat tangan Audina lalu memperlihat cincin yang dimaksud.


Awalnya aneh atas pertanyaan Kirani. Dia dapatkan cincin ini dari Dika. Dan yang pasti, pria itu yang memaksa Audina untuk memakainya. “Suami mbak yang kasih.” Balas singkat Audina.


Memunculkan rasa amarah dari diri Kirani yang tadi sudah menyulut. “Ck! Asal kau tahu ya, cincin ini aku berikan padanya saat ulang tahun pernikahan kami!” balas perempuan berambut lurus itu lalu maju selangkah kearah Audina. “Silahkan pakai, jika kau tak tahu malu. Dan hanya wanita murah yang mau dengan suami orang.” Ucap Kirani tajam.

__ADS_1


Berhasil melemahkan tubuh Audina. Dalam dirinya ada sesuatu yang tersengat.


...


“Jadi, maksudmu, Kirani diperbudak oleh ayahnya?” Simpul Dika setelah mendengar seluruh cerita dari Kaivan.


Dengan rokok yang ada di antara bibirnya, Kaivan mengangguk. Ia menerawang jauh saat perempuan itu ada dirumahnya.


“Aku dan ayah memang tak akur dari dulu. Mungkin ini juga yang mengakibatkan dia melakukannya.” Ujar Kirani melamun. Dia minum kembali coklat panasnya. Lalu berakhir menatap kaivan. “Aku tahu kau tak akan percaya. Tapi, Pernikahan antara aku dan dika pun. terjadi atas dia yang melecehkan ku lebih dulu.” Lanjutnya tiba-tiba.


“Hahahaha. Aku jadi rindu sahabat lelaki kecilku.”


Kirani terus berbicara. Namun, kaivan hanya diam mendengarkan. Dan berniat tak akan menceritakan hal satu ini pada Dika.


“Heh! Kau ingin bibirmu terbakar!” Sentak Dika dengan membawa puntung rokok yang sudah memendek dari mulut Kaivan.


Bukannya terkejut. Kaivan malah terkekeh. Dia ambil kembali satu batang rokok. Berhasil membuat Dika geleng-geleng kepala.


“Berikan saja paru-parumu itu ke orang yang lebih baik menjaganya!”


“Saya tak mau menapung uang lebih banyak lagi, Dika. Lebih baik kamu saja.” Kaivan membalas dengan menatap Dika. Sedang Dika tak dapat berkata-kata lagi.


Dia lebih memilih berdiri dan melempari Kaivan beberapa helai rambut yang dibungkus. “Itu hadiah yang aku bicarakan,” Ungkapnya.


“Kamu gila?” respons Kaivan tak habis pikir.


“Oh ya, aku lupa. Nih, datang saja ke alamat itu.” Lanjut Dika jenaka, dan memberi sepucuk kertas berisi alamat. Kaivan terdiam. “Aku harap setelah ke sana, kau bisa menjaga hadiahmu dengan baik. Untuk itu aku akan sangat berterima kasih kepadamu, tuan Kaivan.” Setelah mengucap itu, Dika segera turun kebawah. Meninggalkan Kaivan yang terheran-heran.


“Sebenarnya, apa hadiah yang disiapkan lelaki setengah sinting itu?”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2