
...****************...
Dika hampir gila rasanya saat harus mempermalukan audina didepan para karyawan kantor. Dia menyesal beribu-ribu sesal, tapi semua sesalnya tak akan membuahkan hasil apa pun. Audina tetap tak akan kembali lagi padanya.
Untuk ketiga kalinya dika kembali menangis dalam hidup. Pertama kala bayi, kedua saat kalah taekwondo dan terakhir, saat audina pergi entah kemana hingga hari ini menginjak dua minggu wanita itu menghilang.
Dengan keadaan rambut acak-acakan, bulu-bulus harus yang mulai tubuh di wajahnya, dan kantung mata yang terlihat begitu jelas. Sebab dika sudah lama tak tidur, pria itu mengetik segala kode hacker yang pernah ia pelajari ke layar komputer.
Meskipun air mata mengalir dari matanya. Dika tak peduli, walaupun kirani nantinya akan mengancam, ia tak takut. Kemarin hannyalah kebahagiaan sesaat saja untuk wanita itu.
“Sial! Si jaz gak bisa cari info begini doang. Argh! Tuh cewek pergi kemana brengsek!” umpat lelaki itu dengan melemparkan keyboard ke lantai.
Cklek
“Dad gila.”
Mata kehitaman dika menatap kearah anaknya. Tanpa diduga, dika berlari dan berlutut di hadapan adrean. “Aku tau kau pasti tahu ad. Tolong bilang di mana audina .... aku mohon,” lirihnya.
Adrean terkekeh. “Kenapa dad kaya gila ditinggal mommy ku?” tanya bocah itu dengan tangan bersedekap di dada.
“Kau yang gila! Menanyai hal tak penting di saat keadaan sedang genting!” teriak dika membara didepan wajah adrean.
“Oh, dad meneriakiku?”
Dika seketika menggeleng. Lalu berlutut kembali. “Ad, please ... aku sudah gila karena mommy mu. Beri tahu aku, aku pasti akan berikan apa yang kau mau,”
“Okay. Ad nanti pikirkan apa pelmintaanya. Tapi jawab dulu, kenapa dad begitu gila saat—“
“Dad cinta mommy! Paham? Cepat beritahu aku dimana...”
__ADS_1
“Lalu kenapa bersikap kurang ajar pada mommy?”
Dika menatap adrean tak percaya. “Serius? Aku sedang tak in—“
“Jawab!”
“Kirani. Dia ancam dad bakal sebar video mommy. Dan dad gak suka. Udah, jangan tanya-tanya lagi.”
Bukan menjawab ucapan dika. Adrean malah mendekatkan ponselnya ke telinga, dan berucap pada seseorang disana. “Sudah kan mom? Jadi cepat kembali pulang. Ad takut, dad lebih gila dari ini.” Setelah berucap itu, telepon mati.
Adrean tersenyum penuh kemenangan pada dika yang masih bersimpuh lutut padanya. Tangan adrean mengusap jejak air mata yang ada di sudut mata dika. “Balu ditinggal bental aja kaya monyet lepas dali kandangnya! Dasal, penghancul lencana!” adrean langsung meninggalkan dika yang masih terdiam diruang kerjanya.
...
Diruangan serba hitam, ralat. Masih ingat dengan gedung yang dika tempati untuk menyiksa wanita bernama wasni?
Jika tak ingat cari ke bagian sebelumnya. Sebab sekarang, dika sudah ada disini bersama beberapa orang tak terduga.
Sialan dika sepertinya ingin memberi pukulan pada mereka satu persatu. Kemarin-kemari saja saat ia pusing dan meminta bantuan pada mereka untuk mencari audina, kelimanya seperti hilang ditelan titan. Tapi, tiba-tiba sekarang mereka tengah duduk santai.
“Ya elah dik, jangan tatap gua gitu lah! Ini juga terpaksa,” mohon jaz karena ia merasa seperti akan dimakan hidup-hidup oleh dika.
“Halah.” Jawab dika tak percaya.
Jaz menggeleng. Dia tepuk bahu dika sesaat. “Tunggu, tuan setelah ini akan tahu.”
Beberapa detik setelah ucapannya itu, pintu kaca yang menutupi ruangan rahasia ini terbuka dan menampilkan rosi serta adrean yang ada dalam genggamannya.
Mata dika terbelalak tak percaya. “Ninin?”
__ADS_1
Rosi tersenyum ia datang menghampiri cucunya itu. Dan memeluk erat. “Aku tunggu kau didepan pintu tapi tak keluar-keluar!” rosi mengatakannya sembari mencubit lengan adrean.
“Sorry..” cicit dika. Tatapan dika berahlih pada adrean yang bersiul pura-pura tak tahu. “Ad, kau berani mengkhianati dad?” tanya ketus dika.
“Gak. Tanya aja nanti.” Balas adrean ia memilih duduk dikursi dekat kaivan dan melakukan five tos.
Rosi lalu mengambil duduk diujung tengah. Bisa dilihat sekarang ialah pemimpin dari pertemuan kali ini. Bukan dika.
Sebelum berucap, rosi beberapa kali berdehem. “Okay. Biar ninin jelaskan dari awal, agar kau tak bingung.”
Tangan rosi menekan tombol hingga layar tak kasat mata didepan menampilkan foto mobil meledak dan foto seorang lelaki yang menggendong wanita tapi dari sudut yang membuat wajahnya terlihat. Lantas hal itu mengejutkan dika. “Jaz? Kau?” tanyanya tak percaya.
“Iya, adrean. Jaz atau noah adalah orang yang saat itu pernah dibantu audina dan dimasukkan ke sekolah ke pengawalan di bawah kuasa ninin. Aku menyuruhnya untuk mengikuti audina karena saat audina akan pergi ke pesta undanganmu, ninin lihat ada orang mencurigakan yang memainkan mobil audin,” jelas rosi dan menggulir foto berikutnya. “Setelah aku cari tahu dan dengan bantuan kaivan, pelaku dari kecelakaan itu adalah, deran. Ayah audina dan kirani.”
Rasanya dika hancur saat itu. Betapa menyakitkan hidup audina. Kemudian dika dengarkan penjelasan rosi. Dari mulai rosi yang memantah kehidupan audina dan adrean dari jauh. Dan rosi datang kesana berpura-pura sakit, tapi ternyata adrean dengan segala ke geniusnya telah tahu siapa rosi. Berakhirlah rosi yang jujur akan semua rencana, sampai akhirnya mereka pulang ke indonesia.
Awalnya rosi terkejut akan ratu yang jatuh ke kolam. Tapi dengan kompromi rosi sepakat akan memusuhi audina seperti keinginan kirani. Yah intinya, rosi tak membenci audina, ia melakukannya hanya sengaja.
“Lalu, mereka berdua mengapa ada disini?” tanya dika kepada zay dan danil.
“Mereka membantu merentas video audina dan kau diponsel kirani,”
“Nin! Mereka pasti lihat—“
“Heh! Suudzan terus ke gua! Gua langsung hapus gak liat apa-apa!” bela zay.
“Audina yang pergi dan nangis itu juga cuman sandiwara kita. Tapi, kau tiba-tiba mengacaukannya, pakai acara lempar mangkuk segala, terus kurung audina di gudang! Buat kita semua harus pikir ulang rencanannya!” marah rosi yang mendapat persetujuan dari orang-orang disana.
“Ya harusnya, ninin tinggal bilang aja ke dika. Ini gak bilang apa-apa. Dika udah kaya orang bego aja.” Dika balik kesal pada mereka.
__ADS_1
Saat rosi akan menjelaskan kembali pada cucunya itu. Tiba-tiba pintu terbuka. Tampilah wujud seorang perempuan berwajah ayu. Yang tersenyum. “Audina belum telat kan?”
...****************...